HOUSTON, investor.id - Harga minyak anjlok 2% pada Senin (14/10/2024). Setelah OPEC kembali memangkas proyeksi pertumbuhan permintaan minyak global untuk 2024 dan 2025. Selain itu, penurunan impor minyak China selama lima bulan berturut-turut turut membebani pasar.
Langkah stimulus dari pemerintah China gagal membangkitkan kepercayaan investor, sementara pasar terus mengamati kemungkinan serangan Israel terhadap infrastruktur minyak Iran.
Dikutip dari Reuters, harga minyak mentah Brent turun US$ 1,58 (2%) menjadi US$ 77,46 per barel. Sedangkan harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat (AS) juga turun US$ 1,73 (2,29%) menjadi US$ 73,83 per barel. Pada pekan lalu, Brent sempat naik 99 sen, sementara WTI menguat US$ 1,18.
Setelah jam perdagangan, Brent merosot lebih dari 5% atau sekitar US$ 4, menyusul laporan media yang menyebut Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan kepada AS bahwa Israel siap menyerang target militer Iran, bukan situs nuklir atau infrastruktur minyak.
Sedangkan harga minyak pemanas berjangka AS turun 5% dalam perdagangan akhir, sementara bensin berjangka AS turun lebih dari 4%.
Pada Senin, OPEC memangkas proyeksi pertumbuhan permintaan minyak global untuk 2024 dan juga menurunkan proyeksi untuk 2025, menandai penurunan revisi ketiga berturut-turut oleh kelompok produsen ini.
China, sebagai importir minyak mentah terbesar dunia, menjadi faktor utama dalam penurunan proyeksi tahun 2024. OPEC mengurangi proyeksi pertumbuhan permintaan China menjadi 580 ribu barel per hari (bpd) dari sebelumnya 650 ribu bpd.
Data juga menunjukkan bahwa impor minyak mentah China untuk sembilan bulan pertama tahun ini turun hampir 3% dibandingkan tahun sebelumnya, menjadi 10,99 juta bpd.
Penurunan permintaan minyak dari China sebagian besar disebabkan oleh adopsi kendaraan listrik (EV) yang semakin meningkat dan perlambatan pertumbuhan ekonomi setelah pandemi Covid-19, yang telah membebani konsumsi dan harga minyak global.
Stimulus China
Tekanan deflasi di China juga memburuk pada September, berdasarkan data resmi yang dirilis pada Sabtu. Dalam konferensi pers pada hari yang sama, investor dibiarkan bertanya-tanya mengenai ukuran paket stimulus untuk memulihkan ekonomi terbesar kedua di dunia ini.
“Kurangnya timeline yang jelas dan tidak adanya langkah-langkah untuk mengatasi masalah struktural, seperti konsumsi yang lemah dan ketergantungan pada investasi infrastruktur, hanya menambah ketidakpastian di antara para pelaku pasar,” kata Mukesh Sahdev, Kepala Pasar Komoditas Global Minyak di Rystad Energy.
Berita negatif dari China mengalahkan kekhawatiran pasar tentang potensi gangguan produksi minyak akibat respons Israel terhadap serangan rudal Iran pada 1 Oktober lalu.
Pada Minggu lalu, ASmengumumkan akan mengirim pasukan ke Israel bersama dengan sistem anti-rudal canggih dalam langkah yang sangat jarang dilakukan untuk memperkuat pertahanan udara negara tersebut.
Wakil Presiden Senior di BOK Financial Dennis Kissler menjelaskan, serangan Israel ke Iran kemungkinan akan terjadi, tetapi langkah-langkah penguatan terbaru oleh militer AS mungkin telah meredakan respons dari kedua belah pihak. “Perdagangan tetap gelisah dengan banyak manajer dana yang memilih menunggu di luar pasar,” tambah Kissler.
Washington secara diam-diam mendesak Israel untuk menyesuaikan responnya guna menghindari perang yang lebih luas di Timur Tengah. Presiden AS, Joe Biden, secara terbuka menyatakan penolakannya terhadap serangan Israel terhadap situs nuklir Iran dan kekhawatirannya tentang serangan terhadap infrastruktur energi Iran.
Sementara itu, dolar AS mencapai level tertinggi dalam sembilan minggu pada Senin dalam perdagangan tipis. Penguatan dolar dapat mengurangi permintaan minyak yang dihargai dalam dolar bagi pembeli dengan mata uang lain.
Stok minyak mentah AS diperkirakan meningkat pekan lalu, sementara persediaan distilat dan bensin kemungkinan menurun, menurut jajak pendapat awal Reuters pada Senin.
Editor: Indah Handayani (handayani@b-universe.id)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News