#30 tag 24jam
Dongkrak Bisnis Non Batubara, Simak Strategi Emiten dan Rekomendasi Sahamnya
Sejumlah emiten melakukan transisi dengan ekspansi ke bisnis baru, hingga melepas aset atau anak usaha yang terkait batubara. [945] url asal
#batubara #rekomendasi-saham #tbs-energi-utama #minahasa-cahaya-lestari #gorontalo-listrik-perdana #diversifikasi-bisnis #pembangkit-listrik-tenaga-uap #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijaka
(Kontan-Investasi) 08/10/24 20:42
v/16165638/
Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejumlah emiten tancap gas untuk mengurangi ketergantungan terhadap bisnis batubara. Emiten melakukan transisi dengan melancarkan strategi diversifikasi melalui ekspansi ke bisnis baru, hingga melepas aset atau anak usaha yang terkait batubara.
Aksi terbaru dilakukan oleh PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) yang melepas dua aset Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dengan kapasitas total 200 Megawatt (MW). Divestasi ini dijalankan melalui penjualan seluruh saham TOBA di PT Minahasa Cahaya Lestari dan PT Gorontalo Listrik Perdana.
Nilai penjualan sekitar US$ 144,8 juta. “Penjualan ini merupakan bagian dari strategi kami untuk percepatan transisi perseroan ke bisnis berkelanjutan dan mendukung target kami untuk mencapai netralitas karbon pada tahun 2030," kata Direktur TOBA Juli Oktarina, dalam keterbukaan informasi, Selasa (8/10).
Aksi serupa dilakukan oleh PT Indika Energy Tbk (INDY) yang kembali melepas entitas anak usahanya. Kali ini, INDY melalui PT Indika Indonesia Resources menjual seluruh saham di PT Mitra Energi Agung (MEA), dengan nilai transaksi sebesar Rp 15 miliar.
Pada akhir September lalu, INDY melalui PT Indika Multi Properti melepas kepemilikannya di PT Trisetia Citagraha (TCG) senilai Rp 26,77 miliar. Pelepasan entitas usaha ini bukan aksi yang baru bagi INDY.
Divestasi perusahaan batubara telah beberapa kali dilakukan INDY, mulai dari melepas PT Mitrabahtera Segara Sejati Tbk (MBSS) di tahun 2021, PT Petrosea Tbk (PTRO) pada 2022 serta PT Multi Tambangjaya Utama pada Februari 2024.
Head of Corporate Communications Indika Energy, Ricky Fernando, mengungkapkan aksi divestasi, termasuk aksi teranyar penjualan MEA dan TCG merupakan bagian dari strategi INDY untuk mengoptimalisasi portofolio aset dan mengurangi eksposur pada bisnis batubara. Sekaligus untuk fokus pada diversifikasi portofolio bisnis.
MEA dan TCG selama ini terkait dalam bisnis pendukung energi, namun kontribusinya relatif minim terhadap kinerja keuangan INDY. Ricky bilang, dengan divestasi ini INDY dapat memperkuat neraca keuangan dan meningkatkan fleksibilitas dalam berinvestasi di proyek-proyek yang lebih relevan dengan strategi jangka panjang.
"Pelepasan aset ini memungkinkan kami untuk mengalokasikan sumber daya ke sektor yang memiliki potensi pertumbuhan lebih besar, seperti energi terbarukan dan kendaraan listrik," kata Ricky kepada Kontan.co.id, Selasa (8/10).
Emiten lain yang getol melakukan diversifikasi di luar bisnis batubara adalah PT United Tractors Tbk (UNTR). Sekretaris Perusahaan UNTR, Sara K. Loebis mengungkapkan emiten dari Grup Astra ini masih membuka peluang melakukan ekspansi, termasuk melirik potensi akuisisi pada aset energi terbarukan maupun komoditas mineral strategis.
Langkah ini sebagai strategi untuk menggenjot kontribusi dari bisnis non-batubara terhadap pendapatan UNTR. "Kami optimistis menyeimbangkan kontribusi di tahun 2030 nanti," kata Sara.
Langkah agresif lain dilakukan oleh PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO), yang bersiap melepas PT Adaro Andalan Indonesia (AAI) sebagai pilar di bisnis batubara termal. Penjualan AAI merupakan bagian dari strategi ADRO untuk mencapai sekitar 50% total pendapatan dari bisnis non-batubara termal pada tahun 2030.
