Upaya Warga Kampung Bali Lanjutkan Hidup Usai Rumah Ludes Dilalap Api
Warga Kampung Bali di Tanah Abang, Jakarta Pusat, berusaha menatap ke depan, tak terus meratap setelah rumah mereka habis dilalap api. Halaman all
(Kompas.com) 06/07/24 08:44 9835968
JAKARTA, KOMPAS.com - Warga Kampung Bali yang rumahnya hangus terbakar Sabtu lalu mulai menata kembali hidup mereka.
Mereka berupaya agar bisa berjalan terus tanpa meratapi apa yang sudah terjadi,
Sebagian memilih tinggal di pengungsian dan rumah-rumah tetangga, beberapa langsung mencari kontrakan, atau mengungsi ke rumah kerabat.
Anak Sekolah Terdampak
Kobaran api yang terjadi siang bolong itu menghanguskan semua barang-barang milik warga. Tidak ada satu pun yang berhasil diselamatkan kecuali baju yang menempel di badan.
Alhasil, beberapa anak yang Senin (8/7/2024) sudah mulai masuk sekolah, jadi tidak punya seragam.
Salah satunya, Ryan (15). Anak kelas 9 SMP ini kehilangan seragam, buku, sepatu, dan semua barang-barangnya karena rumahnya ludes terbakar.
“Baju-baju, sepatu, sama buku-buku pelajaran, hangus semua,” ungkap ibunda Ryan, Mira (48) saat ditemui di lokasi kebakaran, Kampung Bali, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Jumat (6/7/2024).
Kendati demikian, Mira mengaku pihak kelurahan dan RW setempat sempat melakukan pendataan.
Kabarnya, Ryan dan anak-anak sekolah yang terdampak akan mendapatkan seragam baru dari pemerintah kota.
Tapi, saat ditemui di hari Jumat, Mira mengaku belum mendapatkan seragam yang dimaksud.
Hal yang sama juga disampaikan oleh Nurfadia (28), ibu empat orang anak yang rumahnya juga terbakar.
Nur mengatakan, tiga anaknya masih duduk di bangku SD. Dia pun sangat menyayangkan kebakaran yang terjadi. Apalagi, anak-anaknya baru dibelikan seragam baru.
“Sudah habis (kebakar). Padahal, baru beli seragam. Semuanya (hangus). Sepatu belum beli kemaren, untungnya. Kalau udah beli mah tambah nyesek (sakit hati),” imbuh Nurfadia.
Kenang-kenangan
KOMPAS.com/Shela Octavia Sisa motor kena kebakaran di Kampung Bali, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Jumat (5/7/2024)Setelah mengorek-ngorek sekitaran rumahnya sejak pagi, Zul baru bisa tersenyum ketika matahari sudah meninggi.
“Harta karun ini. Buat kenang-kenangan ajalah. Ini hidup saya,” ujar Zulkarnain sambil menunjukkan temuannya ketika ditemui di Kampung Bali, Tanah Abang, Jakarta Pusat pada Kamis (4/7/2024).
Saat itu, Zul memperlihatkan sebuah laptop yang telah hangus terbakar. Pelindung bagian belakang laptop sudah meleleh sehingga mesin di dalam terlihat jelas.
Selongsong baterainya pun sempat cocok dan tak lagi bisa dipasang di tempatnya meski Zul terus mencoba.
Pensiunan technical support ini mengaku sudah tiga tahun bergantung pada laptop yang telah hangus terbakar itu.
Sehari-harinya, Zul buka servis laptop. Tapi, dia lebih banyak mendapat permintaan untuk memindahkan file ke flashdisk atau mengisikan lagu ke ponsel tetangganya.
“Sehari-hari (kerjanya) kalau isi film, lagu. Di Roxy Mas udah enggak ada kan. Lumayan (dikasih) gocap (50 ribu),” jelas Zul.
Dia mengaku tidak membatasi jumlah lagu atau film untuk satu kali pengisian. Harga yang dipatok tetap sama, Rp 50 ribu sekali isi.
Meski sedih, Zul tampak tak ambil pusing soal laptopnya dan dua kardus cincinnya yang hangus terbakar.
Jualan Seng untuk Tambahan Dana
Satu hari sebelum warga melakukan kerja bakti massal, seng-seng bekas atap rumah sudah lebih dahulu diangkut keluar lokasi kebakaran.
Saat itu, sebuah truk sampah terlihat penuh dengan seng-seng bekas yang menggunung. Dua orang warga tampak sedang mengikat dan mengamankan seng itu agar tidak jatuh saat dibawa ke pembeli besi bekas.
“Diborongin. Nanti, duitnya dibagi ke (warga yang rumahnya terbakar),” ujar Sofi (35), salah satu warga.
Tak hanya atap seng, besi-besi lain yang bisa dijual kembali dikumpulkan oleh warga. Termasuk, sisa kerangka kulkas dengan freonnya yang sudah hangus terbakar.
Warga Berharap Pemerintah Bantu Bangunkan Rumah
Beberapa warga telah tinggal turun-temurun sebelum rumah mereka hangus terbakar. Salah satunya Zulkarnain. Dia mengaku keluarga sudah beberapa generasi tinggal di sana.
Dengan sertifikat tanah yang dipegangnya, dia menyampaikan harapan agar pemerintah dapat membantu warga untuk membangun kembali rumah mereka di lokasi tersebut.
"Kita biaya dari mana bisa bangun (rumah)? Saya minta bantuan dari mana saja lah. Paling tidak berdiri rumah," ujar Zulkarnain.
Dilema yang sama juga dirasakan oleh Nurjana, Ketua RW 08.
Dia mengatakan, dari 30 KK yang menetap di lokasi kebakaran itu, hanya 5 KK yang memegang sertifikat hak milik (SHM).
Nurjana mengatakan, dirinya dan kelurahan sudah mengajukan permintaan untuk bantuan itu kepada pemerintah.
"Kasihan tapi kalau yang punya sertifikat saja yang dibangunkan rumah," kata Nurjana saat ditemui di posko penyaluran bantuan tidak jauh dari lokasi kebakaran.
Dia mengaku merasa serba salah karena masyarakat yang tidak memegang SHM tentu akan protes padanya jika bantuan itu tidak merata ke semua warga yang terdampak.
Penjabat Gubernur DKI Jakarta Heru Budi Hartono telah memberikan tanggapan terkait hal ini. Heru mengatakan, dinas terkait akan terlebih dahulu memeriksa ke lokasi kebakaran.
"Nanti kami lihat, ada dari BAZIS, BAZNAS, PMI, dari kolaborasi pihak swasta, (nanti) kami lihat (cek lokasi) ya," ucap Heru Budi usai kunjungan sembako murah di Bintaro Permai, Kecamatan Pesanggrahan, Jakarta Selatan, Jumat (5/7/2024).
#kebakaran-di-kampung-bali #kampung-bali-kebakaran #kampung-bali #warga-kampung-bali-minta-rumah-diperbaiki