#30 tag 24jam
Intip Permodalan Bank Digital di Kuartal III-2024, Siapa yang Paling Kuat?
Dari 11 bank digital, PT Bank Allo Indonesia Tbk (Allo Bank) tercatat memiliki modal inti terbesar per kuartal III-2024 yakni Rp 7,03 triliun [928] url asal
#1-bank-digital #2-allo-bank #3-capital-adequacy-ratio-car #4-indra-utoyo #5-open-banking #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi #bank
(Kontan - Keuangan) 10/11/24 16:11
v/17987393/
Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID -JAKARTA. Bank-bank digital kini makin agresif dalam menjalankan ekspansi bisnisnya. Hal ini terlihat dari pertumbuhan kinerjanya hingga transformasi layanan dan produk yang semakin berkembang. Tentunya hal ini tak terlepas dari posisi permodalan yang semakin kuat.
Kontan telah merangkum 11 bank digital dengan kondisi permodalannya di kuartal III-2024. Dari 11 bank tersebut, rata-rata kondisi modal intinya meningkat secara tahunan atau (year on year/yoy).
Namun rasio kecukupan modal untuk menanggung risiko kerugian bank atau Capital Adequacy Ratio (CAR) dari bank-bank digital tersebut menurun secara tahunan. Hal ini sebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari kualitas portofolio kredit, hingga perubahan suku bunga.
Dari 11 bank digital tersebut, PT Bank Allo Indonesia Tbk (Allo Bank) tercatat memiliki modal inti terbesar, yakni mencapai Rp 7,03 triliun, meningkat 4,3% yoy.
Sementara itu secara rasio CAR, tertinggi ditempati oleh Superbank dengan CAR sebesar 135,24% per September 2024. Walau demikian angka itu terlihat menurun dari posisi tahun lalu (yoy) yang sebesar 242,38%.
Presiden Direktur Allo Bank Indra Utoyo mengatakan, setelah menyelesaikan Penawaran Umum Terbatas (PUT) II Tahun 2021 sebesar Rp 750 miliar dan PUT III Tahun 2022 sebesar Rp 4,8 triliun, posisi Ekuitas Allo Bank secara terus menerus menguat secara organik melalui penambahan laba bersih yang dicapai Bank.
"Kedua rights issue ini berhasil menempatkan Bank dalam kategori KBMI 2 dan BUKU 3, serta menjadikan Allo Bank sebagai salah satu bank umum berbasis digital dengan permodalan paling baik di Indonesia," ungkap Indra kepada Kontan.co.id, Jumat (8/11).
Indra menyebut, dengan total ekuitas yang semakin meningkat, pihaknya belum memiliki rencana untuk melakukan penambahan modal lagi secara inorganik melalui Aksi Korporasi pada tahun 2024.
Per triwulan III-2024, Allo Bank mencatatkan total ekuitas mencapai Rp 7,22 triliun meningkat 4,9% yoy. Adapun secara CAR, Allo Bank memiliki kecukupan modal yang sehat dan kuat, dimana per September 2024 mencapai 85,30%. Angka ini meningkat dari posisi periode tahun lalu yang sebesar 84,56%.
"Kami menilai bahwa posisi ekuitas yang kuat ini sangat suportif untuk menghadapi setiap risiko serta mendukung aspirasi pertumbuhan Bank saat ini dan di masa depan," ucapnya.
Lebih lanjut ia menjelaskan, arah strategi perusahaan secara umum masih sama, dimana pihaknya akan terus berupaya menjalin kolaborasi dengan berbagai mitra strategis melalui penerapan model Open Banking untuk memperkaya dan meningkatkan nilai layanan finansial yang disediakan oleh Bank secara contextual, terutama untuk sektor-sektor yang dekat dengan aspek-aspek kehidupan nasabah.
Di posisi kedua dengan modal inti terbesar ada PT Bank Jago Tbk yang mencatat modal inti sebesar Rp 6,53 triliun pada kuartal III-2024. Walau demikian angka itu menurun 6,2% yoy. Posisi CAR per September 2024 tercatat masih kuat, yakni sebesar 45,56%, meskipun telah menurun dari 71,33% per September 2023 lalu.
