Berusia Lebih dari 50.000 Tahun, Lukisan Gua Tertua Ditemukan di Sulawesi
Peneliti memperkirakan, lukisan yang berada di gua kapur, Leang Karapuang, Maros-Pangkep, Sulawesi Selatan, ini merupakan lukisan gua tertua di dunia. Halaman all
(Kompas.com) 05/07/24 15:32 9755304
KOMPAS.com - Tim peneliti yang terdiri dari Griffith University, Southern Cross University (SCU), serta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melaporkan penemuan penting terkait lukisan gua di Sulawesi, Indonesia.
Peneliti memperkirakan, lukisan yang berada di gua kapur, Leang Karapuang, Maros-Pangkep, Sulawesi Selatan, ini merupakan lukisan gua tertua di dunia.
Hasil analisis menunjukkan bahwa seni hias di bawah lapisan tersebut memiliki pertanggalan paling awal sekitar 51.200 tahun yang lalu. Inilah yang membuatnya sebagai gambar hias gua tertua di dunia sekaligus narasi seni paling awal yang pernah ditemukan dan diteliti hingga saat ini.
Penggunaan metode baru
Dalam menentukan umur lukisan gua tersebut, tim penelitian menggunakan metode melalui ablasi laser U-series (LA-U-series) untuk mendapatkan pertanggalan akurat pada lapisan tipis kalsium karbonat yang terbentuk di atas seni hias tersebut.
Metode analisis tersebut dikembangkan oleh Profesor Maxime Abert, ahli arkeologi di GCSCR, bersama koleganya dari SCU, Profesor Renaud Joannes-Boyau, ahli arkeogeokimia dari Geoarchaeology and Archaeometry Research Group (GARG).
Menurut Prof. Abert, peneliti sebelumnya telah menggunakan metode berbasis uranium untuk mencari umur seni cadas di wilayah Sulawesi dan Kalimantan, namun teknik LA-U-series ini menghasilkan data yang lebih akurat karena mampu mendeteksi umur lapisan kalsium karbonat dengan sangat rinci hingga mendekati masa pembuatan seni hias tersebut.
Dengan demikian, ia mengatakan, penemuan ini akan merevolusi metode analisis pertanggalan seni cadas.
Teknik inovatif yang sedang dirintis ini memungkinkan peneliti untuk membuat “peta” lapisan kalsium karbonat secara rinci, sehingga mereka dapat menentukan sekaligus menghindari area permukaan yang mengalami proses perubahan diagenesis secara alami.
Alhasil, Prof. Joannes-Boyau mengatakan, penentuan umur seni cadas menjadi lebih mendalam dan bisa dipertanggungjawabkan.
Implikasi temuan terhadap asal-usul seni
Adhi Agus Oktaviana, ahli seni cadas Indonesia dari BRIN, menjelaskan, penemuan lukisan Leang Karampaung yang telah berumur setidaknya 51.200 tahun yang lalu memiliki implikasi penting terkait pemahaman mengenai asal-usul seni paling awal.
Ia menambahkan, hasil penelitian ini sangat mengejutkan karena belum ada karya seni dari zaman Es Eropa yang terkenal, yang umurnya mendekati umur lukisan gua Sulawesi ini, meski ada pengecualian untuk beberapa temuan kontroversial di Spanyol.
Di samping itu, tim penelitian juga melakukan penanggalan ulang pada kandungan kalsium karbonat yang melapisi lukisan gua di situs Leang Bulu’ Sipong 4 di Maros Pangkep.
Lukisan gua ini menampilkan adegan sosok yang diinterpretasikan sebagai therianthropes (setengah manusia, setengah hewan) yang sedang berburu babi rusa dan anoa.
Lukisan gua ini sebelumnya pernah diteliti dengan hasil pertanggalan setidaknya 44.000 tahun yang lalu.
Dengan metode terbaru, hasil yang didapatkan juga cukup mengesankan karena seni hias tersebut dinyatakan berumur 4.000 tahun lebih tua, yaitu sekitar 48.000 tahun.
Profesor Adam Brumm dari Griffith’s Australian Research Centre for Human Evolution (ARCHE) yang turut serta dalam penelitian ini menyatakan bahwa seni hias gua dari Leang Karampuang dan Leang Bulu’ Sipong 4 memberikan pemahaman baru terhadap signifikansi budaya bercerita dalam kaitannya dengan sejarah seni.
Ia juga menyatakan bahwa ini merupakan sebuah penemuan mutakhir.
Pasalnya, pandangan akademis selama ini menunjukkan bahwa lukisan gua figurative awal hanya terdiri atas panel individual tanpa memperlihatkan adegan yang jelas. Kemunculan representasi gambar yang memiliki cerita baru muncul dalam seni hias Eropa.
Sedangkan, penemuan ini berhasil mengindikasikan bahwa lukisan gua yang bersifat naratif merupakan bagian penting dalam budaya seni manusia awal Indonesia pada masa itu.
Oktaviana menyatakan, pada dasarnya manusia sudah memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dalam bentuk cerita sejak lebih dari 51.200 tahun, namun karena kata-kata tidak bisa menjadi fosil, maka yang tertinggal hanyalah penggambaran dalam bentuk seni.
Adapun temuan di Sulawesi ini Adalah bukti tertua yang bisa diketahui dari sudut pandang arkeologi.
#lukisan-gua-tertua #lukisan-tertua-di-dunia #lukisan-tertua-di-sulawesi #penemuan-lukisan-gua-tertua