Perkuat

Perkuat "Experience" Pengguna dengan Layanan AI, Strategi Trip.com Sasar Pasar Pariwisata Indonesia

Trip.com memperkuat layanan untuk memanjakan penggunanya, salah satunya dengan layanan AI TripGenie yang bisa merekomendasikan itinerary perjalanan. Halaman all

(Kompas.com) 06/07/24 14:00 9858811

JAKARTA, KOMPAS.com - Penyedia layanan perjalanan terpadu internasional Trip.com memperkuat layanan berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) untuk makin mempermudah dan "memanjakan" penggunanya.

Dengan strategi ini, Trip.com yang berpusat di China optimistis dapat "mencuil" kue pasar pariwisata di Indonesia yang sangat besar, terutama pariwisata domestik.

General Manager Indonesia Trip.com Krishna Arya mengatakan, saat ini pihaknya fokus ke pasar pariwisata dari China ke Indonesia, serta pasar pariwisata domestik di Indonesia.

Sebagaimana diketahui, berdasarkan data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, wisatawan China sangat besar dengan total 2 juta kunjungan sebelum pandemi.

Turis China juga paling royal, bahkan selama 2023 pengeluaran mereka di Indonesia mencapai 196,5 miliar dollar AS. Uniknya, sebanyak 56 persen wisatawan asal China mudah terpengaruh oleh content destinasi di media.

Tak heran jika pemerintah menargetkan 1 juta-1,5 juta kunjungan wisatawan asal China ke Indonesia pada tahun 2024. Di sisi lain, pemerintah pada 2024 juga menargetkan 1,2 miliar-1,5 miliar pergerakan wisatawan nusantara (wisnus).

Untuk \'mencuil" peluang pasar itu, Trip.com melakukan sejumlah terobosan dan investasi di bidang teknologi agar para penggunanya makin nyaman melakukan booking dari platform ini.

"Kami ingin semakin relevan bagi pengguna di Indonesia. Pada 2023 lalu kami perkuat opsi pembayaran dengan sejumlah bank, juga BCA, serta e-wallet seperti OVO, juga kartu debit dan kredit," kata Krishna kepada Kompas.com, awal Juli ini.

"Terobosan lain, kami punya membership deals, sebagai deals eksklusif, untuk member kami. Namanya Trip Plus, yang mana harga booking di mobile apps akan lebih murah dibanding di website kami," tambahnya.

Terobosan lain yakni TripPlus, yakni Hotel Plus X Program, yakni "highlight unique value" sebuah hotel. Jadi saat seseorang mau booking hotel via Trip.com, customer akan segera tahu apa keunggulan dan keunikan layanan hotel yang mau di-booking. Misal, hotel ini punya shuttle dari dan ke airport, atau keunggulan lain.

"Ini jadi pembeda layanan Trip.com dengan kompetitor. Kami punya personalized offer melalui Hotel Plus X ini," lanjut Krishna.



Pelemahan rupiah

Krishna tak menampik saat ini ada pelemahan rupiah yang dikhawatirkan akan memperlambat daya beli masyarakat, terutama buat liburan. Namun, dari data yang ada, perjalanan domestik ternyata selalu naik dari tahun ke tahun.

"Tahun lalu saja data BPS sebut travel domestik itu 600 juta trip (pergerakan), tahun ini belum tutup tahun sudah 1 miliar trip (pergerakan). Kalau kita lihat domestic travel ini punya potensi yang sustain," katanya.

Selain itu, destinasi domestik yang dituju juga masih konsisten, seperti Bali, Yogyakarta, Bandung, Jakarta, dan Surabaya.

"Walaupun dollar naik, travel domestik kemungkinan akan tetap dilakukan. Concern-nya tiket pesawat mahal, tapi untuk menyiasatinya kami punya kerja sama eksklusif dengan beberapa airline, agar harga tiket lebih murah," lanjut Krishna.

Layanan berbasis AI

Krishna memaparkan, pertumbuhan Trip.com per tahun mencapai 148 persen. Pertumbuhan ini terutama dikontribusikan dari hotel booking.

Sejumlah layanan AI yang jadi unggulan Trip.com adalah TripGenie sebagai "travel assistant" serta TripTrends sebagai "contekan" bagi para wisatawan untuk lokasi wisata, tempat, atau acara yang sedang ramai atau banyak dibicarakan warganet.

Di TriGenie, pengguna bisa menanyakan apa saja kebutuhanbya sebagai wisatawan, dalam bentuk chat dan suara. Bahkan, layanan AI ini bisa membuat rekomendasi perjalanan dan itinerary perjalanan, baik di luar negeri ataupun di dalam negeri.

"Misal mau jalan-jalan ke Bangkok, tidak tahu mau ke mana, TripGenie bisa bikin itinerary-nya, yang bisa dikirim ke ponsel kita," ujar Krishna.

Kemudian Trip.com juga memiliki fitur TripBest, untuk mempercepat pengguna memilih hotel di lokasi kota yang ditujunya. Tak ketinggalan, ada informasi "Deals" untuk info promo penerbangan di aneka destinasi.

Ada juga papan info "Bombastrip" yang berisi aneka promo penerbangan, hotel, dan travel global yang paling murah.

"Kami juga punya layanan push info di mobile apps, untuk beri notifikasi pengguna layanan bandara, misal penerbangan ini masuk gate mana, nanti bagasi diambil di row berapa, kalau ada delay berapa lama dan sebagainya," kata Krishna.

Layanan ini, tentu saja sangat menolong calon penumpang pesawat, terkait informasi penerbangannya. "Semua bandara di Indonesia sudah terkoneksi untuk layanan ini," tambah Khrisna.

Soal keamanan data, Krishna menegaskan, layanan Trip.com aman bagi penggunanya dari kebocoran data atau ancaman siber lain. "Data pengguna dijamin aman. Kami selalu mengikuti arahan soal regulasi personal data privacy dari pemerintah," katanya.

Sebagai informasi, saat ini layanan Trip.com tersedia dalam 24 bahasa di 39 negara. Layanan ini juga mendukung penggunaan 35 mata uang lokal.

Trip.com juga bekerja sama dengan 1,1 juta jaringan hotel, 510 maskapai, 3.400 bandara di 220 negara di dunia.

Trip.com yang berpusat di China berdiri sejak 1999. Saat ini Trip.com terdaftar di bursa Nasdaq dan Hong Kong Exchange.

#jakarta #trip-com

https://money.kompas.com/read/2024/07/06/140000626/perkuat-experience-pengguna-dengan-layanan-ai-strategi-trip.com-sasar-pasar