Teken Kerja Sama dengan Antam, Freeport Targetkan Produksi Emas 4,75 Ton di 2025
Freeport melalui fasilitas pemurnian lumpur anodanya menargetkan bisa melakukan produksi emas pertama pada pekan kedua Desember 2024. Halaman all
(Kompas.com) 08/11/24 09:44 17753018
JAKARTA, KOMPAS.com - Direktur Utama (Dirut) PT Freeport Indonesia (PTFI) Tony Wenas mengatakan, fasilitas pemurnian lumpur anoda atau Precious Metal Refinery (PMR) PTFI diperkirakan bisa melakukan produksi emas pertama pada pekan kedua Desember 2024.
Ia menyebut PMR PTFI menjadi salah satu produsen emas murni batangan di Indonesia dengan kapasitas pemurnian sekitar 50 ton emas dan 200 ton perak per tahunnya serta platinum group metals yaitu 30 kilogram platinum, 375 kilogram paladium.
“Produksi emas pertama dari PMR PTFI direncanakan pada minggu ke 2 Desember 2024. Estimasi saat ini hingga akhir tahun 2024 produksi emas sebesar 0,5 ton dan pada kuartal pertama 2025 sebesar 4,75 ton,” ujar Tony saat menghadiri penandatanganan kerja sama antara PT Freeport Indonesia (PTFI) dengan PT Aneka Tambang (Antam) Tbk di Jakarta, Kamis (7/11/2024) malam.
Adapun penandatanganan kerja sama pada Senin malam dilakukan Tony Wenas dengan Dirut PT Antam Tbk Nicolas Canter.
Penandatanganan ini disaksikan langsung oleh Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir, Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung, serta Direktur MIND ID Hendi Prio Santoso.
Kerja sama dilakukan untuk jual beli emas dengan kadar kemurnian 99,99 persen.
Tony menegaskan, penandatanganan perjanjian jual beli emas antara Freeport Indonesia dan Antam merupakan komitmen dalam mewujudkan hilirisasi di dalam negeri.
Dalam perjanjian bisnis ini, Antam akan membeli sebanyak 30 ton emas dengan kemurnian 99.99 persen dari PTFI.
Bahan baku emas dari PTFI kemudian akan diolah Antam di Pabrik Pengolahan dan Pemurnian Logam Mulia untuk menjadi produk logam mulia Antam.
Menurut Tony Wenas, nilai kontrak kerja sama yang disetujui PTFI dengan ANTAM sebesar 12,5 miliar dollar AS atau sekitar Rp 200 triliun. Namun, nilai tersebut akan disesuaikan dengan perkembangan harga emas.
"Kontraknya ini untuk tahap ini lima tahun, kalau dihitung dari jumlah nilainya sekitar 12,5 miliar dollar (AS). Tapi tergantung dari harga emas ini Pak, 12,5 miliar dolar itu sekitar Rp 200 triliun," jelasnya.
Dirut PT Antam Tbk Nicolas Kanter mengatakan, sinergi antara PTFI dan Antam merupakan langkah penting dalam mewujudkan kemandirian Indonesia di sektor pertambangan.
Langkah ini sejalan dengan upaya pemerintah untuk mengurangi ketergantungan pada produk impor dan mendorong penggunaan produk dalam negeri.
“Sinergi penyerapan emas dari PTFI ini merupakan komitmen Antam dalam memperkuat bisnis emas logam mulia guna memenuhi kebutuhan masyarakat dalam berinvestasi emas. Selain itu, dengan penguatan pengadaan bahan baku domestik, perusahaan juga dapat menurunkan ketergantungan terhadap impor,” kata Nicolas.
Sementara itu, Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung dalam sambutannya menjelaskan peran penting smelter PTFI dalam memajukan industri pemurnian emas di Indonesia.
Yuliot bilang, pemerintah telah memberikan mandat kepada PTFI melalui izin usaha pertambangan khusus (IUPK) untuk membangun smelter tembaga dan fasilitas pemurnian lumpur anoda atau PMR.
Yuliot menambahkan, kolaborasi PTFI dengan Antam merupakan bukti nyata komitmen dalam mengembangkan industri pengolahan mineral di Indonesia dan meningkatkan daya saing di pasar global.