Sekilas Mengenal Danantara, "Superholding" BUMN Baru yang Bakal Kelola Aset "Jumbo" Rp 9.480 Triliun
Danantara akan mengelola aset di luar Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan bertujuan mendukung target ekonomi serta program pemerintah. Halaman all
(Kompas.com) 08/11/24 07:30 17743414
JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah Indonesia membentuk Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BP Danantara). Badan baru ini dirancang sebagai "superholding" baru bagi sejumlah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan entitas kekayaan negara lainnya.
Meski peluncurannya tertunda akibat lawatan luar negeri Presiden Prabowo Subianto, Danantara diharapkan menjadi katalisator bagi pertumbuhan ekonomi dan daya saing Indonesia di tingkat global.
Lantas, apa sebenarnya peran dan manfaat BP Danantara? Simak penjelasan berikut ini.
Tujuan Pembentukan BP Danantara
BP Danantara dibentuk dengan tujuan mengonsolidasikan aset negara dalam satu lembaga untuk pengelolaan yang lebih optimal dan efisien. Kepala BP Danantara, Muliaman Darmansyah Hadad, menegaskan bahwa badan ini diharapkan bisa menciptakan model pengelolaan investasi yang terintegrasi, serupa dengan Temasek di Singapura.
"Danantara akan mengelola aset di luar Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan bertujuan mendukung target ekonomi serta program pemerintah," ujar Muliaman, dikutip dari Kompas.com, 22 Oktober 2024 lalu.
Menurut dokumen profil BP Danantara yang diterima Kompas.com, badan ini dirancang untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan dalam lima tahun ke depan.
Danantara juga akan mengkonsolidasikan entitas strategis, termasuk Indonesia Investment Authority (INA) dan tujuh BUMN besar, yaitu Bank Mandiri, Bank BRI, PLN, Pertamina, BNI, Telkom Indonesia, dan MIND ID.
“INA akan dikonsolidasikan dalam Danantara. Sementara untuk landasan hukumnya, kami sedang mempersiapkan Peraturan Pemerintah (PP),” jelas Muliaman pada Rabu (6/11/2024).
Kelola Aset Jumbo hingga Triliunan Rupiah
Dengan total aset awal sekitar 600 miliar dolar AS atau setara Rp 9.504 triliun, BP Danantara berpotensi menjadi salah satu sovereign wealth fund (SWF) terbesar di dunia.
Menteri BUMN Erick Thohir menyebutkan bahwa pengelolaan aset sebesar ini bertujuan untuk memperkuat ekonomi dan daya saing nasional. Erick berharap agar masyarakat tidak berpikir negatif terhadap superholding ini.
“Danantara adalah roadmap BUMN yang kami dorong untuk menyehatkan perusahaan pelat merah, dan ini terbukti dari laporan keuangan BUMN yang menunjukkan perbaikan,” ujarnya pada Kamis, (7/11/2024).
Manfaat BP Danantara Bagi Ekonomi Nasional
Danantara diharapkan membawa manfaat besar bagi perekonomian Indonesia melalui pengelolaan investasi yang lebih produktif dan penguatan daya saing global.
Badan ini akan fokus pada sektor-sektor strategis, menciptakan sinergi antara BUMN, serta meningkatkan imbal hasil investasi bagi pemerintah.
"Kami ingin aset-aset negara bisa dikelola secara optimal untuk kesejahteraan masyarakat," kata Muliaman.
Keberadaan BP Danantara juga memungkinkan pemerintah untuk memiliki kapasitas pengelolaan aset secara mandiri dan fleksibel, berbeda dengan peran Kementerian BUMN yang lebih bersifat administratif.
"Danantara adalah cikal bakal sovereign wealth fund yang beroperasi dengan model seperti Temasek," jelas Erick Thohir.
Kesiapan Operasional dan Dasar Hukum
Sebagai badan investasi yang independen, BP Danantara membutuhkan landasan hukum yang kuat untuk beroperasi, dan ini masih dalam tahap penyelesaian.
Danantara akan mulai beroperasi dengan dukungan APBN 2025 dan terus berkoordinasi dengan kementerian terkait untuk memastikan pembentukannya sesuai rencana.
Meski peluncuran resminya ditunda hingga Presiden kembali ke tanah air, semua pihak terkait berkomitmen mempercepat proses ini.
Sebagai badan yang mengelola aset triliunan rupiah, Danantara diharapkan menjadi tulang punggung dalam meningkatkan pendapatan nasional tanpa bergantung pada APBN.
Dengan visi yang jelas dan dukungan berbagai pihak, BP Danantara berpotensi membawa dampak positif bagi perekonomian Indonesia dalam jangka panjang.
(Tim Redaksi: Isna Rifka Sri Rahayu, Yohana Artha Uly, Dian Erika Nugraheny, Fika Nurul Ula, Icha Rastika, Aprillia Ika, Sakina Rakhma Diah Setiawan)