#30 tag 24jam
Studi Akamai: Bisnis Digital Native di Kawasan Asia Lebih Prioritaskan Keamanan
Sebuah studi terbaru Akamai Technologies, perusahaan teknologi yang menyediakan layanan jaringan dan keamanan konten, mengungkap bahwa digital native business (DNB) di kawasan Asia semakin mengutamaka [568] url asal
#berita-terkini #berita-hari-ini #akamai #keamanan-siber #digital-native-business #cloud-computing #data #berita-ekonomi-terkini
(InvestorID) 30/09/24 20:56
v/15783295/
JAKARTA, investor.id - Sebuah studi terbaru Akamai Technologies, perusahaan teknologi yang menyediakan layanan jaringan dan keamanan konten, mengungkap bahwa digital native business (DNB) di kawasan Asia semakin mengutamakan keamanan daripada biaya dan skalabilitas seiring dengan percepatan adopsi cloud.
Pergeseran fokus ini menggarisbawahi semakin pentingnya aspek keamanan dalam mendukung keberlanjutan dan keberhasilan jangka panjang bisnis mereka.
Seiring dengan semakin kompleksnya lanskap digital, ancaman siber juga kian canggih dan sering. Serangan ransomware, pencurian data, dan gangguan layanan menjadi hal yang umum terjadi.
Yang juga menjadi pendorong adalah banyak negara, termasuk Indonesia yang mulai memberlakukan regulasi yang lebih ketat terkait perlindungan data pribadi. Perusahaan yang tidak mematuhi regulasi berisiko menghadapi sanksi yang berat.
Studi Akamai menemukan bahwa sembilan dari sepuluh DNB di Asia menganggap efisiensi dan produktivitas sebagai prioritas utama mereka selama 12 bulan ke depan.
Namun, seiring bisnis-bisnis ini merangkul teknologi canggih, seperti komputasi cloud dan API, mereka juga menghadapi tantangan keamanan yang signifikan.
Jay Jenkins, Chief Technology Officer di Akamai Cloud Computing, menekankan pentingnya pendekatan yang seimbang terhadap adopsi teknologi.
Sementara teknologi mutakhir menawarkan peluang yang sangat besar, teknologi tersebut juga menghadirkan kompleksitas yang dapat membuat bisnis terpapar ancaman siber.
Untuk memanfaatkan sepenuhnya potensi komputasi cloud, DNB harus mengutamakan keamanan dan mengadopsi pendekatan multi-cloud untuk menghindari ketergantungan pada vendor dan meningkatkan fleksibilitas.
Studi ini juga menyoroti tantangan khusus yang dihadapi DNB dalam perjalanan adopsi cloud mereka. Masalah umum meliputi pengelolaan implikasi keamanan, kurangnya keahlian teknis, dan kebutuhan akan analitik dan pelaporan waktu nyata.
Selain itu, keamanan API telah muncul sebagai masalah kritis, dengan bisnis yang menyadari pentingnya visibilitas ke dalam aktivitas serangan API dan beradaptasi dengan ancaman yang terus berkembang.
Penelitian Akamai mengungkapkan bahwa DNB semakin memprioritaskan keamanan API untuk mengatasi masalah keamanan cloud. Sembilan dari sepuluh DNB menyatakan bahwa keamanan API adalah fitur produk yang kritis atau penting saat mengevaluasi penyedia cloud atau keamanan.
Lebih jauh, 87% DNB mengindikasikan bahwa fitur keamanan lebih penting daripada kinerja, reputasi, skalabilitas, dan biaya saat memilih penyedia cloud.
Jenkins menekankan pentingnya pendekatan komprehensif terhadap keamanan, khususnya dalam konteks API, yang berfungsi sebagai jaringan ikat dalam infrastruktur cloud-native modern.
Kerangka kerja keamanan yang kuat harus mencakup langkah-langkah keamanan API tingkat lanjut, audit rutin, dan visibilitas tinggi ke dalam aktivitas API untuk memastikan operasi yang gesit, fleksibel, dan aman.
Banyak yang mulai melihat Zero Trust sebagai solusi keamanan yang efektif, sesuatu yang dapat dilakukan, dan sesuatu yang tidak menguras kantong mereka. Itulah sebabnya mereka mengadopsinya lebih agresif hari ini karena pada saat yang sama, ancaman tingkat lanjut seperti ransomware juga menjadi lebih agresif dalam hal volume dan intensitas.
Reuben Koh, Direktur Keamanan Teknologi & Strategi Akamai Technologies, menyoroti beberapa aspek penting dalam keamanan API untuk DNB, termasuk potensi miskonfigurasi, visibilitas, API runtime, dan uji keamanan. Namun, ia juga menekankan bahwa phishing merupakan masalah utama bagi DNB di Asean dengan 97.465 upaya phishing di sektor keuangan Indonesia yang berhasil diblokir.
