JAKARTA, Investor.id – Salah satu perusahaan agro input nasional PT Delta Giri Wacana (DGW Group) berupaya melakukan penguatan bisnis dengan meningkatkan kapabilitas dan kapasitas produksi.
Dalam mengurangi ketergantungan bahan baku impor serta meningkatkan kontribusi bauran bahan baku nonimpor, DGW Group membangun pabrik karbamasi dengan kapasitas produksi 3.300 ton per tahun di tiga tahun pertama serta meningkat hingga 7.000 ton per tahun.
"Hal ini tidak hanya memungkinkan DGW Group untuk memenuhi kebutuhan produksi internal, bahkan memenuhi kebutuhan pasar pestisida domestik serta membuka kesempatan untuk ekspor" kata David Yaory, direktur utama DGW Group, dalam siaran pers, Senin (7/10/2024).
Di segmen pupuk, pemerintah tengah mengupayakan pengurangan ketergantungan terhadap produk impor. Baru-baru ini, Presiden Joko Widodo meresmikan pabrik amonium nitrat. Fasilitas produksi tersebut bertujuan untuk mengurangi jumlah impor amonium nitrat yang mencapai 21% dari total kebutuhan industri.
Dia menegaskan, upaya DGW Group dalam mengurangi ketergantungan bahan baku impor direalisasikan dengan kemampuan memenuhi tingkat komponen dalam negeri (TKDN) yang tinggi pada produk-produk agro input. Hal tersebut sejalan dengan upaya bisnis DGW Group untuk mengoptimalkan pasar domestik.
Sepert diketahui, Berdasarkan laporan Euromonitor dalam Agrochemical Industry in Indonesia, bahwa kebutuhan bahan baku pestisida Indonesia tergolong tinggi. Dalam periode antara tahun 2019-2023 nilai impor bahan baku pestisida utamanya produk karbamasi seperti methomyl, carbofuran, carbosulfran, carbaryl dan buthyl penyl, methyl carbamate (BPMC) tumbuh 2,8% hingga mencapai Rp 8 triliun pada 2023.
Pada periode 2021-2022, harga bahan baku tersebut mengalami peningkatan yang disebabkan oleh gangguan rantai pasok, peningkatan biaya produksi dan logistik akibat kapasitas produksi yang belum sepenuhnya pulih pascapandemi Covid-19.
Berdasarkan Global Food Security Index 2022, Indonesia memperoleh skor yang baik dalam aspek keterjangkauan pangan, namun masih terdapat pekerjaan rumah dari aspek ketersediaan pangan untuk berbagai indikator seperti kecukupan pangan, penelitian dan pengembangan dan akses terhadap agro input (agribisnis hulu).
Salah satu faktor yang dikhawatirkan adalah kesiapan industri dalam negeri untuk memenuhi kebutuhan produk agro input dalam skala besar. Isu tersebut tentunya dicermati oleh pelaku bisnis agro input dalam negeri.
Editor: Harso Kurniawan (harso@investor.co.id)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News