#30 tag 24jam
Perbankan Andalkan Pendanaan Non DPK di Tengah Pertumbuhan DPK yang Lambat
laju pertumbuhan DPK melambat di Agustus 2024 [560] url asal
#bisnis-perbankan #dana-pihak-ketiga-dpk #dana-pihak-ketiga-dpk #non-dpk #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi
(Kontan-Uang) 25/09/24 06:41
v/15519436/
Reporter: Adrianus Octaviano | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perlambatan laju pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) tengah membayangi industri perbankan. Alhasil, pendanaan non DPK seperti surat utang menjadi salah satu solusi yang menjadi andalan.
Terlebih, saat ini suku bunga acuan mulai mengalami penurunan. Jika penurunan terus berlanjut, hal tersebut akan menjadi sentimen bagi bank menerbitkan surat utang dengan imbal hasil yang lebih ringan.
Head of Financial Institutions Ratings Division Pefindo Danan Dito mengungkapkan penurunan suku bunga memberikan kesempatan bagi perbankan untuk mengganti surat utang yang mahal dengan yang lebih murah.
Hanya saja, ia melihat pemangkasan suku bunga acuan oleh BI pada pekan lalu dari 6,25% menjadi 6,00% juga baru menempatkan posisi suku bunga acuan seperti pada kuartal pertama tahun ini, yang mana levelnya masih tergolong tinggi.
“Saya melihat kalaupun ada perbankan yang menerbitkan surat utang hingga akhir tahun, itu lebih banyak didorong oleh kebutuhan refinancing,” ujar Dito, Selasa (24/9).
Namun demikian, Dito mengharapkan penerbitan surat utang korporasi dari sektor perbankan hingga akhir tahun 2024 akan lebih semarak. Mengingat, memasuki awal siklus pemangkasan suku bunga, yang mana itu menjadi katalis bagi penurunan biaya pendanaan, perbaikan leverage keuangan, dan stimulus pertumbuhan kredit.
Berdasarkan realisasinya per Agustus 2024, penerbitan surat utang oleh industri perbankan mencapai Rp 8,59 triliun. Nominal tersebut melebihi periode yang sama tahun 2023 yang sebesar Rp 6,39 triliun.
Jika dijumlahkan dengan total mandat yang diterima Pefindo per Agustus 2024 sebesar Rp 3 triliun, maka totalnya adalah sebesar Rp11,59 triliun. Sehingga, secara total, ia melihat total penerbitan hingga akhir tahun 2024 kurang lebih akan relatif sama dengan tahun lalu.
“Ada 2 bank yang merencanakan untuk menerbitkan surat utang sebesar Rp3 triliun,” ujarnya.
Direktur Distribution & Institutional Funding BTN Jasmin mengungkapkan bahwa jika suku bunga rendah memang paling cocok adalah dengan menerbitkan obligasi. Alasannya, pendanaan dari obligasi bisa untuk jangka panjang dengan size yang bisa besar.
Hanya saja, ia bilang BTN akan memantau perkembangan di pasar modal atas penerbitan surat berharga yang ada. Terlebih, melihat instrumen surat berharga seperti Surat Utang Negara (SUN) maupun RSBI.
Ia mencontohkan SUN saat ini dengan tenor 1 tahun memiliki imbal hasil 6.14% dibandingkan dengan obligasi korporasi rating AAA yang ada di range 6.5% dg tenor 1 tahun.
Ditambah lagi, ada penerbitan SRBI yg masih di level 7.11% per 13 September 2024.
Ia melihat hal tersebut akan membuat kemungkinan untuk korporasi tidak memungkinkan di terbitkan di level 6,5% Kurang lebih akan di level 7.6% - 7.8% di atas SRBI.
“Ringkasnya BTN akan melihat perkembangan lebih lanjut impact penurunan BI rate,” ujarnya.
Di sisi lain, untuk pinjaman antar bank, Jasmin bilang porsinya sangat kecil. Mengingat, pinjaman antar bank hanya untuk jangka pendek.
Sementara itu, Direktur Utama Bank BJB Yuddy Renaldi bilang pendanaan non DPK saat ini banyak dipergunakan perbankan selain untuk pemenuhan kebutuhan likuiditas juga untuk pemenuhan rasio net stable fund yang dipersyaratkan.
Untuk Bank BJB sendiri, Yuddy mengungkapkan tahun ini telah menerbitkan obligasi subordinasi yang telah dieksekusi sebesar Rp 1,43 triliun. Bank BJB masih akan menerbitkan sustainable bond di akhir semester kedua tahun ini senilai Rp 1 triliun.
Di luar obligasi, Yuddy menyebutkan fasilitas dari bank lain juga menjadi salah satu sumber likuiditas, meski porsinya kecil.
“Tahun depan kami masih akan menerbitkan obligasi, mudah2an market juga lebih friendly dengan suku bunga yg lebih murah, dan confident dalam berinvestasi didukung kondisi perekonomian yang terus membaik,” tandasnya.
