JAKARTA,investor.id - Di tengah tekanan perekonomian global yang terjadi saat ini, Bank Indonesia(BI) meyakini kinerja ekonomi domestik tetap terjaga. Lantaran sumber pertumbuhan ekonomi dari sisi dalam negeri bisa menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia.
“Sebetulnya ekonomi global sudah lama bergejolak tetapi kita punya ekonomi domestik yang cukup kuat, didukung sektor keuangan kita yang lebih stabil,” ucap Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti di Gedung Mahkamah Agung pada Rabu (7/8/2024).
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pertumbuhan ekonomi kuartal II-2024 mencapai 5,05%. Perekonomian Indonesia berdasarkan besaran Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp 5.536,5 triliun dan atas dasar harga konstan mencapai Rp 3.231 triliun pada kuartal II-2024. Jika dibandingkan dengan kuartal sebelumnya (quarter to quarter/ qtq) terjadi pertumbuhan 3,79%.
“Kalau kita lihat pertumbuhan ekonomi bisa terjaga di 5% dengan baik konsumsi masyarakat maupun investasi yang tumbuh terus dan stabilitas di sektor keuangan kita. Saya rasa kita masih bisa punya daya tahan hadapi guncangan,” terang Destry.
Namun Destry tidak menampik bahwa kondisi perekonomian global juga harus diwaspadai. Salah satunya adalah kondisi saat ini sedang berada dalam tren suku bunga tinggi (higher for longer). Namun dengan kondisi perekonomian Amerika Serikat, Bank Sentral Amerika Serikat diperkirakan akan menurunkan suku bunga acuan lebih cepat. Kondisi tersebut akan memberikan dampak positif untuk perekononomian negara berkembang termasuk Indonesia.
“Paling tidak kita akan lebih pasti untuk globalnya bahwa kondisi higher for longer, kondisi suku bunga tinggi dan inflasi tinggi itu mungkin tidak akan terjadi lagi di global, probabilitasnya menjadi kecil. Hal itu bagus buat ekonomi domestik kita (Indonesia) maupun ekonomi di peers group,” ungkap Destry.
BI akan menggunakan sejumlah instrumen dalam kebijakan moneter untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Pada tahun 2024 ini pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi di angka 5,2%.
“BI sendiri sudah memberikan beberpaa insentif likuditas untuk pertumbuhan. Nah ini akan menjadi tantangan dimana kita bisa terus mengakselerasi pertumbuhan khususnya untuk sektor-sektor yang bisa menopang pertumbuhan ekonomi ke depan,” tutur Destry. (ark)
Editor: Arnoldus Kristianus (arnoldus.kristianus@ymail.com)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News