#30 tag 24jam
Prajogo Pangestu Hingga Salim, Begini Kinerja & Rekomendasi Saham Emiten Konglomerasi
Sebagian laba emiten dari grup konglomerasi mampu mendaki, tapi ada juga yang melandai hingga akhir September 2024. [1,213] url asal
#konglomerasi-keuangan #emiten-konglomerasi #rekomendasi-saham #rekomendasi-saham-hari-ini #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi
(Kontan-Investasi) 04/11/24 07:28
v/17443698/
Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Wahyu T.Rahmawati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Mayoritas emiten milik konglomerat telah melaporkan kinerja keuangan periode sembilan bulan 2024. Hasilnya bervariasi. Sebagian laba emiten dari grup konglomerasi mampu mendaki, tapi ada juga yang melandai.
Tengok saja performa emiten Anthoni Salim melalui konglomerasi Grup Salim yang tersebar di berbagai sektor. Pada sektor barang konsumsi, PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) mampu mendongkrak penjualan dan laba bersih.
Masing-masing naik 3,64% dibandingkan periode yang sama tahun lalu atau year onyear (YoY) jadi Rp 86,94 triliun dan melonjak 23,72% YoY menjadi Rp 8,76 triliun. Performa apik INDF terdongkrak oleh kinerja anak usahanya, PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) yang mengalami kenaikan top line maupun bottom line.
"Dalam kondisi ekonomi global yang sedang beradaptasi, Indofood dapat mempertahankan kinerja yang positif di periode sembilan bulan tahun ini," kata Anthoni Salim selaku Direktur Utama dan Chief Executive Officer Indofood dalam keterbukaan informasi Kamis (31/10).
Tak hanya Grup Indofood, emiten yang terafiliasi dengan Anthoni Salim lainnya juga meraup cuan. Tengok saja PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) yang mampu membalikkan rugi Rp 162,18 miliar menjadi laba bersih Rp 442,71 miliar hingga September 2024.
Lompatan kinerja juga dialami oleh PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI). Emiten properti Grup Salim yang berkongsi dengan taipan lainnya, Aguan pemilik Agung Sedayu Group. Laba bersih pengembang Pantai Indah Kapuk (PIK) 2 ini melonjak 91,16% YoY menjadi Rp 486,60 miliar.
Bergeser ke Grup Barito dan Petrindo milik konglomerat Prajogo Pangestu. Induk Grup Barito, PT Barito Pacific Tbk (BRPT) mengalami penurunan kinerja secara top line maupun bottom line.
Pendapatan BRPT merosot 20,85% YoY menjadi US$ 1,67 miliar. Kondisi ini menekan laba bersih BRPT yang turun 25,22% YoY menjadi US$ 26,80 juta hingga September 2024. Seperti diketahui, BRPT ditopang oleh dua anak usahanya, PT PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) di bisnis petrokimia dan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) di segmen energi baru dan terbarukan.
Dalam periode sembilan bulan 2024, rugi bersih TPIA membengkak 180,16% YoY menjadi US$ 59,90 juta. Sementara laba bersih BREN masih mampu tumbuh tipis 1,87% YoY menjadi US$ 86,05 juta.
Direktur Utama BRPT Agus Pangestu mengungkapkan penurunan kinerja ini terutama disebabkan oleh volatilitas yang berkelanjutan di sektor petrokimia, pemeliharaan pada salah satu unit operasi panas bumi, serta pemeliharaan terjadwal di kompleks petrokimia. "Faktor-faktor ini lebih lanjut mempengaruhi kinerja operasional kami," kata Agus.
Tapi, pundi-pundi cuan Prajogo Pangestu bukan hanya dari Grup Barito. Berbeda nasib, kinerja emiten tambang PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) naik signifikan. Pendapatan CUAN meroket 612,76% YoY menjadi US$ 546,05 juta. Sedangkan laba bersihnya melejit 162,86% jadi US$ 30,44 juta.
Konglomerat lainnya, Garibaldi "Boy" Thohir memanen cuan dari PT Essa Industries Indonesia Tbk (ESSA) yang mengalami lonjakan laba bersih 243,85% YoY menjadi US$ 33,56 juta. Tapi, performa emiten andalannya, PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) sedang melandai.
Pendapatan ADRO turun 10,64% YoY jadi US$ 4,45 miliar, sementara laba bersihnya menyusut 2,47% YoY jadi US$ 1,18 miliar. Laba bersih ADRO turun tipis meski anak usahanya, PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR) mampu mendongkrak pendapatan dan laba bersih.
