#30 tag 24jam
Mengapa Bencana Digital Terus Terjadi? (Bagian I)
Jutaan perangkat Windows di seluruh dunia mengalami blue screen of death (BSOD) massal yang berdampak pada sejumlah layanan. Halaman all [816] url asal
#falcon #crowdstrike #windows-gangguan
(Kompas.com) 28/07/24 09:30
v/12400080/
AKHIR pekan lalu, sekaligus seumpama “simponi” kejadian Indonesia sekaligus global, tren gangguan TIK (Teknologi Informasi Komunikasi) menyeruak lagi ketika layanan Microsoft alami global outage.
Inilah bencana digital tingkat dunia, setelah hari-hari sebelumnya terjadi di Tanah Air ketika ransomware menerjang PDN berimbas mundurnya seorang Dirjen Kominfo!
Pada Jumat, 19 Juli 2024, layanan Cloud Microsoft mengalami "global outage". Sejumlah layanan kritikal di beberapa negara terkena dampaknya.
Bahkan beberapa tokoh TI di dunia menganggap kejadian ini sebagai IT Outage terbesar sepanjang sejarah.
Jutaan perangkat Windows di seluruh dunia mengalami blue screen of death (BSOD) massal yang berdampak pada sejumlah layanan, mulai dari penerbangan, penyiaran, hingga perbankan di berbagai negara.
Data riset hasil Interos, perusahaan intelijen bisnis bidang pasok rantai dunia menujukkan, outage tersebut berdampak pada 674.620 direct enterprise customers (tier-1) dari Microsoft maupun CrowdStrike, serta 49 juta indirect customer.
Microsoft memperkirakan sekitar 8,5 juta perangkat Windows terkena dampak langsung dari logic error CrowdStrike ini.
Meskipun kurang dari 1 persen Microsoft's peng-instal global Windows, tetapi dampaknya mendunia.
Lebih dari 20 negara seluruh dunia terdampak, di mana 20 negara paling terdampak adalah Amerika Serikat, Inggris, Kanada, Australia, Jerman, Perancis, India, Spanyol, Italia, Belanda, Swedia, Denmark, Norwegia, Finlandia, Belgia, Swiss, Austria, Irlandia, Portugal, dan Selandia Baru.
Dan, Amerika Serikat merupakan negara nomor satu terdampak dari semuanya.
Sementara itu, outage ini berdampak ke hampir seluruh bidang industri seperti penerbangan, pelabuhan, logistik, kesehatan, perbankan, komunikasi, penyiaran, manufaktur, perdagangan, hingga asuransi.
Yang paling terasa dampaknya, seperti kita baca beritanya di Kompas.com, yaitu terjadinya penutupan dan penundaan skala besar pada pelabuhan dan bandara di banyak wilayah dunia.
Lebih dari 42.000 penerbangan tertunda secara global dan hampir 7.000 penerbangan dibatalkan secara global atau setara 6,2 persen seluruh penerbangan terjadwal (menurut Cirium, sebuah analis penerbangan).
Selain di sektor penerbangan, sektor pelabuhan juga terdampak hebat seperti pelabuhan dari New York hingga Houston dan Los Angeles menutup terminal peti kemas, sementara pada malam hari sebelum beroperasi kembali pada pagi harinya.
Pada sektor logistik, Amazon Warehouse menginformasikan beberapa layanan down seperti aplikasi pengaturan jadwal dan layanan IT internal "Anytime Pay", serta beberapa sistem mengalami bluescreen dan akhirnya ada penghentian operasional.
Pengiriman dari FedEx juga mengalami delay, simultan perusahaan segera mengaktifkan rencana cadangan guna mengatasi masalah jaringannya. Lalu, pengiriman UPS juga mengalami keterlambatan karena beberapa sistem alami gangguan.
Bidang manufaktur, Tesla, si pelopor kendaraan listrik sekaligus pemegang valuasi merek super mahal, juga tidak kuasa terdampak. Mereka menghentikan produksi di beberapa fasilitas manufakturnya untuk sementara karena berbagai perangkat juga alami bluescreen.
Dalam telaahan kami, penyebab outage Microsoft ini dikarenakan adanya update pada CrowdStrike (sistem keamanan yang digunakan Microsoft) untuk produk Falcon miliknya.
Falcon adalah platform yang dikembangkan perusahaan untuk menghentikan dan mencegah pembobolan dengan menggunakan teknologi awan.
Per 19 Juli 2024, CrowdStrike sedang dalam proses meluncurkan update secara global. Peranti lunak ini membutuhkan akses mendalam ke sistem operasi komputer untuk memindai ancaman.
Sementara itu, dengan adanya fault/logic flaw pada Sensor Falcon, hal ini menyebabkan adanya kerusakan sistem. Lalu, berdampak pada crash-nya sistem operasi Microsoft windows.
Dengan kata lain, ada masalah yang berdampak pada virtual machines yang menjalankan Windows Client dan Windows Server, yang besar kemungkinan menghadapi bug check (BSOD/blue screen of death) dan terjebak dalam keadaan restart.
Permasalahannya lagi adalah pembaruan sensor Falcon tersebut diatur secara otomatis guna meningkatkan pertahanan terhadap ancaman siber baru yang ditemukan.
Sehingga, ketika aplikasi itu mengandung “kode” bermasalah yang tidak terdeteksi, maka berdampak pada banyaknya mesin pelanggan CrowdStrike.
Berdasarkan riset kami di Sharing Vision, diketahui bahwa CrowdStrike dapat mengidentifikasi masalah dan beri solusi masalah tersebut dalam 79 menit.
Namun, proses recovery untuk bisnis-bisnis yang berdampak menjadi rumit dan memakan waktu tidak sedikit. IT administrator harus mem-boot sistem yang terkena dampak secara manual untuk mengembalikannya ke operasi normal.
Proses tersebut sangat memakan waktu dan memerlukan banyak sumber daya, terutama untuk perusahaan/bisnis yang memiliki banyak perangkat, di mana terkadang untuk beberapa perangkat memerlukan akses fisik ke tiap mesin.
Perusahaan/bisnis menggunakan enkripsi Microsoft Windows BitLocker menghadapi delay tambahan karena kunci pemulihan diperlukan.
Akibatnya, beberapa organisasi mungkin membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk pulih sepenuhnya dari pemadaman.
Lantas, ketika bencana digital semacam ini terus terjadi berderet, di Indonesia maupun dunia, apa solusinya?
Bagaimana solusi komprehensif yang harus dilakukan agar kejadian tidak berulang dan perusahaan/bisnis menjadi lebih siap menghadapi "IT Outage"?
Bersambung, baca artikel selanjutnya: Mengapa Bencana Digital Terus Terjadi? (Bagian II-Habis)