VAIDEENI, investor.id – Penduduk desa di Vaideeni, wilayah kaki pegunungan Carpathian Rumania marah pada merek mewah Prancis Louis Vuitton. Penduduk asli daerah ini mengatakan Louis Vuitton ini "mencuri" desain blus tradisional alias pakaian adat mereka.
Maria Gioanca (69) adalah satu dari lebih dari 20 perempuan yang masih menjahit pakaian hitam-putih di desa tersebut. Mengutip laporan AFP pada Kamis (11/7/2024), Gioanca mengatakan kepada AFP dirinya "tidak akan membiarkan kostum itu dicuri" untuk pakaian pantai yang mewah dari grup barang mewah LVMH itu.
Seruan kepada merek-merek mewah untuk mengakui inspirasi desain mereka telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir, ketika industri fesyen dihadapkan pada tuduhan perampasan budaya dan eksploitasi warisan kelompok minoritas.
Di Rumania, kelompok aktivis La Blouse Roumaine (The Romania Blouse) telah meminta merek ini sejak 2017 untuk berterus terang dan “menghargai” tempat asal pakaian mereka jika pakaian mereka mirip atau terinspirasi oleh kostum rakyat Rumania.
Didedikasikan untuk mempromosikan blus tradisional "ie", yang dikenal telah menginspirasi perancang busana seperti Yves Saint-Laurent, Jean Paul Gaultier, dan Kenzo, keluhan mereka membuahkan hasil yang beragam.
Melanggar Hak Budaya
Di Vaideeni, banyak penjahit yang belum pernah mendengar tentang Louis Vuitton, namun langsung menyadari kemiripannya dengan blus "ie" tradisional mereka ketika mereka melihat foto blus linen putih merek Prancis yang disulam dengan motif hitam untuk koleksi "LV by the Pool" mereka.
"Mengapa mengejek barang-barang kami?" kata Ioana Staniloiu (76), Kamis. Ia mengejek blu yang dibuat oleh desainer bintang Nicolas Ghesquiere dan diiklankan di situs Louis Vuitton sebagai blus yang "airy" dan memiliki "tampilan bohemian yang segar".
"Di sebelah blus kami, (desain itu) jelek sekali," tukasnya.
Pendiri La Blouse Roumaine Andreea Tanasescu menuduh perusahaan Prancis tersebut "melanggar hak budaya masyarakat". Masyarakat adat merasa tersinggung karena blus yang biasanya dikenakan pada acara-acara khusus malah digunakan sebagai pakaian pantai.
“Anda harus sangat berhati-hati... Lebih baik Anda pergi dan berbicara dengan masyarakat, menghabiskan waktu di sana,” ujar mantan direktur casting (49) tersebut. Tanasescu menambahkan, fesyen dapat membantu “melindungi dan mempromosikan warisan budaya” jika ada pertukaran.
Menteri Kebudayaan Rumania bulan lalu meminta perusahaan tersebut untuk mengakui warisan budaya tersebut.
Louis Vuitton menolak berkomentar ketika dihubungi oleh AFP, namun membenarkan laporan media bahwa mereka meminta maaf kepada Rumania dan berhenti menjual blus tersebut.
Kini, blus tersebut tidak lagi muncul di situs web merek Louis Vuitton dan 20 blus yang belum terjual telah disisihkan, menurut laporan.
Takut untuk Masa Depan
Di masa lalu, La Blouse Roumaine meyakinkan desainer asal Amerika Serikat (AS) Tory Burch untuk mengubah deskripsi mantel karena terinspirasi dari Rumania. Mereka tidak mendapat balasan apa pun dari Dior dalam kasus serupa.
Pakaian dan tekstil tradisional Rumania memiliki "estetika yang luar biasa dan istimewa", menurut spesialis tekstil Florica Zaharia. Dirinya menunjuk pada "kebijaksanaan dan keanggunan" pakaian adat tersebut.
“Ada keindahan yang tidak bisa kita abaikan,” ungkap Zaharia, yang membuka museum tekstil pertama di Rumania pada 2018 setelah hampir 30 tahun bekerja di Metropolitan Museum of Art di New York, AS.
Namun para kritikus mengatakan kontroversi ini tidak membantu masyarakat menyelamatkan kerajinan mereka yang sekarat.
Hal ini seperti “menayangkan cucian kotor di depan umum”, kata kurator Museum Petani Rumania Horatiu Ilea. Ia pun menambahkan, “satu-satunya hal” yang dapat membantu adalah dengan mengajak kaum muda mempelajari kerajinan tersebut.
Meskipun pembuatan blus Rumania ditambahkan ke daftar warisan budaya takbenda UNESCO pada 2022, tidak ada hak paten atas blus tersebut. Selain itu, ada gaya yang berbeda bahkan di antara kelompok penjahit yang sama.
Di Vaideeni, beberapa perempuan baru-baru ini mempelajari keahlian yang mereka pelajari dari orang tua mereka. Namun hal ini tidaklah mudah.
Dibutuhkan setidaknya satu bulan untuk menjahit blus yang dijual dengan harga sekitar 300 hingga 400 euro (US$ 320 hingga US$ 430 atau setara Rp 5,2-5,9 juta). Penjualannya pun tidak selaris kue panas.
“Saya agak takut (tentang masa depan), tapi kami tidak akan menyerah di sini,” sambung Staniloiu, yang putri dan empat cucunya telah meninggalkan desa untuk mencari pekerjaan di tempat lain.
Editor: Grace El Dora (graceldora@gmail.com)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News