Kebo bule jadi cucuk lampah atau pemimpin rombongan Kirab Pusaka Malam 1 Suro Keraton Surakarta. Berikut sejarah kerbau unik ini. Halaman all [480] url asal
KOMPAS.com - Perayaan Kirab Pusaka Malam 1 Suro Keraton Surakarta pada Minggu (7/7/2024) berlangsung meriah.
Dimulai sekitar pukul 23.30 WIB atau tengah malam, masyarakat tetap tumpah ruah memadati rute kirab, terutama kawasan Bundaran Gladag.
Satu yang unik dari kirab ini adalah kerbau (kebo) bule yang menjadi cucuk lampah atau pemimpin rombongan.
Menurut laman Pemerintah Kota Surakarta, Kebo Bule Kyai Slamet dianggap sebagai pembawa berkah dan keselamatan dari Yang Maha Kuasa. Kedatangannya selalu dinantikan dengan antusias.
Dulu, banyak warga yang berusaha untuk memegang kerbau ini saat melintas. Bahkan, sampai ada yang berbondong-bondong mengambil kotoran Kebo Bule yang dianggap membawa berkah karena merupakan pusaka milik Keraton Kasunanan.
Nama Kyai Slamet pada kerbau bule ini merujuk pada salah satu pusaka berupa tombak milik Keraton Kasunanan, yang secara rutin dibawa berkeliling tembok Baluwarti setiap hari Selasa dan Jumat Kliwon oleh Pakubuwono X.
Kebo Bule selalu mengikuti di belakang, dan karena kebersamaannya ini, menjadi tradisi yang dilestarikan hingga kini.
Awal mula hadirnya Kebo Bule ini bermula dari hadiah yang diberikan oleh Bupati Ponorogo, Kyai Hasan Besari Tegalsari, kepada Keraton Kartasura (Mataram Islam).
Hadiah ini diberikan sebagai pengawal untuk tombak Kyai Slamet, setelah Pakubuwono II berhasil merebut kembali Keraton Kartasura dari tangan pemberontak.
Saat pemindahan kerajaan ke Desa Sala pada tahun 1745, Kebo Bule dilepas dan berjalan sendiri hingga berhenti di lokasi yang kini menjadi Keraton Kasunanan.
KOMPAS.com/Labib Zamani Kebo Bule dikirab untuk memperingati malam 1 Sura di Keraton Solo, Jawa Tengah, Minggu (7/7/2024) malam.
Kerbau bule yang masih ada saat ini merupakan keturunan kerbau bule sejak era Pakubuwono II.
Selain sebagai pengawal tombak, Kebo Bule juga dianggap sebagai simbol rakyat kecil, terutama kaum petani, dan sebagai penolak bala. Dalam kepercayaan masyarakat Jawa, kerbau memiliki kepekaan untuk mengusir roh jahat dan menghilangkan niat buruk.
Meskipun kerbau sering dianggap sebagai hewan bodoh, Kebo Bule Kyai Slamet dijadikan pengingat bahwa manusia seharusnya tidak bertindak atau berpikir bodoh seperti kerbau.
Dengan segala kekayaan sejarah dan makna simbolisnya, Kebo Bule Kyai Slamet tetap menjadi bagian yang tak terpisahkan dari tradisi dan budaya Kota Solo.
KOMPAS.com – Keraton Surakarta Hadiningrat di Kota Solo, Jawa Tengah, menggelar Kirab Pusaka Malam 1 Suro pada Minggu (7/7/2024).
Kali ini, acara kirab digelar sebelum tengah malam sekitar pukul 11.30 WIB. Biasanya, rombongan kirab mulai berjalan pada pukul 00.00 WIB.
Kompas.com pun ikut membaur bersama masyarakat Kota Solo yang memadati rute kirab. Titik paling ramai berada di Bundaran Gladag-Jalan Jenderal Sudirman, Jalan Mayor Kusmanto, hingga Jalan Kapten Mulyadi.
Bahkan saat mencoba mencari tempat melihat kirab di Bundaran Gladag sampai Jalan Jenderal Sudirman, kondisinya sudah seperti lautan manusia.
Tidak ada celah sama sekali untuk menyaksikan kirab karena terhalang oleh orang-orang yang memadati rute kirab.
Tidak disangka, ternyata rombongan kirab sudah melintas di Jalan Kapten Mulyadi sekitar pukul 11.45 WIB.
Saat itu, tampak di depan mata kerbau (kebo) bule yang menjadi cucuk lampah atau pemimpin pasukan.
Total ada tujuh kerbau berwarna putih yang melintas, terdiri dari 6 kerbau dewasa dan satu anakan.
Kerbau ini bukan kerbau biasa. Selain warnanya putih, kerbau ini juga merupakan pusaka koleksi Keraton Surakarta Hadiningrat.
Sebelum kerbau melintas, petugas keamanan meminta masyarakat yang menonton untuk menepi.
KOMPAS.com/Labib Zamani Kebo Bule dikirab untuk memperingati malam 1 Sura di Keraton Solo, Jawa Tengah, Minggu (7/7/2024) malam.
Mereka yang berbaju merah dilarang berada di depan, dan jangan memakai kain seperti sarung.
