#30 tag 24jam
3 item, 1 hal
Catat! 7 Film Jepang yang Tidak Boleh Ditonton Anak Kecil
7 Film Jepang yang Tidak Boleh Ditonton Anak Kecil [886] url asal
#film-jepang #rekomendasi-film-jepang #film-jepang-dilarang #film-jepang-dewasa
(MedCom) 09/11/24 10:36
v/17866065/
Jakarta:Film Jepang menjadi tontonan banyak orang dari berbagai usia. Namun ternyata ada film Jepang yang tidak boleh ditonton oleh anak-anak.Sangat penting bagi para orang tua untuk memberikan pengawasan yang lebih untuk anak-anaknya. Apalagi larangan menonton film Jepang di bawah ini karena memuat kekerasan, seksualitas, hingga adegan lain yang hanya boleh ditonton orang dewasa.
| baca juga: Duh! Ribuan Serial Anime Klasik Terancam Hilang Selamanya, Ini Sebabnya |
Daftar Film Jepang yang Tidak Boleh Ditonton Anak Kecil
1. In the Realm of the Senses (1976)

Film drama romantis Jepang yang disutradarai oleh Nagisa Oshima ini mengangkat kisah nyata kasus tahun 1930-an di Jepang yang melibatkan Sada Abe, seorang wanita Jepang yang telah menganiaya kekasihnya. Film ini dibintangi oleh Eiko Matsuda dan Tatsuya Fuji.
Film In the Realm of the Senses menuai kontroversi setelah perilisannya karena mengandung penggambaran seks eksplisit. Hal tersebut yang membuat film ini tidak boleh ditonton oleh anak kecil.
Film In the Realm of the Senses menceritakan tentang pelayan penginapan yang dulunya pekerja seks. Meski sudah pensiun dari dunia prostitusi, ia tidak bisa menutupi hasrat seksnya yang sudah lama tidak terlampiaskan. Lalu, ketika sang majikan menggodanya, wanita itu tidak bisa menahan diri lagi.
2. Guinea Pig 2: Flower of Flesh and Blood (1985)

Film horor Jepang ini disutradarai dan ditulis oleh Hideshi Hino. Film ini dibintangi oleh Hiroshi Tamura dan Kirara Y?gao.
Film ini sempat dicekal pada awal perilisannya pada 1985 dan baru tayang secara legal di mancanegara pada 2002. Film Guinea Pig 2: Flower of Flesh and Blood menuai kontroversi karena memiliki adegan kekerasan yang realistis dan diduga dilakukan secara nyata.
Namun tuduhan itu pun dibantah oleh sang sutradara, Hideshi Hino, dengan membuat surat pernyataan dan menunjukkan proses produksi film Guinea Pig 2: Flower of Flesh and Blood. Bahkan kontroversi ini membuat FBI (Federal Bureau of Investigation) diterbangkan ke Jepang untuk melakukan penyelidikan langsung terhadap produksi film tersebut.
Film Guinea Pig 2: Flower of Flesh and Blood menceritakan tentang seorang pembunuh berantai dengan pakaian samurai yang mengejar seorang perempuan dan menyiksanya. Ia berusaha membuat sebuah bunga dari daging dan darah.
3. Emperor Tomato Ketchup (1996)

Film yang disutradarai oleh Sh?ji Terayama ini diproduksi dan dirilis pada 1971 dalam bentuk film pendek. Kemudian versi film panjangnya dirilis pada 1996, tiga belas tahun setelah meninggalnya sang sutradara.
Film Emperor Tomato Ketchup ini tidak mendapatkan izin lulus sensor di Indonesia karena berbagai alasan. Salah satunya adalah adegan sadis yang mengerikan.
Film Emperor Tomato Ketchup menceritakan tentang anak-anak telah menggulingkan orang dewasa dan membangun kerajaan mereka sendiri di masa depan. Film ini memuat serangkaian adegan grafis di mana anak-anak terlibat dalam tindakan kejam dan kasar terhadap orang dewasa di bawah kekuasaan mereka, termasuk adegan tentara anak-anak yang menangkap, memperbudak, mengeksekusi, dan memperkosa korban yang tidak berdaya.
4. Audition (1999)

