Minyak mentah dan emas terpantau mengalami penurunan seiring dengan eskalasi konflik di Timur Tengah dan stimulus dari China yang gagal meyakinkan investor. [723] url asal
Bisnis.com, JAKARTA – Harga komoditas seperti minyak dan emas terpantau mengalami penurunan seiring dengan eskalasi konflik di Timur Tengah dan paket kebijakan stimulus dari China yang gagal membangkitkan kepercayaan investor.
Mengutip Reuters pada Selasa (15/10/2024), harga minyak mentah berjangka jenis Brent terpantau menurun 2% atau US$1,58 pada US$77,46 per barel. Harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS juga menurun 2,29% atau US$1,73 menjadi US$73,83 per barel.
Harga minyak Brent sempat turun lebih dari 5% menyusul laporan media bahwa Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengatakan kepada AS bahwa Israel bersedia menyerang sasaran militer Iran dan bukan sasaran nuklir atau minyak.
Sementara itu, harga minyak pemanas berjangka AS turun 5% pada akhir perdagangan. Bensin berjangka AS turun lebih dari 4%.
OPEC pada Senin (14/10/2024) waktu setempat memangkas perkiraan pertumbuhan permintaan minyak global pada 2024 dan menurunkan proyeksi untuk 2025, menandai revisi penurunan ketiga berturut-turut yang dilakukan kelompok produsen tersebut.
Sementara itu, China, importir minyak mentah terbesar di dunia, menyumbang sebagian besar penurunan proyeksi 2024 karena OPEC memangkas perkiraan pertumbuhan negara tersebut menjadi 580.000 barel per hari (bpd) dari 650.000 barel per hari.
Impor minyak mentah China untuk sembilan bulan pertama tahun ini turun hampir 3% dari tahun lalu menjadi 10,99 juta barel per hari, data menunjukkan.
Menurunnya permintaan minyak di China yang disebabkan oleh meningkatnya penggunaan kendaraan listrik (EV), serta melambatnya pertumbuhan ekonomi setelah pandemi COVID-19, telah menjadi penghambat konsumsi dan harga minyak global.
Tekanan deflasi China juga memburuk pada September, menurut data resmi yang dirilis pada hari Sabtu. Konferensi pers pada hari yang sama membuat investor menebak-nebak mengenai besaran paket stimulus secara keseluruhan untuk menghidupkan kembali perekonomian negara dengan perekonomian terbesar kedua di dunia tersebut.
“Kurangnya jangka waktu yang jelas dan tidak adanya langkah-langkah untuk mengatasi masalah struktural, seperti lemahnya konsumsi dan ketergantungan pada investasi infrastruktur, hanya meningkatkan ambiguitas di antara para pelaku pasar,” kata Mukesh Sahdev, Global Head of Commodity Markets-Oil di Rystad Energy.
Berita negatif dari China melebihi kekhawatiran pasar atas kemungkinan bahwa tanggapan Israel terhadap serangan rudal Iran pada 1 Oktober dapat mengganggu produksi minyak.
AS mengatakan pada hari Minggu bahwa pihaknya akan mengirim pasukan ke Israel bersama dengan sistem anti-rudal canggih dalam pengerahan yang sangat tidak biasa yang dimaksudkan untuk meningkatkan pertahanan udara negara tersebut.
“Sementara serangan Israel ke Iran kemungkinan besar akan terjadi, tindakan penguatan terbaru yang dilakukan militer AS mungkin telah menenangkan respons kedua belah pihak,” kata Dennis Kissler, Senior Vice President of Trading di BOK Financial.
"Perdagangan yang gelisah akan tetap ada karena sebagian besar fund manager masih menunggu," kata Kissler.
Harga Emas
Sementara itu, harga emas di pasar spot terpantau turun 0,2% menjadi US$2.649,98 per troy ounce setelah mencapai level tertinggi lebih dari seminggu di awal sesi. Adapun, harga emas berjangka AS juga menurun 0,4% pada US$2.665,6 per troy ounce.