Bergerak ke Grup Djarum, performa PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) masih kokoh dengan kenaikan laba bersih 12,76% YoY jadi Rp 41,07 triliun. Laba bersih PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) naik tipis 0,82% YoY jadi Rp 2,44 triliun, sedangkan PT Global Digital Niaga Tbk (BELI) alias Blibli memangkas kerugian sebanyak 28,62% YoY jadi Rp 1,87 triliun.
Sementara dari Grup Astra, pendapatan dan laba bersih emiten induknya, PT Astra International Tbk (ASII) kompak menanjak meski dengan level kenaikan yang terbilang mini. Pendapatan ASII naik 2,24% YoY jadi Rp 246,32 triliun, sedangkan laba bersihnya tumbuh 0,62% YoY jadi Rp 25,85 triliun.
Head Customer Literation and Education Kiwoom Sekuritas Oktavianus Audi mengamati kinerja emiten dari grup konglomerasi masih bervariasi hingga kuartal III-2024. Performa bisnis secara umum masih dipengaruhi oleh faktor makro ekonomi, sentimen ketidakpastian global, serta efek dari kebijakan moneter bank sentral.
Founder Stocknow.id Hendra Wardana menambahkan, kinerja emiten konglomerasi yang beragam masih cenderung sejalan dengan ekspektasi pasar. Apalagi mempertimbangkan faktor makro ekonomi domestik dan kondisi ekonomi global yang belum sepenuhnya stabil.
Secara sektoral, Hendra menyoroti BBCA dari Grup Djarum yang masih menunjukkan stabilitas, seiring dengan kuatnya sektor perbankan dalam menahan tekanan eksternal. Sedangkan kinerja emiten di sektor komoditas bervariasi tergantung dari sentimen harga dan permintaan dari masing-masing komoditasnya.
Pada sektor komoditas, Hendra menyoroti performa ADRO dan ESSA milik Boy Thohir. Kemudian Grup Barito dan Petrindo milik Prajogo Pangestu. Sementara itu, Equity Analyst Indo Premier Sekuritas Dimas Krisna Ramadhani menilai capaian emiten grup konglomerasi secara umum mampu menunjukkan pertumbuhan kinerja hingga kuartal III-2024.
Dimas mengamati emiten Grup Salim yang secara fundamental mampu membukukan kinerja bisnis yang apik, seperti pertumbuhan pada Grup Indofood. "Strategi investasi setelah laporan kinerja kuartal III-2024 bisa perhatikan emiten-emiten yang mencatatkan pertumbuhan kinerja," kata Dimas kepada Kontan.co.id, Minggu (3/11).
Rekomendasi Saham
Hanya saja, Dimas mengingatkan di samping faktor fundamental emiten, untuk berinvestasi saat ini pelaku pasar juga perlu mencermati tren pasar yang tercermin dalam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Posisi IHSG yang sedang tertekan masih berpotensi melanjutkan pelemahan terseret oleh arus keluar dana dari investor asing (capital outflow).
Pada kondisi seperti ini, sering terjadi false signal seperti false breakdown support maupun false breakout resistance. "Sebaiknya keputusan yang diambil adalah gunakan money management yang baik sembari wait and see perbaikan data foreign flow dan teknikal IHSG," jelas Dimas.
Pengamat Pasar Modal dan Founder WH Project William Hartanto sepakat, pelaku pasar sebaiknya wait and see terlebih dulu. Apalagi, William melihat kinerja emiten di BEI per kuartal III-2024 secara umum cenderung di bawah ekspektasi pasar.
Dus, perlu mencermati lagi berbagai sentimen, terutama pemilihan presiden Amerika Serikat. "Secara teknikal pelemahan berpotensi terbatas, cuman lebih baik menunggu sentimen eksternal mereda dulu," ujar William.
Sementara Hendra menilai dalam situasi saat ini pelaku pasar juga perlu mencermati saham-saham emiten grup konglomerasi. Sebab, sejumlah emiten milik konglomerat ini punya kapitalisasi pasar besar (bi cap) yang punya bobot jumbo untuk memengaruhi arah IHSG.
Di antara emiten konglomerasi, di sisa tahun ini Hendra melirik saham emiten energi dan petrokimia. Dia pun menyodorkan saham BRPT, ADRO dan ESSA dengan target harga masing-masing di level Rp 1.300, Rp 4.000 dan Rp 1.090. Selain itu, Hendra merekomendasikan PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) dari Grup Emtek dengan target di harga Rp 150.
