#30 tag 24jam
Cisadane Sawit (CSRA) Sebut 2025 Periode Penting
Cisadane (CSRA) optimistis menatap tahun 2025. - Halaman all [699] url asal
#berita-terkini #berita-hari-ini #cisadane #csra #cisadane-sawit-raya #berita-ekonomi-terkini
(InvestorID) 04/11/24 17:00
v/17494077/
JAKARTA, investor.id - Emiten sawit, PT Cisadane Sawit Raya Tbk (CSRA) optimistis menatap tahun 2025 sejalan dengan tingginya permintaan minyak sawit global.
Hal itu tercermin dari capaian positif perseroan selama periode sembilan bulan pertama 2024 dengan lonjakan laba bersih sebesar 5,4% atau Rp 125,39 miliar.
Direktur Keuangan & Pengembangan Strategis Cisdanae Sawit Raya Seman Sendjaja menuturkan, tahun 2025 mendatang diproyeksikan menjadi periode penting bagi industri minyak sawit global sejalan dengan proyekai permintaan yang tetap tinggi, terutama dari negara berkembang dan sektor biofuel.
"Di tengah persaingan dengan minyak nabati lain seperti kedelai dan bunga matahari, Indonesia diperkirakan masih memegang posisi sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia," jelasnya dalam keterangan tertulis, Selasa (4/11/2024).
Namun, kata Seman, industri sawit akan menghadapi tantangan besar yakni adaptasi terhadap perubahan iklim, penerapan regulasi keberlanjutan, dan tekanan dari kelompok lingkungan terkait deforestasi. "Industri minyak sawit Indonesia siap untuk tumbuh, didorong oleh efisiensi produksi dan permintaan global akan produk berkelanjutan. Namun, tantangan lingkungan dan volatilitas pasar perlu diatasi secara efektif," ungkapnya.
Maka dari itu, keberlanjutan menjadi fokus utama CSRA yang telah berhasil meningkatkan transparansi rantai pasok melalui sistem ketelusuran untuk produksi minyak POME di pabrik Labuhan Batu. Dengan kolaborasi bersama organisasi sertifikasi ISCC dan komunitas lokal, CSRA telah memperkuat praktik agronominya, sejalan dengan komitmen mereka terhadap produksi yang etis.
Sendjaja juga mengungkapkan bahwa CSRA berhasil melewati berbagai tantangan operasional yang dipicu oleh kondisi cuaca ekstrem dan gangguan rantai pasok. "Kinerja operasional kami terus menunjukkan ketahanan dan pertumbuhan, bahkan di tengah kondisi yang menantang. Ini adalah bukti dedikasi tim kami yang bekerja keras untuk mempertahankan kestabilan perusahaan," kata dia.
Menilik kinerja keuanganya, Cisadane Sawit Raya sukses menutup sembilan bulan pertama 2024 dengan hasil yang impresif dengan pendapatan perusahaan tercatat sebesar Rp 758,78 miliar, naik signifikan dari Rp 676,30 miliar pada periode yang sama di tahun 2023. Pertumbuhan ini didorong oleh peningkatan produksi Crude Palm Oil (CPO) dan Kernel serta kenaikan harga jual yang rata-rata lebih tinggi dibandingkan tahun lalu.
Walaupun tantangan cuaca sempat memengaruhi produksi tandan buah segar (TBS) internal, yang turun sebesar 8,8% secara tahunan (YoY), CSRA optimis dengan prospek jangka panjang. Seman menuturkan, dengan sebagian besar pohon sawit yang sudah memasuki usia produktif, perusahaan memperkirakan produksi akan meningkat dalam beberapa tahun ke depan. "Lantaran, usia tanaman sawit memainkan peran penting dalam produksi, karena pohon yang lebih tua cenderung menghasilkan tandan lebih sedikit dan memerlukan perawatan lebih intensif," terangnya.
