Bersiap Investasi di 2025, Investor Perlu Melek Strategi Ini
2024 menjadi tahun yang ramai bagi pasar modal Indonesia. Investor perlu melek berbagai sentimen ini untuk mempersiapkan investasi di 2025 - Halaman all
(InvestorID) 08/11/24 15:37 17782108
JAKARTA, investor.id - 2024 menjadi tahun yang cukup ramai bagi pasar modal Indonesia. Sejumlah sentimen mulai dari pemilhan umum presiden (pilpres), pemangkasan suku bunga oleh bank sentral dunia, sampai konflik geopolitik mewarnai pasar modal Tanah Air sepanjang 2024.
Menyambut 2025, Chief Investment Officer PT Inovasi Finansial Teknologi (Makmur) Stefanus Dennis Winarto menyebut, ada sejumlah faktor dari dalam maupun luar negeri yang akan membayangi pasar modal Indonesia. Sentimen ini bisa dicermati investor sebagai bekal awal untuk berinvestasi di 2025.
Pertama, tren pergantian kepemimpinan dan perubahan kebijakan sejumlah negara di dunia. Beberapa negara yang berpengaruh besar bagi perekonomian global seperti Amerika Serikat (AS) dan Inggris segera memiliki pemimpin baru tahun depan.
Menurut Stefanus, pergantian kepemimpinan akan diikuti dengan perubahan arah kebijakan dari pemimpin sebelumnya. “Setiap kebijakan dari pemimpin baru dunia akan berdampak bagi negara-negara lain termasuk Indonesia,” ujar Stefanus dalam keterangan resminya dikutip, Jumat (8/11/2024).
Donald Trump dari Partai Republik dinyatakan keluar sebagai pemenang dalam kontestasi Pilpres AS setelah menekuk Capres Partai Demokrat, Kamala Harris. Trump yang saat ini berusia 78 tahun dikenal sebagai pemimpin dengan kebijakan cukup protektif terhadap produk dalam negeri.
Salah satu kebijakan yang dia kampanyekan adalah mengenakan tarif hingga 20% pada semua barang impor (termasuk dari Indonesia), dengan pengenaan tarif tertinggi terhadap barang dari China yang mencapai 60%.
Kalangan analis memprediksi, kebijakan tersebut kemungkinan tidak berdampak signifikan terhadap kenaikan inflasi AS karena dua alasan.
Pertama, tingkat produksi barang di AS sudah membaik sejak pandemi, sehingga supply barang dalam negeri cukup memenuhi kenaikan permintaan. Kedua, mayoritas barang yang diimpor AS dari China merupakan barang non-esensial atau barang non-primer, sehingga pengenaan tarif tidak akan berdampak besar terhadap Consumer Price Index (CPI) yang menjadi tolok ukur inflasi AS.
Pangkas Suku Bunga
Per September 2024, angka CPI Amerika Serikat turun ke level 2,4% dari sebelumnya 2,5% pada Agustus, di mana angka ini sudah mendekati target inflasi The Fed di 2%. “Jadi, The Fed berpeluang tetap melakukan pemangkasan suku bunga acuannya dengan syarat angka CPI terus menurun,” kata dia.
Faktor kedua yang akan membayangi pasar modal Indonesia ke depan adalah pertumbuhan ekonomi global. Kinerja ekonomi negara-negara besar yang menjadi mitra dagang utama seperti AS, China, India, dan Uni Eropa bakal memengaruhi permintaan global terutama terhadap komoditas.
Indonesia sendiri merupakan negara yang cukup bergantung pada kekuatan harga komoditas global seperti batubara, minyak, gas, nikel, dan minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO).
Ketika ekonomi negara-negara mitra dagang utama tumbuh dengan baik, maka permintaan atas produk-produk komoditas ekspor Indonesia cenderung meningkat. Menurut Stefanus, hal ini tentu akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi domestik.
Begitupun, ketika ekonomi negara besar di dunia bertumbuh positif, maka investor asing cenderung lebih percaya diri menanamkan modalnya di pasar negara berkembang termasuk Indonesia.
Faktor Ketiga, kebijakan pemangkasan suku bunga bank sentral diperkirakan berlanjut tahun depan. Sejumlah bank sentral utama dunia seperti The European Central Bank (ECB), People\'s Bank of China (PBOC), hingga Bank Indonesia (BI) diperkirakan masih memiliki ruang cukup untuk melakukan pemangkasan suku bunga.
Sejumlah faktor seperti tingkat inflasi yang mulai melandai, kondisi pertumbuhan ekonomi yang stagnan, hingga insentif untuk memulihkan pasar tenaga kerja akan menjadi pendorong bank sentral di dunia untuk melakukan kebijakan pelonggaran moneter.
