
Jakarta: Dua profesor dari Stanford University, Amerika Serikat, Prof Jim Leape dan Prof David Cohen, memberikan kuliah umum di
IPB University. Kuliah umum bertajuk ‘Blue Food Assessment and Policy Transformation in Indonesia: Insights from Global Perspective’.
Blue food merujuk pada hasil pangan yang berasal dari perairan, baik air tawar maupun laut. Jim menyebut Blue Food adalah jalan pintas menuju keberlanjutan
pangan.
"Hal ini dikarenakan banyaknya spesies di perairan yang bisa dijadikan pangan,” kata Jim yang merupakan ahli di bidang Blue Food Assessment dalam keterangan tertulis yang dikeluarkan IPB, Selasa, 9 Juli 2024.
Selain sektor perikanan, ada sektor lain seperti udang, cumi, dan lainnya yang bisa menjadi alternatif bahan pangan. Ia juga menyoroti pencemaran perairan yang banyak terjadi hari ini.
Sebab, kondisi tersebut bisa menjadi sesuatu serius yang bisa memengaruhi manusia. Bahkan, menurutnya kepunahan spesies mungkin dihadapi akibat pencemaran.
“Blue food yang tercemar adalah salah satu masalah yang dihadapi baru-baru ini. Pencemaran perairan menjadi ‘pekerjaan rumah’ bagi setiap orang. Kesadaran pribadi tentu dibutuhkan agar pencemaran tidak semakin parah. Dampaknya akan berpengaruh terhadap kesehatan manusia yang mengonsumsinya,” papar dia.
Selanjutnya, Prof David menjelaskan pentingnya peran manusia dalam mengelola ‘pangan biru’. Menurut dia, keberlanjutan akan berpengaruh pada ekonomi di masa depan. Hal inilah yang akan menyadarkan bahwa pangan biru ini akan semakin penting di masa depan.
“Blue food bisa menjadi jawaban bahwa pangan tidak hanya bergantung pada hasil yang ada di daratan. Selain itu, pangan biru bisa membuka banyak lapangan pekerjaan baru yang tentunya berpengaruh pada ekonomi masyarakat pesisir,” ujar ahli di bidang hukum dan hak asasi manusia (HAM) itu.
(REN)