Untuk mengatasi dampak penurunan produktivitas pohon tua, CSRA menerapkan program penanaman ulang secara berkelanjutan menggunakan benih berkualitas tinggi. Langkah ini bertujuan meningkatkan hasil perkebunan sekaligus menjamin keberlanjutan jangka panjang perusahaan.
Di sisi operasional, CSRA telah berinvestasi pada teknologi yang meningkatkan efisiensi serta inisiatif yang mendorong budaya kerja dinamis. Selain itu, perusahaan fokus pada penyederhanaan proses kerja dan peningkatan keterampilan karyawan, guna mempertahankan daya saing di pasar yang semakin kompetitif.
Laba kotor CSRA mencapai Rp 346,38 miliar pada sembilan bulan pertama 2024, meningkat 29,1% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, dengan margin mencapai 45,6%. Pertumbuhan ini didorong oleh peningkatan penjualan CPO dan Kernel serta harga jual yang lebih tinggi. Kinerja laba operasi juga meningkat dengan laba sebesar Rp 210,04 miliar, tumbuh 16,1% YoY dengan margin operasi 27,7%, lebih tinggi dari 26,7% pada periode yang sama di tahun 2023. Secara keseluruhan, laba bersih mencapai Rp 125,39 miliar, mencatat kenaikan 5,4% YoY.
Sementara itu, total aset per September 2024 tercatat di Rp 2,21 triliun, naik 19,8% dari posisi akhir tahun 2023, terutama dipengaruhi oleh peningkatan aset lancar dan proporsi tanaman yang sudah matang. Pos liabilitas perusahaan pada periode ini mencapai Rp 996,84 miliar, meningkat 36,9% dibandingkan akhir tahun 2023, sejalan dengan pembayaran utang berbunga. Kenaikan ini terutama berasal dari utang bank jangka panjang yang mencapai Rp594,37 miliar, naik 43,5% dibandingkan akhir 2023. Selain itu, liabilitas lancar naik 45,2% akibat pembayaran pinjaman yang jatuh tempo.
Sedangkan, posisi ekuitas CSRA pada 30 September 2024 tercatat sebesar Rp 1,21 triliun, meningkat 8,6% dibandingkan akhir tahun 2023, didorong oleh laba ditahan dari pendapatan periode berjalan.
Editor: Theresa Sandra Desfika (theresa.sandra@investor.id)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News
Cisadane Sawit (CSRA) Sebut 2025 Periode Penting
Cisadane (CSRA) optimistis menatap tahun 2025. - Halaman all [699] url asal
#berita-terkini #berita-hari-ini #cisadane #csra #cisadane-sawit-raya #berita-ekonomi-terkini
(InvestorID) 04/11/24 17:00
v/17465172/
JAKARTA, investor.id - Emiten sawit, PT Cisadane Sawit Raya Tbk (CSRA) optimistis menatap tahun 2025 sejalan dengan tingginya permintaan minyak sawit global.
Hal itu tercermin dari capaian positif perseroan selama periode sembilan bulan pertama 2024 dengan lonjakan laba bersih sebesar 5,4% atau Rp 125,39 miliar.
Direktur Keuangan & Pengembangan Strategis Cisdanae Sawit Raya Seman Sendjaja menuturkan, tahun 2025 mendatang diproyeksikan menjadi periode penting bagi industri minyak sawit global sejalan dengan proyekai permintaan yang tetap tinggi, terutama dari negara berkembang dan sektor biofuel.
"Di tengah persaingan dengan minyak nabati lain seperti kedelai dan bunga matahari, Indonesia diperkirakan masih memegang posisi sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia," jelasnya dalam keterangan tertulis, Selasa (4/11/2024).
Namun, kata Seman, industri sawit akan menghadapi tantangan besar yakni adaptasi terhadap perubahan iklim, penerapan regulasi keberlanjutan, dan tekanan dari kelompok lingkungan terkait deforestasi. "Industri minyak sawit Indonesia siap untuk tumbuh, didorong oleh efisiensi produksi dan permintaan global akan produk berkelanjutan. Namun, tantangan lingkungan dan volatilitas pasar perlu diatasi secara efektif," ungkapnya.