Di posisi ketiga ada PT Bank Jasa Jakarta atau yang dikenal dengan nama Bank Saqu. Kendati belum merilis laporan keuangan per September 2024, namun modal intinya di semester I-2024 telah mencapai Rp 6,45 triliun, meningkat 6,4% yoy.
Sementara rasio kecukupan modalnya juga terlihat tinggi, berada di angka 138,50% per Juni 2024, meski turun dari periode tahun lalu 198,84%.
Di posisi keempat ada PT Bank Seabank Indonesia. Walaupun belum melaporkan keuangan pada periode September 2024, namun intinya di semester I-2024 telah mencapai Rp 5,44 triliun, meningkat 5%.
Adapun rasio CAR-nya terlihat menurun menjadi 34,56% di semester I-2024 dari 38,75% di semester I-2023.
Junedy Liu, Wakil Direktur Utama SeaBank Indonesia menyampaikan, dengan permodalan yang kuat saat ini, pihaknya berharap agar bisa secara organik tumbuh menuju ke KBMI 2.
"Oleh karena itu, memang dengan profitability yang meningkat setiap tahun, kami yakin kami bisa mencapai posisi itu dalam waktu dekat dan melalui upaya kami sendiri. Nah kalau kami lihatnya kami terus-menerus akan berusaha bertumbuh, baik itu secara aset maupun profitability," ungkapnya.
Oleh sebab itu kata Junaedy, Seabank kini banyak melakukan inovasi agar bisa sumber pemasukannya tidak hanya terkonsentrasi pada satu atau dua jenis produk, tapi bisa lebih banyak lagi.
"Tapi tentu saja karena modal kami kuat, kemampuan kami untuk berinovasi dan ekspansi itu masih besar," tambahnya.
Di sisi lain, ia mengaku belum berencana untuk membagikan dividen, karena menurut Junaedy fokus perusahaan adalah bagaimana bisa bertumbuh menguatkan bisnis dan juga bertumbuh menuju KBMI 2.
Superbank berada di posisi kelima dengan modal inti mencapai Rp 5,03 triliun pada kuartal III-2024, meningkat 17,1% yoy dengan rasio kecukupan modalnya mencapai angka tertinggi dari 10 bank digital lain.
PT Bank Raya Indonesia berada di posisi ke-10 dengan modal inti mencapai Rp 3,18 triliun, angaka ini menurun 1% dari posisi periode sama tahun sebelumnya sebesar Rp 3,21 triliun. Adapun rasio kecukupan modalnya capai 42,36% menurun dari 48,98% di September 2023.
Rustarti Suri Pertiwi, Direktur Keuangan Bank Raya mengatakan, dengan kondisi permodalan yang sangat memadai, maka Bank Raya belum melihat kebutuhan untuk penambahan modal.
"Bank Raya melihat bahwa modal yang dimiliki masih mencukupi untuk mendukung pertumbuhan bisnis Bank Raya kedepan, utamanya pertumbuhan bisnis digital yang berfokus pada segmen UMKM," katanya.
Menurutnya, modal merupakan salah satu komponen utama dalam menunjang pertumbuhan bisnis sebuah bank, terutama dalam hal penyaluran kredit. Mengingat dalam penyaluran kredit, sebuah bank harus memperhitungkan Aktiva Tertimbang Menurut Risiko (ATMR) untuk Risiko Kredit.
Dengan modal yang kuat, maka Bank akan dapat mengeksplore berbagai peluang pertumbuhan bisnis kedepan namun dengan harus tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian.
"Dengan demikian, dengan kondisi permodalan yang sangat terjaga, diharapkan Bank Raya akan dapat terus bertumbuh sesuai dengan target dan strategi bisnis yang telah ditetapkan," imbuhnya.
Nasabah Tak Aktif Transaksi Bebani Bank? Begini Kata Bos Allo Bank (BBHI)
Direktur Utama Allo Bank (BBHI) Indra Utoyo menjelaskan soal beban yang ditanggung bank digital ketika jumlah nasabah non-aktif cukup tinggi. [525] url asal
#allo-bank #bbhi #nasabah-allo-bank #direktur-utama-allo-bank #indra-utoyo #rekening-allo-bank #bank-digital
(Bisnis.Com - Finansial) 16/08/24 19:20
v/14493873/
Bisnis.com, JAKARTA - Direktur Utama PT Allo Bank Indonesia Tbk. (BBHI) Indra Utoyo buka suara terkait beban yang ditanggung bank digital ketika porsi nasabah aktif belum optimal atau ketika jumlah nasabah non-aktif cukup tinggi.
