KOMPAS.com -Neuralink, perusahaan neuroteknologi milik Elon Musk, mengklaim telah berhasil melakukan implant chip otak pada pasien keduanya.
Pasien kedua Neuralink ini disebut mengalami cedera tulang belakang.
Sejak 2016, Neuralink memang mengembangkan implan otak berteknologi tinggi.
Teknologi ini diklaim bisa membantu orang dengan cedera tulang belakang untuk mengontrol komputer hanya dengan berpikir.
Neuralink mengembangkan antarmuka otak-komputer atau brain-computer interface (BCI) yang berupa chip dengan nama "the Link".
Sederhananya, chip kecil ini ditanam ke otak untuk membaca dan merangsang aktivitas otak.
Dilansir dari laman Neuralink, "the Link" hanya seukuran koin yang punya benang fleksibel sangat tipis dan dilengkapi engan 1.024 elektroda yang bisa merekam aktivitas neuron otak.
Benang-benang ini dihubungkan ke berbagai bagian otak yang mengendalikan keterampilan motorik. Informasi yang diterima dari benang-benang ini kemudian diproses oleh chip dan dikirim ke perangkat digital melalui koneksi Bluetooth.
Dikutip dari Built In, Kamis (9/5/2024), teknologi Neuralink bekerja dengan cara yang mirip dengan elektrofisiologi.
Sinyal-sinyal kimiawi listrik di sistem saraf kita memicu komunikasi antar neuron. Aktivitas otak ini ditangkap oleh elektroda atau sensor yang bisa mendeteksi perubahan tegangan listrik.
Jadi, data aktivitas otak kita tidak hanya ditangkap saat kita melakukan sesuatu, tetapi juga saat kita memikirkan untuk melakukan sesuatu.
Pasien Neuralink
Instagram/@noland_arbaugh Potret Noland Arbaugh, pasien implan otak Neuralink yang dibuat Elon Musk [Instagram/@noland_arbaugh].Neuralink telah mendapat persetujuan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) untuk memulai uji klinis pada manusia sejak tahun 2023. Uji klinis ini bertujuan untuk mengumpulkan data keamanan dan efektivitas chip.
Pasien pertama Neuralink adalah Noland Arbaugh, seorang pria berusia 29 tahun yang mengalami kelumpuhan dari bahu ke bawah. Implan pertama ini dilakukan pada Januari 2024.
Dikutip dari BBC, Minggu (4/2/2024), beberapa minggu setelah operasi penanaman chip, Arbaugh sudah dapat mengontrol laptopnya hanya dengan pikirannya.
Kini, pasien kedua Neuralink juga sudah menanam "the Link" ke otaknya.
Dikutip dari Reuters, Senin (5/8/2024), pasien kedua ini mengalami cedera tulang belakang yang serupa dengan Arbaugh. Dari 1.024 elektroda chip, sekitar 400 berfungsi secara efektif.
Keduanya menunjukkan kemampuan mengendalikan perangkat elektronik dengan pikiran mereka.
Kekhawatiran dan etika
Meski terkesan mulus dengan kedua pasien pertamanya, tapi Neuralink juga memunculkan berbagai kehawatiran.
Misalnya saja kekhawatiran dampak kesehatan terkait operasi otak seperti pendarahan otak atau kejang.
Dikutip dari Al Jazeera, Rabu (31/1/2024), eksperimen pada hewan sebelumnya menunjukkan adanya masalah seperti kelumpuhan dan pembengkakan otak pada monyet yang diimplan.
Selain itu, etika juga menjadi masalah yang dikhawatirkan oleh banyak orang. Terutama masalah privasi dan pengawasan.
Hal yang ditakutkan adalah ketika kita tidak dapat mengontrol data personal dan aktivitas otak milik kita sendiri.