Kerbau ini memang jadi daya tarik Kirab Pusaka Malam 1 Suro Keraton Surakarta. Banyak orang yang rela menunggu untuk bisa menyaksikannya. Seperti Setiawan (34) yang datang bersama anaknya.
“Ke sini ingin lihat kerbau bule. Ingin menunjukkan ke anak juga kerbau bulenya,” kata dia kepada Kompas.com sebelum rombongan kirab melintas.
Ratusan peserta kirab
Setelah kerbau melintas, peserta kirab lainnya mulai menyusul. Ada ratusan orang yang menjadi peserta dengan diiringi keamanan dari polisi hingga perguruan silat, seperti Persatuan Setia Hati Terate.
Peserta kirab mengenakan pakaian adat berupa beskap hitam bagi laki-laki dan kebaya bagi perempuan.
Mereka berjalan tanpa alas kaki menyusuri rute kirab tanpa berbicara karena sedang melakukan laku tapa bisu.
Rombongan kirab dibagi menjadi beberapa kelompok, sesuai dengan jumlah benda pusaka yang dikirab.
Tampak di depan mata benda pusaka yang dikirab. Bentuknya memanjang semacam tombak. Setiap benda pusaka diiringi lampu ting, simbol lampu obor yang dibawa sahabat ketika menjemput Rasulullah SAW usai menerima wahyu di Jabal Nur.
Rombongan mengular begitu panjang. Butuh waktu sekitar setengah jam sampai seluruh rombongan selesai melintas.
Keraton Kasunanan Surakarta (Keraton Solo) akan menggelar kirab malam 1 Suro, Minggu (7/7/2024) malam. Kebo bule Kiai Slamet akan menjadi cucuk pampah. - Bagian all [399] url asal
SOLO, iNews.id – Keraton Kasunanan Surakarta (Keraton Solo) akan menggelar kirab malam 1 Suro, Minggu (7/7/2024) malam. Kebo bule Kiai Slamet akan berada di posisi terdepan sebagai cucuk lampah dalam kirab pusaka tersebut.
“Tahun lalu ada 7 pusaka yang dibawa saat kirab, mudah-mudahan tahun ini lebih dari tujuh,” kata salah satu panitia kirab malam 1 Sura Keraton Solo, KP Edhy Wirabhumi, Jumat (5/7/2024).
Sebelum prosesi kirab, sejauh ini Kebo Bule Kiai Slamet telah dikelilingkan di kawasan Baluwarti atau lingkungan sekitar keraton agar tidak kaget. Sebab selama revitalisasi Keraton Solo yang kini tengah berjalan, Kebo Kiai Slamet tidak pernah keluar kandang. Biasanya, kebo selalu jalan-jalan di kawasan Alun-Alun Keraton.
Namun sejak 6 bulan terakhir, tidak pernah keluar dan baru dikeluarkan menjelang kirab. Rute kirab dimulai dari keraton menuju supit urang, kawasan alun-alun ke utara, perempatan Telkom ke kanan, Jalan Kapten Mulyadi, perempatan Baturono, Gemblegan ke kanan, Jalan Slamet Riyadi, masuk ke alun alun, pagelaran dan masuk ke keraton.
Kirab dijadwalkan berlangsung pukul 24.00 WIB tepat, dan diharapkan pukul 03.00 WIB telah selesai. Jumlah kerbau yang akan ikut jalan sebanyak 11 ekor.
Melalui latihan kirab, nantinya akan diketahui apakah ada kerbau yang didrop atau tidak. Tidak semua kerbau bule milik keraton disertakan dalam kirab. Sebab beberapa di antaranya ada yang tidak akur dan berisiko berkelahi saat acara.
Hari pelaksanaan kirab adalah Minggu malam Senin, bersamaan dengan Pura Mangkunegaran, dan yang menbedakan hanya waktu. Kirab malam 1 Sura yang dilaksanakan Pura Mangkunegaran dilaksanakan sore, sedangkan Keraton Solo digelar malam.
Mengenai kemungkinan adanya tokoh, pejabat atau artis yang ikut kirab, dirinya belum dapat memastikan. Namun kemungkinan ada Wakil Menteri yang akan hadir dalam prosesi kirab. Kirab akan diikuti sekitar 1.300 abdi dalem, sentono dan abdi dalem lainnya sekitar 600 orang.
Sebelum kirab, terlebih dahulu dilaksanakan acara wilujengan pukul 21.00 WIB. Dalam kirab yang berjarak sekitar 8 kilometer, nantinya ada putera Raja Paku Buwono (PB) XIII. Sedangkan dari keluarga lainnya, seperti adik-adik Raja, dirinya belum dapat memastikan siapa yang akan ikut kirab karena rata-rata telah berumur. “Cucuk lampahnya nanti Kerbau Kiai Slamet, didampingi abdi dalem,” ucapnya.
Kebo bule Kiai Slamet merupakan salah satu pusaka Keraton Solo. Dalam dimensi spiritual, hal itu mengandung makna bahwa setiap manusia diharapkan mencari keselamatan lahir dan batin. Sedangkan dari dimensi ketatanegaraan, maka keberadaannya sebagai negara agraris. Simbolnya adalah kerbau sebagai sahabat petani.