#30 tag 24jam
Inilah Saham Blue Chip yang Bisa Beri Cuan, Saat IDX Value30 Tren Naik
Analis rekomendasi buy saham UNTR dengan area buy Rp 26.400-Rp 26.500 dan target harga: Rp 27.500 [968] url asal
#idx-value30 #hendra-wardana #pt-adaro-energy-indonesia-tbk #vinko-satrio-pekerti #pt-panin-financial-tbk #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi
(Kontan-Investasi) 10/10/24 08:18
v/16237263/
Reporter: Rashif Usman | Editor: Adi Wikanto
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejumlah saham blue chip perlu investor cermati mulai perdagangan hari ini. Saham blue chip ini memiliki prospek cuan menarik di tengah tren kenaikan IDX Value 30.
IDX Value30 adalah indeks yang mengukur kinerja harga dari 30 saham yang memiliki valuasi harga yang rendah dengan likuiditas transaksi serta kinerja keuangan yang baik. Saham di DIX Value 30 memiliki karakteristik blue chip.
Saham blue chip adalah saham lapis satu yang telah berpengalaman di bursa. Saham blue chip sering menjadi pilihan investor karena minim risiko gorengan saham spekulan.
Berdasarkan data Bloomberg, Rabu (9/10), pergerakan saham pada IDX Value30 telah meningkat 12,68% secara year to date (ytd),
Emiten penghuni IDX Value 30 yang memberi return tertinggi sepanjang tahun ini ialah PT Panin Financial Tbk (PNLF) sebesar 65,91% ytd, diikuti PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) sebesar 60,50% ytd, PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGAS) 33,19% ytd, PTBA 25% ytd dan PT Elnusa Tbk (ELSA) 24,23% ytd.
Customer Literation and Education PT Kiwoom Sekuritas Indonesia, Vinko Satrio Pekerti menerangkan kenaikan IDX Value30 disebabkan oleh sejumlah faktor.
Faktor pertama, naiknya minat para investor terhadap saham-saham yang dinilai undervalued dan menggunakan informasi konstituen indeks tersebut sebagai pemilihan sahamnya.
Faktor kedua berasal dari para emiten 4 big banks tidak masuk dalam daftar 10 besar konstituen indeks IDX Value30. Emiten perbankan seperti BBCA, BBRI, dan BMRI pada umumnya memiliki bobot tinggi di dalam mayoritas indeks-indeks saham di Indonesia, termasuk Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) itu sendiri.
Namun top 10 konstituen dari IDX Value30 sendiri tidak memasukkan emiten perbankan yang menjadi beban pelemahan indeks-indeks saham lainnya sepanjang kuartal II-2024.
"IDX Value30 justru didominasi oleh emiten di sektor manufaktur dan energi," kata Vinko kepada Kontan, Rabu (9/10).
Vinko melihat potensi pertumbuhan IDX Value30 hingga akhir tahun masih terbuka, terutama dengan adanya faktor pendorong seperti momentum window dressing di akhir tahun.
Potensi peningkatan arus dana asing yang melihat valuasi pasar saham di Indonesia masih murah juga dapat dipandang sebagai peluang yang baik.
"Tentunya para pelaku pasar juga berharap agar kebijakan suku bunga yang kondusif dari Bank Indonesia untuk menjaga tingkat inflasi yang sehat bisa membantu menjaga sentimen positif di pasar saham Indonesia," ujarnya.
Vinko menerangkan, berdasarkan keterbukaan informasi index fact sheet IDX Value30 yang terbaru, tercatat bahwa ASII, ADRO, dan UNTR memiliki bobot indeks yang cukup besar hingga mencapai dua digit, yaitu masing-masing 15,81%, 13,73% dan 11,52%.
Adapun INDF juga memiliki porsi pembobotan yang cukup signifikan, sekitar 9,01% dan 36 emiten lainnya memiliki bobot yang tersebar di rentang antara 2%-4%.
"Namun di antara keempatnya, kami melihat ADRO yang kinerjanya paling berjasa menopang indeks ini dengan catatan kenaikan sekitar +53% secara ytd. Sedangkan ASII yang memiliki pembobotan terbesar di indeks IDX Value30 justru mencatatkan kinerja negatif sekitar -10% secara ytd," terangnya.
