#30 tag 24jam
Ancara Logistics (ALII) Fokus Kembangkan Bisnis Logistik Batubara
PT Ancara Logistics Indonesia Tbk (ALII) optimistis dengan target kinerja di tahun 2024 dan 2025. [1,142] url asal
#initial-public-offering #pt-ancara-logistics-indonesia #mahakam-coal-terminal #industri-logistik-batubara #produksi-batubara-indonesia #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi
(Kontan-Investasi) 04/10/24 17:25
v/15969239/
Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Khomarul Hidayat
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Masa depan perkembangan industri logistik batubara yang cukup cerah membuat PT Ancara Logistics Indonesia Tbk (ALII) optimistis dengan target kinerja di tahun 2024 dan 2025.
Asal tahu saja, ALII resmi melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 7 Februari 2024. Perusahaan yang terafiliasi Grup Bakrie ini menawarkan sebanyak 3,16 miliar saham dalam initial public offering (IPO) dengan harga penawaran umum sebesar 272 per saham.
Jumlah itu setara dengan 20% dari modal ditempatkan dan disetor penuh pasca IPO. Adapun sebanyak 0,94% dari saham yang ditawarkan dalam IPO atau sebanyak 8 juta saham dialokasikan Ancara Logistics untuk menggelar program alokasi saham karyawan.
Ancara mampu mengumpulkan Rp 860,9 miliar dari IPO. Dana hasil IPO akan digunakan Ancara Logistics untuk tiga keperluan utama.
Pertama, sebesar 75% digunakan untuk memberikan pinjaman kepada Perusahaan Anak, yaitu Mahakam Coal Terminal (MCT), yang dipakai untuk pembayaran sebagian pokok utang. MCT memiliki utang kepada kepada OCP Asia Fund IV (SF 1) Pte. Limited dan OCP Asia Fund V (SF 1) Pte. Limited.
Kedua, sekitar 21,44% dana dialokasikan untuk belanja modal alias capital expenditure (capex) dalam rangka menunjang kegiatan usaha, yaitu akuisisi 15 kapal tongkang sungai yang baru.
Sisanya, digunakan untuk modal kerja ALII, seperti pembelian bahan bakar, pembayaran jasa operator kapal, pembayaran jasa keamanan, pembayaran jasa operator alat berat dan lainnya.
Melansir prospektus, ALII didirikan pada Juli 2019. Fokus bisnis ALII bergerak di bidang jasa pengangkutan laut, transshipment, dan Intermediate Stockpile untuk tambang batu bara.
Dalam menjalankan usahanya, Ancara Logistics dan perusahaan anak didukung dengan sistem logistik yang terintegrasi dengan pihak afiliasi mulai dari tambang hingga ke intermediate stockpile dan transshipment area.
Ancara Logistics pun mengakuisisi saham mayoritas MCT sebesar 70% pada September 2019. MCT bergerak di bidang operasi terminal untuk kepentingan sendiri yang digunakan sebagai Intermediate Stockpile (ISP) yang beroperasi di Desa Embalut, Tenggarong, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.
ISP ini berfungsi sebagai titik perpindahan, pengelolaan, dan penumpukan muatan dari tongkang sungai ke stockpile serta dari stockpile ke tongkang laut.
Direktur Utama ALII Faisal Mohamad Nur mengatakan, melantainya ALII di Bursa menjadi tonggak penting dalam mengembangkan bisnis perseroan di tengah potensi besar industri logistik batubara alias coal barging.
Tak hanya membuat tata kelola perusahaan menjadi lebih baik, keputusan ALII untuk IPO juga diyakini bisa melebarkan sayap dan memperkuat bisnis perseroan di industri ini ke depan.
Melansir data Kementerian ESDM, produksi batubara di tahun 2023 mencapai 775,2 juta ton. Pada tahun 2024, pemerintah pun menargetkan produksi batubara sebesar 922 juta ton. Melansir lama MODI Kementerian ESDM, per 4 Oktober 2024, produksi batubara mencapai 601,69 juta ton atau mencapai 84,75% dari target tahun ini.
Secara total, cadangan batubara Indonesia diproyeksikan mencapai sekitar 97 miliar ton dan per tahun 2023 baru sekitar 31 miliar ton yang tereksplorasi.
“Jika per tahun ada sekitar 900 juta ton yang diproduksi, maka industri batubara ini masih bisa terus eksis hingga 30 tahun mendatang,” kata Faisal kepada Kontan, Jumat (4/10).
Kalimantan Timur pun menjadi wilayah dengan cadangan batubara terbesar di Tanah Air. Lalu, diikuti Kalimantan Selatan dan Sumatera Selatan. Pelanggan ALII pun memiliki tambang di wilayah Kalimatan Timur.
