#30 tag 24jam
Dosen UNM Ciptakan Aplikasi CYBERSENTINEL untuk Deteksi Cyberbullying
Aplikasi ini bertujuan untuk mendeteksi cyberbullying. [435] url asal
#cyberbullying #cyber-university #adv
(Republika - News) 23/08/24 15:00
v/14560079/
REPUBLIKA.CO.ID, DEPOK -- Tim peneliti dosen dari Kampus Digital Bisnis, Universitas Nusa Mandiri (UNM) berhasil menciptakan aplikasi inovatif bernama CYBERSENTINEL. Aplikasi ini bertujuan untuk mendeteksi cyberbullying di media sosial menggunakan algoritma machine learning. Penelitian diketuai oleh Siti Ernawati bersama anggota tim yaitu Frieyadie dan Eka Rini Yulia.
Bagian dari rangkaian kegiatan Penelitian Hibah Fundamental dari Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRTPM) Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Tahun 2024, tim peneliti ini mengadakan FGD pada Sabtu 10 Agustus 2024. Acara ini berlangsung di Ruang Meeting Sakura, Fave Hotel Margonda Depok, dan dihadiri oleh pakar dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yaitu Dr Foni Agus Setiawan, turut hadir dosen, praktisi dan mahasiswa.
Siti Ernawati selaku ketua mengatakan bahwa aplikasi ini dikembangkan sebagai solusi untuk membantu memerangi perundungan siber yang kian meningkat di era Big Data.
“Dengan tema penelitian CYBERSENTINEL: Deteksi Cyberbullying di Media Sosial Menggunakan Algoritma Machine Learning di Era Big Data, Forum Group Discussion (FGD) ini bertujuan untuk memperoleh masukan dan pandangan dari para ahli guna menyempurnakan aplikasi sebelum dirilis ke masyarakat luas,” terang Siti dalam rilis yang diterima, Jumat (23/8/2024).
Menurut Siti, diskusi ini menyoroti tantangan dan peluang dalam penerapan teknologi machine learning untuk mendeteksi perilaku bullying yang terjadi di media sosial.
“CYBERSENTINEL dikembangkan untuk memberikan solusi efektif untuk mengidentifikasi dan mengatasi praktik cyberbullying yang semakin umum di media sosial. Dengan memanfaatkan teknologi, big data dan algoritma machine learning, kami berharap dapat membantu menciptakan lingkungan digital yang lebih aman bagi semua pengguna, dan mendukung pengguna media sosial dalam menghindari tindakan cyberbullying,” papar Siti.
Sementara itu, Frieyadie, salah satu anggota tim peneliti menyebutkan bahwa Aplikasi CYBERSENTINEL dikembangkan dengan menggunakan teknologi machine learning yang mampu menganalisis konten berbasis teks di media sosial untuk mengidentifikasi potensi cyberbullying. Aplikasi ini dirancang untuk mendeteksi pola-pola perilaku yang berbahaya.
“Algoritma yang digunakan dalam penelitian ini dirancang untuk mendeteksi segala bentuk cyberbullying, termasuk penghinaan, pelecehan, dan intimidasi, dengan akurasi tinggi. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi yang signifikan dalam menjaga keamanan dan kenyamanan pengguna media sosial,” jelasnya.
Selanjutnya, Eka Rini Yulia yang juga anggota tim peneliti menegaskan melalui kegiatan FGD ini diharapkan dapat memberikan wawasan yang berharga untuk pengembangan lebih lanjut dari CYBERSENTINEL.
“Universitas Nusa Mandiri (UNM) berkomitmen untuk terus berinovasi dan berkolaborasi dengan berbagai pihak dalam upaya memerangi cyberbullying dan menciptakan ekosistem digital yang lebih positif,” tandas Eka.
Pada kesempatan ini, Dr Foni Agus Setiawan dari BRIN menyampaikan pandangannya tentang pentingnya kerjasama riset akademis dan kebijakan pemerintah untuk memerangi cyberbullying.
“Perlunya kolaborasi yang lebih erat antara semua pihak untuk menciptakan teknologi yang tidak hanya efektif tetapi juga berkelanjutan,” ungkap Dr Foni Agus Setiawan.
Petinju Wanita Imane Khelif Gugat JK Rowling dan Elon Musk atas Dugaan Cyberbullying
Penulis Harry Potter, JK Rowling, diduga melakukan cyberbullying kepada Imane Khelif. [772] url asal
#imane-khelif #jk-rowling #elon-musk #petinju-aljazair-imane-khelif #cyberbullying #perundungan-siber
(Republika - News) 16/08/24 10:20
v/14479723/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Imane Khelif, juara tinju Olimpiade asal Aljazair, mengajukan gugatan hukum di Prancis terhadap penulis Harry Potter JK Rowling dan Elon Musk atas dugaan tindakan cyberbullying atau perundungan siber. Khelif, yang terlibat dalam kontroversi kelayakan gender selama pertandingan di Olimpiade Paris, berhasil menjadi petinju wanita pertama Aljazair yang meraih medali emas dan petinju pertama yang memenangkan medali emas sejak tahun 1996.
Pada Rabu (14/8/2024), pengacara Khelif, Nabil Boudi, menyampaikan bahwa mereka telah mengajukan gugatan pidana atas dugaan “tindakan pelecehan dunia maya” ke kantor jaksa penuntut umum Paris. Gugatan ini diajukan terhadap X, atau pihak-pihak yang tidak dikenal, dengan mengklaim bahwa petinju wanita berusia 25 tahun itu adalah korban cyberbullying yang misoginis, rasis, dan seksis.