Vinko memandang fenomena pesatnya kinerja saham ADRO dapat disebabkan dua faktor. Pertama, kenaikan harga komoditas batu bara sebagai dampak lanjutan dari memanasnya konflik di Timur Tengah dan proyeksi pertumbuhan industri di China yang bagus.
Kedua, adanya rencana spin-off PT Adaro Andalan Indonesia (AAI) secara efektif dapat dipandang menjadi langkah krusial grup Adaro untuk melepaskan bisnis tambang batu bara dan beralih ke bisnis energi bersih dan terbarukan secara penuh.
Menurutnya, IDX Value30 biasanya dicermati oleh para investor jangka panjang yang fokus pada saham dengan valuasi yang menarik. Banyak pelaku pasar menganggap indeks ini sebagai acuan untuk memilih saham-saham dengan potensi upside yang lebih besar, namun dengan risiko yang relatif terukur.
Investor institusional juga dapat memanfaatkan IDX Value30 sebagai bagian dari strategi alokasi aset mereka, terutama di diversifikasi sektor-sektor yang defensif seperti sektor industri non siklikal dan konsumsi.
Founder Stocknow.id Hendra Wardana menerangkan kenaikan performa IDX Value30 dipicu oleh kinerja solid emiten-emiten yang tergabung dalam indeks ini, khususnya di sektor ekspor dan infrastruktur.
Sentimen pasar yang positif didorong oleh pemulihan ekonomi pasca-pandemi dan aliran modal asing juga berkontribusi terhadap lonjakan ini.
"Prospek pertumbuhan hingga akhir tahun masih optimis, didukung oleh proyeksi pertumbuhan ekonomi yang baik, stabilitas politik dan kebijakan yang mendukung, serta potensi pengembangan di sektor teknologi dan energi terbarukan," ujar Hendra kepada Kontan, Rabu (9/10).
Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji menjelaskan IDX Value30 memiliki valuasi yang menarik dan tingkat likuditas yang bagus. Jadi wajar apabila performa indeks ini bisa meningkat dua digit dibandingkan indeks lainnya.
"Indeks ini yang paling dijagokan untuk para investor berinvestasi," jelas Nafan kepada Kontan, Rabu (9/10).
Performa indeks ini juga didorong oleh sentimen kebijakan pelonggaran moneter dari sejumlah Bank Sentral, yang pada akhirnya meningkatkan likuditas di pasar modal khususnya IDX Value30.
"Diperkirakan tetap tumbuh positif hingga akhir tahun karena adanya pemangkasan suku bunga acuan yang berlanjut. The Fed misalnya akan terus menerapkan kebijakan pelonggaran moneter pada November dan Desember 2024," tuturnya.
Ditambah lagi investor suka dengan emiten yang tergabung IDX Value30 karena memiliki kinerja fundamental solid, baik dari sisi top line dan bottom line serta rajin membagikan dividen.
"Jadi wajar saja mendapatkan apresiasi positif dari investor," tutupnya.
Hendra merekomendasikan untuk buy saham PGAS dengan target harga Rp 1.570 per saham. Kemudian, ia merekomendasikan untuk mencermati saham TKIM dan PTBA dengan target harga masing-masing Rp 8.000 dan Rp 3.200 per saham.
Sementara itu, Vinko merekomendasikan untuk mencermati saham IDX Value30, antara lain:
1. PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF)
Rekomendasi: Wait and see
Area buy: Rp 6.675-Rp 6.825
Target harga: Rp 7.025-Rp 7.100
2. PT United Tractors Tbk (UNTR)
Rekomendasi: Buy
Area buy: Rp 26.400-Rp 26.500
Target harga: Rp 27.500
3. PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO)
Rekomendasi: Buy on weakness
Area buy: Rp 3.650-Rp 3.750
Target harga: Rp 3.900
Nafan merekomendasikan untuk accumulative buy saham PGAS dengan target harga Rp 1.550.
