Trump dan

Trump dan "America First": Apa Artinya bagi Stabilitas Ekonomi Dunia?

Di balik ketegasan dan retorika patriotik Trump, tersembunyi ancaman yang tak hanya berisiko mengguncang pasar, tapi juga mengubah tatanan ekonomi. Halaman all

(Kompas.com) 08/11/24 14:26 17790163

DUNIA ekonomi global bergetar setiap kali nama Donald Trump dan slogan "America First" kembali menggema.

Di balik ketegasan sikap dan retorika patriotik Trump, tersembunyi ancaman yang tak hanya berisiko mengguncang pasar, tetapi juga mengubah tatanan ekonomi dunia yang telah terbentuk selama puluhan tahun.

Sebagai pemimpin dengan pandangan proteksionis yang kuat, Trump menempatkan kepentingan Amerika di atas segalanya, prinsip yang menarik bagi sebagian besar konstituennya.

Namun, bagi banyak negara di dunia, langkah ini membawa potensi ketidakpastian yang mengancam stabilitas global.

Dengan segala janji untuk “membuat Amerika hebat lagi,” Trump juga meninggalkan jejak ketidakpastian di benak para pelaku ekonomi internasional.

Ketika tarif perdagangan dinaikkan dan kemitraan ekonomi dipertanyakan, efek domino dari kebijakan Trump mulai terasa hingga ke rantai pasokan global dan harga barang kebutuhan.

Bank Dunia dan IMF memperingatkan bahwa pendekatan semacam ini, jika terus berlanjut, dapat memicu perlambatan ekonomi global, peningkatan inflasi, bahkan de-globalisasi.

Apa sebenarnya yang dimaksud dengan “America First” dalam konteks ekonomi dunia, dan apa artinya bagi stabilitas global?

Artikel ini akan membedah lebih dalam bagaimana pendekatan ekonomi Trump mengancam sistem ekonomi dunia yang saling terhubung, dan bagaimana dunia mungkin perlu bersiap menghadapi realitas baru dalam hubungan internasional yang didominasi oleh kebijakan proteksionis.

Di balik slogan \'America First\'

Sejak pertama kali mencalonkan diri, Donald Trump mengusung slogan “America First,” yang kemudian menjadi dasar dari hampir seluruh kebijakannya.

Slogan ini mencerminkan pendekatan proteksionis yang menekankan kepentingan domestik Amerika Serikat di atas segalanya, termasuk dalam konteks hubungan ekonomi dan perdagangan global.

Trump menganggap bahwa globalisasi dan perdagangan bebas telah merugikan Amerika, mengorbankan pekerjaan di sektor manufaktur, dan meningkatkan defisit perdagangan, terutama dengan negara-negara seperti China dan Meksiko.

Pada masa kepemimpinannya yang pertama, ia menerapkan tarif impor pada berbagai produk, terutama baja dan aluminium, serta melancarkan perang dagang dengan China.

Pendekatan ini membawa konsekuensi besar, tidak hanya bagi Amerika, tetapi juga bagi ekonomi global.

Misalnya, kenaikan tarif impor untuk produk China menyebabkan biaya produksi meningkat, yang pada gilirannya mengurangi keuntungan perusahaan dan meningkatkan harga produk bagi konsumen di seluruh dunia.

Menurut data dari U.S. Department of Commerce, defisit perdagangan AS dengan China menurun selama perang dagang, tetapi terjadi lonjakan harga barang elektronik dan kebutuhan lainnya di pasar internasional.

Sementara itu, IMF memperingatkan bahwa kebijakan semacam ini dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi global dan menyebabkan volatilitas pasar yang berbahaya.

Dengan retorika “America First,” ketegangan ekonomi ini diperkirakan akan meningkat jika Trump kembali berkuasa, sehingga menimbulkan kekhawatiran tentang stabilitas jangka panjang dalam sistem ekonomi global yang saling terhubung.

Salah satu aspek yang paling kontroversial dari pendekatan Trump adalah penekanannya pada proteksionisme melalui kebijakan tarif tinggi dan pembatasan impor.