Konsekuensinya, DNB di Asean cenderung memprioritaskan investasi dalam teknologi anti-phishing, terutama mengingat evolusi taktik phishing yang berawal dari serangan berbasis email kini mulai menyasar perangkat seluler dan platform media sosial.
Temuan studi ini menggarisbawahi semakin meningkatnya kesadaran di kalangan DNB tentang pentingnya keamanan dalam perjalanan adopsi cloud mereka. Dengan memprioritaskan keamanan, bisnis ini dapat mengurangi risiko, melindungi data berharga mereka, dan memastikan keberlanjutan jangka panjang operasi mereka.
Editor: Imam Suhartadi (imam_suhartadi@investor.co.id)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News
Digital Native Business Kini Prioritaskan Keamanan Ketimbang Skalabilitas
Berdasarkan studi Akamai, 9 dari 10 DNB memprioritaskan efisiensi dan produktivitas dalam 12 bulan ke depan. [915] url asal
#akamai #transformasi-digital #studi-akamai #digital-native-business
(MedCom) 28/09/24 15:29
v/15676378/
Jakarta: Akamai Technologies mengumumkan hasil studi terbarunya bahwa Digital Native Business (DNB) di Asia menghadapi tantangan keamanan dan kompleksitas teknologi, dalam mempercepat adopsi cloud yang berisiko terhadap pertumbuhan bisnis.Dalam studi berjudul Asia’s Digital Native Businesses Prioritize Security for Sustainable Growth, DNB didefinisikan sebagai perusahaan yang melakukan adopsi teknologi secara agresif. Perusahaan-perusahaan ini bergerak sangat cepat dalam memenuhi kebutuhan pelanggan untuk bekerja, beraktivitas, dan bermain secara online.
Berdasarkan studi Akamai, 9 dari 10 DNB memprioritaskan efisiensi dan produktivitas dalam 12 bulan ke depan, serta melakukan investasi dalam berbagai teknologi, misalnya komputasi cloud atau layanan mikro dengan dukungan antarmuka pemrograman aplikasi (API). Menurut IDC, pada tahun 2026 DNB akan menggelontorkan dana teknologi dengan besaran hingga USD128,9 miliar, dengan tingkat kenaikan pengeluaran tertinggi untuk teknologi berbasis cloud sebesar 37,3%.
“Teknologi canggih merupakan DNA bagi Digital Native Business. Hal ini memang membuka peluang, tapi juga tantangan. Percepatan adopsi teknologi adalah peluang yang menjanjikan untuk DNB. Namun, dunia TI yang semakin rumit turut meningkatkan risiko ancaman siber terhadap penerapan cloud dan kinerja bisnis potensial,” ujar Jay Jenkins, Chief Technology Officer di Akamai Cloud Computing, Akamai.
“Agar DNB yang ‘terlahir di cloud’ dapat mengoptimalkan potensinya, mereka harus mencari cara untuk memaksimalkan kinerja cloud dan menerapkan pendekatan multi-cloud untuk terhindar dari vendor lock-in, meningkatkan fleksibilitas, sekaligus memaksimalkan penggunaan dan biaya layanan cloud.”
Pola pikir yang memprioritaskan teknologi menghambat postur keamanan siber DNB
DNB menganut prinsip desain cloud-native dan menerapkan teknologi sebagai pembeda utama untuk unggul dalam persaingan.
Dengan infrastruktur di sekitar layanan mikro yang beroperasi secara independen dan berkomunikasi melalui API, DNB mampu menskalakan serta mempercepat pemasaran. Berdasarkan studi terbaru Akamai, 74% dari DNB sudah bermigrasi sepenuhnya ke cloud atau sedang mengadopsi berbagai teknologi cloud.
Responden di Australia dan Selandia Baru mengubah perspektif mereka tentang teknologi cloud dari komponen disruptif menjadi komponen bisnis yang krusial, 97% responden sedang mengadopsi atau mengeksplorasi adopsi cloud.
Sementara itu, DNB di India berfokus pada pengembangan dan inovasi, dengan integrasi AI tertinggi dalam infrastruktur cloud sebesar 98%. Hampir semua DNB di India sudah menerapkan solusi cloud atau sedang mendalami adopsi cloud.
Seiring perubahan, DNB di India menargetkan pertumbuhan yang berkelanjutan dengan memprioritaskan keamanan, pengoptimalan biaya, dan evaluasi vendor yang menyeluruh. Dengan sejarah inovasi teknologi yang begitu panjang, DNB di India lebih memprioritaskan kinerja vendor ketimbang wilayah sekitarnya, sehingga menduduki peringkat kedua di Asia.