Performa IDX Value30 Menguat, Cermati Saham Rekomendasi Analis
Indeks IDX Value30 menunjukkan tren penguatan yang signifikan, dengan kenaikan sebesar 12,68% secara tahunan. [889] url asal
#ihsg #idx-value30 #rekomendasi-saham #pt-kiwoom-sekuritas-indonesia #pt-adaro-energy-indonesia-tbk #vinko-satrio-pekerti #pt-panin-financial-tbk #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekon
(Kontan-Investasi) 09/10/24 21:14
v/16215920/
Reporter: Rashif Usman | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perfroma IDX value30 tengah mengalami tren penguatan. Berdasarkan data Bloomberg, Rabu (9/10), pergerakan saham pada IDX Value30 telah meningkat 12,68% secara year todate (ytd),
Emiten penghuni IDX Value 30 yang memberi return tertinggi sepanjang tahun ini ialah PT Panin Financial Tbk (PNLF) sebesar 65,91% ytd, diikuti PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) sebesar 60,50% ytd, PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGAS) 33,19% ytd, PTBA 25% ytd dan PT Elnusa Tbk (ELSA) 24,23% ytd.
Customer Literation and Education PT Kiwoom Sekuritas Indonesia, Vinko Satrio Pekerti menerangkan kenaikan IDX Value30 disebabkan oleh sejumlah faktor.
Faktor pertama, naiknya minat para investor terhadap saham-saham yang dinilai undervalued dan menggunakan informasi konstituen indeks tersebut sebagai pemilihan sahamnya.
Faktor kedua berasal dari para emiten 4 big banks tidak masuk dalam daftar 10 besar konstituen indeks IDX Value30. Emiten perbankan seperti BBCA, BBRI, dan BMRI pada umumnya memiliki bobot tinggi di dalam mayoritas indeks-indeks saham di Indonesia, termasuk Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) itu sendiri.
Namun top 10 konstituen dari IDX Value30 sendiri tidak memasukkan emiten perbankan yang menjadi beban pelemahan indeks-indeks saham lainnya sepanjang kuartal II-2024. "IDX Value30 justru didominasi oleh emiten di sektor manufaktur dan energi," kata Vinko kepada Kontan, Rabu (9/10).
Vinko melihat potensi pertumbuhan IDX Value30 hingga akhir tahun masih terbuka, terutama dengan adanya faktor pendorong seperti momentum window dressing di akhir tahun.
Potensi peningkatan arus dana asing yang melihat valuasi pasar saham di Indonesia masih murah juga dapat dipandang sebagai peluang yang baik.
"Tentunya para pelaku pasar juga berharap agar kebijakan suku bunga yang kondusif dari Bank Indonesia untuk menjaga tingkat inflasi yang sehat bisa membantu menjaga sentimen positif di pasar saham Indonesia," ujarnya.
Vinko menerangkan, berdasarkan keterbukaan informasi index fact sheet IDX Value30 yang terbaru, tercatat bahwa ASII, ADRO, dan UNTR memiliki bobot indeks yang cukup besar hingga mencapai dua digit, yaitu masing-masing 15,81%, 13,73% dan 11,52%.
Adapun INDF juga memiliki porsi pembobotan yang cukup signifikan, sekitar 9,01% dan 36 emiten lainnya memiliki bobot yang tersebar di rentang antara 2%-4%.
"Namun di antara keempatnya, kami melihat ADRO yang kinerjanya paling berjasa menopang indeks ini dengan catatan kenaikan sekitar +53% secara ytd. Sedangkan ASII yang memiliki pembobotan terbesar di indeks IDX Value30 justru mencatatkan kinerja negatif sekitar -10% secara ytd," terangnya.
Vinko memandang fenomena pesatnya kinerja saham ADRO dapat disebabkan dua faktor. Pertama, kenaikan harga komoditas batu bara sebagai dampak lanjutan dari memanasnya konflik di Timur Tengah dan proyeksi pertumbuhan industri di China yang bagus.
Kedua, adanya rencana spin-off PT Adaro Andalan Indonesia (AAI) secara efektif dapat dipandang menjadi langkah krusial grup Adaro untuk melepaskan bisnis tambang batu bara dan beralih ke bisnis energi bersih dan terbarukan secara penuh.
Menurutnya, IDX Value30 biasanya dicermati oleh para investor jangka panjang yang fokus pada saham dengan valuasi yang menarik. Banyak pelaku pasar menganggap indeks ini sebagai acuan untuk memilih saham-saham dengan potensi upside yang lebih besar, namun dengan risiko yang relatif terukur.
