Harga Minyak Runtuh Ketiban Penguatan Dolar AS

Harga Minyak Runtuh Ketiban Penguatan Dolar AS

Harga minyak runtuh pada perdagangan Rabu (6/11/2024), ketiban penguatan dolar serta pengaruh kebijakan luar negeri Presiden terpilih AS - Halaman all

(InvestorID) 07/11/24 05:22 17644469

HOUSTON,investor.id - Harga minyak runtuh pada perdagangan Rabu (6/11/2024). Hal itu karena ketiban penguatan dolar serta pengaruh kebijakan luar negeri Presiden Amerika Serikat (AS) terpilih Donald Trump yang diperkirakan dapat berdampak pada pasokan minyak global.

Dikutip dari Reuters, harga minyak mentah Brent turun 61 sen (0,81%) menjadi US$ 74,92 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS terpangkas 30 sen (0,42%0 menjadi US$ 71,69 per barel.

Penguatan signifikan dolar AS, yang kini berada pada level tertinggi sejak September 2022, mendorong aksi jual besar-besaran yang sempat membuat harga minyak anjlok lebih dari US$ 2 per barel di awal perdagangan.

Kenaikan dolar AS membuat komoditas yang dihargai dalam dolar, seperti minyak, menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya, yang pada akhirnya menekan harga.

"Semua euforia dan antusiasme penjualan awal kini mulai berkurang, dan saya melihat peluang kenaikan jangka pendek lebih besar dibanding penurunan," ujar Phil Flynn, analis senior di Price Futures Group, seraya menambahkan bahwa investor mulai memperhitungkan keseimbangan pasokan dan permintaan dalam jangka pendek.

Sedangkan Mitra di Again Capital John Kilduff menyebut, pasar bereaksi berlebihan terhadap hasil pemilu AS, yang di awal sempat memunculkan kekhawatiran bahwa kemenangan Trump dapat memicu peningkatan pengeboran minyak di AS hingga menyebabkan kelebihan pasokan.

"Namun, saat ini pasar tampaknya mulai lebih realistis dan mengakui adanya banyak tantangan," tambahnya, seraya menyebutkan konflik di Timur Tengah sebagai faktor yang bisa mendukung harga karena risiko penurunan pasokan.

Kemenangan Trump

Analis UBS Giovanni Staunovo mengatakan, kemenangan Trump diperkirakan juga akan menghidupkan kembali sanksi terhadap Iran dan Venezuela, yang berpotensi mengurangi pasokan minyak global dan mendorong harga naik. Iran, anggota OPEC, memproduksi sekitar 3,2 juta barel per hari, atau setara dengan 3% dari produksi global.

Meski demikian, analis minyak di StoneX Alex Hodes menyebut, penerapan sanksi terhadap Iran mungkin lebih menantang karena negara tersebut telah semakin mahir menghindari sanksi internasional.

Dukungan Trump terhadap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu diperkirakan dapat memperburuk ketidakstabilan di Timur Tengah, yang berpotensi mempengaruhi pasokan minyak dunia. Trump juga diperkirakan akan melanjutkan kebijakan untuk memperkuat militer Israel, yang dapat menambah kekhawatiran investor terhadap kemungkinan gangguan pasokan minyak global.

Selain faktor geopolitik, tren fundamental di pasar minyak diperkirakan akan tetap memainkan peran penting dalam menentukan arah harga ke depan.

Kepala pasar komoditas global di Rystad Energy Mukesh Sahdev mengatakan, kebijakan OPEC+ masih menjadi pengendali utama pasar minyak. Sementara itu, margin kilang menghadapi tantangan dari permintaan yang lebih rendah, pasokan yang lebih tinggi, serta aliran perdagangan minyak yang masih menghadapi berbagai inefisiensi.

Data dari Badan Informasi Energi AS (EIA) menunjukkan bahwa persediaan minyak mentah, bensin, dan distilat AS naik pekan lalu. Stok minyak mentah AS bertambah sebesar 2,1 juta barel menjadi 427,7 juta barel pada pekan yang berakhir 1 November, melebihi perkiraan kenaikan sebesar 1,1 juta barel dalam survei Reuters.

Editor: Indah Handayani (handayani@b-universe.id)

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Baca Berita Lainnya di Google News

#berita-terkini #berita-hari-ini #harga-minyak #minyak-mentah #brent #wti #kemenangan-trump #donald-trump #dolar-as #berita-ekonomi-terkini

https://investor.id/market/379338/harga-minyak-runtuh-ketiban-penguatan-dolar-as