Phillip Streible, Chief Market Strategist di Blue Line Futures, mengatakan ada banyak hambatan kecil bagi emas, termasuk stimulus China, dolar yang lebih kuat, euro yang lebih lemah, logam dasar yang lebih lemah, dan aksi profit taking.
Rekor kenaikan harga emas dalam beberapa bulan terakhir telah mengurangi sentimen investor dan permintaan emas batangan di China. Dolar AS yang lebih kuat membuat emas lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.
Zain Vawda, Market Analyst di MarketPulse by OANDA menyebut, rilis data China bermata dua. Dia menuturkan, data China yang lemah dapat mengurangi permintaan emas, namun perlambatan yang lebih luas di China dapat meresahkan pasar, meningkatkan daya tarik emas sebagai aset safe haven.
“Secara keseluruhan, masih ada lebih banyak faktor yang mendukung kenaikan harga emas dibandingkan faktor-faktor yang menghambatnya,” kata Vawda.
Adapun, investor juga akan memantau komentar pejabat Fed minggu ini untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut mengenai penurunan suku bunga mendatang, bersama dengan data penjualan ritel AS.
Pedagang melihat sekitar 82% peluang The Fed memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan bulan November. Suku bunga yang lebih rendah mengurangi biaya peluang untuk memegang emas batangan.
Namun, ketegangan geopolitik dan pendorong emas global (investor barat) masih aktif berupaya mendukung harga emas, kata ahli strategi pasar Dewan Emas Dunia Joseph Cavatoni.
Pada perkembangan lain, harga perak di pasar spot turun 1,1% menjadi US$31,2 per ounce, sementara platinum naik 0,9% menjadi US$994,03.
Harga komoditas emas dan minyak mentah bergerak stabil pada perdagangan hari ini, Kamis (29/8/2024) usai melemah pada perdagangan sebelumnya. [549] url asal
Bisnis.com, JAKARTA – Harga komoditas emas dan minyak mentah bergerak stabil pada perdagangan hari ini, Kamis (29/8/2024) usai melemah pada perdagangan sebelumnya.
Berdasarkan data Bloomberg, harga emas di pasar spot menguat 0,37% ke level US$2.513,87 per troy ounce pada pukul 08.29 WIB. Sementara itu, harga emas berjangka Comex kontrak Desember 2024 terpantau menguat 0,3% ke level US$2.545,3 per troy ounce.
Harga emas rebound ssetelah tergelincir dari level tertinggi sepanjang masa pekan lalu akibat penguatan dolar AS yang membuat logam mulia ini menjadi lebih mahal bagi sebagian besar pembeli.
Pada perdagangan Rabu, harga emas sempat turun hingga 1,2% karena dolar AS naik tipis di tengah spekulasi investor membeli mata uang AS untuk penyeimbangan kembali portofolio akhir bulan.
Kepala analis komoditas Saxo Bank A/S Ole Hansen mengatakan dolar AS menjadi pemicu pergerakan harga emas sepanjang pekan ini, selain aksi profit taking karena emas menyentuh level all time high.
“Data AS telah gagal memberikan dorongan lebih lanjut pada emas, sehingga godaan bagi para pedagang untuk membukukan keuntungan setelah jangka panjang telah meningkat,” ungkapnya seperti dikutip Bloomberg.
Para pelaku pasar kini mengalihkan perhatian ke data inflasi yang akan dirilis pada hari Jumat, yang dapat memberikan petunjuk mengenai seberapa cepat suku bunga akan dipangkas setelah Ketua Federal Reserve Jerome Powell pekan lalu mengkonfirmasi waktunya telah tiba untuk melakukan pelonggaran.
Inflasi inti AS diperkirakan turun menjadi 2,1%, sedikit di atas target 2% bank sentral. Suku bunga yang lebih rendah sering kali dipandang sebagai hal yang positif untuk harga emas.