Sedangkan secara teknikal, William menyarankan peluang buy on weakness pada saham BBCA, INDF, ICBP, EMTK dan ADRO jika terjadi pelemahan. "Saham-saham ini punya potensi untuk rebound lebih dulu dibanding yang lainnya. Pergerakan arus dana positif dan secara teknikal menunjukkan tren menguat," terang William.
Sementara itu, Audi memandang emiten dari grup konglomerasi masih menyimpan potensi yang menarik. Ada tiga faktor pendorongnya. Meliputi permintaan komoditas, aksi ekspansi maupun diversifikasi bisnis, serta potensi berlanjutnya pelonggaran kebijakan moneter.
Sebagai pilihan investasi, Audi menyematkan rekomendasi buy untuk saham BBCA dan ASII dengan target harga di Rp 11.150 dan Rp 5.500. Kemudian, trading buy pada saham ADMR, CUAN dan EMTK dengan target harga di Rp 1.520, Rp 9.000 dan Rp 575 per saham.
Cermati Propek Saham Grup Konglomerasi Penyetor Pajak Terbesar Tahun 2023
DJP Kemenkeu memberikan penghargaan kepada 20 grup konglomerasi dan perusahaan yang menyetor pajak paling besar. [995] url asal
#emiten-konglomerasi #rekomendasi-saham #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi #market-amp-rekomendasi
(Kontan) 29/07/24 20:02
v/12556942/
Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Putri Werdiningsih
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejumlah grup konglomerasi di Indonesia tercatat menjadi penyumbang setoran pajak terbesar di tahun 2023. Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan (DJP Kemenkeu) memberikan penghargaan kepada 20 grup konglomerasi dan perusahaan yang menyetor pajak paling besar di sepanjang tahun lalu.
Grup Djarum milik Robert Budi Hartono pun tercatat menjadi perusahaan dengan jumlah setoran pajak terbesar di tahun 2023. Di posisi kedua ada Grup Adaro milik Garibaldi Thohir alias Boy Thohir.
Lalu, Grup Bayan Resource (Low Tuck Kwong), Grup Indofood (Anthoni Salim), Grup Sinarmas (Indra Widjaja), Grup Gudang Garam (Susilo Wonowidjojo), Grup Indika Energy (Hapsoro), dan Grup MedcoEnergi- (Arifin Panigoro).
Kemudian, Grup Musim Mas (Bachtiar Karim), Grup Wings (Eddy William Katuari), Grup Trakindo (Rachmat Mulyana Hamami), Grup Agung Sedayu (Susanto Kusumo), Grup CT Corp (Chairul Tanjung), dan Grup Harum Energy (Lawrence Barki).
Selanjutnya, Grup Triputra (T P Racmat L R Imanto), PT Pertamina (Pesero), PT Perusahaan Listrik Negara (Persero), PT Pupuk Indonesia (Persero), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI).
Sayangnya, DJP Kemenkeu tidak merinci seberapa besar sumbangan pajak kedua puluh grup usaha dan perusahaan tersebut.
Dari sejumlah grup konglomerasi tersebut, ada sejumlah emiten yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) dan kinerjanya jadi perhatian investor.
Misalnya, dari Grup Djarum ada PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR), PT Global Digital Niaga Tbk (BELI), dan PT Supra Boga Lestari Tbk (RANC).
Lalu, sejumlah perusahaan yang berada di bawah Grup Adaro adalah PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) dan PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR). Di Grup Bayan Resource ada PT Bayan Resources Tbk (BYAN).
Di Grup Indofood, ada PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) dan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP). Beberapa tentakel bisnis Grup Salim lainnya adalah PT Indoritel Makmur Internasional Tbk (DNET), PT Indomobil Sukses Internasional Tbk (IMAS), PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP), PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) dan PT Bumi Resources Tbk (BUMI).
Di Grup Sinarmas ada PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE), PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM), PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP), PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMAR), PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS) dan PT Smartfren Telecom Tbk (FREN).
Di Grup Gudang Garam ada PT Gudang Garam Tbk (GGRM). Di Grup Indika Energy salah satunya ada PT Indika Energy Tbk (INDY). Di Grup MedcoEnergi ada PT Medco Energy Internasional Tbk (MEDC).