Setelah melepas AAI, ADRO masih memiliki sederet proyek yang digarap oleh pilar Adaro Minerals di bawah PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR) dan pilar Adaro Green.
Di antaranya proyek pengembangan pertambangan batubara metalurgi, pengolahan aluminium dengan kapasitas 500 ktpa di Kaltara Industrial Park, pembangkit listrik tenaga angin berkapasitas 70 MW di Kalimantan Selatan, dan pembangkit listrik tenaga air berkapasitas 1.375 MW di Kalimantan Utara.
Rekomendasi Analis
Founder Stocknow.id Hendra Wardana mengamati strategi diversifikasi yang dilakukan oleh emiten batubara saat ini merupakan respons yang signifikan terhadap perubahan paradigma global menuju transisi energi.
"Tindakan ini mencerminkan pemahaman bahwa keberlanjutan bukan sekadar pilihan, tetapi suatu keharusan untuk bertahan di pasar yang semakin kompetitif," kata Hendra kepada Kontan.co.id, Selasa (8/10).
Hendra melihat pencapaian target tersebut akan bergantung pada strategi manajemen untuk mengelola transisi secara efisien dari sisi pengelolaan modal, sumber daya dan teknologi. Secara bersamaan, ada faktor eksternal yang perlu dipertimbangkan, termasuk kebijakan pemerintah, tren industri, serta potensi risiko yang muncul dari transisi ini.
Analis BCA Sekuritas Achmad Yaki mengingatkan efek dari strategi diversifikasi dan transisi bisnis ini tidak akan instan. Mayoritas emiten masih perlu waktu untuk dapat menyeimbangkan kontribusi pendapatan dari sumber non-batubara, lantaran saat ini rata-rata kontribusi dari bisnis batubara masih di atas 70%.
Yaki mengamini, di luar rencana dan eksekusi bisnis dari emiten, faktor yang sangat memengaruhi transisi perusahaan batubara adalah kebijakan pemerintah. Kebijakan yang memberikan insentif, terutama di bidang energi terbarukan dan hilirisasi tambang akan menjadi katalis pendorong bagi transisi emiten batubara.
Pengamat Pasar Modal & Founder WH-Project William Hartanto menyoroti dari sisi pergerakan saham, transisi emiten batubara cenderung mendapatkan respons positif dari pelaku pasar. Terutama bagi emiten yang getol menggelar diversifikasi melalui strategi ekspansi dan akuisisi ke bisnis baru.
Hanya saja, William mengingatkan sentimen yang bisa mendongkrak harga saham emiten cenderung jangka pendek hingga menengah. Lantaran pasar akan kembali menyesuaikan dengan sentimen yang lebih aktual, serta sejauh mana aksi yang dilakukan memberikan hasil pada kinerja keuangan.
"Cenderung positif (terhadap pergerakan harga saham) karena ekspektasi terhadap peningkatan kinerja sampai nanti terbukti hasilnya. Sebelum ada bukti dari kinerja, biasanya spekulasi lebih tinggi dengan mengikuti tren," terang William.
Di antara emiten batubara yang getol melakukan diversifikasi, untuk saat ini William menjagokan saham INDY, ADRO dan PT Harum Energy Tbk (HRUM). Sedangkan Yaki menyematkan trading buy pada saham TOBA, INDY, ADRO, UNTR dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA).
Yaki menyarankan target harga untuk masing-masing saham tersebut berada di level Rp 700, Rp 1.820, Rp 4.000, Rp 27.700 dan Rp 3.160. Sementara Hendra melirik saham HRUM dengan target harga Rp 1.590, INDY untuk target Rp 1.850, dan Rp UNTR dengan target harga di level Rp 28.500 per saham.
TBS Energi (TOBA) Jual Dua Perusahaan PLTU 200 MW Senilai US$ 144,8 Juta
TOBA akan memperoleh keuntungan kas di samping dividen yang telah diterima selama PLTU beroperasi. [517] url asal
#toba #tbs-energi-utama #juli-oktarina #minahasa-cahaya-lestari #gorontalo-listrik-perdana #netralitas-karbon-2030 #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi #emiten
(Kontan-Investasi) 08/10/24 09:28
v/16143042/
Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Wahyu T.Rahmawati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) melakukan divestasi dua aset Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dengan kapasitas total 200 Megawatt (MW). Aksi ini dilakukan melalui penjualan seluruh saham TOBA langsung maupun tidak langsung di PT Minahasa Cahaya Lestari (MCL) dan PT Gorontalo Listrik Perdana (GLP).
