REPUBLIKA.CO.ID, SOUTHPOURT -- Aksi penusukan di sebuah kelas dansa anak di barat laut Inggris, pada Senin (29/7/2024) dilaporkan menewaskan dua anak dan melukai belasan anak lainnya. Menurut keterangan polisi setempat dilaporkan the Telegraph, remaja berusia 17 tahun ditangkap dengan barang bukti sebilah pisau.
Salah satu saksi mata menggambarkan anak-anak berlumuran darah berlarian dari sebuah titik kumpul di mana sebuah event yoga dan dansa bertema Taylor Swift sedang digelar di sebuah lokasi di Southport, dekat Liverpool. Event tersebut diramaikan oleh anak-anak dalam rentang usia sekitar 6-10 tahun.
Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer menyebut penyerangan itu sebagai aksi "mengerikan dan sangat membuat shock."
Polisi Merseyside tidak menyebut peristiwa penusukan itu sebagai aksi terorisme. Satu tersangka, yang belum diketahui identitasnya, diketahui tinggal di sebuah vila sekitar 8 kilometer dari tempat kejadian.
Layanan Ambulans Barat Laut menyatakan, mereka merawat sedikitnya delapan orang dengan luka tusukan. Para korban langsung dibawa ke rumah sakit terdekat, termasuk ke rumah sakit anak.
Bare Varathan, seorang pemilik toko yang dekat dengan tempat kejadia perkara, mengatakan, bahwa dia sempat melihat sekitar tujuh hingga 10 anak-anak berlarian dengan luka berdarah dari Hart Space, sebuah komunitas yang menwarkan kelas bagi ibu hamil, bayi, dan anak-anak.
"Mereka di tusuk di bagian sini, sini, sini, di mana-mana," kata Varathan, sambil menunjuk bagian leher, punggung, dan dada.
"Mereka sekitar usia 1o tahun. Satu dari mereka dalam kondisi luka serius," Varathan menambahkan.
Seorang warga sekitar bernama Ryan Carney, mengatakan, ibunya juga melihat petugas layanan darurat membawa anak-anak yang diselimuti kain berwarna merah darah. Menurut Carney, ibunya mengaku melihat luka tusukan di punggung seorang anak.
"Kejadian seperti ini tidak pernah terjadi di sini," kata Carney.
"Kalian mendengar kasus penusukan seperti ini di kota besar, seperti Manchester, London. Ini adalah Southport yang bersiniar. Begitulah warga menyebutnya. (Kota) disinari Matahari. Tempat yang menyenangkan untuk tinggal."
Kasus penyerangan terhadap anak-anak terakhir kali terjadi di Inggris Raya pada 1996. Tersangka 43 tahun bernama Thomas Hamilton menembak mati 16 anak TK dan guru di seubah sekolah di Dunblane, Skotlandia. Inggris Raya kemudian melarang kepemilikan privat senjata api.
Kasus penembakan massal dan pembunuhan dengan senjata api bisa dibilang jarang terjadi di Inggris. Namun, kejahatan dengan menggunakan pisau terjadi 40 persen dari total kasus pembunuhan pada 2023.