Di Grup Agung Sedayu ada PT Pantai Indah Kapuk Tbk (PANI). Di Grup Harum Energy ada PT Harum Energy Tbk (HRUM). Lalu di Grup Triputra salah satunya ada PT Triputra Argo Persada Tbk (TAPG).
Pengamat pasar modal sekaligus Direktur Avere Investama, Teguh Hidayat melihat, pada tahun 2023, kinerja masing-masing dari para emiten di grup usaha yang dapat penghargaan tersebut sangat bervariasi. Hal ini tentu dipengaruhi oleh kinerja sektor dari masing-masing emiten.
“Misalnya, BBCA mengantongi laba bersih Rp 48,6 triliun di tahun 2023. Jadi, wajar bisa jadi salah satu penyumbang pajak terbesar tahun lalu,” ujarnya kepada Kontan, Senin (29/7).
Teguh melihat, masih banyak perusahaan konglomerasi dengan raihan laba tinggi di tahun lalu dan berpotensi menjadi penyumbang pajak terbesar juga.
“PT Astra International Tbk (ASII) labanya itu Rp 33,83 triliun di tahun lalu. Grup Astra bisa jadi salah satu penyumbang pajak besar juga, tetapi tidak dapat penghargaan,” paparnya.
Karenanya, Teguh melihat, penghargaan ini adalah salah satu cara Pemerintah memberikan karpet merah ke swasta yang memiliki kedekatan khusus. Beberapa grup usaha yang tercatat dekat dengan pemerintah adalah Grup Adaro dan Grup Agung Sedayu.
“Boy Thohir itu kakak Menteri BUMN Erick Thohir. Sementara, PANI itu punya proyek di IKN. Ini bisa jadi hanya gimmick politik untuk sobat pemerintah,” ungkapnya.
Terkait kinerja di tahun 2024, Teguh melihat, Grup Adaro dan Grup Djarum masih akan prospektif hingga akhir tahun 2024. Jagoan Teguh dari Grup Adaro adalah ADRO dan dari Grup Djarum adalah BBCA.
Secara sektoral, sektor komoditas dan perbankan juga masih akan moncer hingga akhir tahun. Selain ADRO, Teguh pun menjagokan kinerja TAPG dari Grup Triputra.
Di sisi lain, sektor konsumer dan rokok masih akan tertekan. Alasannya adalah daya beli masyarakat yang melemah dan kenaikan cukai rokok.
Teguh pun merekomendasikan beli untuk TAPG dan ADRO dengan target harga masing-masing di Rp 800 - Rp 900 per saham dan Rp 4.000 per saham. Sementara, BBCA direkomendasikan hold.
Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia Budi Frensidy melihat, di antara grup usaha tersebut, Grup Adaro, Grup Djarum, dan Grup Triputra memiliki kinerja yang prospektif hingga akhir tahun.
“Sektor perbankan dan komoditas masih bagus. Sektor consumer goods juga bagus, tetapi daya beli kelas menengah sedang melemah akhir-akhir ini,” ujarnya kepada Kontan, Senin (29/7).
Associate Director Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus melihat, di tahun 2023, kinerja dari grup-grup konglomerasi tersebut dipengaruhi oleh kondisi perekonomian global yang menguntungkan sektor komoditas dan perbankan.
ADRO, ADMR, INDF, ICBP, BBCA, BBRI dan BMRI menjadi emiten-emiten yang berkinerja baik di tahun lalu.
“Selain memang situasi dan kondisi mulai pulih, sentimen gosip pemangkasan tingkat suku bunga juga menjadi perhatian para investor,” tuturnya kepada Kontan, Senin (29/7).
Hingga akhir tahun, Nico melihat kinerja emiten sektor perbankan, consumer non-cyclical, dan ritel akan menguat. Untuk sektor perbankan, sentimennya berasal dari potensi penurunan tingkat suku bunga The Fed.
Untuk sektor consumer non-cyclical dan ritel, sentimennya berasal dari gelaran pemilihan kepala daerah (pilkada) dan pemilihan umum (pemilu).
“Transisi pemerintahan baru memberikan dampak positif ke hampir semua sektor, khususnya yang berkaitan dengan program kerja dari presiden terpilih yang mengutamakan makan siang gratis,” paparnya.
Nico pun merekomendasikan beli untuk ICBP, BBRI, BMRI, dan BBCA dengan target harga masing-masing Rp 13.000 per saham, Rp 5.650 per saham, Rp 7.400 per saham, dan Rp 11.300 per saham.