KOMPAS.com - Ikan yang menelan mikroplastik adalah kabar buruk, tetapi analisis baru menunjukkan adanya masalah lain pada makhluk laut akibat ulah manusia.
Menurut sebuah studi yang diterbitkan pada 15 Juli 2024 di Science of the Total Environment, para peneliti di Yayasan Oswaldo Cruz Brasil mengonfirmasi adanya sejumlah kecil kokain dan metabolit utamanya, benzoylecgonine, pada 13 hiu hidung runcing Brasil yang dibeli dari nelayan di Rio de Janeiro. Ini pertama kalinya obat tersebut terdeteksi pada hiu liar.
Seperti banyak polutan lain yang dihasilkan manusia, obat-obatan yang dibuang atau hilang selama upaya perdagangan gelap kerap berakhir di lautan, yang kemudian meracuni satwa liar dan mencemari ekosistem.
Tahun lalu, misalnya, pihak berwenang menemukan sejumlah besar kokain yang mengapung di perairan lepas pantai Selandia Baru.
Kokain terkandung dalam hiu
Para peneliti sebelumnya telah menyelidiki efek stimulan tersebut pada hewan seperti belut dan ikan zebra, namun para ahli hanya tahu sedikit tentang interaksi hiu dengan obat tersebut.
Namun, berkat para peneliti di Brasil, para ahli biologi laut menyatakan, hiu berpotensi mengambil sampel kokain yang dibuang ke laut jika mereka menemukannya di habitat aslinya.
Antara tahun 2021 dan 2023, para peneliti membeli lebih dari 12 hiu hidung runcing Brasil dari kapal nelayan lokal di dekat Rio de Janeiro.
Setelah menimbang dan mengukur sampel mereka, tim kemudian melakukan otopsi untuk menganalisis jaringan otot dan hati.
Hasilnya konklusif, setiap hiu dinyatakan positif mengandung sejumlah kecil kokain rata-rata 23 mikrogram per ikan.
Lebih khusus lagi, 92 persen sampel otot dan 23 persen sampel hati mengandung benzoylecgonine, salah satu metabolit utama obat tersebut.
Yang membingungkannya lagi adalah, meskipun para ahli kini memiliki bukti konkret bahwa hiu menelan kokain, mereka belum mempelajari bagaimana kimianya dapat berinteraksi dengan ikan tersebut.
Studi sebelumnya pada ikan zebra dan belut menunjukkan, kokain mengubah kulit mereka, mengganggu fungsi hormonal, dan mengubah protein penting dalam sistem mereka.
Dan seperti semua masalah pencemaran lingkungan, masalah ini tidak selalu terpusat di area yang terkonsentrasi karena masalah ini sering kali menyebar jauh melampaui titik asal.