Jakarta:Efek Rumah Kaca (ERK) baru saja merilis Musik Video "Rimpang" pada, Rabu, 31 Oktober 2024. Lagu ini mengusung aliran progresif pop Indonesia era 70-an, dengan lirik yang sarat akan pesan perlawanan serta amarah dan kesedihan yang mendalam.
"Lagu 'Rimpang' ingin menggambarkan bagaimana rasa amarah dan sakit yang mendalam bisa menjadi pupuk bagi harapan, terutama bagi mereka yang tak henti-hentinya ditindas namun terus berusaha bangkit," ucap Cholil selaku vokalis ERK saat jumpa pers di Semesta's Gallery, Jakarta Selatan.
Usai jumpa pers, Cholil Mahmud sempat menceritakan mengenai referensi lagu dari band mancanegara dan lokal yang menginspirasinya selama proses penggarapan album bertajuk Rimpang, yang sejatinya sudah dirilis secara penuh pada, 27 Januari 2023.
Berikut 7 Referensi Lagu yang Menginspirasi Cholil ERK untuk Album Rimpang:
1. The Beatles - "Here, There And Everywhere"
Lagu dari grup musik legendaris asal Inggris, The Beatles menjadi pilihan pertama dari Cholil Mahmud. Ia memilih lagu "Here, There And Everywhere" dari album Revolver yang dirilis pada, 5 Agustus 1966, sebagai salah satu referensi musik untuk album Rimpang.
2. The Flaming Lips - "Race For The Prize"
Lagu berikutnya adalah "Race For The Prize" karya band alternatif rock asal Oklahoma, Amerika Serikat yaitu The Flaming Lips. Lagu ini merupakan karya rilisan tahun 1999 di album berjudul The Soft Bulletin.
3. The Velvet Underground - "All Tommorow's Parties"
Setelah itu, Cholil menyebut lagu "All Tommorow's Parties" dari album debut The Velvet Underground & Nico yang dirilis pada, 12 Maret 1967. Band ini merupakan band legendaris asal New York, Amerika Serikat yang bahkan menginspirasi band-band terkenal seperti Nirvana, Joy Division, The Strokes, dan The Smiths.
4. Soft Machine - Album The Soft Machine
Keempat ada album The Soft Machine (1968) dari grup musik Soft Machine asal Canterbury, Inggris. Band ini mengusung genre psychedelic rock dan jazz. "Album ini menjadi inspirasi untuk lagu 'Sondang' di album Rimpang," ucap Cholil.
5. Mildlake - "Roscoe"
Selanjutnya, ada lagu berjudul "Roscoe" karya band Mildlake yang berasal dari Texas, Amerika serikat. Lagu ini merupakan trek pertama dari album The Trials of Van Occupanther yang dirilis pada, 25 Juli 2006. Band ini mengusung genre indie rock, progressive rock, dan psychedelic rock.
6. Eros Djarot - Album Badai Pasti Berlalu
Untuk musik lokal, Cholil Mahmud memilih album Begitu Indah, karya yang dilabeli sebagai album terbaik dalam sejarah Indonesia. Album ini digarap oleh Eros Djarot, Yockie Soeryoprayogo, Chrisye, Debby Nasution, Berlian Hutauruk, Keenan Nasution, dan Fariz RM yang dirilis pada, tahun 1977.
"Rimpang ini sebenernya Indonesia 70-an ya, progressive lagu-lagunya. Yockie Soeryoprayogo, Chrisye, Eros Djarot di album Badai Pasti Berlalu itu kan penuh Synthesizer. Itu jadi inspirasi juga sih," terang Cholil.
7. Yes - "Soon"
Lagu terakhir adalah "Soon" dari band yes yang dirilis pada tahun 2003. Band ini berasal dari London, Inggris yang mengusung genre progressive rock.
Bandung:Konser musik Forestra bakal kembali digelar tahun ini. Forestra 2024 banyak menghadirkan deretan musisi yang sudah lama berkiprah di musik independen.
Forestra akan digelar di tengah hutan pinus Orchid Forest Cikole, Lembang, Bandung Barat, Jawa Barat pada 31 Agustus 2024. Sejumlah musisi yang sudah dipastikan bakal tampil adalah The Adams, Efek Rumah Kaca, Scaller, Diskoria, Jason Ranti, Majelis Lidah Berduri hingga Nadin Amizah dan Isyana Sarasvati.
"Semua musisi yang tampil saat ini semuanya saya kagumi. Dari dulu saya ingin ajak mereka tapi baru dapat sekarang. Dari 2019 Forestra ini line yang sudah lama saya incar," kata Jay Subiakto selaku direktur kreatif Forestra 2024 di Lembang, Jawa Barat. "Kami ingin menampilkan musisi-musisi yang memang punya ciri. Buat saya ini penting, jadi tidak hanya yang pop," lanjutnya.
Forestra 2024 mengusung tema besar "Simfoni Gema Rasa". Erwin Gutawa selaku direktur musik ingin acara lebih membumikan lagi musik orkestra kepada banyak kalangan, khususnya anak-anak muda.
"Forestra mau menampilkan orkestra yang bisa dinikmati semua orang," ucapnya.
Selain menghadirkan hiburan musik, Forestra juga mengemban misi pelestarian lingkungan. Seperti tahun sebelumnya, tahun ini mereka berkolaborasi dengan komunitas dan aktivis lingkungan hidup menyebarkan kampanye soal konservasi.
"Acara ini bisa kasih wawacan tentang musik dan kegiatan konservasi. Tahun lalu kami kerja sama dengan Hutan Itu Indonesia untuk penanaman pohon di area konservasi di Cikole. Sekarang kami kolaborasi dengan Greenpeace," kata CEO ABM, Barry Akbar.
Berbeda dengan tahun sebelumnya, Forestra 2024 tidak memiliki pembedaan kategori penonton. Demi kenyamanan pula tahun ini Forestra membatasi jumlah penonton agar pengunjung benar-benar menikmati suasana konser.
"Ini bagian dari etos bahwa musik Indonesia punya musisi yang keren juga. Ini satu platform bahwa musik Indonesia keren. Mudah-mudahan musik orkestra makin megah, makin menyayat," kata Erwin.