Ditambah lagi, The Fed juga dinilai masih memiliki ruang pelonggaran suku bunga tahun depan sekalipun penurunan suku bunga akan cenderung konservatif.
“Ketika suku bunga khususnya di negara maju turun, investor akan cenderung mencari return lebih tinggi di pasar negara berkembang atau emerging market (EM) termasuk Indonesia. Arus modal asing ini bisa memperkuat nilai tukar rupiah dan meningkatkan likuiditas pasar modal,” papar dia.
Keempat, konflik geopolitik di Timur Tengah yang masih berlanjut. Stefanus berpandangan, konflik geopolitik dan genosida yang berlanjut di Timur Tengah turut mempengaruhi sentimen investor terhadap risiko jangka panjang. Jika konflik geopolitik berlanjut, maka investor akan cenderung menghindari aset berisiko dan memilih instrumen investasi yang lebih aman (safe haven).
Kondisi ini dapat menekan pasar modal Indonesia terutama ketika investor asing melepas aset-aset mereka di Indonesia untuk berinvestasi di pasar yang dianggap lebih stabil. Tekanan ini bisa berdampak pada likuiditas di pasar modal domestik.
Stefanus menyimpulkan, sentimen yang berpotensi terjadi pada 2025 masih seputar ketidakpastian ekonomi dan arah kebijakan suku bunga bank sentral. Karena itu, penting bagi investor untuk memilih instrumen yang tepat guna mencapai tujuan investasi di 2025.
Cermati Reksa Dana
Untuk menghadapi potensi penurunan suku bunga, investor bisa mencermati reksa dana pendapatan tetap. Mayoritas portofolio reksa dana merupakan efek bersifat utang (baik obligasi dan/atau sukuk). Ketika suku bunga turun, harga obligasi akan cenderung naik.
Penurunan tingkat suku bunga acuan akan menyebabkan bunga tabungan dan deposito di perbankan menjadi tidak menarik, sehingga akan membuat investor lebih tertarik berinvestasi di instrumen obligasi dibandingkan dengan menaruh uangnya di deposito. Era suku bunga rendah yang diperkirakan berlanjut tahun depan bisa membantu investor memaksimalkan potensi return dari reksa dana pendapatan tetap.
Selain itu, reksa dana saham juga cenderung diuntungkan dari adanya sentimen pemangkasan suku bunga. Penurunan suku bunga akan membuat investor mencari alternatif lain dengan imbal hasil yang lebih tinggi dari deposito, yakni pasar saham.
Secara teori, meningkatnya permintaan saham di bursa akan menyebabkan harga saham mengalami kenaikan. Penurunan suku bunga juga akan meningkatkan kinerja sejumlah emiten. Sebab, pemangkasan suku bunga akan diikuti penurunan suku bunga kredit. Hal ini membuat emiten bisa mendapatkan pendanaan dengan biaya yang lebih rendah.
Pada akhirnya, pendanaan yang murah ini berpotensi mendorong laba bersih emiten yang bermuara pada meningkatnya harga saham. Investor juga bisa melakukan strategi diversifikasi dengan mencermati reksa dana campuran.
Sebab, reksa dana ini mengombinasikan berbagai jenis instrumen seperti saham, obligasi, dan instrumen pasar uang. Karena ada campuran antara aset berisiko rendah dan tinggi, reksa dana campuran memberikan potensi pertumbuhan yang optimal, akan tetapi risikonya terkontrol.
Dengan memilih reksa dana campuran, investor bisa menikmati potensi keuntungan yang lebih tinggi dari reksa dana pasar uang namun dengan fluktuasi yang lebih rendah dibandingkan reksa dana saham. Selain memilih instrumen yang tepat, investor juga harus memilih platform investasi tepat dan aman.
Makmur merupakan platform aplikasi reksa dana berizin resmi sebagai Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD) dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), sehingga dana investasi nasabah tetap tersimpan aman di bank kustodian. Di Makmur, investor bisa memilih lebih dari 100 produk reksa dana pilihan. Makmur juga menyediakan sejumlah promo yang bisa digunakan untuk memaksimalkan kinerja portofolio guna mewujudkan tujuan investasi masing-masing nasabah.
Editor: Muawwan Daelami (muawwandaelami@gmail.com)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News
#berita-terkini #berita-hari-ini #investasi-2025 #reksa-dana #reksa-dana-pasar-uang #reksa-dana-campuran #reksa-dana-saham #makmur-reksa-dana #berita-ekonomi-terkini
https://investor.id/market/379520/bersiap-investasi-di-2025-investor-perlu-melek-strategi-ini