Minyak Mentah
Sementara itu, harga minyak global bergerak stabil pada perdagangan Kamis (29/8/2024) setelah anjlok kemarin. Hal tersebut seiring dengan penurunan persediaan minyak mentah AS yang lebih kecil dari perkiraan dan berlanjutnya kekhawatiran atas permintaan China mengimbangi sentimen gangguan pasokan dari Libya.
Mengutip Reuters pada Kamis (29/8/2024), harga minyak mentah berjangka jenis Brent turun 1 sen, atau 0,01%, menjadi US$78,64 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) menguat naik 8 sen, atau 0,1%, menjadi $74,60.
Harga kedua jenis minyak tersebut turun lebih dari 1% pada perdagangan kemarin setelah data menunjukkan bahwa persediaan minyak mentah AS turun 846.000 barel menjadi 425,2 juta barel pada minggu lalu. Jumlah tersebut lebih rendah dari ekspektasi analis dalam jajak pendapat Reuters yang memperkirakan penurunan sebesar 2,3 juta barel.
Namun, kerugian dibatasi oleh kekhawatiran atas gangguan pasokan dari Libya, yang merupakan anggota Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC).
Sejumlah ladang minyak di Libya telah menghentikan produksinya di tengah perebutan kendali bank sentral negara tersebut. Salah satu perusahaan konsultan memperkirakan gangguan produksi antara 900.000 dan 1 juta barel per hari (bph) selama beberapa minggu.
Adapun, Libya memproduksi sekitar 1,18 juta barel minyak per hari pada periode Juli 2024 lalu.
"Masalah sisi pasokan terus membayangi pasar. Output Libya turun lebih dari setengahnya minggu ini di tengah perselisihan politik. Output berisiko turun lebih jauh karena semakin banyak ladang minyak yang ditutup,” kata ANZ Research dalam sebuah catatan.
Harapan bahwa bank sentral AS akan mulai memotong suku bunga bulan depan juga mendukung harga minyak, dengan Presiden Federal Reserve Bank of Atlanta Raphael Bostic mengatakan bahwa dengan inflasi yang semakin turun dan pengangguran yang meningkat lebih dari yang diperkirakan, mungkin sudah waktunya untuk melakukan pemotongan.
Harga emas terkoreksi pada perdagangan Jumat (2/8/2024) terimbas aksi jual investor saat sinyal penurunan suku bunga September mendatang makin terang benerang. [328] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Harga emas melemah pada penutupan perdagangan Jumat (2/8/20240 karena aksi ambil untung setelah emas batangan melonjak lebih dari 1% di awal sesi terimbas harapan penurunan suku bunga yang didukung oleh data pekerjaan AS yang lebih lemah dari perkiraan.
Mengutip Reuters, harga emas di pasar spot turun 0,5% ke level US$2,432.19 per ounce. Sementara emas berjangka AS ditutup 0,4% lebih rendah ke posisi US$2,4769.8.
Namun, emas naik 1,8% minggu ini karena meningkatnya permintaan safe-haven akibat ketegangan di Timur Tengah dan ekspektasi penurunan suku bunga oleh Federal Reserve AS membuat logam ini lebih menarik bagi investor.
"Pada tingkat ini kami mengantisipasi kemunduran dan beberapa aksi ambil untung, namun secara fundamental ada lebih banyak potensi kenaikan dibandingkan risiko penurunan," kata Alex Ebkarian, chief operating officer di Allegiance Gold.
Sementara itu, imbal hasil (yield) obligasi 10-tahun AS turun ke level terendah sejak bulan Desember dan dolar (.dxy) mencapai level terendah sejak bulan Maret setelah data menunjukkan bahwa pemberi kerja menambahkan lebih sedikit pekerjaan pada bulan Juli dibandingkan perkiraan para ekonom, sementara tingkat pengangguran meningkat menjadi 4,3%.
Data tersebut mengikuti komentar dari Ketua Fed Jerome Powell, yang mengatakan pada hari Rabu bahwa suku bunga dapat diturunkan secepatnya pada bulan September jika perekonomian AS mengikuti jalur yang diharapkan.