Investor institusional juga dapat memanfaatkan IDX Value30 sebagai bagian dari strategi alokasi aset mereka, terutama di diversifikasi sektor-sektor yang defensif seperti sektor industri non siklikal dan konsumsi.
Founder Stocknow.id Hendra Wardana menerangkan kenaikan performa IDX Value30 dipicu oleh kinerja solid emiten-emiten yang tergabung dalam indeks ini, khususnya di sektor ekspor dan infrastruktur.
Sentimen pasar yang positif didorong oleh pemulihan ekonomi pasca-pandemi dan aliran modal asing juga berkontribusi terhadap lonjakan ini.
"Prospek pertumbuhan hingga akhir tahun masih optimis, didukung oleh proyeksi pertumbuhan ekonomi yang baik, stabilitas politik dan kebijakan yang mendukung, serta potensi pengembangan di sektor teknologi dan energi terbarukan," ujar Hendra kepada Kontan, Rabu (9/10).
Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji menjelaskan IDX Value30 memiliki valuasi yang menarik dan tingkat likuditas yang bagus. Jadi wajar apabila performa indeks ini bisa meningkat dua digit dibandingkan indeks lainnya.
"Indeks ini yang paling dijagokan untuk para investor berinvestasi," jelas Nafan kepada Kontan, Rabu (9/10).
Performa indeks ini juga didorong oleh sentimen kebijakan pelonggaran moneter dari sejumlah Bank Sentral, yang pada akhirnya meningkatkan likuditas di pasar modal khususnya IDX Value30.
"Diperkirakan tetap tumbuh positif hingga akhir tahun karena adanya pemangkasan suku bunga acuan yang berlanjut. The Fed misalnya akan terus menerapkan kebijakan pelonggaran moneter pada November dan Desember 2024," tuturnya.
Ditambah lagi investor suka dengan emiten yang tergabung IDX Value30 karena memiliki kinerja fundamental solid, baik dari sisi top line dan bottom line serta rajin membagikan dividen.
"Jadi wajar saja mendapatkan apresiasi positif dari investor," tutupnya.
Hendra merekomendasikan untuk buy saham PGAS dengan target harga Rp 1.570 per saham. Kemudian, ia merekomendasikan untuk mencermati saham TKIM dan PTBA dengan target harga masing-masing Rp 8.000 dan Rp 3.200 per saham.
Sementara itu, Vinko merekomendasikan untuk mencermati saham IDX Value30, antara lain:
1. PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF)
Rekomendasi: Wait and see
Area buy: Rp 6.675-Rp 6.825
Target harga: Rp 7.025-Rp 7.100
2. PT United Tractors Tbk (UNTR)
Rekomendasi: Buy
Area buy: Rp 26.400-Rp 26.500
Target harga: Rp 27.500
3. PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO)
Rekomendasi: Buy on weakness
Area buy: Rp 3.650-Rp 3.750
Target harga: Rp 3.900
Nafan merekomendasikan untuk accumulative buy saham PGAS dengan target harga Rp 1.550.
Performa IDX Value30 Alami Tren Penguatan, Cek Rekomendasi Sahamnya
Perfroma IDX value30 tengah mengalami tren penguatan. [890] url asal
#idx-value30 #hendra-wardana #pt-adaro-energy-indonesia-tbk #vinko-satrio-pekerti #pt-panin-financial-tbk #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi
(Kontan-Investasi) 09/10/24 19:43
v/16211780/
Reporter: Rashif Usman | Editor: Handoyo .
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perfroma IDX value30 tengah mengalami tren penguatan. Berdasarkan data Bloomberg, Rabu (9/10), pergerakan saham pada IDX Value30 telah meningkat 12,68% secara year to date (ytd),
Emiten penghuni IDX Value 30 yang memberi return tertinggi sepanjang tahun ini ialah PT Panin Financial Tbk (PNLF) sebesar 65,91% ytd, diikuti PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) sebesar 60,50% ytd, PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGAS) 33,19% ytd, PTBA 25% ytd dan PT Elnusa Tbk (ELSA) 24,23% ytd.
Customer Literation and Education PT Kiwoom Sekuritas Indonesia, Vinko Satrio Pekerti menerangkan kenaikan IDX Value30 disebabkan oleh sejumlah faktor.