Intip Strategi Perbankan Jaring Dana Murah Saat Suku Bunga Masih Tinggi
Perbankan berupaya menjaring dana murah untuk menekan laju peningkatan biaya dana, di tengah era suku bunga tinggi. [911] url asal
#aset-perbankan #bisnis-perbankan #bunga-perbankan #dana-pihak-ketiga-dpk #perbankan #dana-pihak-ketiga-dpk #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi
(Kontan-Keuangan) 17/09/24 07:46
v/15124491/
Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perbankan tengah berupaya dalam menjaring dana murah untuk menekan laju peningkatan biaya dana, di tengah era suku bunga acuan yang masih tinggi dengan menerapkan sejumlah strategi.
PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) misalnya, berupaya menjaring dana murah dengan membidik segmen nasabah dengan simpanan rentang Rp100 juta—Rp500 juta atau nasabah segmen Emerging Affluent melalui BTN Prospera, baik nasabah baru maupun nasabah eksisting.
Direktur Distribution and Institutional Funding Jasmin mengatakan, bahwa saat ini BTN memiliki nasabah potensi yang akan masuk ke segmen BTN Prospera sebanyak 43.500 nasabah dengan dana kelolaan mencapai Rp 8 triliun.
“Kami memiliki target yang agresif di akhir tahun ini dana kelolaan bisa bertambah Rp 6,5 triliun, itu artinya menjadi Rp 14,5 triliun,” ungkapnya kepada kontan.co.id, Senin (16/9).
Dalam membidik nasabah di segmen prospera BTN akan mengoptimalkan nasabah eksisting, baik yang tengah melakukan skema KPR maupun sudah lunas, untuk masuk ke BTN Prospera. Hal itu dilakukan karena saat ini porsi dana ritel BTN cenderung sedikit atau sebesar 25%, sedangkan dana institusi/lembaga mengambil porsi 75%.
Selain itu, Jasmin mengaku bahwa saat ini BTN juga tengah memfokuskan seluruh Kantor Wilayah dan Kantor Cabang untuk mengakuisisi DPK Mid-Size yaitu dana-dana perusahaan/institusi pada segmen mengah (kurang dari Rp 500 miliar).
BTN juga berupaya meningkatkan CASA melalui transaksi digital yaitu melalui BTN Mobile dan Akuisisi Merchant dengan Umbrella Program Bale. Hal ini dibuktikan dengan nasabah yang menggunakan BTN Mobile memiliki average saving balance 3,6x lebih tinggi, dan Total Merchant BTN sudah meningkat sebesar 209,3% secara YoY pada Juli 2024.
Jasmin menyebut, incaran dana murah itu dilakukan untuk menekan biaya dana (cost of fund) perusahaan. CoF BTN berada di kisaran 3,5% saat ini. Nantinya, perusahaan akan menurunkan CoF di bawah 3,5% pada akhir tahun. Namun kata Jasmin, kondisi CoF BBTN juga sangat bergantung pada suku bunga acuan BI rate dan The Fed.
Dengan upaya yang dijalankan dalam menjaring dana murah, BTN pun membidik porsi dana murah sebesar 55% hingga akhir tahun ini.
Sementara dalam rangka menjaring dana murah, PT Bank Mandiri melakukan berbagai inovasi perbankan yang berfokus dalam memberikan kemudahan dan keamanan dalam bertransaksi bagi nasabah.
SVP Retail Deposit Product and Solution Bank Mandiri Evi Dempowati mengatakan, dalam beberapa tahun terakhir Bank Mandiri terus berfokus pada pengembangan digitalisasi perbankan untuk menawarkan banyak kelebihan dari produk dan layanan Bank Mandiri sehingga dapat menjangkau nasabah di seluruh Indonesia baik di kota besar maupun di pelosok Indonesia.
"Bank Mandiri senantiasa mengedukasi dan mendorong nasabah untuk memanfaatkan kelengkapan fitur-fitur digital antara lain melalui berbagai channel pembukaan rekening secara digital seperti Mandiri Smart Branch, Mandiri Customer Service Machine yang aman, mudah, cepat, dengan fitur e-banking yang lengkap, serta fokus mendorong agar nasabah aktif menggunakan rekening tabungannya sebagai transactional account baik untuk bertransaksi di dalam dan luar negeri," jelasnya.
Dari sisi benefit, Bank Mandiri tetap konsisten menjaga kompetitiveness suku bunga dengan market, dengan fokus pada penyediaan benefit, engagement dan loyalty yang dapat dinikmati nasabah Bank Mandiri di berbagai partner strategis.
Adapun hingga Juli 2024, DPK Bank Mandiri tumbuh sebesar 11,4% secara Year on Year (YoY) dibandingkan posisi Juli 2023. Pertumbuhan ini didorong oleh pertumbuhan dari produk CASA, yaitu produk Giro dan Tabungan, yang tumbuh 13,6% secara YoY.
Hal yang sejalan dengan strategi Bank Mandiri menghimpun dana dari dana murah.
Evi menerangkan, pertumbuhan dana murah Bank Mandiri ini didukung oleh strategi Bank Mandiri yang terus berfokus pada pemanfaatan serta peningkatan layanan digital multi transaksi yang menawarkan kemudahan dan fleksibilitas transaksional seperti Livin’ by Mandiri dan Kopra by Mandiri serta berbagai program untuk meningkatkan akuisisi nasabah baru dan juga transaksi nasabah eksisting.
"Kami optimis pertumbuhan DPK dan jumlah nasabah Bank Mandiri hingga akhir tahun 2024 dapat tumbuh positif sejalan dengan pertumbuhan pasar," tandasnya.
