Siapa Manusia Sulawesi yang 51 Ribu Tahun Lalu Mampu Melukis di Dinding Gua? | Republika Online

Siapa Manusia Sulawesi yang 51 Ribu Tahun Lalu Mampu Melukis di Dinding Gua? | Republika Online

Benua Australia ditaksir sudah dihuni sejak 65 ribu tahun yang lalu

(Republika) 05/07/24 18:45 9773749

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Tim arkeolog Badan Riset dan Inovasi Nasional beserta Griffith University Australia mengungkap lukisan gua tertua di dunia. Lokasi lukisan itu berada di gua-gua di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Salah satu lukisan gua yang berasal dari Leang Karampuang ditaksir berumur minimal 51.200 tahun yang lalu. Ini lebih tua dari lukisan gua yang ditemukan di Eropa maupun Afrika. Siapa manusia yang melukis gambar-gambar itu?

Arkeolog BRIN, Adhi Agus Oktaviana, mengatakan penelitian gambar cadas atau lukisan gua di Indonesia penting karena menjadi data untuk mengetahui sejarah pergerakan manusia di kawasan. Migrasi manusia dipercaya terjadi di kawasan dari Asia Tenggara menuju Australia. Manusia pertama yang menghuni Australia terdeteksi pada 65 ribu tahun yang lalu.

“Kita ingin tahu jalur migrasi (manusia purba),” kata Adhi Agus, dalam jumpa pers Kamis (4/7/2024).

Jenis manusia saat itu dipercaya sebagai Homo sapiens. Jejak DNA Homo sapiens ini, dalam penelitian BRIN lainnya maupun Lembaga Eijkmann, juga terlihat dalam DNA penduduk Indonesia. Salah satu artefak tinggalan manusia purba itu adalah lukisan di dinding gua. Manusia Sulawesi dengan demikian tercatat sebagai juru gambar tertua di dunia saat ini.

Jejak tersebut, lanjut Adhi Agus, terlihat polanya dari mengikuti persebaran situs-situs lukisan gua di Indonesia. Misal, situs lukisan gua di Kalimantan yang agak berbeda karena berwarna hitam, dan dipercaya bisa jadi lebih tua. Kemudian lukisan gua di kawasan Raja Ampat dan Papua yang makin muda umurnya.

Prof Maxime Aubert dari Griffith University dalam paparannya menyatakan bahwa amat mungkin pelukis lukisan gua di kawasan Maros-Pangkep ini adalah bagian dari manusia yang bermigrasi dari barat ke timur. “Sampai ke Australia,” kata dia.

Penemuan lukisan Leang Karampaung yang telah berumur setidaknya 51.200 tahun yang lalu memiliki implikasi penting terkait pemahaman mengenai asal-usul seni paling awal.

“Hasil yang kami peroleh ini sangat mengejutkan karena belum ada karya seni dari zaman Es Eropa yang terkenal yang umurnya mendekati umur lukisan gua Sulawesi ini, walau ada pengecualian pada beberapa temuan kontroversial di Spanyol. Penemuan ini merupakan seni cadas pertama di Indonesia yang umurnya melampaui 50 ribu tahun”, kata Adhi Agus.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Profesor Adam Brumm dari Griffith’s Australian Research Centre for Human Evolution (ARCHE) yang turut serta dalam penelitian ini menyatakan bahwa seni hias gua dari Leang Karampuang dan Leang Bulu’ Sipong 4 memberikan pemahaman baru terhadap signifikansi budaya bercerita dalam kaitannya dengan sejarah seni.

“Perlu diingat bahwa lukisan cadas tertua yang kami temukan di Sulawesi ini terdiri atas beberapa adegan yang bisa dikenali dengan mudah, yaitu penggambaran interaksi manusia dan hewan yang bisa ditafsirkan bahwa seniman pembuatnya berusaha untuk berkomunikasi secara naratif,” kata Profesor Brumm.

Profesor Brumm juga menyatakan bahwa ini merupakan sebuah penemuan mutakhir karena pandangan akademis selama ini menunjukkan bahwa lukisan gua figurative awal hanya terdiri atas panel individual tanpa memperlihatkan adegan yang jelas. Kemunculan representasi gambar yang memiliki cerita baru muncul kemudian dalam seni hias Eropa.

Penemuan oleh Oktaviana dan tim Griffith University ini mengindikasikan bahwa lukisan gua yang bersifat naratif merupakan bagian penting dalam budaya seni manusia awal Indonesia pada masa itu.

“Pada dasarnya manusia sudah memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dalam bentuk cerita sejak lebih dari 51.200 tahun, namun karena kata-kata tidak bisa menjadi fosil batu maka yang tertinggal hanyalah penggambaran dalam bentuk seni. Temuan di Sulawesi ini adalah bukti tertua yang bisa diketahui dari sudut pandang arkeologi,” lanjut Adhi Agus.

#brin #arkeologi #lukisan-gua #lukisan-gua-tertua #lukisan-gua-maros

https://news.republika.co.id/berita/sg5f8d475/siapa-manusia-sulawesi-yang-51-ribu-tahun-lalu-mampu-melukis-di-dinding-gua