Faktor pertama, naiknya minat para investor terhadap saham-saham yang dinilai undervalued dan menggunakan informasi konstituen indeks tersebut sebagai pemilihan sahamnya.
Faktor kedua berasal dari para emiten 4 big banks tidak masuk dalam daftar 10 besar konstituen indeks IDX Value30. Emiten perbankan seperti BBCA, BBRI, dan BMRI pada umumnya memiliki bobot tinggi di dalam mayoritas indeks-indeks saham di Indonesia, termasuk Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) itu sendiri.
Namun top 10 konstituen dari IDX Value30 sendiri tidak memasukkan emiten perbankan yang menjadi beban pelemahan indeks-indeks saham lainnya sepanjang kuartal II-2024.
"IDX Value30 justru didominasi oleh emiten di sektor manufaktur dan energi," kata Vinko kepada Kontan, Rabu (9/10).
Vinko melihat potensi pertumbuhan IDX Value30 hingga akhir tahun masih terbuka, terutama dengan adanya faktor pendorong seperti momentum window dressing di akhir tahun.
Potensi peningkatan arus dana asing yang melihat valuasi pasar saham di Indonesia masih murah juga dapat dipandang sebagai peluang yang baik.
"Tentunya para pelaku pasar juga berharap agar kebijakan suku bunga yang kondusif dari Bank Indonesia untuk menjaga tingkat inflasi yang sehat bisa membantu menjaga sentimen positif di pasar saham Indonesia," ujarnya.
Vinko menerangkan, berdasarkan keterbukaan informasi index fact sheet IDX Value30 yang terbaru, tercatat bahwa ASII, ADRO, dan UNTR memiliki bobot indeks yang cukup besar hingga mencapai dua digit, yaitu masing-masing 15,81%, 13,73% dan 11,52%.
Adapun INDF juga memiliki porsi pembobotan yang cukup signifikan, sekitar 9,01% dan 36 emiten lainnya memiliki bobot yang tersebar di rentang antara 2%-4%.
"Namun di antara keempatnya, kami melihat ADRO yang kinerjanya paling berjasa menopang indeks ini dengan catatan kenaikan sekitar +53% secara ytd. Sedangkan ASII yang memiliki pembobotan terbesar di indeks IDX Value30 justru mencatatkan kinerja negatif sekitar -10% secara ytd," terangnya.
Vinko memandang fenomena pesatnya kinerja saham ADRO dapat disebabkan dua faktor. Pertama, kenaikan harga komoditas batu bara sebagai dampak lanjutan dari memanasnya konflik di Timur Tengah dan proyeksi pertumbuhan industri di China yang bagus.
Kedua, adanya rencana spin-off PT Adaro Andalan Indonesia (AAI) secara efektif dapat dipandang menjadi langkah krusial grup Adaro untuk melepaskan bisnis tambang batu bara dan beralih ke bisnis energi bersih dan terbarukan secara penuh.
Menurutnya, IDX Value30 biasanya dicermati oleh para investor jangka panjang yang fokus pada saham dengan valuasi yang menarik. Banyak pelaku pasar menganggap indeks ini sebagai acuan untuk memilih saham-saham dengan potensi upside yang lebih besar, namun dengan risiko yang relatif terukur.
Investor institusional juga dapat memanfaatkan IDX Value30 sebagai bagian dari strategi alokasi aset mereka, terutama di diversifikasi sektor-sektor yang defensif seperti sektor industri non siklikal dan konsumsi.
Founder Stocknow.id Hendra Wardana menerangkan kenaikan performa IDX Value30 dipicu oleh kinerja solid emiten-emiten yang tergabung dalam indeks ini, khususnya di sektor ekspor dan infrastruktur.
Sentimen pasar yang positif didorong oleh pemulihan ekonomi pasca-pandemi dan aliran modal asing juga berkontribusi terhadap lonjakan ini.
"Prospek pertumbuhan hingga akhir tahun masih optimis, didukung oleh proyeksi pertumbuhan ekonomi yang baik, stabilitas politik dan kebijakan yang mendukung, serta potensi pengembangan di sektor teknologi dan energi terbarukan," ujar Hendra kepada Kontan, Rabu (9/10).
Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji menjelaskan IDX Value30 memiliki valuasi yang menarik dan tingkat likuditas yang bagus. Jadi wajar apabila performa indeks ini bisa meningkat dua digit dibandingkan indeks lainnya.
