JAKARTA, investor.id – Pasar rupiah mencermati prospek optimisme presiden terpilih Prabowo Subianto dalam pembangunan ekonomi RI ke depan, sebut analis Finex Brahmantya Himawan. Mata uang rupiah ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (23/7/2024).
Nilai tukar (kurs) rupiah naik enam poin atau 0,04% dan bertengger di level Rp 16.214 dibandingkan sebelumnya di level Rp 16.220 per dolar AS.
"Melihat prospek optimisme Presiden terpilih Prabowo Subianto untuk melanjutkan program yang dilakukan Joko Widodo (Jokowi), serta mendapat hasil positif dari program dua periode kepemimpinan Jokowi, serta potensi besar pemangkasan suku bunga (The Federal Reserve) The Fed yang terjadi pada September, besar kemungkinan ekonomi Indonesia tumbuh dan kuat yang selanjutnya berimplikasi terhadap nilai tukar rupiah ke depannya," ungkap Brahmantya, Selasa.
Pemerintahan baru Prabowo-Gibran mendapat tantangan untuk mengelola Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 untuk merealisasikan janji politiknya.
Beberapa program tersebut adalah penyediaan makan siang gratis, pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN), serta kenaikan gaji pegawai negeri sipil (PNS) yang masuk ke dalam anggaran belanja.
“Semua ini membebani APBN sehingga hanya akan memiliki sedikit ruang bagi pemerintahan baru untuk merealisasikan program-program unggulan lainnya,” imbuhnya.
Namun, Prabowo optimistis ekonomi Indonesia akan tumbuh hingga 8% pada masa kepemimpinannya dan melihat hasil dari program-program yang sudah dijalankan Presiden Jokowi selama dua periode.
Dilihat dari sisi eksternal, pasar bereaksi tipis terhadap keputusan Presiden AS Joe Biden untuk mundur dari Pilpres 2024. Posisinya sebagai kandidat dari Partai Demokrat digantikan oleh Wakil Presiden AS Kamala Harris.
Sentimen ini tampak tidak signifikan dan pergerakan dolar AS masih tergolong stabil, kata Brahmantya, meskipun ada sentimen ketidakpastian yang menyelimutinya.
Namun potensi pemangkasan suku bunga Fed Funds Rate (FFR) pada September 2024 terasa dekat. Pasalnya, mayoritas trader dan investor mendukung penurunan suku bunga.
Di samping itu, survei yang dilakukan CBS setelah "insiden penembakan” Donald Trump menunjukkan kemungkinan Trump sebagai pebisnis akan lebih merestui pemangkasan suku bunga.
Menurut Brahmantya, pasar perlu memperhatikan kemungkinan Trump kembali memimpin AS. Genderang perang dagang dengan China tidak terhindarkan, karena ia berencana membuat kebijakan yang tidak menguntungkan China seperti menaikkan pajak mobil listrik (electric vehicle/ EV) dari negara itu.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Selasa meningkat ke posisi Rp 16.204 dibandingkan sebelumnya di level Rp 16.228 per dolar AS.
Editor: Grace El Dora (graceldora@gmail.com)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News