Emas batangan secara tradisional dianggap sebagai lindung nilai terhadap risiko geopolitik dan ekonomi, dan suku bunga yang lebih rendah mengurangi biaya peluang untuk memegang aset tersebut.
“Pasar saat ini memperhitungkan peluang yang lebih baik dari 70% untuk pemotongan suku bunga sebesar 50 basis poin oleh The Fed pada pertemuan FOMC bulan September,” kata Jim Wyckoff, analis pasar senior di Kitco Metals dalam sebuah catatan.
Di tempat lain, harga perak spot turun 0,2% menjadi US$28,49 per ounce, sementara platinum stabil di level US$959,16 dan paladium turun 1,7% ke posisi US$889,86.
Adapun, harga perak dan platinum kompak mencatat kenaikan pada perdagangan seminggu terakhir.
Harga komoditas bervariasi dalam perdagangan sepekan terakhir. Harga emas bertahan di level US$2.400, harga minyak mentah terkoreksi, sementara batu bara naik. [881] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Harga emas bertahan di atas level US$2.400 per ons dalam perdagangan sepekan terakhir. Sementara itu, harga minyak dunia terpantau koreksi di tengah meningkatnya ekspektasi investor bahwa The Fed semakin dekat untuk menurunkan suku bunga. Komoditas batu bara mulai membara setelah tertekan bebrapa sesi terakhir.
Berdasarkan data Bloomberg, harga emas pada perdagangan Jumat (12/7/2024) terpantau datar setelah reli yang kuat di sesi sebelumnya, meskipun emas batangan masih berada di jalur kenaikan mingguan ketiga berturut-turut di tengah spekulasi penurunan suku bunga AS. Harga emas di pasar spot turun 0,14% menjadi US$2,411.31 per ounce.
Serangkaian data ekonomi AS, termasuk indeks harga konsumen inti, telah memberi sinyal bahwa inflasi AS sedang menurun, yang dapat memberikan keyakinan kepada Ketua Fed Jerome Powell dan rekan-rekannya bahwa mereka akan memerlukan penurunan suku bunga.
Aktivitas di pasar dana berjangka federal menunjukkan bahwa pedagang obligasi meningkatkan taruhan bahwa The Fed akan menurunkan suku bunga sebesar setengah persentase poin pada bulan September, bukan kenaikan standar sebesar seperempat poin. Suku bunga yang lebih rendah cenderung menguntungkan emas yang tidak berbunga.
Emas batangan telah menguat sebesar 17% tahun ini meskipun ada hambatan termasuk suku bunga tinggi dan inflasi yang tinggi, sebagian berkat pembelian bank sentral yang kuat, permintaan investor dan daya tarik logam sebagai aset safe haven di tengah meningkatnya risiko politik.
Harga Minyak
Harga minyak berjangka ditutup sedikit lebih rendah pada perdagangan Jumat (12/7) karena investor mempertimbangkan melemahnya sentimen konsumen AS terhadap meningkatnya harapan penurunan suku bunga Federal Reserve pada bulan September.
Mengutip Reuters, Minyak mentah berjangka Brent menetap 37 sen lebih rendah menjadi US$85,03 per barel. Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate AS turun 41 sen, atau 0,5%, menjadi ditutup pada US$82,21 per barel.
Untuk minggu ini, Brent berjangka turun lebih dari 1,7% setelah naik selama empat minggu. Kontrak berjangka WTI membukukan penurunan mingguan sebesar 1,1%.
Survei bulanan yang dilakukan Universitas Michigan menunjukkan sentimen konsumen AS turun ke level terendah dalam delapan bulan di bulan Juli, meskipun ekspektasi inflasi membaik untuk tahun depan dan seterusnya.
Departemen Tenaga Kerja AS mengatakan indeks harga produsen (PPI) naik 0,2% pada bulan Juni, sedikit lebih tinggi dari perkiraan, karena biaya jasa naik. Namun, investor memperkirakan The Fed akan mulai menurunkan suku bunga pada bulan September.
“Pasar tidak takut terhadap The Fed saat ini,” kata Phil Flynn, analis Price Futures Group.
