IHSG sempat anjlok, Eddy Jurnasin memastikan indikator ekonomi belum menunjukkan ada potensi resesi dalam waktu dekat. Halaman all?page=all [466] url asal
KOMPAS.com - Harga saham Indonesia tercatat menunjukkan penurunan seiring anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) beberapa hari belakangan.
IHSG Bursa Efek Indonesia (BEI) dilaporkan merosot 3,40 persen atau 248,47 poin ke 7.059,65 pada Senin (5/8/2024) malam, diberitakan Kontan, Senin.
Pada Selasa (6/8/2024) pagi, IHSG menguat 70,68 poin atau 1,00 persen ke posisi 7,130,33.
Dilansir dari Kompas.com, pada penutupan perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG berakhir di zona hijau pada Selasa (6/8/2024). Demikian juga dengan kurs rupiah yang menguat pada penutupan perdagangan pasar spot.
Mengetahui kondisi demikian, sejumlah warganet sempat menyampaikan kekhawatirannya terhadap harga saham yang menurun di Indonesia. Situasi ini juga dikhawatirkan memicu resesi.
"Dari tdi blm nemu jawaban ini kenapa bisa begini," tanya pengguna akun media sosial X atau Twitter, @poetyoul******.
"Serius nanya, ini waktunya kita buy kah? Kan lagi dibawah semua tuh ratarata. Apa masih nunggu beberapa minggu lagi??" tanya akun @Duck******.
Lalu, apa penyebab harga saham IHSG Indonesia sempat turun?
Ekonom dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Eddy Jurnasin menuturkan, penurunan harga saham tidak hanya terjadi di Indonesia. Harga saham di banyak negara mengalami hal serupa.
"Yang bisa menyebabkan itu terjadi, beberapa hari lalu Amerika Serikat merilis data tentang penyerapan tenaga kerja yang rendah dan tingkat pengangguran tinggi di sana. Data yang dirilis itu kurang menggembirakan," jelasnya saat dihubungi Kompas.com, Selasa (6/8/2024).
Eddy menuturkan, penyerapan tenaga kerja dan tingkat pengangguran di AS tidak setinggi yang diharapkan. Akibatnya, ini membuat para pelaku usaha khawatir timbul resesi.
Selain itu, lanjutnya, Bank Central AS dinilai telat menurunkan suku bunga yang memengaruhi harga saham dan diharapkan pelaku usaha. Kondisi ini juga membuat banyak orang khawatir.
"Pasar AS khawatir terjadi resesi sehingga pasar modalnya hancur. Hal ini menular ke pasar modal lain di seluruh dunia termasuk Indonesia," tambah dia.
Di sisi lain, kondisi peperangan di Timur Tengah dan Rusia-Ukraina juga menyebabkan harga saham tidak menentu. Kekhawatiran-kekhawatiran itu pun membuat harga saham anjlok.
Edy mengakui boleh saja pelaku usaha merasa khawatir akan terjadi resesi. Namun, dia menekankan para ekonom membantah dunia akan alami resesi dalam waktu dekat.