KOMPAS.com - Dunia terkagum-kagum ketika atlet angkat beban Inggris Eddie Hall mengangkat beban seberat 500 kilogram di Kejuaraan Angkat Beban Dunia pada tahun 2016.
Hall adalah orang pertama yang memecahkan batasan setengah ton.
Kemudian pada tahun 2020 atlet angkat beban Islandia Hafþór Júlíus Björnsson meningkatkan kemampuannya dengan mengangkat beban seberat 501 kg.
Sementara itu, rekor beban terberat yang pernah diangkat manusia dipegang oleh orang kuat Kanada Gregg Ernst, yang pada tahun 1993 mengangkat dua mobil dengan pengemudi yang totalnya mencapai 2.422 kg.
Prestasi kekuatan yang mencengangkan ini menimbulkan pertanyaan: berapa beban terberat yang dapat diangkat seseorang?
Seperti dikutip dari Live Science, Senin (29/7/2024) Bradley Schoenfeld, seorang profesor ilmu olahraga di Lehman College, mengatakan bahwa kekuatan otot dapat diukur menggunakan mesin elektromiografi (EMG).
EMG bekerja dengan merekam aktivitas listrik yang dihasilkan dalam otot, baik oleh sel saraf maupun oleh kontraksi serat otot.
Tes semacam itu hanya dapat dilakukan di laboratorium dan EMG hanya memantau sekumpulan otot yang terlokalisasi sehingga tidak dapat menilai kapasitas otot seseorang secara keseluruhan.
Ini kemudian menurut E. Todd Schroeder, seorang profesor terapi fisik klinis di University of Southern California yang mempelajari bagaimana kekuatan dan massa otot dapat ditingkatkan pada orang dewasa, sulit untuk menentukan batasan berapa beban terberat yang dapat diangkat seseorang.
Satu-satunya cara untuk benar-benar menentukan kapasitas otot adalah melalui pelatihan berkelanjutan dengan membuat rekor pribadi baru dan kemudian melihat apakah Anda dapat memecahkannya.
"Jika seseorang berkata bisa mengangkat beban 200 kg itu hebat. Tetapi saya tidak tahu apakah Anda dapat mengangkat lebih banyak lagi," kata Schroeder.
Secara fisik, kapasitas seseorang untuk menahan beban bergantung pada aktin dan miosin, dua protein yang memungkinkan otot berkontraksi.
Protein-protein ini tersusun dalam berbagai jenis serat otot, termasuk "sentakan cepat" dan "sentakan lambat."
Massa otot seseorang dan rasio serat-serat ini bergantung pada pola latihannya, serta faktor biologis seperti genetika dan jenis kelamin. Secara umum, semakin besar massa otot Anda, semakin besar pula gaya yang dapat Anda hasilkan.
Atlet angkat beban memacu diri mereka hingga batas maksimal dengan terus meningkatkan massa otot mereka. Namun, hasil gaya berkurang seiring massa otot tumbuh semakin besar, dan akhirnya otot mencapai batasnya.
Dan terkadang, sekadar mengumpulkan massa otot saja tidak cukup. Menurut Schroeder lagi, terkadang orang dengan massa tubuh lebih sedikit mengangkat beban lebih banyak daripada orang dengan massa tubuh lebih banyak.
Salah satu faktor yang harus diatasi atlet angkat beban adalah "inhibisi neuromuskular," yang membatasi gaya yang dapat digunakan otot untuk berkontraksi guna membantu mencegah cedera. Penelitian menemukan bahwa batasan ini dapat ditingkatkan dengan latihan ketahanan.
Selain latihan fisik, atlet angkat beban harus melampaui hambatan mental untuk mengangkat beban yang semakin berat.
Atlet angkat beban terbaik adalah mereka yang dapat mengatasi hambatan ini dan menempatkan diri mereka dalam kondisi mental yang tepat untuk mengerahkan semua serat otot mereka.
"Jika saya mencoba mengangkat beban semaksimal mungkin, katakanlah 90 kg dan kemudian saya mampu mencapai kondisi di mana saya menghilangkan hambatan saraf itu, saya mungkin dapat mengangkat beban seberat 136 kg," kata Schroeder.
Efek ini ditunjukkan dalam sebuah studi tahun 2020 yang diterbitkan dalam jurnal Impulse.
Para peneliti mencoba menentukan apakah visualisasi positif, sebuah teknik yang melibatkan latihan mental untuk hasil positif memengaruhi latihan kekuatan.
Mereka merekrut 133 atlet mahasiswa di sebuah universitas dan membagi mereka menjadi dua kelompok.
Kelompok pertama diminta untuk membayangkan diri mereka mengangkat 110 persen dari kapasitas angkat mereka setidaknya selama lima menit sehari sambil mendengarkan musik motivasi. Kelompok kedua tidak melakukan ini.
Setelah tiga minggu, para atlet kembali ke lab. Mereka yang telah mempraktikkan visualisasi positif masing-masing meningkatkan kapasitas angkat mereka setidaknya 4,5 hingga 6,8 kg. Sedangkan mereka yang berada dalam kelompok pembanding rata-rata hanya mengalami peningkatan 2,2 kg.
"Sampai batas tertentu, Anda dapat mengangkat lebih banyak dari yang Anda kira jika Anda memiliki pola pikir yang tepat," kata Schoenfeld.
"Seseorang selalu tampak bisa menjadi sedikit lebih kuat dan tampil sedikit lebih baik. Di dunia angkat beban, hal ini terwujud pada atlet yang berulang kali memecahkan rekor mereka sendiri di kompetisi," tambahnya.