Selanjutnya, ada PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN) yang meluncurkan program Danamon Hadiah Beruntun (DHB). Program ini berlangsung sejak 1 Juni 2024 sampai 31 Januari 2025. Hal ini dilakukan dalam upaya untuk menjaring dana murah.
Consumer Funding and Wealth Business Head, Bank Danamon, Ivan Jaya mengatakan, program tersebut bukan program baru dan sudah masuk tahun ketiga. Program ini digelar kembali karena terbukti sukses mendongkrak pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) lebih dari 13%.
Pada 2023 lalu, nasabah yang berpartisipasi dalam program DHB meningkat 162%. Tingginya animo masyarakat terhadap program tersebut membuat bank ini kembali menggelarnya di tahun ini.
Selain itu, Danamon juga baru saja memperkenalkan Tabungan Danamon LEBIH PRO, tabungan dengan 9 mata uang sekaligus dalam 1 rekening yang dilengkapi dengan Kartu Debit didukung oleh Mastercard untuk memenuhi kebutuhan nasabah dalam bertransaksi valuta asing.
Sejauh ini per Semester I 2024, Danamon mencatatkan peningkatan Dana Pihak Ketiga (DPK) secara bankwide sebesar 15% YoY menjadi Rp146,1 triliun.
"Secara keseluruhan, Danamon akan terus bertumbuh sebagai One Financial Group untuk mencapai pertumbuhan dobel-digit dari sisi pendanaan dengan profitabilitas yang berkelanjutan. Kami optimis dapat mencapai pertumbuhan yang signifikan, sejalan dengan strategi peningkatan layanan dan inovasi produk perbankan," ungkapnya.
PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) juga berupaya meningkatkan porsi dana murah dalam menghimpun DPK di semester II-2024. CIMB Niaga pun fokus menghimpun CASA yang berasal dari kerjasama segmen payroll, operating account, cash management, dan ekosistem digital.
Total DPK Bank CIMB Niaga tercatat sebesar Rp 249,84 triliun pada semester I-2024, naik 6% yoy dari periode tahun lalu yang sebesar Rp 235,79 triliun.
"Dana murah saat ini tumbuh sekitar 7%. kami berharap CASA masih bisa tetap tumbuh sekitar 7%-8% sampai akhir tahun," ucap Lani.
Strategi Perbankan Jaring Dana Murah di Era Suku Bunga Tinggi
Perbankan berupaya menjaring dana murah untuk menekan laju peningkatan biaya dana, di tengah era suku bunga tinggi. [410] url asal
#aset-perbankan #bisnis-perbankan #bunga-perbankan #dana-pihak-ketiga-dpk #perbankan #dana-pihak-ketiga-dpk #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi
(Kontan-Keuangan) 16/09/24 19:35
v/15131552/
Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Noverius Laoli
Adapun hingga Juli 2024, DPK Bank Mandiri tumbuh sebesar 11,4% secara Year on Year (YoY) dibandingkan posisi Juli 2023. Pertumbuhan ini didorong oleh pertumbuhan dari produk CASA, yaitu produk Giro dan Tabungan, yang tumbuh 13,6% secara YoY. Hal yang sejalan dengan strategi Bank Mandiri menghimpun dana dari dana murah.
Evi menerangkan, pertumbuhan dana murah Bank Mandiri ini didukung oleh strategi Bank Mandiri yang terus berfokus pada pemanfaatan serta peningkatan layanan digital multi transaksi yang menawarkan kemudahan dan fleksibilitas transaksional seperti Livin’ by Mandiri dan Kopra by Mandiri serta berbagai program untuk meningkatkan akuisisi nasabah baru dan juga transaksi nasabah eksisting.
"Kami optimis pertumbuhan DPK dan jumlah nasabah Bank Mandiri hingga akhir tahun 2024 dapat tumbuh positif sejalan dengan pertumbuhan pasar," tandasnya.
Selanjutnya, ada PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN) yang meluncurkan program Danamon Hadiah Beruntun (DHB). Program ini berlangsung sejak 1 Juni 2024 sampai 31 Januari 2025. Hal ini dilakukan dalam upaya untuk menjaring dana murah.
Consumer Funding and Wealth Business Head, Bank Danamon, Ivan Jaya mengatakan, program tersebut bukan program baru dan sudah masuk tahun ketiga. Program ini digelar kembali karena terbukti sukses mendongkrak pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) lebih dari 13%.
Pada 2023 lalu, nasabah yang berpartisipasi dalam program DHB meningkat 162%. Tingginya animo masyarakat terhadap program tersebut membuat bank ini kembali menggelarnya di tahun ini.
Selain itu, Danamon juga baru saja memperkenalkan Tabungan Danamon LEBIH PRO, tabungan dengan 9 mata uang sekaligus dalam 1 rekening yang dilengkapi dengan Kartu Debit didukung oleh Mastercard untuk memenuhi kebutuhan nasabah dalam bertransaksi valuta asing.
Sejauh ini per Semester I 2024, Danamon mencatatkan peningkatan Dana Pihak Ketiga (DPK) secara bankwide sebesar 15% YoY menjadi Rp146,1 triliun.
