JAKARTA, KOMPAS.com - Bocah laki-laki bernama Benji (7) datang bersama sang ibu, Yolanda, (34) ke car free day di Bundaran HI pada Minggu (28/7/2024).
Dia datang untuk menelusuri kawasan Bundaran HI dan mengumpulkan sampah-sampah yang terletak di pinggir kawasan tersebut.
Benji baru berusia tujuh tahun, ia baru masuk Sekolah Dasar pada tahun ini. Tapi dia bersemangat untuk menjelajahi lebih kurang sepanjang empat kilometer untuk memungut sampah.
Benji adalah anggota Komunitas Operasi Semut yang aktif melakukan kegiatan memungut hingga memilah sampah.
Yolanda bilang, Benji lah yang tertarik untuk datang melakukan kegiatan bersama Komunitas Operasi Semut.
Kata Yolanda, Benji bahkan telah bangun dan bersiap berangkat ke kawasan Bundaran HI sejak pukul 04.30 WIB. Ia dan sang anak baru tiba di lokasi sekitar pukul 07.30 WIB.
Ketika Kompas.com hadir di acara tersebut, Benji dan Operasi Semut telah selesai menyisir sampah yang tercecer di kawasan tersebut.
Namun Benji masih tampak semangat, dirinya bahkan membantu tim lainnya untuk menghitung berat sampah yang telah mereka kumpulkan.
Dalam acara tadi, Benji adalah satu-satunya anak kecil di antara sekitar sepuluh orang dewasa yang ikut dalam acara tersebut.
Dididik ramah lingkungan sejak kecil
Yolanda bilang, dia dan sang suami telah mendidik Benji sejak usia tiga tahun. Benji dibiasakan untuk memilah sampah di rumah.
"Nah kalau aku pilah, biasanya kita kumpulin satu kantong karung gede. Terus nanti waktu kita pilah, aku panggil dia untuk bantuin. Jadi dia tahu, oh ini sampah kaleng, ini sampah plastik, ini bisa daur ulang, ini enggak," kata Yolanda saat ditemui di Bundaran HI, Jumat (28/7/2024).
Yolanda menjelaskan, momen ini adalah hari pertama Benji mengikuti kegiatan lingkungan di luar rumah.
Biasanya, kata Yolanda, dia dan Benji kerap memilah sampah di rumah, untuk nantinya mereka jual ke bank sampah.
"Ya, jadi aku tuh suka ngasi edukasi ke anak juga karena aku di rumah juga memilah sampah, sampah botol, kaleng, kaca, itu aku pisahin. Terus aku biasanya manggil bank sampah, kebetulan ada aplikasinya diduitin, itu dari sampah jadi duit. Itu dijemput sampahnya," tambah Yolanda.
Maka dari itu, Yolanda bilang, sang anak telah terbiasa memilah sampah.
Bahkan, kata Yolanda, Benji sempat ingin bergabung dalam acara bersih sungai bersama sang ibu. Akan tetapi, Yolanda tidak ingin membahayakan anaknya yang masih belia.
"Kemarin kan kita abis ikut pembersihan sungai ya. Itu dia sebenarnya, aku udah kasih tau 'mami izin, mau bersih bersih sungai', terus dia excited pengen ikut. cuma aku pikir, kalau sungai itu kan lebih berbahaya ya, entah itu tanahnya, sampahnya, atau ada binatang-binatang kan kita enggak tahu ya," kata Yolanda.
Di CFD kurang tempat sampah
Koordinator Komunitas Operasi Semut Jakarta Apri bilang, CFD di Bundaran HI masih minim tempat sampah. Hal itu yang membuat masyarakat menelantarkan sampah mereka di sepanjang kawasan Bundaran HI.
Selain itu, kesadaran warga untuk membuang sampah pada tempatnya juga masih kurang.
Hal itu yang membuat Komunitas Operasi Semut melakukan sisir sampah di CFD Bundaran HI sejak Februari 2023.
Dia bilang, pihaknya beberapa kali diberi masukan oleh warga yang turut dalam CFD. Kata dia, beberapa warga menyebut minimnya tempat sampah di kawasan CFD.
"Kita beberapa kali dapat kritik dan saran dari pengunjung ini, mereka bilang 'Mas, di sini tempat sampah masih kurang'," ujar Apri saat ditemui di Bundaran HI, Minggu (28/7/2024).
Idealnya, kata Apri, setiap 200 meter harus ada satu tempat sampah portable.
Apri menjelaskan, dia dan timnya telah berhasil mengumpulkan empat kilogram sampah selama sekira satu jam menyisir kawasan tersebut pada Minggu (28/7/2024).
Sampah terbanyak yang dikumpulkan saat itu adalah puntung rokok. Padahal, kawasan CFD adalah kawasan bebas asap rokok.
Apri menduga, sampah puntung rokok yang banyak pada hari itu disebabkan oleh orang yang kumpul-kumpul di kawasan tersebut pada malam Minggu.
Selain puntung rokok, sampah-sampah residu atau plastik masih kerap mereka temukan di CFD Bundaran HI.
Berharap ada Benji lainnya
Apri sendiri, selaku koordinator komunitas untuk area Jakarta senang karena acara tersebut dihadiri oleh anak berumur tujuh tahun.
Hal itu, kata Apri, dapat memberikan tamparan bagi orang-orang yang masih membuang sampah sembarangan.
Selain itu, Apri berharap ada semakin banyak generasi muda yang melakukan kegiatan serupa.
"Dan juga Benji-Benji yang lain, anak-anak yang lain bisa ikut serta tertanam dari kecil, mereka peduli dengan sampah," kata Apri.
Apri bilang, kesadaran untuk menghormati lingkungan selalu lebih baik diciptakan sejak dari anak-anak. Maka dari itu, komunitas mereka juga berkolaborasi melakukan kegiatan susur sampah di CFD bersama sekolah.
Hal itu, kata Apri, untuk dapat meningkatkan kesadaran anak terhadap lingkungan.