JAKARTA, investor.id - Head of Center Industry, Trade and Investment INDEF, Andry Satrio Nugroho menilai, penggunaan data untuk penyelidikan komite anti dumping (KADI) dalam progres penetapan bea masuk anti dumping (BMAD) untuk produk keramik impor China tidak transparan.
“Kami harapkan KADI bisa transparan, terkait dengan perhitungannya juga. Jadi transparansi ini yang kami butuhkan agar publik juga melihat bahwa memang pantas dikenakan BMAD ini,” ungkap Andry Satrio Nugroho melalui kanal Youtube INDEF, Selasa (16/7/2024).
Menurut Andry, urgensi dalam pemberian BMAD ini harusnya diberikan ketika bisa dibuktikan kalau industri sudah masuk ke dalam tahap yang suffering. Namun hasil investigasi dari KADI tidak menunjukkan hal tersebut, justru kondisi industri sedang ekspansi. Mulai dari peningkatan penjualan dalam negeri dari segi volume dan nilai, harga pokok penjualan (HPP), produksi dan tenaga kerja serta cashflow yang positif.
“Nah ini peningkatan yang menarik juga adalah peningkatan kapasitas terpasang bisa double digit tapi tidak sejalan dengan kenaikan penjualan dalam negeri. Artinya, masih ada kapasitas terpasang yang belum dimanfaatkan, apakah ini over investment atau perencanaannya tidak matang kita tidak tahu apakah arahnya ke sana,” tuturnya.
Andry juga menyoroti hasil temuan KADI yang berbeda antara awal dan akhir tanpa ada penjelasan apapun yang melandasi perbedaan dari kedua temuan tersebut. Dengan demikian, dikatakan olehnya, “Kami berusaha untuk coba mendorong karena bisa saja hari ini ubin keramik, nanti next lagi komoditas yang lain bahkan komoditas yang bisa saja dibutuhkan di dalam negeri.”
Editor: Maswin (maswin.investorID@gmail.com)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News