Dongkrak Produktivitas Sawit, Pemerintah Tambah Dana "Replanting" Jadi Rp 60 Juta
Pemerintah tingkatkan dana replanting sawit menjadi Rp 60 juta per ha untuk dorong produktivitas dan minat petani. Halaman all
(Kompas.com) 08/11/24 15:10 17776717
DENPASAR, KOMPAS.com - Peningkatan produktivitas kelapa sawit menjadi salah satu tantangan utama yang bakal dihadapi industri ke depan. Luasnya lahan sawit berusia "tua" menjadi pemicu stagnasi produktivitas komoditas andalan RI itu selama beberapa tahun terakhir.
Berdasarkan data Riset Perkebunan Nusantara (RPN), dari total 6,94 juta hektar (ha) milik petani, 1,36 juta ha di antaranya ditanami oleh pohon-pohon yang berusia di atas 25 tahun. Adapun tanaman muda dengan usia di bawah 3 tahun mencapai 1,64 juta ha dan tanaman dewasa antara 4-25 tahun seluas 3,94 juta ha.
Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah terus berupaya mendorong program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR). Oleh karenanya, pemerintah mengerek dana bantuan replanting sawit dari semula Rp 30 juta per hektar (ha) menjadi Rp 60 juta per ha.
Program peremajaan sawit memang kurang diminati oleh para petani. Pasalnya, dengan melakukan peremajaan, petani tidak akan menghasilkan pendapatan dari sawit selama minimal 5 tahun.
"Dulunya (bantuan replanting) Rp 30 juta hanya cukup membiayai sampai tanaman itu ditanam di lapangan, tapi sampai dengan tanaman menghasilkan, itu dia (petani sawit) harus melakukan self financing," ujar Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), Eddy Abdurrachman, dalam konferensi pers IPOC ke-20, di Nusa Dua, Bali, Kamis (7/11/2024).
Oleh karenanya, Eddy berharap, dengan ditingkatkannya dana bantuan replanting menjadi Rp 60 juta per ha dapat menarik minat petani untuk memanfaatkan program tersebut. Dengan demikian, produksi sawit petani rakyat dapat kembali menjadi lebih optimal.
BPDPKS mencatat, bantuan replanting telah menjangkau 156.000 petani atau setara dengan 350.000 ha lahan. Adapun lahan potensial yang bisa di-replanting mencapai 2 juta ha di Indonesia.
Secara jangka panjang, BPDPKS menargetkan program replanting bisa meningkatkan produksi CPO petani mencapai 8 juta ton per tahun guna mendukung program strategis pemerintah.
"Pada 2045, dengan program replanting, produksi CPO Indonesia berpotensi tembus 83,4 juta ton. Tapi bila program ini tidak berjalan, produksi CPO nasional berisiko menurun dalam beberapa tahun ke depan," tutur Eddy.
Sementara itu, Profesor University of Nebraska-Lincoln (USA) Patricio Grassini menambahkan, Indonesia berpotensi meningkatkan yield kelapa sawit seperti yang terjadi pada komoditas padi dan jagung.
Ia memproyeksi, dengan replanting dan intensifikasi, maka produktivitas CPO bisa naik dari 3,4 ton per ha pada saat ini menjadi 8 ton per ha.
"Kita perlu lebih intensif meningkatkan produktivitas sehingga tantangan seperti keterbatasan lahan bisa teratasi, beban tenaga kerja terselesaikan, dan kita semua terhindar dari kampanye isu-isu lingkungan," ucapnya.
#replanting #bantuan-pemerintah #produksi-sawit #produktifitas-kelapa-sawit