Proteksionisme ini mungkin menguntungkan industri tertentu di AS dalam jangka pendek, tetapi dampaknya dapat merusak hubungan perdagangan internasional dan stabilitas ekonomi global.

Laporan dari Brookings Institution menunjukkan bahwa peningkatan tarif yang diterapkan AS tidak hanya membatasi impor, tetapi juga memengaruhi ekspor dari negara-negara lain yang terlibat, seperti Kanada, Uni Eropa, dan Tiongkok, memicu pembalasan dalam bentuk tarif yang serupa.

Perang dagang yang dipicu oleh kebijakan Trump telah berdampak luas, memengaruhi rantai pasokan global.

Perusahaan-perusahaan besar seperti Apple dan General Motors menghadapi kesulitan dalam mengakses bahan baku dan komponen dari luar negeri, yang pada akhirnya menghambat produksi dan meningkatkan harga produk.

World Trade Organization (WTO) memperkirakan bahwa ketegangan perdagangan ini menurunkan prospek pertumbuhan global sekitar 1,5 persen pada 2023, meskipun pemulihan dari pandemi masih berlangsung.

Dengan kebijakan “America First” yang lebih ketat, ketegangan perdagangan semacam ini dikhawatirkan akan semakin meningkat, sehingga mengancam kestabilan ekonomi dunia.

Hal ini dapat menyebabkan de-globalisasi dan memaksa negara-negara untuk mencari aliansi dagang baru, yang akan merombak ulang struktur ekonomi global yang telah mapan.

Pendekatan “America First” tidak hanya berdampak pada kebijakan perdagangan, tetapi juga pada kebijakan fiskal AS.

Selama masa kepemimpinannya, Trump menerapkan pemotongan pajak signifikan bagi perusahaan dan individu, yang pada dasarnya meningkatkan pendapatan disposable bagi kelas menengah dan atas.

Namun, langkah ini juga meningkatkan utang AS secara signifikan, memaksa pemerintah untuk meminjam lebih banyak untuk menutupi defisit yang semakin besar.

Congressional Budget Office (CBO) mencatat bahwa pemotongan pajak ini diperkirakan menambah utang federal sebesar 7,5 triliun dollar AS pada dekade mendatang.

Dampak dari kebijakan fiskal ini memengaruhi perekonomian global, terutama mengingat peran dollar AS sebagai mata uang cadangan dunia.

Peningkatan utang AS bisa menyebabkan nilai dollar AS meningkat, sehingga memperburuk inflasi di negara-negara berkembang yang bergantung pada dollar AS untuk perdagangan internasional.

Bank Dunia memperingatkan bahwa kebijakan fiskal AS yang tidak seimbang ini bisa meningkatkan inflasi global secara keseluruhan, yang menghambat pertumbuhan ekonomi di banyak negara.

Selain itu, jika ekonomi AS mengalami tekanan karena utang yang tinggi, dunia bisa melihat penurunan investasi dan permintaan global, yang akan berdampak negatif pada perekonomian global.

“America First” mungkin menguntungkan Amerika dalam jangka pendek, tetapi berpotensi membawa konsekuensi serius bagi stabilitas ekonomi global.

Kebijakan proteksionis, peningkatan tarif, dan utang yang semakin besar dapat mengancam sistem ekonomi dunia yang saling terhubung, memicu inflasi, dan meningkatkan ketidakpastian pasar.

Dunia menghadapi tantangan besar dalam menyesuaikan diri dengan pendekatan ekonomi yang mementingkan satu negara di atas seluruh sistem ekonomi global.

Jika kebijakan ini berlanjut, negara-negara lain mungkin terpaksa mencari cara untuk mengurangi ketergantungan pada Amerika, yang dapat mengarah pada tatanan ekonomi dunia baru dan berpotensi lebih terfragmentasi.

#donald-trump #pilpres-as

https://www.kompas.com/global/read/2024/11/08/142646770/trump-dan-america-first-apa-artinya-bagi-stabilitas-ekonomi-dunia