JAKARTA, investor.id – Harga kontrak Crude Palm Oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) melonjak lagi pada Jumat (1/11/2024), mencapai level tertinggi dalam dua tahun terakhir. Ini merupakan reli penguatan tiga hari beruntun. Hal itu ditopang kenaikan harga minyak mentah.
Berdasarkan data BMD pada penutupan Jumat, kontrak berjangka CPO untuk November 2024 melonjak 176 Ringgit Malaysia menjadi 4.976 Ringgit Malaysia per ton. Untuk kontrak berjangka CPO Desember 2024 melejit 176 Ringgit Malaysia menjadi 4.914 Ringgit Malaysia per ton. Pada 31 Oktober 2024, BMD libur untuk merayakan hari Depawali.
Sementara itu, kontrak berjangka CPO Januari 2025 terkerek 172 Ringgit Malaysia menjadi 4.868 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak berjangka CPO Februari 2025 meningkat 174 Ringgit Malaysia menjadi 4.808 Ringgit Malaysia per ton.
Sedangkan kontrak berjangka CPO Maret 2025 naik 166 Ringgit Malaysia menjadi 4.726 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak berjangka CPO April 2025 melesat 161 Ringgit Malaysia menjadi 4.637 Ringgit Malaysia per ton.
Dikutip dari Bernama, trader minyak sawit David Ng mengatakan, kenaikan ini terjadi di tengah melonjaknya harga minyak mentah global. Ditambah lagi, peningkatan ekspor yang lebih kuat telah mendukung sentimen pasar, sebab tingginya permintaan minyak sawit berpotensi menurunkan level stok dalam negeri.
"Kami melihat harga CPO stabil di atas 4.700 Ringgit Malaysia per ton, dengan level resistensi berikutnya 5.000 Ringgit Malaysia per ton," ujarnya.
Sementara itu, analis senior dari Fastmarket Palm Oil Analytics Sathia Varqa menambahkan, larangan ekspor CPO baru-baru ini dari Thailand hingga Desember, yang bertujuan mengatasi penurunan produksi dan menstabilkan harga lokal, telah memicu aksi beli besar-besaran di kontrak berjangka CPO.
Larangan Ekspor
Laporan terbaru menyebutkan bahwa Departemen Perdagangan Dalam Negeri Thailand melarang ekspor minyak CPO karena produksi yang menurun akibat kekeringan dan penyakit tanaman. Larangan ekspor ini memiliki dampak besar terhadap pasar minyak sawit global, terutama karena Thailand merupakan eksportir CPO terbesar ketiga ke India setelah Indonesia dan Malaysia.
"Dengan adanya pembatasan pasokan ini, eksportir Malaysia berada pada posisi yang baik untuk memanfaatkan peluang tersebut, apalagi harga ekspor minyak sawit Indonesia relatif tinggi," kata Varqa.
Prospek ekspor yang lebih tinggi bagi Malaysia, khususnya untuk CPO, di tengah perkiraan ketatnya pasokan global, mendorong kontrak berjangka CPO paling likuid untuk pengiriman Januari mencetak rekor tertinggi lebih dari dua tahun.
Editor: Indah Handayani (handayani@b-universe.id)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News