Menerawang Lowongan Kerja Masa Depan di Era "Khodam" AI
Memang benar, AI tidak akan menggantikan manusia. Namun, manusia dengan AI akan menggantikan manusia yang tidak menggunakannya. Halaman all
(Kompas.com) 07/07/24 11:00 9956549
HOMO LUDENS. "Insan yang bermain" menurut filsuf Belanda, Johan Huizinga, menemukan konteksnya dalam fenomena viral "cek khodam online". Bayangkan, mengecek hal gaib menggunakan teknologi online atau daring.
Antropolog Unair, Biandro Wisnuyana menyebut "cek khodam online" menjadi viral karena masyarakat Indonesia sangat suka dengan hal mistis dan cocoklogi (percocokan logika) alias utak-atik gathuk.
Dia menyebut, fenomena ini sifatnya hiburan semata saja. Dalam bahasa gaul Anak Jaksel, have fun saja atau sekadar buat lucu-lucuan saja.
Khodamsendiri dikutip dari berbagai sumber merupakan bahasa Arab yang mengandung arti pembantu. Kata ini kemudian diserap dalam bahasa Indonesia dalam KBBI menjadi khadam yang memiliki makna sama: pembantu atau pelayan.
Sejalan fenomena "cek khodam online" yang rasanya masih harus kita buktikan secara empiris, sesungguhnya sudah ada khadam, "pembantu" manusia modern yang juga tidak kasat mata, namun menjadi bagian keseharian kerja: kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Dalam laporan global Work Trend Index 2024 yang melibatkan 31.000 responden di 31 negara termasuk Indonesia, mengemuka fakta menarik: sebanyak 92 knowledge workers di Indonesia sudah memiliki "khodam" AI di tempat kerja.
Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan angka global, yakni 75 persen dan Asia Pasifik 83 persen.
Meski tidak seperti "khodam musang sumatera" atau "khodam rawa rontek", khadam AI sama-sama memiliki kemampuan yang bisa dimanfaatkan untuk menyelesaikan masalah bagi manusia, termasuk di dunia kerja.
Oleh karena itu, 76 persen karyawan di Indonesia berinitiatif untuk membawa khodam atau perangkat solusi AI mereka sendiri ke tempat kerja (Bring Your Own AI/BYOAI).
Lalu apa dampak "khodam" AI ini bagi lowongan kerja masa depan pekerja Indonesia? Mari kita terawang bersama.
AI Jadi Keniscayaan Hari Ini
Data Work Trend Index 2024 menyebut sebanyak 69 persen pemimpin perusahaan di Indonesia secara tegas menyatakan mereka tidak akan merekrut karyawan yang tidak memiliki kemampuan menggunakan AI.
Bahkan, 76 persen cenderung akan memilih calon karyawan dengan pengalaman kerja lebih sedikit, tetapi jago menggunakan AI, dibandingkan kandidat berpengalaman, tapi tidak mampu menggunakan AI.
Tidak sampai di situ, sebanyak 77 persen pemimpin perusahaan mengaku akan diberi tanggung jawab lebih besar kepada karyawan junior yang memiliki kemampuan menggunakan AI.
Dari data ini kita dapat belajar, mengakuisisi AI sebagai "khodam" di dunia kerja telah menjadi keniscayaan yang tidak bisa ditolak. Tidak menunggu nanti, tidak menunggu dua atau tiga tahun lagi melainkan saat ini di tahun 2024.
Dari sisi perusahaan, pemimpin perusahaan akan memilih calon karyawan dengan kemampuan menggunaan AI untuk mendapatkan talenta terbaik bagi mereka.
Sedangkan dari sisi karyawan atau calon karyawan, kemampuan menggunaan AI menjadi daya jual yang unggul dibanding mereka yang tidak memiliki kemampuan ini.
Riset LinkedIn menyebut, lowongan pekerjaan yang mensyaratkan kemampuan kecerdasan buatan atau AI mengalami peningkatan 17 persen lebih tinggi dibandingkan dua tahun terakhir.
Dari riset yang sama, sebanyak 22 persen pemberi lowongan kerja mengatakan mereka sedang menambahkan deskripsi pekerjaan untuk menambahkan penggunaan AI dalam job desk atau peran/tugas kerja.
Dari angka tersebut, riset LinkedIn mencatat meningkatnya syarat kemampuan AI dalam berbagai lowongan profesi atau bidang pekerjaan seperti penulis konten (33 persen), desain grafis (27 persen), marketing manajer (24 persen), front end developer (19 persen), desainer produk (18 persen), manajer operasional (17 persen), web developer (16 persen), hingga manajer akunting (14 persen).
Akankah AI Menggantikan Manusia?
Gelombang besar penggunaan AI ini nampaknya perlu disadari oleh para pencari kerja di hari ini.
Nicky Vallelly, Kepala Talent Acquisition di Google DeepMind memberikan tips kepada job seeker untuk memperkaya kemampuan dengan penguasaan AI sebagai hard skill yang wajib dimiliki.
Generasi Boomers (58 tahun ke atas) atau Gen X (44-57 tahun) pernah mengalami ada masa di mana salah satu syarat umum dalam setiap lowongan kerja berbunyi "menguasai Windows dan Microsoft Office lebih diminati/disukai".
Kondisi seperti itulah yang dirasakan hari-hari belakang ini di mana AI menjadi "kemampuan dasar" yang harus dimiliki para pencari kerja.
Selain mengasah skill AI, saran lain yang diberikan bagi para pencari kerja adalah menguasai kemampuan-kemampuan yang saat ini belum tergantikan AI.
Soft skill itu di antaranya adalah kemampuan berkomunikasi, membangun relasi/jejaring, kemampuan beradaptasi, mengatasi masalah, dan berpikir kritis.
Kutipan dari artikel Harvard Business Review yang ditulis Karim Lakhani, Profesor di Harvard Business School rasanya dapat menjadi penanda tebal dari seluruh tulisan ini: "AI Won\'t Replace Humans, but Humans Using AI Will Replace Humans Without AI".
Memang benar, AI tidak akan menggantikan manusia. Namun, manusia dengan AI akan menggantikan manusia yang tidak menggunakannya.
Omong-omong sudah punya "khodam" AI belum?