#30 tag 24jam
Ini Penyebab Rematik dan Gejala yang Sering Muncul
Rematik dapat dicegah dengan gaya hidup yang tepat, tetapi tidak ada solusi penyembuhan untuk penyakit ini. [383] url asal
#rematik #gejala-rematik #cara-mencegah-rematik
(Bisnis.Com) 31/08/24 17:33
v/14843445/
Bisnis.com, JAKARTA – Rheumatoid arthritis atau lebih umum dikenal sebagai rematik adalah penyakit kronis, ditandai dengan nyeri, peradangan, dan rasa kaku pada sendi.
Melansir Mayoclinic, rematik termasuk penyakit autoimun. Sistem imun dalam tubuh menyerang jaringan tubuh pada bagian sendi yang menyebabkan pembengkakan.
Dalam jangka panjangnya, rematik bisa memicu erosi pada tulang dan kelainan bentuk pada persendian.
Rematik dapat dirawat dengan obat dan gaya hidup yang tepat, tetapi tidak ada solusi penyembuhan untuk penyakit ini. Jika dibiarkan, rematik bisa saja menjadi penyebab disabilitas.
Terdapat “definisi” yang berbeda-beda mengenai disabilitas, seperti kondisi yang fatal atau akan berlangsung selama 6 bulan. Menurut Healthline, rematik dapat dikategorikan sebagai disabilitas jika Anda sudah tidak dapat bekerja dan melakukan aktivitas sehari-hari akibat penyakit tersebut.
Maka, penting untuk mengetahui apa saja risiko, penyebab, dan gejala rematik supaya dapat menghindari penyakit ini.
Risiko Rematik
Rematik biasanya terjadi pada usia 60 tahun ke atas. Risiko bertambah besar pada perempuan. Anda juga lebih riskan terkena rematik jika anggota keluarga lain memiliki penyakit tersebut.
Selain itu, risiko rematik meningkat apabila Anda memiliki obesitas, penyakit gusi, dan penyakit jantung. Pilihan gaya hidup seperti merokok juga meningkatkan risiko rematik.
Penyebab Rematik
Penyebab eksternal dari rematik masih kurang jelas. Sejumlah ahli percaya bahwa terdapat faktor genetik yang dapat menyebabkan rematik jika dipicu oleh lingkungan sekitar individu, seperti virus, bakteri, atau stres.
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, rematik termasuk penyakit autoimun. Rematik terjadi ketika sistem imun tubuh mengira bahwa sel tubuh sendiri merupakan benda asing.
Mengutip Arthritis Foundation, imun tubuh mengeluarkan bahan kimia yang dapat menyebabkan peradangan untuk menyerang sel tubuh–terutama bagian sinovium. Sinovium adalah jaringan yang mengelilingi sendi dan membantu sendi bekerja dengan baik.
Sinovium yang meradang akan menjadi tebal. Akibatnya, area sendi akan membengkak, sakit, hingga sulit digerakkan.
Gejala Rematik
- Sendi-sendi terasa lunak, hangat, dan membengkak.
- Sendi terasa kaku dan sulit digerakkan, terutama cukup parah di pagi hari dan jika jarang bergerak.
- Kelelahan.
- Demam.
- Hilangnya nafsu makan
Gejala rematik awal akan terlihat pada sendi-sendi kecil, seperti sendi jari tangan dan jari kaki. Kemudian, penyakit menyebar ke sendi yang lebih besar–seperti pergelangan tangan, lutut, mata kaki, hingga pinggul dan bahu.
Anda juga dapat merasakan gejala selain pada sendi. Antara lain kulit, mata, paru-paru, jantung, ginjal, dan organ tubuh dalam lainnya. Rematik dapat muncul dan hilang, tergantung keaktifan penyakit dalam proses penyebarannya. (Ilma Rayhana)
Mahasiswa UMM Ciptakan Alat Deteksi Rematik
Alat deteksi rematik ditemukan oleh mahasiswa UMM Malang, simak penampakannya [410] url asal
#alat-deteksi-rematik #rematik #umm #mahasiswa
(Bisnis.Com - Terbaru) 13/08/24 08:00
v/14346258/
Bisnis.com, MALANG — Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berinovasi ciptakan alat pendeteksi dini penyakit rheumatoid arthritis melalui kuku
Mereka adalah Nuri Vhirdausia, Frenischa Yincenia W, dan Desta Karina yang merupakan mahasiswa Program Studi (Prodi) Ilmu Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes), serta ada juga Abi Mufid Octavio dan Muhammad Lutfi yang merupakan mahasiswa Prodi Teknik Mesin Fakultas Teknik (FT).
