LignoSat, Satelit Kayu Pertama di Dunia Mengorbit Bumi
Umumnya, satelit terbuat dari bahan logam. Namun, peneliti dari Jepang membuat satelit dari kayu. Satelit kayu ini berhasil mengorbit. Halaman all
(Kompas.com) 07/11/24 19:04 17689927
KOMPAS.com - Satelitkayu pertama di dunia yang diberi nama LignoSat, diluncurkan ke luar angkasa pada Selasa (5/11/2024). Satelit yang dirancang peneiliti asal Jepang ini sebelumnya telah menjalankan uji coba.
Setelah masa uji coba rampung, satelit ini dibawa ke Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) menggunakan roket milik SpaceX, perusahaan antariksa milik Elon Musk.
Roket ini diluncurkan dari Kennedy Space Center, pusat peluncuran antariksa milik NASA, yang berlokasi di Florida, AS. Setelah berada di ISS, satelit ini dilepaskan ke luar angkasa untuk mengorbit Bumi pada ketinggian sekitar 400 kilometer dari permukaan Bumi.
Setelah diluncurkan, LignoSat akan berada di orbit selama enam bulan. Komponen elektronik di dalamnya akan mengukur ketahanan kayu terhadap lingkungan ekstrem luar angkasa, di mana suhu berfluktuasi dari minus 100 hingga 100 derajat Celsius setiap 45 menit saat berputar dari gelap ke terang.
Satelit ini juga akan menguji kemampuan kayu dalam mengurangi dampak radiasi antariksa pada semikonduktor, yang berpotensi bermanfaat untuk konstruksi pusat data di masa depan.
Satelit LignoSat ini dikembangkan oleh tim peneliti dari Universitas Kyoto bekerja sama dengan perusahaan kayu Sumitomo Forestry.
Umumnya, satelit terbuat dari bahan logam, karena lebih kedap air dan lebih tahan radiasi serta suhu ekstrem di luar angkasa. Hal ini penting lantaran satelit biasanya memuat komponen elektronik.
Nah, para peniliti sengaja memilih kayu karena ingin melihat potensi kayu sebagai material alternatif dalam misi eksplorasi luar angkasa menuju Bulan dan Mars.
Mantan astronot dan pakar kegiatan luar angkasa di Universitas Kyoto, Takao Doi yang terlibat dalam pengembangan satelit ini mengatakan, kayu lebih potensial untuk membangun kehidupan di Bulan datau Mars.
“Dengan kayu, material dapat kita produksi sendiri, kita bisa membangun rumah, kehidupan, dan bekerja di luar angkasa selamanya," kata Doi, dirangkum KompasTekno dari CNN.
YouTube/News of The World Mantan astronot dan pakar kegiatan luar angkasa di Universitas Kyoto, Takao Doi mendemonstrasikan satelit kayu yang berukuran setelapak tangan.Timnya memiliki visi untuk membangun rumah dari kayu di Bulan atau Mars dalam 50 tahun ke depan. Untuk lebih mematangkan rencannya, Doi dan timnya mendaftarkan satelit kayu ke NASA sebagai bukti bahwa kayu bisa menjadi material kelar antariksa.
Satelit LignoSat memiliki bentuk kubus dan berukuran mini, hanya sebesar telapak tangan orang dewasa. Satelit ini dirancang menggunakan kayu honoki, sejenis kayu magnolia yang terkenal dengan daya tahan tingginya.
Kayu ini juga biasa digunakan untuk sarung pedang. Honoki juga telah menjalani eksperimen selama 10 bulan di ISS.
Pemilihan material kayu ini tidak hanya didasarkan pada ketahanannya, tetapi juga pertimbangan keberlanjutan dan dampak lingkungan yang lebih minim dibandingkan dengan bahan logam.
Selain itu, kayu juga akan terbakar habis saat kembali ke atmosfer tanpa meninggalkan sampah antariksa.
"Ketika satelit sudah tidak berfungsi dan masuk kembali ke atmosfer untuk mencegah puing antariksa, satelit logam biasa menghasilkan partikel aluminium oksida. Namun, satelit kayu akan terbakar dengan menghasilkan polusi yang jauh lebih sedikit, satelit logam mungkin akan dilarang di masa depan,” ungkap Doi.
Meskipun dikenal sebagai satelit kayu, LignoSat tidak sepenuhnya terbuat dari kayu. Satelit ini menggabungkan panel kayu honoki untuk bagian luar dengan struktur aluminium dan komponen elektronik di bagian dalam, guna memastikan fungsinya tetap berjalan dengan baik.
Nah, nama LignoSat diambil dari dua kata, yakni "Ligno" yang berarti kayu dalam bahasa Latin, serta "Sat" yang merupakan kependekan dari satelit.
YouTube/News of The World Satelit yang bernama LignoSat ini terbuat dari kayu honoki dengan teknik kerajinan tradisional Jepang, tanpa menggunakan sekrup atau lem.Penggunaan kayu sebagai bahan utama satelit mungkin terdengar tidak biasa, tetapi ide ini memiliki dasar yang kuat.
Menurut Profesor Ilmu Kehutanan dari Universitas Kyoto, Koji Murata, konsep satelit kayu sebenarnya bukanlah hal yang mustahil.
“Pesawat terbang di awal 1900-an terbuat dari kayu, satelit kayu seharusnya juga bisa, kayu lebih tahan lama di luar angkasa karena tidak ada air atau oksigen yang bisa membuatnya membusuk atau terbakar,” jelas Murata.
Menurut Kenji Kariya, manajer di Sumitomo Forestry, meskipun kayu mungkin terlihat kuno, penggunaannya dalam satelit justru menunjukkan potensi teknologi mutakhir di masa depan.
“Ini mungkin terlihat kuno, tetapi kayu sebenarnya adalah teknologi mutakhir saat peradaban menuju Bulan dan Mars, ekspansi ke luar angkasa dapat menghidupkan kembali industri kayu,” kata Kariya.