DNB di Asia sangat cepat dalam menerapkan teknologi cloud, yang kemudian akan berubah menjadi matriks software, sistem, dan layanan kompleks, sehingga keamanan siber DNB juga jadi semakin rentan.
DNB terus mengalami kesulitan untuk mengelola implikasi keamanan di sepanjang tahap perjalanan cloud mereka, 75% responden menilai aspek keamanan dalam kinerja dan kapabilitas infrastruktur cloud mereka lebih buruk ketimbang aspek lainnya, seperti latensi jaringan, penyimpanan data, pengambilan data, atau sumber daya komputasi. Faktanya, 44% responden menyatakan bahwa kesulitan untuk meningkatkan keamanan disebabkan oleh infrastruktur TI yang makin rumit.
Penerapan cloud secara terburu-buru menimbulkan tantangan krusial yang berisiko menurunkan kinerja. Dan untuk mengejar pertumbuhan bisnis, DNB tidak boleh lagi mengabaikan ancaman siber yang kian marak.
Meningkatkan pengoptimalan cloud dan keamanan API
Meski umumnya “terlahir di cloud”, DNB selalu kesulitan dalam menjaga keamanan aktivitas online karena mereka kesulitan memaksimalkan potensi teknologi cloud, data, dan AI yang kian berkembang.
DNB juga menggunakan sangat banyak API dan infrastruktur berbasis cloud sehingga menjadi target utama bagi serangan siber serta berisiko tinggi menjadi korban phishing, penyusupan akun, dan ransomware jika dibandingkan dengan perusahaan konvensional.
Berdasarkan riset Akamai, DNB memprioritaskan keamanan API untuk mengatasi masalah keamanan cloud, di mana 9 dari 10 responden menganggap keamanan API sebagai fitur produk yang krusial atau penting ketika mengevaluasi penyedia cloud atau layanan keamanan tertentu.
87% DNB menyatakan bahwa fitur keamanan lebih penting ketimbang kinerja, reputasi, skalabilitas, dan biaya dalam pemilihan penyedia cloud. Demi menghindari ancaman siber yang kian marak, DNB memerlukan dukungan dari mitra teknologi untuk mengetahui potensi kelemahan rantai yang dapat dieksploitasi oleh pelaku serangan siber.
“API merupakan jaringan penghubung dalam infrastruktur cloud-native modern. Untuk pengoperasian yang tangkas, fleksibel, dan aman, DNB wajib memiliki kerangka kerja keamanan modern. Mereka juga harus menerapkan langkah keamanan API tingkat lanjut, melakukan audit keamanan API secara berkala, dan mampu melihat aktivitas API dengan mudah,” jelas Jenkins.
Sektor yang paling berisiko di antaranya: gaming, teknologi canggih, media video, dan e-commerce. Demi mempercepat inovasi dan pemasaran, DNB mungkin meluncurkan aplikasi atau proses yang menggunakan API sebelum tim keamanan dapat melakukan evaluasi sebagaimana mestinya, sehingga DNB jadi lebih berisiko terpapar ancaman siber.
Di ASEAN, phishing merupakan masalah utama bagi DNB. Hal ini memaksa mereka untuk memprioritaskan investasi dalam teknologi anti-phishing ketimbang wilayah lainnya di APJ. Taktik phishing juga berevolusi. Dulunya taktik phishing hanya berbentuk serangan berbasis email, tapi sekarang sudah menyebar ke perangkat seluler dan platform media sosial. Oleh sebab itu, nilai investasi teknologi anti-phishing di wilayah ASEAN jauh lebih tinggi ketimbang wilayah lainnya di APJ.
Dalam mengatasi masalah kerumitan dan keamanan dalam perjalanan adopsi cloud, DNB di Asia akan mendapatkan wawasan untuk melihat masa depan bisnis mereka, apa pun latar belakang dan tingkat kemapanan cloud mereka. Kini, teknologi cloud serta layanan berbasis API menjadi penopang bisnis digital modern sehingga memerlukan berbagai alat, keterampilan, dan mitra baru untuk menjamin kesuksesan adopsi juga implementasinya.
Asia’s Digital Native Businesses Prioritize Security for Sustainable Growth ditugaskan oleh Akamai dan disusun oleh Technology Advice. Studi ini melakukan survei terhadap lebih dari 200 pemimpin teknologi di Australia, Asia Tenggara, India, serta Tiongkok Raya untuk memahami masalah seputar prioritas bisnis dan teknologi utama yang dihadapi DNB di Asia.
dan followChannel WhatsApp Medcom.id
(MMI)