Maka dari itu, keberlanjutan menjadi fokus utama CSRA yang telah berhasil meningkatkan transparansi rantai pasok melalui sistem ketelusuran untuk produksi minyak POME di pabrik Labuhan Batu. Dengan kolaborasi bersama organisasi sertifikasi ISCC dan komunitas lokal, CSRA telah memperkuat praktik agronominya, sejalan dengan komitmen mereka terhadap produksi yang etis.
Sendjaja juga mengungkapkan bahwa CSRA berhasil melewati berbagai tantangan operasional yang dipicu oleh kondisi cuaca ekstrem dan gangguan rantai pasok. "Kinerja operasional kami terus menunjukkan ketahanan dan pertumbuhan, bahkan di tengah kondisi yang menantang. Ini adalah bukti dedikasi tim kami yang bekerja keras untuk mempertahankan kestabilan perusahaan," kata dia.
Menilik kinerja keuanganya, Cisadane Sawit Raya sukses menutup sembilan bulan pertama 2024 dengan hasil yang impresif dengan pendapatan perusahaan tercatat sebesar Rp 758,78 miliar, naik signifikan dari Rp 676,30 miliar pada periode yang sama di tahun 2023. Pertumbuhan ini didorong oleh peningkatan produksi Crude Palm Oil (CPO) dan Kernel serta kenaikan harga jual yang rata-rata lebih tinggi dibandingkan tahun lalu.
Walaupun tantangan cuaca sempat memengaruhi produksi tandan buah segar (TBS) internal, yang turun sebesar 8,8% secara tahunan (YoY), CSRA optimis dengan prospek jangka panjang. Seman menuturkan, dengan sebagian besar pohon sawit yang sudah memasuki usia produktif, perusahaan memperkirakan produksi akan meningkat dalam beberapa tahun ke depan. "Lantaran, usia tanaman sawit memainkan peran penting dalam produksi, karena pohon yang lebih tua cenderung menghasilkan tandan lebih sedikit dan memerlukan perawatan lebih intensif," terangnya.
Untuk mengatasi dampak penurunan produktivitas pohon tua, CSRA menerapkan program penanaman ulang secara berkelanjutan menggunakan benih berkualitas tinggi. Langkah ini bertujuan meningkatkan hasil perkebunan sekaligus menjamin keberlanjutan jangka panjang perusahaan.
Di sisi operasional, CSRA telah berinvestasi pada teknologi yang meningkatkan efisiensi serta inisiatif yang mendorong budaya kerja dinamis. Selain itu, perusahaan fokus pada penyederhanaan proses kerja dan peningkatan keterampilan karyawan, guna mempertahankan daya saing di pasar yang semakin kompetitif.
Laba kotor CSRA mencapai Rp 346,38 miliar pada sembilan bulan pertama 2024, meningkat 29,1% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, dengan margin mencapai 45,6%. Pertumbuhan ini didorong oleh peningkatan penjualan CPO dan Kernel serta harga jual yang lebih tinggi. Kinerja laba operasi juga meningkat dengan laba sebesar Rp 210,04 miliar, tumbuh 16,1% YoY dengan margin operasi 27,7%, lebih tinggi dari 26,7% pada periode yang sama di tahun 2023. Secara keseluruhan, laba bersih mencapai Rp 125,39 miliar, mencatat kenaikan 5,4% YoY.
Sementara itu, total aset per September 2024 tercatat di Rp 2,21 triliun, naik 19,8% dari posisi akhir tahun 2023, terutama dipengaruhi oleh peningkatan aset lancar dan proporsi tanaman yang sudah matang. Pos liabilitas perusahaan pada periode ini mencapai Rp 996,84 miliar, meningkat 36,9% dibandingkan akhir tahun 2023, sejalan dengan pembayaran utang berbunga. Kenaikan ini terutama berasal dari utang bank jangka panjang yang mencapai Rp594,37 miliar, naik 43,5% dibandingkan akhir 2023. Selain itu, liabilitas lancar naik 45,2% akibat pembayaran pinjaman yang jatuh tempo.