"Secara keseluruhan, Danamon akan terus bertumbuh sebagai One Financial Group untuk mencapai pertumbuhan dobel-digit dari sisi pendanaan dengan profitabilitas yang berkelanjutan. Kami optimis dapat mencapai pertumbuhan yang signifikan, sejalan dengan strategi peningkatan layanan dan inovasi produk perbankan," ungkapnya.
PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) juga berupaya meningkatkan porsi dana murah dalam menghimpun DPK di semester II-2024. CIMB Niaga pun fokus menghimpun CASA yang berasal dari kerjasama segmen payroll, operating account, cash management, dan ekosistem digital.
Total DPK Bank CIMB Niaga tercatat sebesar Rp 249,84 triliun pada semester I-2024, naik 6% yoy dari periode tahun lalu yang sebesar Rp 235,79 triliun.
"Dana murah saat ini tumbuh sekitar 7%. kami berharap CASA masih bisa tetap tumbuh sekitar 7%-8% sampai akhir tahun," ucap Lani.
Strategi Perbankan Jaring Dana Murah di Era Suku Bunga Tinggi
Perbankan berupaya menjaring dana murah untuk menekan laju peningkatan biaya dana, di tengah era suku bunga tinggi. [506] url asal
#aset-perbankan #bisnis-perbankan #bunga-perbankan #dana-pihak-ketiga-dpk #perbankan #dana-pihak-ketiga-dpk #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi
(Kontan-Keuangan) 16/09/24 19:35
v/15111436/
Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perbankan tengah berupaya dalam menjaring dana murah untuk menekan laju peningkatan biaya dana, di tengah era suku bunga acuan yang masih tinggi dengan menerapkan sejumlah strategi.
PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) misalnya, berupaya menjaring dana murah dengan membidik segmen nasabah dengan simpanan rentang Rp100 juta—Rp500 juta atau nasabah segmen Emerging Affluent melalui BTN Prospera, baik nasabah baru maupun nasabah eksisting.
Direktur Distribution and Institutional Funding Jasmin mengatakan, bahwa saat ini BTN memiliki nasabah potensi yang akan masuk ke segmen BTN Prospera sebanyak 43.500 nasabah dengan dana kelolaan mencapai Rp 8 triliun.
“Kami memiliki target yang agresif di akhir tahun ini dana kelolaan bisa bertambah Rp 6,5 triliun, itu artinya menjadi Rp 14,5 triliun,” ungkapnya kepada kontan.co.id, Senin (16/9).
Dalam membidik nasabah di segmen prospera BTN akan mengoptimalkan nasabah eksisting, baik yang tengah melakukan skema KPR maupun sudah lunas, untuk masuk ke BTN Prospera. Hal itu dilakukan karena saat ini porsi dana ritel BTN cenderung sedikit atau sebesar 25%, sedangkan dana institusi/lembaga mengambil porsi 75%.
Selain itu, Jasmin mengaku bahwa saat ini BTN juga tengah memfokuskan seluruh Kantor Wilayah dan Kantor Cabang untuk mengakuisisi DPK Mid-Size yaitu dana-dana perusahaan/institusi pada segmen mengah (kurang dari Rp 500 miliar).
BTN juga berupaya meningkatkan CASA melalui transaksi digital yaitu melalui BTN Mobile dan Akuisisi Merchant dengan Umbrella Program Bale. Hal ini dibuktikan dengan nasabah yang menggunakan BTN Mobile memiliki average saving balance 3,6x lebih tinggi, dan Total Merchant BTN sudah meningkat sebesar 209,3% secara YoY pada Juli 2024.
Jasmin menyebut, incaran dana murah itu dilakukan untuk menekan biaya dana (cost of fund) perusahaan. CoF BTN berada di kisaran 3,5% saat ini. Nantinya, perusahaan akan menurunkan CoF di bawah 3,5% pada akhir tahun. Namun kata Jasmin, kondisi CoF BBTN juga sangat bergantung pada suku bunga acuan BI rate dan The Fed.
Dengan upaya yang dijalankan dalam menjaring dana murah, BTN pun membidik porsi dana murah sebesar 55% hingga akhir tahun ini.
Sementara dalam rangka menjaring dana murah, PT Bank Mandiri melakukan berbagai inovasi perbankan yang berfokus dalam memberikan kemudahan dan keamanan dalam bertransaksi bagi nasabah.
SVP Retail Deposit Product and Solution Bank Mandiri Evi Dempowati mengatakan, dalam beberapa tahun terakhir Bank Mandiri terus berfokus pada pengembangan digitalisasi perbankan untuk menawarkan banyak kelebihan dari produk dan layanan Bank Mandiri sehingga dapat menjangkau nasabah di seluruh Indonesia baik di kota besar maupun di pelosok Indonesia.
"Bank Mandiri senantiasa mengedukasi dan mendorong nasabah untuk memanfaatkan kelengkapan fitur-fitur digital antara lain melalui berbagai channel pembukaan rekening secara digital seperti Mandiri Smart Branch, Mandiri Customer Service Machine yang aman, mudah, cepat, dengan fitur e-banking yang lengkap, serta fokus mendorong agar nasabah aktif menggunakan rekening tabungannya sebagai transactional account baik untuk bertransaksi di dalam dan luar negeri," jelasnya.
Dari sisi benefit, Bank Mandiri tetap konsisten menjaga kompetitiveness suku bunga dengan market, dengan fokus pada penyediaan benefit, engagement dan loyalty yang dapat dinikmati nasabah Bank Mandiri di berbagai partner strategis.
