JAKARTA, investor.id – Emiten sawit TP Rachmat, PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG), membukukan laba sebesar Rp 508 miliar pada semester I-2024. Angka itu naik 41% YoY (year on year) dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Direktur Utama Dharma Satya Nusantara (DSNG) Andrianto Oetomo mengatakan, kenaikan laba tersebut didorong oleh peningkatan pendapatan dari semua segmen usaha, baik kelapa sawit, produk kayu maupun energi terbarukan (biomassa).
“Terutama kenaikan harga produk kelapa sawit, serta penurunan biaya operasional seiring turunnya harga pupuk yang sempat melonjak tinggi tahun lalu,” ungkap Andrianto dalam keterangannya, Selasa (30/7/2024).
Sepanjang paruh pertama 2024, lanjut Andrianto, DSNG membukukan total pendapatan sebesar Rp 4,7 triliun, naik 8% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Dari jumlah tersebut, segmen kelapa sawit menyumbang pendapatan sebesar Rp 4,0 triliun, naik 5% dibandingkan semester I 2023, dengan harga rata-rata CPO dan PKO naik masing-masing sebesar 3,2% dan 8,6%.
Andrianto menambahkan, segmen kelapa sawit masih memberikan kontribusi utama pendapatan Perseroan, yakni sekitar 86%, seiring peningkatan produktivitas, terutama dari perbaikan rendemen atau Oil Extraction Rate (OER). Kinerja operasional kelapa sawit Perseroan terbantu oleh membaiknya OER dari 22,62% pada semester I tahun lalu menjadi 24,05% di semester I-2024.
“Penurunan produksi CPO DSNG terutama dipicu oleh berkurangnya pembelian buah dari pihak eksternal karena terbatasnya ketersediaan TBS eksternal dengan harga yang masih memberikan marjin proses olah,” ujar Andrianto.
Sementara itu, segmen usaha produk kayu menyumbang sekitar Rp 558 miliar atau kontribusi sebesar 12% terhadap pendapatan total, mengalami kenaikan 11% dibandingkan semester I-2023, seiring dengan kenaikan volume penjualan produk panel hingga 25% YoY. Namun kondisi pasar internasional untuk produk kayu hingga saat ini masih belum pulih ke level yang diharapkan.
Menurut Andrianto, hal ini terlihat pada produk panel yang mengalami pelemahan harga jual dibandingkan tahun lalu, sementara harga rata-rata produk lantai kayu naik tipis karena perbedaan komposisi produk yang dijual. Meskipun kondisi pasar produk kayu saat ini kurang menggembirakan, namun Perseroan tetap berupaya mengembangkan bisnis produk kayu agar memiliki potensi kinerja yang lebih baik di masa depan.
“Rencana pengembangan saat ini masih dalam tahap penggodokan sebelum nantinya dieksekusi, tentunya dengan mempertimbangkan kondisi pasar yang ada,” tambah Andrianto.
Kontribusi Biomassa
Andrianto mengatakan, sejak tahun lalu, segmen energi terbarukan DSNG yang berfokus di biomassa, mulai memberikan kontribusi pendapatan bagi DSNG, melalui penjualan cangkang kelapa sawit ke Jepang. Pada semester I-2024, energi terbarukan menyumbang Rp 119 miliar atau sekitar 2,5% dari total pendapatan Perseroan, meningkat hampir 300% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
"Terkait melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) sebesar 7% selama paruh pertama 2024, pelemahan nilai tukar rupiah tersebut memang berdampak pada peningkatan nilai total hutang dolar perseroan yang ditranslasi ke dalam Rupiah pada tanggal pelaporan buku, sesuai dengan ketentuan standar akuntansi yang berlaku," paparnya.
Padahal sebenarnya hutang dolar Perseroan justru mengalami penurunan sebesar 12% dibandingkan akhir 2023 seiring dengan pembayaran angsuran pokok. Hingga akhir Juni 2024, saldo utang dolar Perseroan berkisar 20% dari total hutang Perseroan.
Andrianto juga menyatakan tidak khawatir terhadap kemampuan Perseroan dalam memenuhi kewajiban pembayaran utang dolar yang jatuh tempo. Hal itu mengingat total kewajiban pembayaran tersebut hanya berkisar 25% dari total pendapatan dalam dolar yang dihasilkan oleh segmen usaha produk kayu dan renewable energi, sehingga terjadi natural hedging.
Editor: Indah Handayani (indah.handayani26@gmail.com)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News