Kebijakan kemasan rokok polos dalam PP 28/2024 dikhawatirkan merugikan pedagang pasar, menurunkan omzet, dan meningkatkan peredaran rokok ilegal. [303] url asal
Kebijakan terkait penyeragaman kemasan rokok tanpa identitas merek atau kemasan polos dalam PP 28/2024 dan Rancangan Peraturan Menteri Kesehatan (RPMK) dinilai bisa merugikan para pedagang pasar jika benar berlaku. Omzet pedagang bisa turun gara-gara aturan itu.
Sekretaris Jenderal Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) Mujiburrohman menjelaskan aturan terkait kemasan rokok polos tanpa merek tersebut dikhawatirkan bisa menyuburkan peredaran rokok ilegal dalam negeri.
Padahal rokok-rokok ilegal ini biasanya memiliki harga jual yang jauh lebih murah daripada rokok konvensional atau legal. Perbedaan harga inilah yang berpotensi membuat para perokok beralih dari rokok legal menjadi rokok ilegal.
"Nanti akan ada produk-produk yang ilegal atau kemudian penikmat rokok itu membeli di pasar gelap lah kira-kira begitu. Sehingga ya ini tentu berdampak kepada pedagang pasar," ucapnya dalam dalam acara detikcom Leaders Forum 'Mengejar Pertumbuhan Ekonomi 8%: Tantangan Industri Tembakau di Bawah Kebijakan Baru' di Auditorium Menara Bank Mega, Jakarta Selatan, Selasa (5/11/2024).
"Indikasinya adalah mereka beralih ke rokok yang lebih murah dan sebagian dari yang saya kenal itu juga memang mengkonsumsi rokok yang memang mereknya tidak mainstream, terus saya kurang tahu itu ada cukainya atau tidak gitu," katanya lagi.
Mujiburrohman mengatakan kondisi inilah yang secara tidak langsung dapat menurunkan omzet pedagang pasar. Padahal selama ini menurutnya para pedagang sudah mengalami penurunan omzet imbas peredaran rokok ilegal.
Sementara para pedagang pasar sendiri mayoritas tidak mau untuk ikut berjualan rokok ilegal. Sehingga peralihan konsumsi rokok dari legal menjadi rokok ilegal ini memberikan dampak yang sangat besar.
"Berdasarkan informasi yang saya terima memang ada penurunan penjualan rokok gitu. Nah pedagang tentu nggak berani kalau belanja rokok yang ilegal gitu," jelas Mujiburrohman.
"Terkait dengan rokok putih, rokok yang tidak bermerek lah itu. Saya rasa kalau menurut kami itu tidak begitu pas. Karena sekarang aja itu memang pendapatan pedagang itu menurun," tegasnya.
Mark Zuckerberg meramalkan kacamata pintar akan menggantikan smartphone sebagai perangkat utama. Namun, smartphone tetap akan digunakan meski lebih sedikit. [479] url asal
Pendiri Facebook, Mark Zuckerberg, meramalkan smartphone yang kini menjadi alat komunikasi utama di dunia akan segera tergantikan oleh perangkat baru. Menurutnya, perangkat tersebut adalah kacamata pintar.
Dilansir detikInet, hal tersebut disampaikan Zuckerberg dalam wawancara baru-baru ini. Namun, Zuckerberg berpendapat walaupun akan ada perangkat baru yang menjadi tren, perangkat yang lama masih akan tetap ada dan digunakan.
"Saya pikir kacamata (pintar) akan menjadi platform komputer besar berikutnya. Tapi setiap platform baru cenderung tidak menggantikan yang lama," terang Zuckerberg.
Dia mencontohkan, sebelum era smartphone, orang-orang menggunakan komputer. Setelah smartphone menjadi perangkat utama untuk komunikasi, komputer masih digunakan dan tidak lantas hilang.
"Dalam satu titik di sepuluh tahun terakhir, perangkat mobile sungguh menjadi platform komputasi utama. Kita tak membuang komputer kita, hanya saja meski kalian memilikinya (komputer), kalian masih melakukan lebih banyak hal di ponselmu," jelasnya.
Zuckerberg memprediksi hal serupa juga akan terjadi di mana depan antara smartphone dan kacamata pintar. Orang-orang akan cenderung lebih banyak melakukan hal dengan kacamata pintar, tetapi sesekali masih menggunakan HP. Hal itu dia prediksi terjadi pada tahun 2030-an.
"Jadi, yang kupikir akan terjadi pada kacamata pintar adalah kita akan sampai di titik itu, mungkin suatu waktu di 2020-an atau 2030-an di mana kalian punya ponsel, tapi akan lebih banyak di saku karena kalian akan melakukan lebih banyak hal di kacamata yang mungkin saat ini kalian lakukan di ponsel," bebernya.
Diketahui, perusahaan Zuckerberg yakni Meta kini tengah giat mengembangkan kacamata pintar augmented reality (AR) dan berharap perangkat tersebut mendapat sambutan luar biasa dari pengguna, sehingga menjadi alat mainstream yang digunakan banyak orang. Terutama oleh mereka yang sudah terbiasa memakai kacamata biasa.
"Sudah ada 1 hingga 2 miliar orang memakai kacamata tiap hari. Sama seperti semua orang beralih ke smartphone, kupikir semua orang yang berkacamata segera beralih ke kacamata pintar dalam dekade berikutnya. Lalu kupikir itu akan mulai jadi sangat berharga dan banyak orang lain yang tidak berkacamata saat ini akan berakhir memakainya juga," cetusnya dalam wawancara terpisah dengan The Verge.