Strategi Perbankan Jaring Dana Murah di Era Suku Bunga Tinggi
Perbankan berupaya menjaring dana murah untuk menekan laju peningkatan biaya dana, di tengah era suku bunga tinggi. [911] url asal
#aset-perbankan #bisnis-perbankan #bunga-perbankan #dana-pihak-ketiga-dpk #perbankan #dana-pihak-ketiga-dpk #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi
(Kontan-Keuangan) 16/09/24 19:35
v/15101381/
Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perbankan tengah berupaya dalam menjaring dana murah untuk menekan laju peningkatan biaya dana, di tengah era suku bunga acuan yang masih tinggi dengan menerapkan sejumlah strategi.
PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) misalnya, berupaya menjaring dana murah dengan membidik segmen nasabah dengan simpanan rentang Rp100 juta—Rp500 juta atau nasabah segmen Emerging Affluent melalui BTN Prospera, baik nasabah baru maupun nasabah eksisting.
Direktur Distribution and Institutional Funding Jasmin mengatakan, bahwa saat ini BTN memiliki nasabah potensi yang akan masuk ke segmen BTN Prospera sebanyak 43.500 nasabah dengan dana kelolaan mencapai Rp 8 triliun.
“Kami memiliki target yang agresif di akhir tahun ini dana kelolaan bisa bertambah Rp 6,5 triliun, itu artinya menjadi Rp 14,5 triliun,” ungkapnya kepada kontan.co.id, Senin (16/9).
Dalam membidik nasabah di segmen prospera BTN akan mengoptimalkan nasabah eksisting, baik yang tengah melakukan skema KPR maupun sudah lunas, untuk masuk ke BTN Prospera. Hal itu dilakukan karena saat ini porsi dana ritel BTN cenderung sedikit atau sebesar 25%, sedangkan dana institusi/lembaga mengambil porsi 75%.
Selain itu, Jasmin mengaku bahwa saat ini BTN juga tengah memfokuskan seluruh Kantor Wilayah dan Kantor Cabang untuk mengakuisisi DPK Mid-Size yaitu dana-dana perusahaan/institusi pada segmen mengah (kurang dari Rp 500 miliar).
BTN juga berupaya meningkatkan CASA melalui transaksi digital yaitu melalui BTN Mobile dan Akuisisi Merchant dengan Umbrella Program Bale. Hal ini dibuktikan dengan nasabah yang menggunakan BTN Mobile memiliki average saving balance 3,6x lebih tinggi, dan Total Merchant BTN sudah meningkat sebesar 209,3% secara YoY pada Juli 2024.
Jasmin menyebut, incaran dana murah itu dilakukan untuk menekan biaya dana (cost of fund) perusahaan. CoF BTN berada di kisaran 3,5% saat ini. Nantinya, perusahaan akan menurunkan CoF di bawah 3,5% pada akhir tahun. Namun kata Jasmin, kondisi CoF BBTN juga sangat bergantung pada suku bunga acuan BI rate dan The Fed.
Dengan upaya yang dijalankan dalam menjaring dana murah, BTN pun membidik porsi dana murah sebesar 55% hingga akhir tahun ini.
Sementara dalam rangka menjaring dana murah, PT Bank Mandiri melakukan berbagai inovasi perbankan yang berfokus dalam memberikan kemudahan dan keamanan dalam bertransaksi bagi nasabah.
SVP Retail Deposit Product and Solution Bank Mandiri Evi Dempowati mengatakan, dalam beberapa tahun terakhir Bank Mandiri terus berfokus pada pengembangan digitalisasi perbankan untuk menawarkan banyak kelebihan dari produk dan layanan Bank Mandiri sehingga dapat menjangkau nasabah di seluruh Indonesia baik di kota besar maupun di pelosok Indonesia.
"Bank Mandiri senantiasa mengedukasi dan mendorong nasabah untuk memanfaatkan kelengkapan fitur-fitur digital antara lain melalui berbagai channel pembukaan rekening secara digital seperti Mandiri Smart Branch, Mandiri Customer Service Machine yang aman, mudah, cepat, dengan fitur e-banking yang lengkap, serta fokus mendorong agar nasabah aktif menggunakan rekening tabungannya sebagai transactional account baik untuk bertransaksi di dalam dan luar negeri," jelasnya.
Dari sisi benefit, Bank Mandiri tetap konsisten menjaga kompetitiveness suku bunga dengan market, dengan fokus pada penyediaan benefit, engagement dan loyalty yang dapat dinikmati nasabah Bank Mandiri di berbagai partner strategis.
Adapun hingga Juli 2024, DPK Bank Mandiri tumbuh sebesar 11,4% secara Year on Year (YoY) dibandingkan posisi Juli 2023. Pertumbuhan ini didorong oleh pertumbuhan dari produk CASA, yaitu produk Giro dan Tabungan, yang tumbuh 13,6% secara YoY. Hal yang sejalan dengan strategi Bank Mandiri menghimpun dana dari dana murah.
Evi menerangkan, pertumbuhan dana murah Bank Mandiri ini didukung oleh strategi Bank Mandiri yang terus berfokus pada pemanfaatan serta peningkatan layanan digital multi transaksi yang menawarkan kemudahan dan fleksibilitas transaksional seperti Livin’ by Mandiri dan Kopra by Mandiri serta berbagai program untuk meningkatkan akuisisi nasabah baru dan juga transaksi nasabah eksisting.