Abi Mufid Octavio menjelaskan, penyakit rheumatoid arthritis atau rematik merupakan penyakit autoimun dengan gangguan peradangan jangka panjang pada sendi.
“Umumnya penyakit ini sering ditemui pada lansia, tetapi tidak menutup kemungkinan orang dewasa ataupun para remaja juga dapat mengalaminya,” ucapnya, Senin (12/8/2024).
Jika penyakit rheumatoid arthritis ini sudah memasuki masa akut, kata di, maka tidak dapat disembuhkan sehingga dapat menyebabkan kelumpuhan.
Karena itulah, dua menegaskan, perlu adanya identifikasi sedini mungkin untuk mengetahui seseorang berpotensi terkena penyakit rematik atau tidak.
Alat tersebut telah diuji cobakan kepada lebih dari 100 sampel dan mendapatkan respon yang positif.
“Sampel kami ada banyak mulai dari remaja, dewasa, dan lansia. Setelah menggunakan alat kami untuk deteksi dini kemudian melakukan re-check lebih lanjut ternyata didapati hasil yang efektif,” jelasnya.
Abi sapaan akrabnya melanjutkan bahwa alat tersebut bekerja dengan menganalisis kondisi kuku, mulai dari tekstur, ridging atau berlubang, kuku menguning, rapuh dan pendarahan serpihan. Kondisi visual tersebut tidak dapat dilihat secara langsung lewat mata telanjang. Selanjutnya jika ditemukan indikasi rematik, maka akan dilakukan observasi lebih lanjut dengan dokter.
“Indikasi rematik itu ada banyak, dan alat kami bertugas untuk memvisualisasi hasil dari kuku yang telah difoto untuk diidentifikasi lebih lanjut,” lanjutnya.
Dia dan temannya memerlukan waktu lebih dari satu bulan untuk melakukan pengembangan untuk inovasi tersebut.
Kedepan, dia berharap, alat tersebut juga akan dibuat secara masal, tentu tidak lain untuk menambah ragam inovasi dalam dunia kesehatan.
“Dengan biaya produksi sebesar Rp7 juta, menurut kami itu nilai yang kecil untuk inovasi dalam dunia kesehatan. Kedepan kami akan menjalin kerja sama dengan perusahaan yang nantinya dapat di komersialkan,” ungkapnya.
Dia berharap pula, lewat inovasinya bersama tim dapat memberikan warna baru dalam dunia kesehatan. Masyarakat dapat mengidentifikasi sejak dini terindikasi gejala dari penyakit rematik, dengan begitu pasien dapat segera dibawa ke rumah sakit untuk nantinya dilakukan pengobatan lebih lanjut.
Dia juga berpesan kepada mahasiswa khususnya jas merah kampus putih untuk tidak bosan-bosan berfikir dan menciptakan produk inovatif.
“Dahulu para penemu inovasi terbarukan itu banyak yang masih berusia muda. Dan anak muda saat pasti juga masih bisa melakukan hal tersebut. Jangan bosan dalam berinovasi, karena segala inovasi itu tentu ada manfaatnya,” pesannya. (K24)
Kisah Mugiarti, 9 Tahun Terbaring di Kasur karena Pengapuran
Kini, Mugiarti mengaku pasrah dan menerima kehidupan yang dijalaninya. Halaman all [866] url asal
#rematik #pengapuran-sendi #pengapuran-tulang #kisah-wong-cilik
(Kompas.com) 23/07/24 14:55
v/11800001/
JAKARTA, KOMPAS.com - Mugiarti (65) sudah sembilan tahun tidak bisa bangun sendiri dari tempat tidur karena penyakit pengapuran dan rematik yang diidapnya.
Saat ditemui Kompas.com di rumahnya, Mugiarti sedang berbaring di kasur yang ada di ruang tamu. Sembari diwawancarai, Mugiarti terus berbaring.
Berlapiskan selimut sepinggang, Mugiarti antusias untuk bercerita tentang kehidupannya.
Pengapuran dan rematik sejak lama
Daster biru muda bercorak bunga membalut tubuh Mugiarti yang kurus. Tulang selangka ibu tiga anak ini pun tampak jelas.
Kerut wajah dan rambut putih seleher tak lagi sanggup menutupi usia Mugiarti kini.
“Sudah sembilan tahun saya enggak bisa jalan. Pengapuran sama rematik, sudah enggak bisa bangun, enggak bisa apa-apa, ngesot aja,” ujar Mugiarti mengawali cerita di rumahnya, Kalipasir, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (19/7/2024).
