JAKARTA, investor.id - PT Pyridam Farma Tbk (PYFA) mencatatkan penjualan sebesar Rp 1,16 triliun. Angka itu meningkat 123% dari Rp 520,47 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan ini terutama didorong oleh peningkatan penjualan bisnis farmasi serta kontribusi dari akuisisi Probiotec di Australia yang selesai pada Juni tahun ini. Pada 2025, perseroan membidik penjualan Rp 3 triliun.
Pendapatan sebelum pajak, bunga, dan depresiasi (EBITDA) PYFA juga mengalami kenaikan signifikan, mencapai Rp 89,61 miliar, meningkat 60% dari Rp 56,12 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Meski begitu, perseroan melaporkan kerugian bersih sebesar Rp 214,27 miliar untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada 30 September 2024, yang sebagian besar disebabkan oleh biaya one time terkait aksi korporasi dan akuisisi Probiotec, serta biaya lainnya termasuk depresiasi aset.
Sedangkan total aset Pyridam Farma per 30 September 2024 mencapai Rp 5,89 triliun, naik 3.9x dari Rp 1,52 triliun pada 31 Desember 2023.
Direktur Keuangan Pyridam Farma (PYFA) Yenfrino Gunadi menyatakan, PYFA adalah satu-satunya perusahaan farmasi Indonesia yang berhasil mengakuisisi dan melebarkan sayap bisnis farmasi ke luar negeri. “Ini tentunya memberikan dampak positif bagi perusahaan secara finansial dan market size serta ikut memajukan industri kesehatan Indonesia melalui akses yang lebih luas ke teknologi, inovasi, serta kesempatan untuk bermitra dengan pemain farmasi global,” ungkapnya dalam keterangan pers, Jumat (1/11/2024).
Yenfrino menambahkan, perseroan menargetkan penjualan mencapai Rp 3 triliun pada tahun depan, didukung oleh konsolidasi penuh dari Probiotec serta pertumbuhan organik, terutama di sektor rumah sakit, dan inisiatif strategis lainnya seperti peluncuran layanan Contract Development and Manufacturing Organization (CDMO) di Indonesia.
“Kami sangat optimistis PYFA akan terus bertumbuh di tahun mendatang dengan beberapa inisiatif dan proyek kolaborasi baik yang sudah kita kerjakan seperti bisnis CDMO maupun yang sedang kami rencanakan tidak hanya di pasar Indonesia tetapi juga di Australia dan negara-negara Asia Tenggara lainnya,” tutupnya.
Editor: Indah Handayani (handayani@b-universe.id)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News