Suku bunga yang lebih rendah diperkirakan akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi, yang dapat meningkatkan konsumsi bahan bakar.
“Angka inflasi AS yang menurun mungkin mendukung upaya The Fed untuk memulai proses pelonggaran kebijakannya lebih awal,” kata Yeap Jun Rong, ahli strategi pasar di IG.
“Hal ini juga menambah serangkaian kejutan negatif pada data ekonomi AS, yang menunjukkan melemahnya perekonomian AS,” tambahnya.
Harga minyak mendapat dukungan dari permintaan bensin AS, yang data pemerintah menunjukkan pada hari Rabu sebesar 9,4 juta barel per hari (bph) dalam pekan yang berakhir 5 Juli, tertinggi sejak 2019 untuk minggu yang mencakup libur Hari Kemerdekaan. Permintaan bahan bakar jet dalam rata-rata empat minggu berada pada titik terkuat sejak Januari 2020.
Permintaan bahan bakar yang kuat mendorong penyulingan AS untuk meningkatkan aktivitas dan memanfaatkan stok minyak mentah. Data pemerintah menunjukkan, input bersih minyak mentah dari penyulingan minyak mentah di Pantai Teluk AS naik pekan lalu menjadi lebih dari 9,4 juta barel per hari untuk pertama kalinya sejak Januari 2019.
Tanda-tanda melemahnya permintaan dari Tiongkok, importir minyak terbesar di dunia, dapat berlawanan dengan proyeksi Amerika Serikat dan membebani harga.
“Koreksi penurunan baru-baru ini jelas telah berakhir, meskipun kecepatan kenaikan lebih lanjut mungkin terhambat oleh menurunnya impor minyak mentah Tiongkok, yang anjlok 11% pada bulan Juni dibandingkan tahun sebelumnya,” kata Tamas Varga dari pialang minyak PVM.
Jumlah rig minyak aktif AS, yang merupakan indikator awal produksi di masa depan, turun satu menjadi 478 pada minggu ini, terendah sejak Desember 2021, perusahaan jasa energi Baker Hughes (BKR.O) melaporkan pada hari Jumat.
Manajer keuangan menaikkan posisi net long minyak mentah berjangka AS dan posisi opsi dalam pekan hingga 9 Juli, Komisi Perdagangan Berjangka Komoditas AS (CFTC) mengatakan pada hari Jumat.
Batu Bara
Harga Batu Bara
Berdasarkan data Bloomberg, harga batu bara kontrak Juli 2024 di ICE Newcastle menguat tipis 0,07% menuju level US$133,85 per metrik ton pada penutupan perdagangan Jumat (12/7). Kemudian, batu bara kontrak Agustus 2024 juga menguat 0,85% ke level US$135,35 per metrik ton.
Menurut laporan yang dirilis pada Kamis (11/7) pada paruh pertama 2024 China tidak mengizinkan proyek pembuatan baja dengan bahan bakar batu bara. Hal ini menjadi upaya untuk pertama kalinya sejak mengumumkan tujuan netralitas iklim utama pada 2020.
Pusat Penelitian Energi dan Udara Bersih dalam laporannya menuturkan bawa seluruh kapasitas pembuatan baja sebesar 7,1 juta ton per tahun yang diizinkan oleh pemerintah provinsi pada paruh pertama menggunakan tungku busur listrik, proses yang lebih bersih yang menggunakan sampah daur ulang dan listrik.
Beralih ke negara lain, Vietnam Electricity Group menuturkan bahwa cuaca panas ekstrem diperkirakan terjadi di Vietnam utara pada bulan ini. Hal ini diperkirakan akan mendorong permintaan puncak di wilayah tersebut menjadi lebih dari 27.000 megawatt pada Juli 2024.
Adapun wilayah tersebut memainkan peran penting dalam rantai pasokan elektronik global, mengalami pemadaman listrik besar-besaran pada 2023 karena cuaca panas dan malfungsi pada pembangkist listrik tenaga batu bara.