Sedangkan, posisi ekuitas CSRA pada 30 September 2024 tercatat sebesar Rp 1,21 triliun, meningkat 8,6% dibandingkan akhir tahun 2023, didorong oleh laba ditahan dari pendapatan periode berjalan.
Editor: Theresa Sandra Desfika (theresa.sandra@investor.id)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News
Kinerja Solid, Cisadane Sawit Raya (CSRA) Catatkan Pendapatan Tumbuh 12,2%
Cisadane Sawit Raya (CSRA) melaporkan kenaikan pendapatan sebesar 12,2% menjadi Rp758,78 miliar. Simak Laporan Kinerjanya di Sini! [367] url asal
(WE Finance) 01/11/24 10:03
v/17305591/
Warta Ekonomi, Jakarta -PT Cisadane Sawit Raya Tbk (CSRA IJ) melaporkan bahwa perusahaan tersebut mengalami peningkatan sebesar 12,2% dengan total nilai Rp758,78 miliar. Posisi keuangan yang kuat tersebut mengindikasikan komitmen perusahaan terhadap pertumbuhan yang berkelanjutan dan nilai pemegang saham jangka panjang.
Untuk diketahui, kepercayaan investor terhadap kinerja perusahaan meningkat seiring dengan naiknya saham CSRA naik sebesar 30,0% dibandingkan dengan harga saham pada akhir 2023 lalu.
Kemudian, laba operasi tercatat meningkat sebesar 16,1% menjadi Rp201,04 miliar dari yang semula Rp180,90 miliar. Kenaikan tersebut dipicu oleh peningkatan produksi minyak sawit mentah (CPO) dan Kernel serta harga jual rata-rata yang lebih tinggi dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.
Laba bersih pun ditutup di angka Rp125,39 miliar. Angka tersebut meningkat sebesar 5,4% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yang mencapai Rp118,99 miliar. Marjin laba bersih tersebut sedikit menurun dari yang semula 17,6% menjadi 16,5%. Akibatnya yakni faktor manajemen biaya yang lebih tinggi dari dampak operasional imbas dari cuaca.
Dalam keterangan pers yang diterima Warta Ekonomi, Kamis (31/10/2024), total aset yang dilaporkan CSRA menyentuh angka Rp2,21 triliun dengan peningkatan signifikan pada cadangan kas.
Adapun produksi FFB internal perusahaan tercatat menurun sebesar 8,8% year on year (yoy) pada 9M24 dan jatuh di bawah target yang ditetapkan. Hal tersebut dipengaruhi oleh kendala cuaca dalam rantai pasok. Kendati demikian, perusahaan memperkirakan terjadi pertumbuhan produksi jangka panjang, mengingat sebagian besar tanaman yang telah memasuki usia prima.
Usia pohon kelapa sawit berperan penting dalam produksi tandan buah, karena usia pohon diatas 18 tahun berpotensi menghasilkan tandan yang lebih sedikit. Pohon kelapa sawit yang menua menimbulkan tantangan seperti peningkatan permintaan tenaga kerja dan kesulitan dalam menilai kematangan tandan.
Prospek dan Tinjauan Tahun 2025
Pada tren tahun 2025, permintaan global untuk minyak sawit diperkirakan akan tetap kuat, terutama dari pasar negara berkembang dan sektor biofuel. Namun, persaingan dari minyak nabati lainnya seperti kedelai dan bunga matahari diprediksi bakal meningkat.
Indonesia diharapkan tetap mempertahankan posisinya sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia. Investasi yang berkelanjutan dalam teknologi dan praktik berkelanjutan dapat meningkatkan hasil per hektar (yield). Pola cuaca dan perubahan iklim akan mempengaruhi tingkat produksi. Potensi peristiwa cuaca ekstrem dapat berdampak pada hasil.