"Kami optimis pertumbuhan DPK dan jumlah nasabah Bank Mandiri hingga akhir tahun 2024 dapat tumbuh positif sejalan dengan pertumbuhan pasar," tandasnya.
Selanjutnya, ada PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN) yang meluncurkan program Danamon Hadiah Beruntun (DHB). Program ini berlangsung sejak 1 Juni 2024 sampai 31 Januari 2025. Hal ini dilakukan dalam upaya untuk menjaring dana murah.
Consumer Funding and Wealth Business Head, Bank Danamon, Ivan Jaya mengatakan, program tersebut bukan program baru dan sudah masuk tahun ketiga. Program ini digelar kembali karena terbukti sukses mendongkrak pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) lebih dari 13%.
Pada 2023 lalu, nasabah yang berpartisipasi dalam program DHB meningkat 162%. Tingginya animo masyarakat terhadap program tersebut membuat bank ini kembali menggelarnya di tahun ini.
Selain itu, Danamon juga baru saja memperkenalkan Tabungan Danamon LEBIH PRO, tabungan dengan 9 mata uang sekaligus dalam 1 rekening yang dilengkapi dengan Kartu Debit didukung oleh Mastercard untuk memenuhi kebutuhan nasabah dalam bertransaksi valuta asing.
Sejauh ini per Semester I 2024, Danamon mencatatkan peningkatan Dana Pihak Ketiga (DPK) secara bankwide sebesar 15% YoY menjadi Rp146,1 triliun.
"Secara keseluruhan, Danamon akan terus bertumbuh sebagai One Financial Group untuk mencapai pertumbuhan dobel-digit dari sisi pendanaan dengan profitabilitas yang berkelanjutan. Kami optimis dapat mencapai pertumbuhan yang signifikan, sejalan dengan strategi peningkatan layanan dan inovasi produk perbankan," ungkapnya.
PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) juga berupaya meningkatkan porsi dana murah dalam menghimpun DPK di semester II-2024. CIMB Niaga pun fokus menghimpun CASA yang berasal dari kerjasama segmen payroll, operating account, cash management, dan ekosistem digital.
Total DPK Bank CIMB Niaga tercatat sebesar Rp 249,84 triliun pada semester I-2024, naik 6% yoy dari periode tahun lalu yang sebesar Rp 235,79 triliun.
"Dana murah saat ini tumbuh sekitar 7%. kami berharap CASA masih bisa tetap tumbuh sekitar 7%-8% sampai akhir tahun," ucap Lani.
Turun 6,3%, Rata-Rata Tabungan Rumah Tangga Senilai Rp 4,28 Juta Per Juli 2024
total simpanan tabungan rumah tangga masih tercatat tumbuh secara tahunan sekitar 5,2% YoY [641] url asal
#bisnis-perbankan #dana-pihak-ketiga-dpk #dana-pihak-ketiga-dpk #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi #bank
(Kontan-Keuangan) 12/09/24 18:02
v/14972000/
Reporter: Adrianus Octaviano | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Fenomena tergerusnya tabungan masyarakat belum terhentikan. Hal ini tercermin dari rata-rata tabungan rumah tangga per rekening yang terus mengalami penyusutan dengan beberapa faktor menjadi penyebabnya.
Data Bank Indonesia per Juli 2024 mencatat rata-rata tabungan rumah tangga tiap rekening bank tercatat senilai Rp 4,28 juta. Angka tersebut mengalami penurunan dari periode sama tahun sebelumnya sebesar 6,3% secara tahunan (YoY).
Di periode yang sama, total simpanan tabungan rumah tangga sejatinya masih mencatatkan pertumbuhan secara tahunan sekitar 5,2% YoY. Dari Juli 2023 yang masih sebesar Rp 2.324 triliun menjadi Rp 2.445 triliun.
Ekonom dan Pengamat Perbankan Universitas Binus Doddy Ariefianto membenarkan bahwa sebetulnya pertumbuhan tabungan rumah tangga itu masih diselamatkan oleh segelintir masyarakat yang memang memiliki nominal tabungan besar. Namun, penurunan rata-rata tabungan menunjukkan bahwa adanya masyarakat yang pada akhirnya makan tabungan untuk kebutuhan hidup.
“Saya duga yang tabungannya kecil-kecil di bawah nominal Rp 10 juta sudah negatif mungkin,” ujar Doddy.
Menurutnya, hal tersebut tak bisa dihindarkan Ketika beberapa sektor ekonomi yang menyedot tenaga kerja mengalami kemunduran. Alhasil, efisiensi karyawan atau Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terjadi di beberapa sektor seperti industri tekstil.
“Seperti yang semula mendapat pendapatan Rp 3 juta jadi berkurang gara-gara PHK,” tambahnya.
Berbeda pendapat, Ekonom Bank Permata Josua Pardede melihat tren penurunan rata-rata DPK ini sudah terjadi sejak tahun 2020. Ia bilang jika melihat lebih detail, selama tahun-tahun tersebut total DPK untuk rekening tabungan di bank masih mengalami peningkatan dan disertai juga dengan peningkatan jumlah rekening tabungan perbankan di Indonesia.
