Pentingnya Penguatan Petani untuk Swasembada Gula

Pentingnya Penguatan Petani untuk Swasembada Gula

Untuk menciptakan swasembada gula, diperlukan ekosistem yang dimulai dari ketersediaan benih di level petani.

(Kompas.com) 06/07/24 22:00 9895547

JAKARTA, KOMPAS.com - PT Sinergi Gula Nusantara atau Sugar Co menekankan pentingnya penguatan petani tebu untuk merealisasikan visi swasembada gula. Pasalnya, penguatan itubakal berdampak terhadap produktivitas petani dan pada akhirnya meningkatkan produksi pabrik gula.

Direktur Keuangan Sinergi Gula Nusantara Hariyanto mengatakan, untuk menciptakan swasembada gula, diperlukan ekosistem yang dimulai dari ketersediaan benih di level petani. Oleh karenanya, perusahaan telah menjalankan program Makmur bersama PT Petrokimia Gresik untuk memastikan ketersediaan pupuk di level petani.

"Program Makmur ini salah satu rangkaian, bahwa kami harus bersinergi mensukseskan swasembada gula. Ekosistem sangat penting karena kita tidak bisa bergerak sendiri-sendiri," kata dia, dalam keterangannya, Sabtu (6/7/2024).

Ketua Dewan Pimpinan Cabang Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (DPC APTRI) PG Pradjekan Rolis Wikarsono mengakui, salah satu kendala yang dihadapi petani tebu adalah akses dan ketersediaan saprodi diantaranya pupuk yang dibutuhkan tanaman untuk proses pertumbuhan dan peningkatan produktivitas.

"Lahan kami sekitar 6.500-an hektar di hampir seluruh kabupaten Situbondo telah ter-cover Program Makmur – Program Mari Kita Majukan Usaha Rakyat, kami mendapatkan jaminan pupuk yang asli dan prosesnya hanya dua tiga hari, harganya kompetitif," tutur dia.

Adapun para petani mitra PG Pradjekan yang merupakan petani tebu pertama mengakses Program Makmur pada tiga tahun lalu, mengakuu telah merasakan dampak positif. Ini ditunjukan dari kenaikan produktivitas petani.

"Tahun ini peningkatan produktivitas luar biasa, sebelumnya di 76 kini menjadi 110 ton per hektar, rendemen naik, pendapatan petani juga naik," kata General Manager PG Pradjekan, Mohammad Sholeh Kusuma.

Kenaikan produktivitas tersebut dinilai cukup signifikan, mencapai 45 persen dari semula 76 ton per hektar menjadi 110 ton per hektar, kenaikan rendemen mencapai 9,9 persen dari 8,14 persen menjadi 8,94 persen, sehingga pendapatan petani meningkat dari semula Rp 53,4 juta per hektar menjadi Rp 69,4 juta per hektar.


Sementara itu Direktur Keuangan dan Umum Petrokimia Gresik Robby Setiabudi Madjid memberikan apresiasi atas peningkatan produktivitas yang diraih oleh petani tebu mitra. Ia meyakini melalui sistem bagi hasil dengan petani, ditambah dengan kinerja SGN petani akan tambah makmur.

"Kami berterimakasih pada semua ekosistem yang berada di Program Makmur ini kami karena mensukseskan juga ketahanan pangan nasional," pungkas Robby.

#jakarta #gula

https://money.kompas.com/read/2024/07/06/220000526/pentingnya-penguatan-petani-untuk-swasembada-gula?utm_source=Google&utm_medium=Newstand&utm_campaign=partner