"Indeks ini yang paling dijagokan untuk para investor berinvestasi," jelas Nafan kepada Kontan, Rabu (9/10).
Performa indeks ini juga didorong oleh sentimen kebijakan pelonggaran moneter dari sejumlah Bank Sentral, yang pada akhirnya meningkatkan likuditas di pasar modal khususnya IDX Value30.
"Diperkirakan tetap tumbuh positif hingga akhir tahun karena adanya pemangkasan suku bunga acuan yang berlanjut. The Fed misalnya akan terus menerapkan kebijakan pelonggaran moneter pada November dan Desember 2024," tuturnya.
Ditambah lagi investor suka dengan emiten yang tergabung IDX Value30 karena memiliki kinerja fundamental solid, baik dari sisi top line dan bottom line serta rajin membagikan dividen.
"Jadi wajar saja mendapatkan apresiasi positif dari investor," tutupnya.
Hendra merekomendasikan untuk buy saham PGAS dengan target harga Rp 1.570 per saham. Kemudian, ia merekomendasikan untuk mencermati saham TKIM dan PTBA dengan target harga masing-masing Rp 8.000 dan Rp 3.200 per saham.
Sementara itu, Vinko merekomendasikan untuk mencermati saham IDX Value30, antara lain:
1. PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF)
Rekomendasi: Wait and see
Area buy: Rp 6.675-Rp 6.825
Target harga: Rp 7.025-Rp 7.100
2. PT United Tractors Tbk (UNTR)
Rekomendasi: Buy
Area buy: Rp 26.400-Rp 26.500
Target harga: Rp 27.500
3. PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO)
Rekomendasi: Buy on weakness
Area buy: Rp 3.650-Rp 3.750
Target harga: Rp 3.900
Nafan merekomendasikan untuk accumulative buy saham PGAS dengan target harga Rp 1.550.
Ada Blue Chip, Inilah Saham di IDX Value30 yang Masih Murah Saat IHSG Rekor Tertinggi
Analis menyebut saham blue chip yang masih ketinggalan tren kenaikan harga, seperti ASII, TLKM, dan SMGR [584] url asal
#idx-value30 #rekomendasi-saham #rekomendasi-saham-hari-ini #idx-value-30 #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi
(Kontan-Investasi) 30/08/24 07:33
v/14821627/
Reporter: Yuliana Hema | Editor: Adi Wikanto
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus bergerak naik hingga mencetak rekor tertinggi. Saat IHSG terus melambung, sejumlah saham di indeks IDX Value30 tercatat masih memiliki valuasi yang murah. Beberapa saham murah itu termasuk saham blue chip.
IHSG terus melanjutkan penguatannya menjelang akhir Agustus 2024. Pada intraday perdagangan Kamis (29/8), IHSG bahkan telah berhasil menembus level 7.700.
Sayangnya, penguatan itu tidak bertahan sampai akhir penutupan perdagangan. IHSG menutup perdagangan dengan melemah 0,41% atau turun 31,27 poin ke level 7.627,60 pada Kamis (29/8).
Namun sepanjang tahun berjalan ini, IHSG masih menguat 4,88% per Kamis (29/8). Artinya, IHSG masih dalam tren bullish. Penguatan IHSG ini ditopang oleh naiknya sejumlah saham unggulan.
Adityo Nugroho, Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas mengatakan bahwa penguatan indeks IDX Value30 ini sejalan dengan lonjakan pada IHSG karena peluang pemangkasan suku bunga.
Kenaikan IHSG seiring aliran dana investor asing telah mengakumulasikan net foreign buy sebesar Rp 12,3 triliun secara month to date per Rabu (28/9) ke pasar saham Indonesia.
Rekomendasi Saham Pilihan
Head of Equity Trading MNC Sekuritas Frankie WP menimpali, walaupun kinerja Indeks IDX Value30 sudah rally, tetapi masih ada saham-saham yang tergolong undervalue. "Hal ini yang membuat valuasi IDX Value30 masih berpotensi naik lagi menjelang akhir 2024," jelas dia.
IDX Value30 adalah indeks yang mengukur kinerja harga dari 30 saham yang memiliki valuasi harga yang rendah dengan likuiditas transaksi serta kinerja keuangan yang baik.