Saat ini, ALII memiliki dua pelanggan utama, yaitu PT Ade Putra Tanrajeng dan PT Guruh Putra Bersama. Kontribusi kedua pelanggan utama ALII tersebut terhadap pendapatan perseroan mencapai 80%-90% pada tahun 2023.
“Jika melihat dari laporan intenal pelanggan kami, mereka masih punya cadangan yang belum dieksplorasi. Sehingga, kami pun masih akan fokus di bisnis coal barging setidaknya sampai lima tahun mendatang, meskipun juga tengah ada penjajakan logistik komoditas tambang lainnya,” tutur Faisal.
Di tahun 2024, ALII menargetkan bisa mengangkut sekitar 3 juta ton dari para pelanggan. Tahun depan, ALII ditargetkan bisa mengangkut sekitar 6 juta – 7 juta ton batubara, sesuai dengan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) para pelanggan utama.
Untuk memenuhi permintaan pelanggan, ALII pun memastikan jumlah dan dan kondisi kapal memadai. Saat ini, ALII memiliki dua jenis kapal, yaitu kapal tongkang 180 feet dan kapal tug (tugboat).
ALII punya kapal tongkang 180 feet sebanyak 44 unit. Untuk kapal jenis ini, ada 13 kapal lainnya yang sedang dibuat (under construction) dan 2 kapal sedang towing dari sungai.
“Pembuatan kapal tongkang 180 feet ini diharapkan bisa dipakai di akhir tahun 2024,” ujar Faisal.
ALII punya 46 unit kapal tug, dengan rincian sebanyak 31 unit sudah berkontrak dengan builder dan 15 unit sudah operasional. Sementara, lima kapal sedang dibuat.
Ancara Logistics juga menyewa set kapal tongkang 180 feet bersama tugboat sebanyak 15 set dan set kapal tongkang 300 feet bersama tugboat sebanyak 12 set.
“Kami berencana menambah kepemilikan kapal tongkang 180 feet menjadi 57 kapal dan tugboat menjadi 60 kapal di akhir tahun 2024. Untuk tahun 2025, kami sedang menyicil untuk membangun kapal tongkang 300 feet,” kata Faisal.
Dengan gambaran target pengangkutan batubara dan penambahan armada, ALII pun menargetkan pertumbuhan laba yang cukup pesat.
Di tahun 2024, ALII menargetkan pendapatan bisa naik 20% dan laba bersih tumbuh 50%-60% dari tahun 2023. Sementara, ALII menargetkan pertumbuhan pendapatan 80%-90% dan pertumbuhan laba bersih 100%-150% di tahun 2025
“Ini bisa tercapai jika target pengangkutan batubara tersebut bisa tercapai maksimal. Seperti yang disampaikan di Prospektus Bab X, mulai tahun 2024 ALII dapat memberikan dividen sebanyak-banyaknya 80% dari laba setelah memperhitungkan kebutuhan capex dan opex,” kata Faisal.
Namun, ALII juga harus memastikan pelunasan sisa utang MCT yang bentuknya berupa pinjaman luar negeri. Hal ini agar tak terjadi rugi kurs yang bisa menekan raihan laba ALII. Utang tersebut sudah tersisa sekitar 40% dari jumlah awal, karena sebagian sudah dilunasi dari dana IPO.
“Kami tengah berupaya untuk mencari pendanaan dari bank lokal untuk mengkonversi utang kami dari dolar Amerika Serikat (AS) menjadi rupiah. Di era suku bunga rendah ini diharapkan bunga utang tersebut tak membebani kami,” imbuh Faisal.
Meskipun punya banyak peluang, tetapi bukan berarti kondisi riil dari industri logistik batubara ini tanpa tantangan.
Faisal menyebut, musuh utama operasional logistik batubara adalah cuaca. Kapal tak pengangkut batubara melaju di Sungai Belayan yang jika wilayahnya kering, maka airnya surut. Alhasil, kapal akan susah lewat dan mengganggu kelancaran operasional pengangkutan batubara.
“Kami punya ISP di Desa Embalut yang jaraknya hampir 200 kilometer (km) dan jalur Sungai Belayan itu sangat sensitif terhadap cuaca,” katanya.
Masalah cuaca itu juga bisa meningkatkan risiko kecelakaan kerja para operator di lapangan. Tak hanya itu, perubahan regulasi yang kurang sosialisasi kepada para operator membuat perjalanan pengangkutan terkadang terhambat.
Namun, terkait regulasi, Faisal mengapresiasi pihak otoritas negara yang tegas dalam menegakkan aturan. Sebab, hal ini dianggap cukup menguntungkan ALII yang juga berkomitmen ikut memberikan edukasi dan pekerjaan yang layak kepada para operator yang berasal dari masyarakat sekitar Sungai Belayan.
