Selebrasi Gol \'Salam Metal\' Merih Demiral di Euro Bukan Simbol Rasisme, Ini Penjelasannya | Republika Online

Selebrasi Gol 'Salam Metal' Merih Demiral di Euro Bukan Simbol Rasisme, Ini Penjelasannya | Republika Online

Menteri Dalam Negeri Jerman Nancy Faeser menyebut gestur Demiral sebagai simbol rasis

(Republika) 05/07/24 10:08 9736018

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Selebrasi gol Merih Demiral ke gawang Austria pada babak 16 besar Euro 2024, Rabu (3/7/2024) lalu berbuntut panjang. UEFA mengumumkan membuka penyelidikan atas dugaan "perilaku tidak pantas" atas gesture bek Al Ahli ini.

Demiral dianggap melanggar pasal 31 ayat 4 Regulasi Disiplin UEFA. UEFA menunjuk seorang inspektur untuk menyelidiki hal ini.

Menteri Dalam Negeri Jerman Nancy Faeser menyebut gestur Demiral sebagai simbol rasisme. Ia mengutuk perayaan gol Demiral yang dianggap menggunakan sepak bola sebagai platform rasisme. "Ini sama sekali tidak dapat diterima," kata Faeser dalam cuitannya di X, dikutip Anadolu, Kamis (4/7/2024).

Setelah mencetak gol kedua pada menit ke-59, Demiral mengatupkan jempol dengan jari tengah dan manisnya, membiarkan jari telunjuk dan kelingkingnya mengacung, mirip salam metal yang dikenal di Indonesia. Namun di Jerman, gestur tersebut dianggap sebagai "wolf salute" atau salam serigala, simbol kelompok ultranasionalis Turki Ulku Ocaklar, yang dikenal sebagai Grey Wolves atau Serigala Abu-abu.

Grey Wolves didirikan oleh Kolonel Alparslan Turkes pada akhir 1960-an, merupakan kelompok sayap pemuda dari Partai Gerakan Nasionalis (MHP) yang juga dibentuk oleh Alparslan. Grey Wolves menjadi terkenal selama kekerasan politik akhir 1970-an di Turki ketika para anggotanya terlibat dalam perang gerilya perkotaan dengan militan dan aktivis sayap kiri.

Grey Wolves dianggap bertanggung jawab atas sebagian besar kekerasan dan pembunuhan dalam periode ini, termasuk pembantaian pada Desember 1978 yang menewaskan lebih dari 100 orang dari kelompok Syiah.

Namun gestur Serigala Abu-Abu tercatat sudah digunakan oleh orang-orang Turki awal sebagai tanda kemenangan, bahkan sampai ditampilkan dalam motif dan patung dari abad keenam. Penggunaan gestur ini secara politis dipopulerkan kembali pada 1990-an oleh Kolonel Alparslan.

Ahmet Tasagil, seorang profesor di Departemen Bahasa dan Sastra Turki di Universitas Yeditepe Istanbul, menekankan arti penting simbol tersebut bagi masyarakat Turki.

"Simbol serigala adalah salah satu simbol paling penting bagi orang Turki," kata Tasagil kepada Anadolu.

"Semua suku Turki yang tinggal di Asia Tengah menggunakan simbol ini selama abad keempat dan kelima. Simbol ini pertama kali digunakan oleh suku Turki yang disebut Wusuns pada tahun 174 SM. Pada abad keempat dan kelima Masehi, motif serigala diadopsi oleh suku-suku Turki yang dikenal sebagai Kao-Ch\'e."

Simbol ini mendapatkan status legenda selama pendirian Kaganat Turki pada tahun 552 Masehi.Simbol ini seperti dokumen resmi negara. Selama periode Gokturk, kata Tasagil, para wanita bahkan menggunakan serigala abu-abu sebagai gelar.

"Oleh karena itu, ini tidak ada hubungannya dengan rasisme; ini adalah simbol sejarah," tegas Tasagil.

Ia menjelaskan...

Kecaman juga datang dari Omer Celik, juru bicara partai presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, yang bersekutu dengan Serigala Abu-abu. "Akan lebih tepat bagi mereka yang mencari rasisme dan fasisme untuk fokus pada hasil pemilihan umum baru-baru ini di berbagai negara di Eropa," kata dia.

Pernyataan Celik salah satunya merujuk hasil putaran pertama pemilihan umum Prancis di mana Partai National Rally memperoleh hasil yang kuat, sekitar 33 persen suara secara nasional. Partai sayap kanan pimpinan Marine Le Pen terkenal punya sejarah yang lekat dengan rasisme dan xenofobia, di mana umat Muslim jadi salah satu targetnya.

Sementara Demiral mengatakan, selebrasi tersebut adalah ekspresi kebanggaan nasional yang tidak berbahaya. "Itu berkaitan dengan identitas Turki, karena saya sangat bangga menjadi orang Turki. Saya merasakan hal itu sepenuhnya setelah gol kedua," ujarnya, menegaskan penjelasan panjang lebar Tasagil di awal.

"Jadi begitulah akhirnya saya melakukan selebrasi tersebut. Saya sangat senang bisa melakukan itu. Saya melihat orang-orang di stadion yang melakukan gerakan itu. Jadi hal itu mengingatkan saya bahwa saya juga memikirkan hal itu."

Demiral sebelumnya pernah terkena masalah serupa terkait sikap nasionalisnya. Pada 2019, UEFA mendenda federasi sepak bola Turki dan menegur lebih dari 20 pemain termasuk Demiral karena melakukan penghormatan militer pada pertandingan bulan Oktober, selama serangan Turki ke Suriah. UEFA pada saat itu mengatakan bahwa gerakan tersebut "tidak pantas mengingat konteks politik yang spesifik pada saat itu."

Untungnya bagi Demiral, UEFA tak memberikan tenggat waktu investigasi dan keputusannya. Demiral berpeluang besar tetap bisa membela Turki melawan Belanda pada laga perempat final Euro 2024 pada Sabtu (6/7/2024).

#euro-2024 #jadwal-euro-2024 #hasil-euro-2024 #piala-eropa-2024 #hasil-piala-eropa #jadwal-piala-eropa #perempat-final-euro #perempat-final-piala-eropa #merih-demiral #selebrasi-merih-demiral #salam-se

https://news.republika.co.id/berita/sg4rew348/selebrasi-gol-salam-metal-merih-demiral-di-euro-bukan-simbol-rasisme-ini-penjelasannya