Film horor Jepang yang disutradarai oleh Takashi Miike ini merupakan adaptasi dari novel dengan judul sama karya Ryu Murakami. Film ini tayang perdana di Festival Film Internasional Vancouver 1999 dan dirilis di bioskop Jepang pada 3 Maret 2000.
Meski tidak dilarang secara resmi di negara manapu, tetapi film ini dirilis secara terbatas di beberapa wilayah. Hal itu karena film Audition memuat adegan kekerasan yang sadis.
Film Audition menceritakan tentang seorang ayah tunggal yang memutuskan untuk mengadakan sebuah audisi bintang film dengan misi untuk mencari pengganti istrinya yang telah bertahun-tahun meninggal dunia. Hingga akhirnya, ada seorang wanita yang mampu menarik perhatiannya dari audisi bintang film tersebut dan mereka pun mulai menjalin hubungan asmara.
Namun siapa sangka bahwa wanita itu memiliki masa lalu yang buruk dengan membunuh mantan bosnya. Hal itu pun membuat sang pria harus menerima masalah yang sangat mengerikan dan mengancam jiwa serta anak laki-lakinya.
5. Battle Royale (2000)

Film laga thriller Jepang yang disutradarai oleh Kinji Fukasaku ini merupakan adaptasi dari novel dengan judul sama karya Koushun Takami. Film ini dibintangi oleh Tatsuya Fujiwara, Aki Maeda, Tar? Yamamoto, dan Takeshi Kitano.
Film ini menuai kontroversi dengan pelarangan dan pendistribusian di beberapa negara. Hal itu karena film Battle Royale menggambarkan kekerasan yang eksplisit.
Film Battle Royal menceritakan tentang 42 siswa SMP yang terpilih untuk mengikuti program Battle Royale tahunan pemerintah Jepang. Program ini merupakan metode ekstrem untuk menangani masalah kenakalan remaja dengan dipaksa bertarung hingga mati.
6. Death Note (2006)

Film yang disutradarai oleh Sh?suke Kaneko ini merupakan adaptasi dari manga dan anime Death Note karya Tsugumi Ohba dan Takeshi Obata. Film ini dibintangi oleh Tatsuya Fujiwara, Kenichi Matsuyama, Erika Toda, dan Asaka Seto.
Film Death Note menceritakan seorang mahasiswa yang memasuki dunia jahat dengan bantuan dari sebuah buku catatan supranatural yang dapat membunuh siapa saja yang namanya ditulis di dalamnya.
Film ini memuat banyak kematian, pembunuhan, dan adegan sadis lainnya. Hal itu membuat film Death Note dinilai tidak layak ditonton anak-anak.
7. Grotesque (2009)