Direktur TBS Energi Utama Juli Oktarina mengungkapkan, nilai penjualan saham ini mencapai kurang lebih US$ 144,8 juta, yang akan memberikan dampak positif terhadap arus kas TOBA. Dari aksi ini, TOBA akan menerima hasil penjualan dalam bentuk kas yang lebih tinggi dibandingkan dengan total modal yang ditanamkan untuk pembangunan kedua PLTU tersebut sekitar US$ 87,4 juta.
Melalui transaksi ini, TOBA akan memperoleh keuntungan kas di samping dari dividen yang telah diterima selama PLTU beroperasi. Namun, dari sisi pencatatan akuntansi keuangan, transaksi ini akan mencatatkan kerugian non kas sebesar kurang lebih US$ 77 juta.
Hal tersebut disebabkan oleh standar akuntansi Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) yang mengharuskan pencatatan dimuka atas pendapatan konstruksi pembangkit dan transmisi IPP (Independent Power Producer) dengan skema Build Own Operate Transfer (BOOT) selama 25 tahun sesuai periode Perjanjian Jual Beli Listrik (PJBL) yang berlaku.
Oleh karena itu, nilai aset yang tercatat di buku pada saat transaksi akan mencakup pendapatan di masa depan yang belum ditagihkan kepada PT Perusahaan Listrik Negara (PLN). Di sisi yang lain, Juli menegaskan bahwa transaksi divestasi dua aset PLTU ini sejalan dengan komitmen TOBA dalam mencapai target netralitas karbon pada tahun 2030 melalui inisiatif TBS 2030.
“Penjualan ini merupakan bagian dari strategi kami untuk percepatan transisi ke bisnis berkelanjutan dan mendukung target mencapai netralitas karbon pada tahun 2030. Hasil dari transaksi ini akan dialokasikan untuk investasi di sektor-sektor berkelanjutan, penguatan struktur pemodalan perusahaan, dan rencana pembelian kembali saham yang bertujuan memberikan nilai lebih bagi para pemegang saham,” terang Juli dalam keterbukaan informasi, Selasa (8/10).
Rencana transaksi ini juga secara tidak langsung akan membantu TOBA untuk menciptakan nilai tambah melalui pengurangan utang konsolidasi sebesar lebih dari 70%. Hal ini akan meningkatkan fleksibilitas untuk melakukan investasi yang lebih besar di sektor usaha keberlanjutan seperti energi baru terbarukan, ekosistem kendaraan listrik serta manajemen limbah.
Langkah ini juga akan meningkatkan akses terhadap sumber pembiayaan yang lebih bervariasi, biaya pendanaan yang lebih kompetitif, dan pada akhirnya diharapkan dapat meningkatkan nilai investasi pemegang saham TOBA. Transaksi ini diproyeksikan akan mengurangi emisi karbon TOBA lebih 80% atau sekitar 1,3 juta ton setara CO2 (tCO2e) per tahun, sesuai dengan perhitungan metodologi protokol GHG, serta divalidasi melalui tahap preassurance oleh auditor eksternal.
Bersama dengan divestasi saham TOBA secara tidak langsung di PT Paiton Energy pada tahun 2021, transaksi ini akan memberikan keuntungan lebih dari US$ 100 juta. Keuntungan tersebut telah dan akan diinvestasikan untuk pengembangan bisnis berkelanjutan.
"Transaksi ini juga akan mengukuhkan Perseroan sebagai pionir dan satu dari sebagian kecil perusahaan terkemuka di Indonesia yang menunjukkan komitmen untuk mencapai netralitas karbon," tandas Juli.
Mengawali perdagangan hari ini, Selasa (8/10), harga TOBA menguat 2,68% ke level Rp 575 per saham hingga pukul 09:11 WIB. Secara year to date, harga saham TOBA sudah mengakumulasi kenaikan setinggi 89,14%.