JAKARTA, investor.id – PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) atau BRI mencetak laba bersih tahun berjalan secara konsolidasian mencapai Rp 29,90 triliun atau tumbuh tipis 1,13% year on year (yoy) pada semester I-2024. Cuan enam bulan dari bohir UMKM ini ditopang kinerja kredit dan pembiayaan yang melaju kencang, meskipun risikonya turut membayangi.
Perolehan laba bersih BRI itu terbilang on track dari target yang dicanangkan perseroan untuk hasil sepanjang tahun 2024 ini. Pada akhir tahun lalu, perseroan telah mengungkapkan laba bersih tahun 2024 dipatok mencapai Rp 60 triliun.
Berdasarkan laporan keuangan BRI yang dipublikasikan di harian Investor Daily Indonesia edisi Kamis (25/7/2024), laba bersih emiten bersandi BBRI itu sampai dengan semester I-2024 ditopang kinerja kredit dan pembiayaan yang tercatat mencapai 1.336,77 triliun. Kredit dan pembiayaan bertumbuh 11,20% (yoy) dan sebesar 5,56% secara year to date (ytd).
Jika dirinci, kredit konvensional yang disalurkan tumbuh 11,19% (yoy) menjadi Rp 1.264,77 triliun. Kemudian pembiayaan syariah dikerek 30,63% menjadi Rp 15,27 triliun. Sementara piutang pembiayaan yang naik 7,22% menjadi Rp 56,72 triliun.
Adapun kredit untuk UMKM dilaporkan mencapai Rp 1.095,64 triliun, mencakup 81,96% dari total kredit yang yang dimiliki. Secara keseluruhan, kinerja kredit BRI sampai dengan semester I-2024 juga masih dalam rentang target yang dicanangkan untuk bertumbuh 11-12% sepanjang tahun ini.
Dari kinerja kredit dan pembiayaan itu, BBRI meraup pendapatan bunga mencapai Rp 98,64 triliun atau meningkat 15,25%. Namun demikian, beban bunga yang ditanggung melejit 43,23% menjadi Rp 28,71 triliun.
Tren pendapatan bunga dan beban bunga itu ikut mencerminkan indikator profitabilitas yaitu margin bunga bersih (net interest margin/NIM) dari BRI yang susut dari posisi 6,81% menjadi 6,41%. Imbasnya, pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) pun cuma mampu bergerak naik 6,70% menjadi Rp 69,92 triliun.
Tertahannya laba BBRI tak hanya karena beban bunga, namun juga pada beban provisi yang tercatat naik secara signifikan. Tergambar pada pos kerugian penurunan nilai aset keuangan (impairment) yang melejit 52,28% menjadi Rp 21,34 triliun.
Ini mengindikasikan tantangan bagi BRI untuk tetap menjaga kualitas asetnya masih berlanjut, apalagi pada saat yang sama kredit tetap dipacu untuk melaju kencang. Ditegaskan rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) yang naik secara gross dari 3,10% ke 3,21%, begitu juga secara net dari 0,76% menjadi 0,86% pada semester I-2024.
CASA, LDR hingga CIR
Sejalan dengan upaya pengelolaan kualitas aset bermasalah, tantangan lainnya bagi emiten yang menyandang Holding Ultra Mikro (Umi) ini menyangkut beberapa indikator efisiensi. Pertama, dana murah (current account saving account/CASA) yang tercatat turun dari posisi 65,49% menjadi 63,17% pada semester I-2024.
Menyusutnya rasio CASA dari BBRI tersebut dipengaruhi kinerja tabungan yang hanya tumbuh mini 0,76% menjadi Rp 521,04 triliun. Di sisi lain, giro melesat naik 19,63% atau mencapai Rp 356,85 triliun. Hasilnya, dana murah yang dicatat perseroan mencapai Rp 877,89 triliun, masih bergerak naik 7,66%.
Sementara itu, instrumen deposito meroket 19,10% dengan nominal Rp 511,76 triliun. Ini pula yang menopang pergerakan dana pihak ketiga (DPK) BBRI sampai dengan semester I-2024 untuk tumbuh 11,61% menjadi Rp 1.389,66 triliun.
Kedua, peningkatan beban bunga dan provisi mendongkrak rasio beban operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO). Salah satu rasio efisiensi ini patut menjadi perhatian karena mengalami penaikan dari 64,21% menjadi 67,38%.
Meski begitu, terdapat satu indikator efisiensi yang menunjukkan tren positif. Indikator yang dimaksud adalah rasio biaya terhadap pendapatan (cost to income ratio/CIR) yang tercatat menurun dari posisi 38,96% menjadi 37,47% pada semester I-2024.
Di sisi lain, BBRI juga berhasil menjaga tingkat likuiditas yang tercermin dari loan to deposit ratio (LDR) yang melunak dari 87,83% ke level 87,19%. Ini menjadi modal positif bagi perseroan tetap memacu fungsi intermediasinya ke depan.
Menutup paruh pertama tahun ini, BRI membukukan total aset konsolidasian mencapai Rp 1.977,31 triliun atau meningkat 9,54%. Liabilitas sebesar Rp 1.665,64 triliun atau tumbuh 10,55%. Serta ekuitas Rp 311,73 triliun yang naik 4,44%, ditopang perolehan laba bersih.
Editor: Prisma Ardianto (redaksi@b-universe.id)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News