Film horor Jepang ini ditulis dan disutradarai oleh K?ji Shiraishi. Film ini dibintangi oleh Hiroaki Kawatsure, Tsugumi Nagasawa, dan Shigeo ?sako.
Film Grotesque menceritakan tentang sepasang kekasih yang terbangun dalam keadaan terbelenggu di ruang bawah tanah yang dindingnya dilapisi plastik setelah diculik saat kencan pertama mereka. Kemudian, seorang pria gila yang sadis merendahkan, menyiksa, dan memutilasi mereka tanpa penjelasan lebih lanjut.
Film Grotesque memuat adegan sadis yang eksplisit sehingga tidak cocok untuk ditonton oleh anak-anak. Bahkan film ini tidak lulus sensor dan dilarang tayang di Indonesia.
dan followChannel WhatsApp Medcom.id
(ELG)
JFF Theater Diluncurkan, Bisa Nonton Film Jepang Gratis
The Japan Foundation (JF) merilis situs web JFF Theater kepada masyarakat seluruh dunia. ?Sebuah platform yang menayangkan berbagai film Jepang. [851] url asal
#film #film-jepang #situs-film #jff-theater
(MedCom) 02/08/24 17:04
v/13027189/
Jakarta: The Japan Foundation (JF) merilis situs web 'JFF Theater' kepada masyarakat seluruh dunia. Situs tersebut merupakan platform yang menayangkan berbagai film Jepang dan karya video lainnya dengan takarir (terjemahan) berbagai bahasa, serta dapat ditonton kapan saja dan di mana saja.Situs resmi JFF Theater resmi meluncur pada Kamis, 1 Agustus 2024. Sebagai menu pembuka, JFF Theater telah merilis lima film dalam situs resmi mereka.
Seluruh tayangan tersebut dapat dinikmati secara gratis. Namun, sebelum mengakses dan menikmati film-film di JFF Theater, para pengunjung wajib melakukan registrasi akun terlebih dahulu yang tentunya tidak dipungut biaya.
JFF Theater juga dapat dinikmati para penonton di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Hanya saja, ada beberapa judul film tidak ditayangkan di wilayah tertentu.
Perkenalkan konten film dan konten film Jepang ke seluruh dunia
Japan Foundation mendapati bahwa minat terhadap film dan konten Jepang sangat tinggi di dunia internasional. Hal ini berdasarkan hasil proyek penayangan film berbasis daring yang diselenggarakan Japan Foundation selama beberapa tahun terakhir.Tercatat, lebih dari 650 ribu penonton dari 130 negara telah berpartisipasi dalam proyek tersebut. Melalui JFF Theater ini JF berharap dapat memperkenalkan film dan konten video Jepang kepada masyarakat secara lebih luas.
Dengan slogan “Moved, Touched, Inspired”, JFF Theater bertujuan membangun jembatan antara Jepang dan seluruh dunia sehingga memperdalam saling kesepahaman dan melahirkan pertukaran budaya.
Adapun konsep yang ditawarkan oleh JFF Theater, yaitu:
- Pemutaran yang berkelanjutan
Beragam film baru akan muncul secara berkala, sehingga penonton dapat selalu menikmati sajian film yang baru.
- Pilihan karya yang beragam
Menghadirkan berbagai film hiburan, film indie, serial drama TV, dan konten video budaya Jepang lainnya
- Tayang di seluruh dunia
Konten dapat dinikmati oleh masyarakat di seluruh dunia. (*Distribusi penayangan negara/wilayah dan bahasa teks film dapat bervariasi tergantung pada film.)
- Tanpa biaya
Penonton dapat menikmati film yang ditayangkan secara gratis hanya dengan registrasi membuat akun
- Multibahasa
Situs web dan takarir tersedia dalam berbagai bahasa.
Tayangkan lima film pembuka
Sebagai pembuka, Japan Foundation telah memilih lima film untuk ditayangkan selama periode tertentu. Kelima film tersebut dibagi menjadi tiga kategori:1. Make a New Start!
Film pada kategori ini sangat cocok bagi penonton yang ingin mulai menikmati JFF Theater. Film-film dengan alur yang ringan dan menyenangkan.Setidaknya ada dua film yang diperkenalkan dalam kategori ini:

- It’s a Summer Film!
MATSUMOTO Soushi | 2021
“Ayo kita buat film bersama!” Seorang gadis yang sangat menyukai film-film samurai dan seorang pemuda yang penuh misteri bersama-sama membuat sebuah film yang menembus ruang dan waktu.

- Happy Flight
YAGUCHI Shinobu | 2008
Situasi darurat dalam sebuah penerbangan dari Tokyo ke Honolulu! Sebuah film ensambel yang menggambarkan staf darat, pramugari, dan pilot saat bertugas.
2. Anime to Rediscover
Film animasi yang sulit ditemukan di platform penayangan film lainnya. Dalam kategori ini, JFF Theater meluncurkan satu film animasi, yakni Time of EVE the Movie
Time of EVE the Movie
YOSHIURA Yasuhiro | 2010
Apakah android memiliki jiwa? Sebuah animasi menyentuh yang memikirkan sifat emosi melalui interaksi antara manusia dan android.
3. Slice of Life in Japan
Pilihan film yang menggambarkan kehidupan masyarakat Jepang dari berbagai perspektif. Kategori ini merilis dua film untuk para pengunjung, yakni:
- SUMODO The Successors of Samurai
SAKATA Eiji | 2020
Sebuah film tentang sumo, olahraga nasional Jepang. Sebuah dokumenter dengan akses langka ke dalam kehidupan di balik layar para pegulat sumo terkenal.