Ia mengambil contoh, pada tahun 2022 dan 2023, jumlah DPK tabungan rumah tangga meningkat 5,61% dan 1,93%. Sementara, jumlah rekening tabungan meningkat 18,40% dan 10,22% masing-masing di tahun 2022 dan 2023.
Sementara data terbaru pada Juli 2024, jumlah DPK tabungan masih tumbuh positif 5,22% dan jumlah rekening juga naik 11,87%.
“Kenaikan jumlah akun tabungan tersebut dapat menjadi indikasi jika semakin banyak orang yang memiliki rekening bank sekaligus menjadi indikasi jika satu orang memiliki beberapa rekening,” ujarnya.
Dengan melihat perkembangan tersebut, Josua menilai terdapat fenomena jika satu orang memiliki beberapa rekening tabungan, sehingga nilai rata-rata DPK per rekening mengalami penurunan.
Lebih lanjut lagi, ia melihat komposisi pengeluaran rumah tangga terhadap pendapatan untuk tabungan juga masih meningkat menjadi 15,75% di tahun 2023 dari 15,19% dan 14,11% di tahun 2022 dan 2021. Data di bulan Agustus menunjukkan proporsi tabungan dari pendapatan masih stabil di angka 15,7%.
Direktur Kepatuhan OK Bank Efdinal Alamsyah mengungkapkan penurunan tabungan bisa menjadi indikasi bahwa masyarakat mengeluarkan lebih banyak uang untuk memenuhi kebutuhan mereka atau berbelanja barang dan jasa.
Di samping itu, ia juga melihat terjadi perubahan pola transaksi di kalangan masyarakat, misalnya terjadi penurunan pada pengeluaran di kategori seperti hiburan atau restoran, sementara ada peningkatan dalam kategori ke barang esensial seperti bahan makanan atau kebutuhan rumah tangga.
“Penurunan tabungan juga bisa menjadi indikasi bahwa masyarakat mungkin menghadapi kesulitan finansial dan harus menggunakan tabungan mereka untuk menutupi kebutuhan sehari-hari,” ujarnya.
Di OK bank sendiri, Efdinal menyebutkan simpanan tabungan sampai dengan tanggal 4 September 2024 mengalami penurunan sebesar kurang lebih 12% apabila dibandingkan dengan posisi akhir tahun 2023. Dampaknya pun jelas terjadi penurunan untuk porsi dana murah dalam total simpanan bank.
Sementara itu, Direktur Keuangan Bank Raya Rustati Suri Pertiwi bilang di Bank Raya justru yang terjadi adanya kenaikan rata-rata saldo tabungan yang dimiliki nasabah. Adapun saldo rata-rata per nasabah mencapai sekitar Rp 1,1 juta per Juni 2024 atau tumbuh sekitar 14% secara tahunan.
Ia melihat bahwa kenaikan rata-rata saldo didorong oleh inovasi fitur tabungan digital yang ditawarkan Bank Raya kepada nasabah untuk memudahkan pengelolaan keuangannya disertai dengan berbagai penawaran.
“Alhasil mendorong nasabah Bank Raya untuk semakin aktif bertransaksi melalui layanan Bank Raya, yang akhirnya meningkatkan average saldo per nasabah,” ujar Tiwi.
Dana Pihak Ketiga Korporasi Perbankan Tumbuh Lebih Cepat Dibandingkan Perorangan
Penumpukan dana korporasi tampak terjadi di perbankan [380] url asal
#bisnis-perbankan #dana-pihak-ketiga-dpk #industri-perbankan #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi #bank
(Kontan-Keuangan) 24/07/24 21:14
v/11967184/
Reporter: Adrianus Octaviano | Editor: Handoyo .
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penumpukan dana korporasi tampak terjadi di perbankan. Ini tercermin dari total Dana Pihak Ketiga (DPK) dari golongan nasabah korporasi yang tumbuh lebih cepat dibandingkan simpanan perorangan.
Berdasarkan data uang beredar dari Bank Indonesia per 22 Juli 2024, DPK yang berasal dari korporasi tumbuh sebesar 20,7% secara tahunan (YoY) hingga Juni 2024. Sebaliknya, pertumbuhan DPK dari segmen perorangan hanya mencapai 1,7% YoY.
Pertumbuhan Signifikan pada Simpanan Korporasi
Jika dilihat lebih rinci, pertumbuhan paling signifikan berasal dari simpanan tabungan dan deposito berjangka korporasi.
Pertumbuhan simpanan tabungan mencapai 17,4% YoY dan deposito berjangka sebesar 13,6% YoY, lebih cepat dibandingkan bulan sebelumnya yang masing-masing sebesar 11,8% YoY dan 13,2% YoY.
Direktur Kepatuhan PT Bank Oke Indonesia Tbk (DNAR), Efdinal Alamsyah, mengungkapkan bahwa peningkatan DPK korporasi di perbankan dapat disebabkan oleh beberapa faktor.
Salah satunya adalah perusahaan yang menahan ekspansi akibat adanya ketidakpastian ekonomi dan politik.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penumpukan Dana Korporasi
Efdinal menjelaskan bahwa kemungkinan perusahaan melihat pertumbuhan ekonomi yang melambat atau pasar yang mengalami penurunan. Oleh karena itu, perusahaan mungkin cenderung menyimpan dana di perbankan, sehingga likuiditas mereka berlebih.