Frankie bilang sentimen pendukungnya adalah stance the Fed yang mulai dovish. Ini menyebabkan investor institusi juga melakukan penyesuaian stance menjadi lebih risk on dengan membeli obligasi dan saham.
Hal tersebut turut mendorong pergerakan kurs rupiah yang membaik karena inflow dari institusi yang sudah mulai kembali. Penguatan rupiah akan dapat mendorong perbaikan kinerja emiten.
Frankie menyebut INKP masih dapat dicermati dengan harga yang undervalue. Padahal, emiten Grup Sinarmas ini cukup rajin menggelar ekspansi dengan membangun pabrik baru.
Dengan raihan laba bersih di semester I-2024 sebesar US$ 278,7 juta, dalam hitungan Frankie saat ini INKP diperdagangkan dengan Price Earning (PE) sebesar 5 kali.
"Itu merupakan valuasi yang murah untuk INKP yang menjadi memimpin pasar sektornya. Target harga INKP berada di level Rp 12.000 per saham," ucap Frankie.
Selain INKP, lanjutnya, saham INDF masih patut untuk dirilik. Emiten Grup Salim ini bakal ketiban berkah dari adanya penurunan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS).
Apalagi lagi laba bersih INDF saat ini hampir dua lipat lebih tinggi dari kinerja 2017.Di mana, kala itu harga saham INDF menyentuh level Rp 9.200 dan sekarang masih INDF tertahan di bawah Rp 7.000.
Menurut Frankie dengan ekspansi bisnis di Afrika dan pertumbuhan gerai warung Indomie di Indonesia, maka INDF masih menjadi dicermati dengan target harga di Rp 9.000 per saham.
Sementara, Adityo menilai masih ada beberapa saham besar yang ketinggalan tren kenaikan harga, seperti ASII, TLKM, dan SMGR. Misalnya, ASII diperdagangkan dengan Price to Earning Ratio (PER) dengan di 6,48 kali Price to Book Value (PBV) 1,03 kali.
Namun kalau dicermati pergerakan harga saham ASII sepanjang tahun ini masih kurang bergairah. Sepanjang 2024 berjalan ini, ASII sudah terkoreksi 10,18% ke level Rp 5.075 per saham.
"Namun dari indikator PBV Astra saat ini masih di bawah PBV historikalnya dalam empat tahun terakhir. Jadi mestinya ASII masih menarik," pungkas dia.
Saham INKP, INDF, ASII, TLKM dan SMGR juga termasuk saham di Indeks LQ45. Indeks yang berisi saham dengan likuiditas tertinggi ini indentik dengan saham-saham blue chip.
Simak Rekomendasi Saham IDX Value30, Valuasi Murah yang Layak Koleksi
IDX Value30 mencetak performa yang cukup stabil menghadapi fluktuasi pasar. [724] url asal
#idx-value30 #rekomendasi-saham #jangan-lewatkan #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi
(Kontan-Investasi) 10/07/24 09:15
v/10286062/
Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Putri Werdiningsih
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Beberapa saham dengan valuasi murah mampu mencetak performa stabil dalam menghadapi gejolak pasar. Salah satu yang layak mendapat perhatian adalah saham yang tergabung dalam index saham IDX Value30.
Secara year to date (ytd), indeks yang identik dengan saham bervaluasi murah ini masih menjadi salah satu yang paling unggul dengan kenaikan 2,25%. IDX Value30 sendiri merupakan indeks yang mengukur kinerja dari 30 saham yang memiliki valuasi harga yang rendah, dengan likuiditas transaksi serta kinerja keuangan yang baik.
Meski pada perdagangan Selasa(9/7) indeks saham IDX Value30 terjun paling dalam dengan penurunan 1,15%, tetapi pekan lalu kinerja cukup lumayan. Kenaikannya bsa mencapai 3,37% pada pekan lalu. Naik paling tinggi ketimbang indeks saham lainnya.
Secara year to date (ytd), indeks yang identik dengan saham bervaluasi murah ini masih menjadi salah satu yang paling unggul dengan kenaikan 2,25%. IDX Value30 sendiri merupakan indeks yang mengukur kinerja dari 30 saham yang memiliki valuasi harga yang rendah, dengan likuiditas transaksi serta kinerja keuangan yang baik.