- Tora-san in Goto
OGURA Masaru | 2016
Sebuah film dokumenter dari tahun 1993 dan lebih dari 22 tahun menceritakan sebuah keluarga besar yang mencari nafkah sebagai pembuat mie udon di Kepulauan Goto di Prefektur Nagasaki.
Kelima film tersebut akan mulai ditayangkan pada tanggal 1 Agustus 2024 pukul 08.00 WIB dengan jadwal sebagai berikut:
Periode tayang hingga 30 September 2024
- It’s a Summer Film!
- SUMODO The Successors of Samurai
Periode tayang hingga 31 Oktober 2024
- Happy Flight
- Time of EVE the Movie
- Tora san of Goto
Informasi lainnya
- Website: JFF Theater (https://www.jff.jpf.go.jp)
- Penyelenggara: The Japan Foundation (JF)
- Tanggal rilis: 1 Agustus 2024, pukul 08.00 WIB
- Jumlah film pembuka: Lima (5) film
- Biaya: Tanpa biaya dengan registrasi akun
- Wilayah penayangan: Seluruh dunia (beberapa judul tidak tersedia di wilayah tertentu)
- Bahasa tampilan situs web dan takarir: 19 bahasa (Jepang, Inggris, Arab, Myanmar, Mandarin (Sederhana), Mandarin Tradisional, Prancis, Jerman, Hungaria, Indonesia, Italia, Kamboja, Korea, Laos, Malaysia, Portugis, Spanyol, Thailand, Vietnam).
Seputar JFF (Japanese Film Festival)
Japanese Film Festival (JFF) dirilis oleh JF pada 2016 sebagai bagian dari proyek JFF Asia Pacific Gateway Initiative untuk 10 negara ASEAN dan Australia. Pada 2017, Tiongkok dan India ditambahkan ke dalam daftar negara.Kemudian dilanjutkan Rusia pada 2018. JFF 2023 diselenggarakan di 10 negara yang menarik lebih dari 120.000 orang. Pada 2024 JFF akan diselenggarakan di 10 negara lagi.
Sekilas The Japan Foundation, Jakarta (JF)
The Japan Foundation didirikan pada Oktober 1972 di Jepang sebagai lembaga nirlaba milik pemerintah Jepang satu-satunya yang khusus didedikasikan untuk menangani pertukaran budaya internasional. Dengan tujuan untuk memperdalam rasa saling pengertian di antara masyarakat Jepang dan negara-negara lainnya, kami berupaya untuk mewujudkan berbagai aktivitas serta menyediakan fasilitas dan informasi yang menciptakan kesempatan bagi para individu untuk dapat saling berinteraksi.The Japan Foundation membuka kantor perwakilan di Jakarta sejak tahun 1974 yang bertujuan mendukung kegiatan kebudayaan antara Indonesia dan Jepang.
(ROS)
Film Jepang, Evil Does Not Exist Tayang di Indonesia
Film Jepang, Evil Does Not Exist Tayang di Indonesia [276] url asal
#film-jepang #film-evil-does-not-exist #klikfilm
(MedCom) 29/07/24 08:00
v/12501110/
Jakarta: Layanan streaming Klik Film memboyong dua karya spesial ke dalam katalog baru mereka di bulan Agustus 2024. Dua film beda negara itu yaitu, Evil Does Not Exist dan Burning Days.Evil Does Not Exist adalah film drama Jepang yang ditulis dan disutradarai oleh Ryusuke Hamaguchi. Film ini pernah tayang di Festival Film Internasional Venesia ke-80, dan dianugerahi sebagai Film Terbaik di Festival Film BFI London 2023.
Film Evil Does Not Exist menceritakan kisah tentang seorang pria paruh baya yang hidup tenang di sebuah desa kecil di Jepang. Kehidupan sehari-harinya berubah drastis ketika proyek pembangunan sebuah resor mewah mengancam keseimbangan alam dan masyarakat di desanya.
Film ini coba mengangkat isu lingkungan dan sosial yang relevan dengan kondisi dunia saat ini. Selain menyutradarai, Ryusuke Hamaguchi juga menulis skenario film ini.
Sementara itu, Burning Days adalah film drama yang disutradarai oleh Ermin Alper. Film ini mengisahkan tentang seorang jaksa muda idealis yang ditempatkan di sebuah kota kecil di selatan Turki.
| baca juga: Ribuan Serial Anime Klasik Terancam Hilang Selamanya, Ini Sebabnya |
Dia harus menghadapi berbagai kasus korupsi dan ketidakadilan. Film ini menyoroti isu sistemik yang masih kerap terjadi di banyak negara. Film ini juga telah malang melintang di festival film internasional seperti nominasi penghargaan Un Certain Regard di Festival Film Cannes 2022 lalu.
"Kedua film ini tidak hanya menawarkan tontonan yang menghibur, tetapi juga mengajak penonton untuk merenung dan kritis terhadap berbagai permasalahan sosial yang ada," kata direktur Klik Film Frederica,
Film Burning Days dan Evil Does Not Exist dapat disaksikan di KlikFilm mulai 1 Agustus 2024.
"Dengan menghadirkan screening eksklusif ini, KlikFilm berharap dapat memperkaya pengalaman menonton bagi para penggemar film di Indonesia," tutupnya.
(ELG)