JAKARTA, KOMPAS.com - Dibangun dengan melibatkan komunitas warga, desain Kampung Susun Kunir diganjar penghargaan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI).
Seperti diketahui, Kampung Susun Kunir (Koperasi Kunir) dibangun dengan melibatkan masyarakat setempat dan didampingi oleh para arsitek yang tergabung dalam Architecture Sans Frontieres (ASF) Indonesia.
Juri menilai desain Kampung Susun Kunir menunjukkan karya arsitektur sebagai perwujudan dari proses sosial.
“Strategi perancangan berupaya merespon kompleksitas dari berbagai isu baik dari perilaku tinggal hingga penanganan artefak cagar budaya,” ungkap Juri IAI.
Koordinator Arsitek ASF Robbani Amal Romis mengatakan, kunci keberhasilan proyek ini adalah melibatkan masyarakat dalam pembangunannya.
“Setelah digusur, kami mendampingi pembangunan Kampung Susun Kunir, yang dalam prosesnya melibatkan warga terdampak,” papar Robbani saat dihubungi Kompas.com, Sabtu (26/10/2024).
Gagasan dari proyek ini awalnya merupakan upaya kolektif advokasi kebijakan untuk rakyat miskin yang tinggal di lingkungan perkotaan.
Meskipun dibuat secara vertikal, namun Kampung Susun Kunir bukanlah rumah susun seperti pada umumnya.
Hal ini lantaran dalam desainnya tetap memasukan aspek sosio kultural termasuk hubungan antara para tetangganya,
“Beberapa fitur yang ada dalam Kampung Susun Kunir misalnya kehadiran ruang sosial yang dibuat dominan. Ada tempat pertemuan, ruang usaha bahkan ruang eksibisi yang bisa dimanfaatkan oleh warga,” jelasnya.
Robbani menerangkan, jalur elektrifikasi pun sengaja diekspos dan kabelnya diberi kode warna agar mempermudah perbaikan jika terjadi kerusakan.
Lokasi unit tempat tinggal pun dibagi dengan mempertimbangkan kondisi penghuni. Misalnya mereka yang sudah lansia, lebih diprioritaskan untuk menempati lantai dasar.
“Uniknya Kampung Kunir ini dikelola oleh Koperasi Kunir. Koperasi ini yang akan melakukan pengelolaan secara swadaya apabila ada kerusakan. Tanah di sini pun kepemilikannya secara komunal,” tambah Robbani.