Boudi menjelaskan gugatan ini memungkinkan jaksa untuk menyelidiki semua pihak yang terlibat pada perundungan, termasuk mereka yang mungkin menulis pesan kebencian dengan menggunakan nama samaran. Pengacara tersebut menambahkan bahwa tokoh-tokoh terkenal termasuk dalam gugatan.
“JK Rowling dan Elon Musk disebutkan dalam gugatan ini, bersama dengan tokoh-tokoh terkenal lainnya,” kata Boudi, seraya menambahkan bahwa Donald Trump juga dapat menjadi bagian dari penyelidikan.
“Trump pernah menulis cicitan mengenai hal ini, jadi apakah dia disebut dalam gugatan kami atau tidak, dia pasti akan menjadi bagian dari penyelidikan,” jelas Boudi seperti dilansir The Guardian, Jumat (16/8/2024).
Khelif menghadapi tuduhan terkait gendernya setelah terungkap bahwa dia dilarang bertanding di kejuaraan dunia tinju 2023, karena gagal dalam tes kelayakan gender yang dilakukan oleh Asosiasi Tinju Internasional (IBA). Namun, Komite Olimpiade Internasional (IOC) telah membantah hasil tes ini.
Sebelum Olimpiade Paris, IOC juga telah mencabut pengakuan terhadap IBA sebagai badan pengelola tinju, serta mengeluarkannya dari Olimpiade karena beberapa masalah seperti korupsi, transparansi keuangan, dan tata kelola. IOC menyatakan Khelif terlahir sebagai perempuan dan tidak pernah diidentifikasi sebagai transgender dan interseks. Karena itu, menurut IOC, secara ilmiah itu bukanlah pertandingan tinju antara laki-laki dan wanita seperti yang dituduhkan.
Masalah ini mendapat perhatian luas setelah petinju Italia Angela Carini mundur dari pertandingannya melawan Khelif dalam kompetisi tinju kelas 66 kilogram setelah hanya 46 detik. “Saya tidak pernah merasakan pukulan seperti ini,” kata Carini mengungkap alasannya mundur.
Khelif kemudian dibanjiri dengan caci maki, sebagian besar melalui media sosial, terutama X. Komentar-komentar tersebut meningkat setelah tokoh-tokoh terkenal mulai mengunggah tentang masalah ini.
Dalam sebuah pesan kepada 14,2 juta pengikutnya di X, Rowling mengunggah sebuah foto dari pertarungan Khelif dengan Carini dan menulis cicitan yang diduga mengarah pada cyberbullying.
“Senyuman seorang pria yang tahu bahwa ia dilindungi oleh lembaga olahraga yang misoginis, yang menikmati penderitaan seorang wanita yang baru saja ditinjunya, dan menghancurkan ambisi hidupnya,” demikian cicitan Rowling.
Dalam tweet lainnya, penulis Harry Potter ini mengatakan: “Saya tidak mengeklaim bahwa Khelif adalah seorang transgender. Keberatan saya, dan keberatan banyak orang lainnya, adalah kekerasan pria terhadap wanita menjadi olahraga Olimpiade”.
Sementara itu, Elon Musk yang merupakan pemilik X, membagikan sebuah postingan dari perenang AS, Riley Gaines, yang mengatakan bahwa pria tidak pantas berada di olahraga wanita dan menambahkan kalimat “Tentu saja”.
Donald Trump juga mengunggah sebuah foto dari pertarungan yang disertai dengan pesan: “Saya akan menjauhkan pria dari olahraga wanita!”.
Boudi mengatakan kepada Variety bahwa meskipun nama-nama tersebut masuk dalam gugatan, namun ia meminta agar jaksa penuntut juga menyelidiki semua orang yang terlibat. “Jika kasus ini dibawa ke pengadilan, mereka akan diadili,” kata Boudi.
Pelatih Khelif, Pedro Diaz, mengatakan bahwa perundungan yang dialami sang petinju selama Olimpiade sangat memengaruhi Khelif dan semua orang di sekitarnya. “Pertama kali ia bertarung di Olimpiade, ada badai yang sangat besar di luar ring. Saya belum pernah melihat sesuatu yang begitu menjijikkan dalam hidup saya,” kata Diaz, yang telah melatih 21 juara Olimpiade sebelum Khelif.
"Saya adalah wanita"
Imane Khelif tampil gemilang di babak final dan merebut medali emas Olimpiade Paris 2024. Seperti dikutip dari laporan AFP, Khelif mencatatkan kemenangan di kelas 66 kg putri atas wakil China Yang Liu, yang diadakan di Roland Garros.
Kala itu, Khelif mengatakan medali emas ini merupakan respons tepat terhadap serangan dan perundungan yang ia dapatkan beberapa waktu terakhir.
“Saya adalah seorang wanita seperti wanita lainnya. Saya terlahir sebagai seorang wanita, saya hidup sebagai seorang wanita, saya berkompetisi sebagai seorang wanita, tidak ada keraguan tentang itu. Para perundung adalah musuh kesuksesan, itulah sebutan saya untuk mereka,” kata Khelif.
Dengan medali emas yang tergantung di lehernya, Khelif ditanyai dalam konferensi pers yang penuh sesak tentang perselisihan “kelayakan” yang menghantuinya dalam Olimpiade. “Saya sepenuhnya memenuhi syarat untuk ambil bagian, saya seorang wanita seperti wanita lainnya. Saya terlahir sebagai wanita, menjalani hidup sebagai wanita, dan berkompetisi sebagai wanita,” kata Khelif.
“Mereka (cibiran, perundungan) adalah musuh kesuksesan. Dan itu membuat kesuksesan saya terasa istimewa karena serangan-serangan ini,” ujarnya.