#30 tag 24jam
BREN dan FTSE Russel Kompak Soal Konsentrasi 4 Pemegang Saham
PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) menampik keluarnya perseroan dari indeks FTSE Large Cap lantaran tidak memenuhi ketentuan free float. [512] url asal
#barito-renewables-energy #bren #ftse-large-cap #ftse-russel
(Bisnis.Com - Market) 24/10/24 14:55
v/16929949/
Bisnis.com, JAKARTA — Manajemen PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) menekankan keluarnya perseroan dari indeks FTSE Large Cap disebabkan karena konsentrasi kepemilikan saham perseroan oleh 4 pemegang saham.
Direktur dan Corporate Secretary PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) Merly berdalih ketentuan itu yang dipakai FTSE Russel untuk mengeluarkan perseroan dari konstituen indeks 19 September 2024 lalu.
Merly mengacu pada pengumuman yang dibuat FTSE Russel pada Kamis (19/9/2024). Belakangan BREN keberatan dengan publikasi FTSE Russel tersebut yang disampaikan lewat surat.
Padahal, emiten Prajogo Pangestu tersebut sempat masuk ke dalam indeks bergengsi itu pada 23 Agustus 2024. Kejadian serupa juga pernah terjadi pada 4 Juni 2024, saat BREN dikeluarkan dari konstituen setelah sempat dimasukkan pada 24 Mei 2024.
“Pembatalan dari masuknya BREN dari indeks FTSE Russel itu disebabkan karena adanya konsentrasi dari kepemilikan saham BREN oleh 4 pemegang saham atau 97% dari total saham BREN sendiri,” kata Merly saat publicexpose daring, Kamis (24/10/2024).
Merly menampik anggapan perseroan dikeluarkan dari indeks lantaran tidak memenuhi ketentuan freefloat.
“Bukan karena tidak terpenuhinya ketentuan dari freefloat itu yang ingin kami garisbawahi dulu,” kata dia.
Lewat keterbukaan informasi 22 September 2024 lalu, Merly menerangkan porsi kepemilikan 4 pemegang saham yang disorot FTSE Russel telah diungkap saat rencana IPO ke Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 2023.
Data per 19 September 2024, PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) memegang 64,666% kepemilikan, disusul Green Era Energy Pte Ltd sebesar 23,603%. Kedua perusahaan ini terafiliasi langsung dengan Prajogo Pangestu.
Sementara itu, Jupiter Tiger Holdings memegang 3,941% kepemilikan dan Prime Hill Funds memegang 3,761% kepemilikan di BREN. Porsi saham yang dipegang dua perusahaan terakhir masuk ke dalam bagian saham free float sesuai aturan BEI.
Berdasarkan data per 19 September 2024 yang disediakan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), jumlah saham yang memenuhi persyaratan free float berdasarkan ketentuan BEI sebesar 15.601.235.234 lembar atau 11,66%.
Jumlah ini tidak mengalami perubahan yang signifikan dibandingkan dengan persentase free float saat dalam prospektuf IPO yang menyebutkan saham free float sebanyak 15.694.413.334 atau 11,73%.
“Pada saat IPO, komposisi kepemilikan saham oleh 4 pemegang saham tersebut adalah 97%, dan sampai hari ini telah terjadi perubahan sebagaimana dijelaskan,” kata Merly.
Seperti diberitakan sebelumnya, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tengah memeriksa indikasi perdagangan semu atau manipulasi pasar atas transaksi saham di BREN dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk. (CUAN).
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Inarno Djajadi mengatakan proses pemeriksaan terhadap transaksi saham BREN dan CUAN saat ini masih berlangsung.
"OJK melakukan pemeriksaan secara menyeluruh dan mendalam, termasuk memeriksa indikasi adanya perdagangan semu atau manipulasi pasar lainnya," kata Inarno dalam jawaban tertulis pada Rabu (2/10/2024).
Menurut dia, setiap temuan akan dievaluasi sesuai dengan peraturan dan standar yang berlaku. Apabila terbukti ada pelanggaran, OJK akan melakukan penegakan hukum secara tegas sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
BREN dan FTSE Russel Kompak Soal Kosentrasi 4 Pemegang Saham
PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) menampik keluarnya perseroan dari indeks FTSE Large Cap lantaran tidak memenuhi ketentuan free float. [512] url asal
#barito-renewables-energy #bren #ftse-large-cap #ftse-russel
(Bisnis.Com - Market) 24/10/24 14:55
v/16929204/
Bisnis.com, JAKARTA — Manajemen PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) menekankan keluarnya perseroan dari indeks FTSE Large Cap disebabkan karena konsentrasi kepemilikan saham perseroan oleh 4 pemegang saham.
Direktur dan Corporate Secretary PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) Merly berdalih ketentuan itu yang dipakai FTSE Russel untuk mengeluarkan perseroan dari konstituen indeks 19 September 2024 lalu.