Di Bank Oke Indonesia, DPK korporasi tanpa memperhitungkan lembaga keuangan mengalami kenaikan sebesar 2,5% year to date (YTD). Namun, jika termasuk institusi keuangan, justru mengalami penurunan sebesar 2% YTD.
“Memang strategi bank saat ini mengurangi ketergantungan pendanaan dari financial institution, seperti BPR, asuransi, reksadana, sekuritas, koperasi,” ujarnya.
Pertumbuhan DPK Perorangan dan Non-Ritel
Efdinal menjelaskan langkah itu bertujuan untuk mengurangi dana mahal.
Selain itu, ia melihat simpanan dari institusi keuangan tidak begitu stabil dan juga untuk keperluan menjaga rasio NSFR bank.
“Kalau DPK perorangan di kita justru tumbuh sekitar 7% apabila dibandingkan dengan kondisi pada akhir tahun 2023,” ujar Efdinal.
Sementara itu, Presiden Direktur PT Bank CIMB Niaga Tbk, Lani Darmawan, menyatakan bahwa DPK korporasi dan non-ritel terutama giro tumbuh lebih tinggi secara tahunan maupun kuartalan.
Di CIMB Niaga, DPK korporasi tumbuh sekitar 19% YoY, terutama dari giro.
Lani menjelaskan bahwa giro yang tumbuh di CIMB Niaga adalah giro operating account yang digunakan untuk usaha.
Lani melihat mayoritas karena usaha dan strategi untuk lebih menarget ke operating account.
“(Tabungan) sangat sedikit. Tabungan lebih ke ritel dan UKM,” ujarnya
Bank Atur Strategi Himpun Dana Murah di Semester II-2024
Bank memaksimalkan upayanya untuk menggenjot himpunan DPK di semester II-2024. [416] url asal
#dana-pihak-ketiga-dpk #dana-pihak-ketiga-dpk #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi #bank
(Kontan) 11/07/24 21:04
v/10457683/
Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID -JAKARTA. Ketatnya likuditas di saat tren suku bunga tinggi masih membelit kinerja perbankan dalam menghimpun Dana Pihak Ketiga (DPK).
Alhasil bank pun memaksimalkan upayanya untuk menggenjot himpunan DPK di semester II-2024, dengan berebut dana murah atau Current Account Saving Account (CASA) yang bersumber dari simpanan Tabungan dan Giro.
Berbagai upaya dilakukan sejumlah perbankan agar lebih banyak nasabah menyimpan dananya pada produk Tabungan.
PT Bank Danamon Indonesia Tbk misalnya, yang memberikan program Danamon Hadiah Beruntun (DHB) dan berlangsung sejak 1 Juni 2024 sampai 31 Januari 2025 mendatang.
Consumer Funding and Wealth Business Head Bank Danamon Ivan Jaya mengatakan, ini merupakan tahun ketiga Bank Danamon menggelar program tersebut, dan telah terbukti mampu memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan DPK sebanyak lebih dari 13%.
Pada tahun 2023 lalu, Ivan menyebut nasabah yang berpartisipasi dalam program DHB meningkat 162%. Tingginya animo masyarakat terhadap program ini membuat Bank Danamon kembali menggelarnya di tahun ini.
"DPK terutama secara keseluruhan (industri) agak ketat saat ini. Jadi ini juga membuat para pelaku perbankan untuk menggalang dana (DPK) sebenarnya, juga harus menyediakan cara-cara yang lebih kreatif dan memberikan pengalaman yang nyaman kepada para nasabah," ungkap Ivan kepada Kontan, Kamis (11/7).
Per Mei 2024, Bank Danamon mencatatkan DPK sebesar Rp 141,44 triliun, naik 15.96% yoy dari tahun lalu yang sebesar Rp121,97 triliun.
Saat ini porsi CASA Bank Danamon lebih besar, yakni di kisaran 50%-55% pada Semester I-2024. Namun segmen deposito disebut Ivan tumbuh lebih besar. Ini juga yang membuat Bank Danamon lebih gencar menghimpun dana murah melalui program DHB.
"Hingga akhir tahun DPK proyeksinya tetap tumbuh dua digit," ungkap Ivan.
Senada, Presiden Direktur PT Bank CIMB Niaga Tbk Lani Darmawan mengatakan, saat pihaknya juga akan berupaya meningkatkan porsi dana murah dalam menghimpun DPK di semester II-2024.
Per Mei 2024, secara bank only CIMB Niaga mencatat DPK sebesar Rp 250,32 triliun, naik 3,77% yoy dari tahun lalu yang sekitar Rp 241,21 triliun.
"Kami fokus di CASA yang akan lebih murah dibanding deposito. CASA ratio saat ini di atas 65%. Selanjutnya kami lanjutkan fokus di CASA yang tumbuh lumayan baik," ungkap Lani kepada Kontan.
Lebih lanjut Lani menyebut strategi untuk menghimpun DPK tahun ini yakni dengan tetap fokus menghimpun CASA yang berasal dari Kerjasama segmen payroll, operating account, cash management, dan ecosystem termasuk digital.
Sebelumnya Lani menyebut pihaknya berharap DPK dapat tumbuh di bawah 10% pada tahun 2024.