Analis Stocknow.id, Sinta Dwi Untari mengamati volatilitas yang sempat menerpa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) membuat investor lebih selektif dalam memilih aset investasi. Dalam kondisi pasar yang berfluktuasi kencang, saham-saham dengan valuasi yang relatif murah menjadi pilihan menarik bagi investor.
Daya tariknya adalah potensi upside yang lebih besar ketika kondisi pasar kembali stabil. "Sentimen ini mendorong peningkatan saham-saham undervalued yang tergabung dalam IDX Value30, sehingga memperkuat kinerja indeks tersebut," kata Sinta kepada Kontan.co.id, Selasa (9/7).
Melihat komposisi konstituen IDX Value30, pergerakan harga komoditas global baik energi maupun barang baku akan menjadi katalis penting bagi pergerakan indeks ini. Sinta menaksir prospek di semester II-2024 masih akan positif, meski di bayang-bayangi oleh potensi stagnasi akibat profit taking.
"Investor perlu waspada terhadap potensi koreksi pasar dan mempertimbangkan strategi diversifikasi untuk mengelola risiko yang mungkin timbul akibat aksi taking profit," imbuh Sinta.
CEO Pinnacle Persada Investama, Guntur Putra punya pandangan serupa, dimana IDX Value30 mencetak performa yang cukup stabil menghadapi fluktuasi pasar belakangan ini. "Preferensi investor terhadap saham-saham dengan valuasi masih relatif murah di tengah volatilitas pasar yang tinggi," tutur Guntur.
Jika masih ingin melirik saham-saham di IDX Value30, Guntur menyarankan untuk tetap melakukan evaluasi. Pertimbangannya adalah siklus pasar dapat berubah serta seringkali faktor valuasi tidak selalu bekerja di setiap periode pasar.
Pengamat Pasar Modal & Founder WH-Project, William Hartanto sepakat, investor perlu cermat dalam memilah saham-saham yang dinilai punya valuasi murah. Sebab, daya tarik dan tren harga saham tidak hanya ditentukan oleh faktor valuasi semata.
Pergerakan harga saham akan turut ditentukan oleh berbagai faktor, seperti momentum teknikal, sentimen sektoral, serta rilis kinerja keuangan emiten tersebut. Oleh sebab itu, tak sedikit saham-saham yang dinilai undervalued namun harga sahamnya cenderung stagnan atau hanya menanjak terbatas.
"Valuasi itu sendiri sifatnya preferensi masing-masing orang. Saham-saham tersebut jadi pilihan pelaku pasar lebih karena momentumnya lagi rebound, maka peminatnya jadi banyak, dan momentum itu banyak sekali bentuknya," terang William.
Head of Equities Investment Berdikari Manajemen Investasi, Agung Ramadoni mengamini, investor tetap harus selektif dalam memilih saham-saham bervaluasi murah, termasuk yang menjadi konstituen IDX Value30. Meski secara indeks, Agung melihat potensi IDX Value30 masih bisa memimpin dibandingkan performa indeks saham lainnya.
Agung mengingatkan, sentimen eksternal juga memegang peranan penting, seperti data-data ekonomi, ekspektasi terhadap sikap less hawkish bank sentral, serta kembalinya capital inflow. "Ini membuat tingkat risk-apettite investor membaik atau risk tolerance meningkat. Dengan begitu saham-saham large caps atau yang memiliki valuasi murah cenderung diborong," terang Agung.
Di antara konstituen IDX Value30, Agung menyodorkan saham PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE), PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN), PT Elnusa Tbk (ELSA), PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) dan PT Jasa Marga (Persero) Tbk (JSMR) yang masih menarik untuk dikoleksi.
William menyarankan trading buy JSMR, PT PP (Persero) Tbk (PTPP), PT Ciputra Development Tbk (CTRA) dan PT Panin Financial Tbk (PNLF). Cermati peluang buy on weakness BSDE, PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) dan PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG). Kemudian pertimbangkan taking profit pada PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI).
Sedangkan Sinta menyematkan rekomendasi buy pada saham PGAS (support Rp 1.515 dan resistance Rp 1.700) serta ADRO (support Rp 2.890 dan resistance di Rp 3.100). Saham lain yang dinilai undervalued dan layak dikoleksi adalah BBTN dan ASII.