“Jika pengangkutan lancar, diharapkan target di tahun 2024 dan 2025 bisa terpenuhi,” ujarnya.
ADRO, ITMG, PTBA, HRUM di Tengah Potensi Rebound Harga Batu Bara
Harga batu bara malah di atas perkiraan dan berpotensi rebound lebih kuat. Lantas, bagaimana prospek saham ADRO, ITMG, PTBA, dan HRUM? - Halaman all [533] url asal
#berita-terkini #berita-hari-ini #adro #itmg #ptba #hrum #harga-batubara #adaro #indo-tambangraya-megah #produksi-batubara-indonesia #rekomendasi-saham #bri-danareksa-sekuritas #berita-ekonomi-terkini
(InvestorID) 22/07/24 14:00
v/11689558/
JAKARTA, investor.id – Harga batu bara Newcastle, ICI3, dan ICI4 rata-rata sebesar US$ 130, US$ 76, dan US$ 56 per ton selama periode year to date (ytd) atau low season. Harga tersebut sekitar 2-8% di atas perkiraan tahun ini menurut BRI Danareksa Sekuritas. Lantas, bagaimana prospek saham-saham batu bara, seperti ADRO, ITMG, PTBA, dan HRUM?
Analis BRI Danareksa Sekuritas, Erindra Krisnawan dan Christian Sitorus yakin harga batu bara yang tahan banting itu didukung oleh supply dan demand yang lebih baik, di tengah kuatnya permintaan dan pasokan yang lebih ketat dari Indonesia.
“Dengan tingkat persediaan di China dan India yang menunjukkan kemungkinan penurunan permintaan musiman pada Juni 2024, kami melihat potensi rebound harga batu bara yang lebih kuat pada musim dingin kuartal IV-2024. Karena itu, proyeksi kami untuk harga batu bara 2024-2025 naik,” tulis Erindra dalam risetnya.
Dari sisi permintaan, impor batu bara oleh China dan India naik kencang, masing-masing sebesar 12% dan 11% yoy pada Januari-Mei 2024. Sedangkan pasokan dari eksportir utama, yaitu Indonesia dan Australia, tumbuh lebih lambat dari perkiraan, yakni sebesar 4% yoy dan -7% yoy.
“Secara keseluruhan, supply dan demand pada semester I-2024 sejauh ini menunjukkan defisit di pasar, berlawanan dengan ekspektasi kami sebelumnya yang memperkirakan sedikit surplus,” ungkap Erindra.
Adapun data resmi Kementerian ESDM menunjukkan bahwa produksi batu bara Indonesia hanya tumbuh 3% yoy, dengan perlambatan produksi yang signifikan pada Mei-Juni 2024 (-9% yoy).
Selain kondisi supply dan demand yang lebih ketat, BRI Danareksa Sekuritas yakin harga batu bara yang tahan banting juga disebabkan oleh peningkatan biaya para penambang besar. Para emiten batu bara yang masuk cakupan riset BRI Danareksa Sekuritas itu mengalami kenaikan biaya tunai sebesar US$ 11-20 per ton atau 14-15% selama 5 tahun terakhir.
Rekomendasi dan Target Harga Saham
Berdasarkan beberapa faktor yang ada, BRI Danareksa Sekuritas menaikkan asumsi harga batu bara 2024-2025 sebesar 8-20% dan harga dalam jangka panjang menjadi US$ 100 per ton dibandingkan sebelumnya US$ 90 per ton.
“Dengan demikian, kami meningkatkan perkiraan laba dan target harga saham para emiten penambang batu bara pada 2024 dan 2025 sebesar 8,7% dan 32,3%,” sebut Erindra.
BRI Danareksa Sekuritas juga menaikkan rating sektor batu bara menjadi overweight dari sebelumnya netral. Pilihan utama jatuh ke saham PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) dan PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG).
Rekomendasi untuk saham ADRO adalah buy dengan target harga Rp 3.770. Begitu juga dengan saham ITMG, rekomendasinya buy dan target harga Rp 31.300. ADRO dan ITMG diyakini bakal lebih diuntungkan dari kenaikan harga ekspor. Risiko utamanya jika pasokan di Indonesia pulih dan pelemahan permintaan China.
Lalu, bagaimana dengan saham emiten batu bara lainnya, seperti PT Bukit Asam Tbk (PTBA) dan PT Harum Energy Tbk (HRUM)? BRI Danareksa Sekuritas tetap merekomendasikan buy. Target harga saham PTBA sebesar Rp 3.100 dan HRUM Rp 1.700.
Editor: Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News