Dirinya menuturkan sebagai bank umum berbasis digital, Allo Bank memiliki model bisnis yang sangat efisien karena seluruh proses onboarding termasuk e-KYC, pembukaan rekening, dan pengajuan pinjaman dapat diselesaikan melalui mobile application.
“Dengan demikian, biaya akuisisi per nasabah dan beban nasabah non-aktif sangat rendah dibandingkan dengan bank konvensional,” ujarnya kepada Bisnis, Jumat (16/8/2024).
Untuk diketahui, tercatat sejak Allo Bank diluncurkan pada 20 Mei 2022 hingga akhir Juli 2024, perseroan memiliki 10 juta nasabah.
Secara umum, sepanjang setahun terakhir total transaksi di Allo Bank kurang lebih meningkat 3 kali lipat terutama untuk fitur-fitur utama dalam Aplikasi seperti QRIS, Transfer, Top-Up dan Bill Payment.
“Sedangkan produk digital lending PayLater dan InstantCash meningkat hingga 6 kali lipat dibanding tahun sebelumnya,” ucap Indra.
Menurutnya, pertumbuhan ini sesuai dengan value proposition yang dibangun, di mana supaya nasabah terus menabung dan bertransaksi di Allo Bank, perseroan memberikan keleluasaan kepada nasabah untuk melakukan transfer antar bank secara gratis dan suku bunga yang kompetitif dengan fleksibilitas sesuai keinginan nasabah.
Ke depan, kata Indra, agar nasabah semakin aktif di Allo Bank, pihaknya berupaya menjalin kolaborasi dengan berbagai mitra strategis melalui penerapan model Open Banking untuk memperkaya dan meningkatkan nilai layanan finansial yang disediakan oleh bank secara contextual. “Terutama untuk sektor-sektor yang dekat dengan aspek kehidupan nasabah,” ucapnya.
Sebelumnya, Head of Sustainability & Digital Lending Bank Jago Andy Djiwandono mengatakan beban yang dirasakan atas rendahnya porsi nasabah aktif di bank digital dapat bervariasi tergantung dari tiap-tiap bank. Menurutnya tiap bank memiliki struktur cost hingga infrastrukturnya yang berbeda.
“Tergantung banknya ya, karena banyak faktor di belakang itu ya. Misalnya beban, karena apa kira-kira? Karena serving cost mungkin ya, cost-nya gitu ya. Jadi, saya rasa masing-masing bank beda-beda sih ya,” ujarnya, Rabu (14/8/2024).
Andy juga menunjukkan bahwa sebagai bank yang berbasis teknologi memiliki keuntungan dalam hal skalabilitas dibandingkan dengan bank tradisional, karena teknologi modern memungkinkan mereka untuk mengelola pertumbuhan dengan lebih fleksibel dan efisien.
“Dan juga karena kita [Bank Jago] punya enablement structure dari sistem kita yang beda dengan bank lain [jadi] mungkin saya rasa beda-beda sih ya. Saya enggak bisa bilang pasti [pukul rata bahwa ini beban] untuk semua orang,” katanya.
Bank Jago sendiri mendefinisikan nasabah aktif adalah pengguna yang juga berada di ekosistem mitra integrasi Jago.
“Walaupun mungkin dia [nasabah] tidak selalu sadar bahwa dia sebenarnya pakai Jago gitu ya. Misal banyak yang pakai Gopay Tabungan. Itu kan enggak buka aplikasi Jago, tapi mau enggak mau pakai Jago sebenarnya,” ungkap Andy.
Adapun, sampai dengan Juli 2024 nasabah funding melalui Aplikasi Jago telah mencapai lebih dari 10 juta. Jika memperhitungkan nasabah lending, total nasabah Bank Jago mencapai 12,5 juta.
Lebih lanjut, Andy menjelaskan sejauh ini mitra, seperti ekosistem GoTo serta platform reksadana online Bibit yang terhubung dengan Aplikasi Jago, juga dinilai memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pertumbuhan bisnis Bank Jago. Ini terlihat salah satunya dari jumlah nasabah funding Aplikasi Jago yang sebanyak 66% berasal dari mitra ekosistem.