Merly mengacu pada pengumuman yang dibuat FTSE Russel pada Kamis (19/9/2024). Belakangan BREN keberatan dengan publikasi FTSE Russel tersebut yang disampaikan lewat surat.
Padahal, emiten Prajogo Pangestu tersebut sempat masuk ke dalam indeks bergengsi itu pada 23 Agustus 2024. Kejadian serupa juga pernah terjadi pada 4 Juni 2024, saat BREN dikeluarkan dari konstituen setelah sempat dimasukkan pada 24 Mei 2024.
“Pembatalan dari masuknya BREN dari indeks FTSE Russel itu disebabkan karena adanya konsentrasi dari kepemilikan saham BREN oleh 4 pemegang saham atau 97% dari total saham BREN sendiri,” kata Merly saat publicexpose daring, Kamis (24/10/2024).
Merly menampik anggapan perseroan dikeluarkan dari indeks lantaran tidak memenuhi ketentuan freefloat.
“Bukan karena tidak terpenuhinya ketentuan dari freefloat itu yang ingin kami garisbawahi dulu,” kata dia.
Lewat keterbukaan informasi 22 September 2024 lalu, Merly menerangkan porsi kepemilikan 4 pemegang saham yang disorot FTSE Russel telah diungkap saat rencana IPO ke Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 2023.
Data per 19 September 2024, PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) memegang 64,666% kepemilikan, disusul Green Era Energy Pte Ltd sebesar 23,603%. Kedua perusahaan ini terafiliasi langsung dengan Prajogo Pangestu.
Sementara itu, Jupiter Tiger Holdings memegang 3,941% kepemilikan dan Prime Hill Funds memegang 3,761% kepemilikan di BREN. Porsi saham yang dipegang dua perusahaan terakhir masuk ke dalam bagian saham free float sesuai aturan BEI.
Berdasarkan data per 19 September 2024 yang disediakan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), jumlah saham yang memenuhi persyaratan free float berdasarkan ketentuan BEI sebesar 15.601.235.234 lembar atau 11,66%.
Jumlah ini tidak mengalami perubahan yang signifikan dibandingkan dengan persentase free float saat dalam prospektuf IPO yang menyebutkan saham free float sebanyak 15.694.413.334 atau 11,73%.
“Pada saat IPO, komposisi kepemilikan saham oleh 4 pemegang saham tersebut adalah 97%, dan sampai hari ini telah terjadi perubahan sebagaimana dijelaskan,” kata Merly.
Seperti diberitakan sebelumnya, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tengah memeriksa indikasi perdagangan semu atau manipulasi pasar atas transaksi saham di BREN dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk. (CUAN).
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Inarno Djajadi mengatakan proses pemeriksaan terhadap transaksi saham BREN dan CUAN saat ini masih berlangsung.
"OJK melakukan pemeriksaan secara menyeluruh dan mendalam, termasuk memeriksa indikasi adanya perdagangan semu atau manipulasi pasar lainnya," kata Inarno dalam jawaban tertulis pada Rabu (2/10/2024).
Menurut dia, setiap temuan akan dievaluasi sesuai dengan peraturan dan standar yang berlaku. Apabila terbukti ada pelanggaran, OJK akan melakukan penegakan hukum secara tegas sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Prospek Cuan Saham BREN Prajogo Pangestu Usai Masuk Indeks FTSE Large Cap
Prospek saham PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) milik Prajogo Pangestu dinilai cerah usai masuk ke dalam indeks FTSE large cap. [816] url asal
#barito-renewables-energy #bren #ftse #indeks-ftse #ftse-large-cap #kapitalilasi-pasar #prospek-saham #rekomendasi-saham #prajogo-pangestu #bris #cpin #goto #saham-cuan
(Bisnis.Com) 26/08/24 06:00
v/14740049/
Bisnis.com, JAKARTA — Prospek saham PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) milik Prajogo Pangestu dinilai cerah usai masuk ke dalam indeks Financial Times Stock Exchange (FTSE) Global Equity Indonesia untuk kelompok kapitalisasi jumbo atau large cap.
Sebagaimana diketahui, FTSE Russell telah merombak penghuni Indeks FTSE Global Equity Indonesia dalam semi-annual review September 2024. Dari kelompok large cap, selian BREN ada PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BRIS) masuk daftar bergengsi itu.
BRIS dan BREN menggeser saham PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk. (CPIN), PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO), PT Kalbe Farma Tbk. (KLBF), PT H.M. Sampoerna Tbk. (HMSP) dan PT United Tractors Tbk. (UNTR), yang kini masuk ke kategori mid cap.
Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan masuknya BRIS dan BREN ke dalam indeks FTSE Global Equity Indonesia untuk kelompok large cap membawa sentimen positif.
Tercatat, harga saham BRIS naik 3,05% pada perdagangan akhir pekan ini, Jumat (23/8/2024) ke level Rp2.700. Sementara, harga Saham BREN naik 0,8% pada penutupan perdagangan akhir pekan ini, ke level Rp9.450.
Menurutnya, BRIS pun mempunyai potensi melanjutkan penguatan.
"Saham BRIS terdorong oleh potensi perkembangan bisnis syariah seiring dengan penduduk muslim Indonesia yang besar," kata Nafan kepada Bisnis, Sabtu (24/8/2024).
Selain itu, BRIS memiliki potensi besar meningkatkan market cap. Saat ini, market cap BRIS sudah mencapai Rp124,55 triliun.
"BRIS juga terdorong oleh hasil kinerja keuangan, baik top line dan bottom line yang menunjukan pertumbuhan progresif pada semester I/2024," kata Nafan.
Sementara BREN terdorong oleh komitmennya dalam meningkatkan kelas agar investor mengakumulasikan saham.
"Ada juga komitmen meningkatkan corporate governance," ujar Nafan.
Nafan merekomendasikan accumulative buy untuk BRIS dengan target harga Rp3.000. Lalu, saham BREN direkomendasikan hold. Menurut Nafan, saham BREN telah lama breakout dari minor triangle pattern sehingga memiliki target harga teoritis pada Rp10.200.
Sementara itu, Merly, Sekretaris Perusahaan dan Direktur Barito Renewables Energy, mengatakan masuknya BREN ke Indeks FTSE menjadi pengakuan penting terhadap visi jangka panjang perseroan dalam mendorong Indonesia nol emisi.
Hal itu turut menyoroti dedikasi BREN untuk mendiversifikasi portofolio energi terbarukan, khususnya melalui akuisisi strategis di bidang energi angin yang melengkapi fondasi bisnis geothermal perusahaan.
“Selain itu, dengan dimasukkannya BREN dalam FTSE Global Equity Index, basis investor kami akan semakin luas, memberikan peluang berharga bagi investor untuk berpartisipasi dalam pertumbuhan bisnis kami,” ujarnya kepada Bisnis, Jumat (23/8/2024).
Merly menyatakan BREN telah memperluas jejak energi terbarukan dengan mengakuisisi PLTA Sidrap 1 berkapasitas 75 MW, serta mengamankan aset tahap akhir untuk Sidrap 2 pada 2024. Langkah itu ditempuh melalui anak usahanya, Barito Wind.
Star Energy Geothermal, entitas anak BREN, juga terus meningkatkan operasinya dengan meningkatkan kapasitas secara signifikan di unit Salak, Darajat, dan Wayang Windu.
Merly menuturkan peningkatan itu termasuk program retrofit dan penambahan unit baru yang diharapkan menambah kapasitas geothermal ke 118 MW pada 2024 – 2027. Dengan demikian, total kapasitas geothermal BREN naik dari 886 MW menjadi 1.004 MW.
“Pengakuan dari FTSE Russell ini tidak hanya memvalidasi pencapaian kami saat ini, tetapi juga menempatkan BREN sebagai pemain kunci dalam transisi menuju energi berkelanjutan,” pungkasnya.
Kapitalisasi Pasar Paling Jumbo di BEI
Di antara 939 saham yang tercatat di BEI, BREN menjadi emiten dengan kapitalisasi pasar terbesar di BEI. Nilainya hampir 10% dari total market cap Bursa.
Dalam statistik harian BEI per Jumat (23/8/2024), kapitalisasi pasar BREN tercatat sebesar Rp1.264 triliun. Nilai itu setara dengan 9,89% market cap Bursa.
BREN menjadi jawara market cap setelah menyalip PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA). Emiten bank milik Grup Djarum itu tercatat memiliki kapitalisasi pasar Rp1.260 triliun.
Di bawah BBCA, emiten Prajogo Pangestu PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA) mengantongi kapitalisasi pasar Rp807 triliun.
Posisi BREN sebagai emiten dengan kapitalisasi pasar terbesar di BEI tak terlepas dari kinerja sahamnya sepanjang tahun berjalan 2024. Dikutip dari data BEI, saham BREN sudah menguat 26,42% year-to-date (YtD) dan parkir di level Rp9.450 per saham pada Jumat (23/8/2024).
Meski begitu, BREN cenderung melandai dari posisi puncak harga yang disentuh pada Mei 2024 Rp11.250 per saham sebelum BEI memasukkan saham BREN ke dalam Papan Pemantauan Khusus dengan skema perdagangan full call auction (FCA).
Adapun, total nilai transaksi BREN sepanjang tahun berjalan 2024 tercatat sebesar Rp26,5 triliun dengan volume sebanyak 3,7 miliar dan frekuensi transaksi 1,4 juta kali.
Ke depan, katalis BREN datang dari keputusan FTSE Russell untuk menempatkan saham BREN masuk ke dalam daftar FTSE Global Equity Index untuk kategori large cap. BREN bakal efektif menghuni indeks global itu mulai 23 September 2024 atau setelah penutupan perdagangan pada 20 September mendatang.
Kendati demikian, komposisi tersebut masih dapat direvisi hingga perdagangan 6 September 2024. Perubahan dari komposisi indeks akan dianggap final mulai 9 September 2024.
_________
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.