Meski lututnya sudah tak bisa lagi diluruskan, Mugiarti tak patah arang. Suaranya terdengar begitu ceria ketika menceritakan soal anak bungsunya yang tak lama lagi akan menikah. Tahun ini, kata Mugiarti, si bungsu akan genap 25 tahun.
Sambil menarik sedikit selimutnya, jari-jari Mugiarti yang kurus tampak "lengket". Dia mengatakan, jarinya sudah kaku dan sulit untuk ditekuk lagi.
“(Jari) enggak bisa bengkok, itu sudah rapat, pada bengkok-bengkok. Lutut sudah enggak bisa diselonjorin, begini saja saya tidur,” lanjut Mugiarti.
Setiap kali Mugiarti mau bangun dan duduk, dia pun harus dibantu. Misalnya, saat Kompas.com meminta izin untuk mengabadikan dirinya dalam foto.
Mugiarti dengan senang hati mengiyakan permintaan ini. Dia lantas meminta suaminya, Maryadi (66), untuk membantunya beranjak. Saat itu, Maryadi mengangkat kepala Mugiarti dan mendorong sedikit agar tubuh istrinya ini bisa terduduk.
Meski kesulitan untuk memutar badan, Mugiarti tetap memperlihatkan senyumnya. Sesekali, dia menyisir rambutnya dengan jari sebelum kembali tersenyum.
“Kemarin mau potong rambut, cuma anak enggak sempat (potongkan),” ucap dia.
Meski tulang-tulangnya sudah rapuh dan keropos, mantan karyawan perusahaan travel ini mengaku baik-baik saja. Tidak ada penyakit lain yang menggerogoti badan Mugiarti. Hasil cek asam urat dan kolesterolnya pun selalu menunjukkan hasil yang baik.
Mugiarti menceritakan, penyakit ini tidak datang tiba-tiba. Jauh sebelum anak ketiganya lahir, lututnya sudah bermasalah. Dia pun sudah mengidap asma dan tak tahan dengan suhu dingin.
Pernah bekerja
Saat itu, Mugiarti sudah punya dua anak, mereka lahir pada tahun 1984 dan 1988. Kemudian sekitar 1991, Mugiarti memutuskan untuk bekerja kembali.
Dia diterima di salah satu perusahaan travel yang berkantor di Cikini. Sehari-hari Mugiarti ditugaskan untuk mengambil tiket perjalanan dari vendor atau berbelanja untuk kebutuhan kantor.
“Belanja alat-alat kantor, ngepel juga sih, tapi ruangannya kecil. Disuruh beli makan buat bos, ambil tiket juga. Enggak jauh-jauh sih, ambilnya di Kwitang situ,” imbuh Mugiarti.
Selama delapan tahun, Mugiarti bolak-balik Kwitang, Senen, Atrium, dan Cikini dengan menumpang bajaj.
Dia tak lagi ingat, berapa gaji yang diterimanya. Tapi, itu cukup untuk menambah pemasukan untuk kebutuhan rumah tangga, mengingat suaminya masih kerja serabutan.
Kala itu, Mugiarti tak memusingkan nyeri di lutut dan sendinya. Apalagi, dia dan suami baru saja menyambut anak ketiga mereka pada 1999. Mugiarti lantas berhenti kerja dan fokus membesarkan anak di rumah.
Jarang minum obat dan tak berobat
Memasuki masa senjanya, Mugiarti mengaku tak lagi mau mengonsumsi obat. Dia baru mau minta tolong dibelikan obat dari klinik kalau misal batuk atau flu mendera. Obat-obat pengapuran atau rematik tak lagi disentuhnya.
“Sudah dua tahun enggak minum obat. Habisnya, (sudah) minum, sakit lagi, minum (obat), sakit lagi. Sudah, dah biarin ajalah,” tutur dia lagi.
Mugiarti mengaku tidak pantang makanan. Tapi, sehari-harinya dia memang lebih sering makan sayur dengan sedikit nasi.
Sementara itu, dia hanya terapi di rumah dengan alat-alat yang ada. Bahkan, dua tahun terakhir Mugiarti tak pernah keluar rumah, apalagi untuk berobat ke dokter.
“Dulu sering (cek ke dokter). Sudah berapa lama saya enggak lagi. Anak saya enggak sempat bawa,” lanjut dia.
Mugiarti enggan menyalahkan anaknya. Dia sadar ketiga anaknya sudah sibuk bekerja dan sebagian sudah berkeluarga.
Anak pertama Mugiarti memang tinggal serumah dengannya. Tapi, anak dan menantunya ini juga sibuk dan tak sempat membawa ibu mereka ke dokter lagi.
Maryadi mengatakan, dulu mereka sering membawa Mugiarti ke Rumah Sakit Menteng Mitra Afia yang letaknya tak jauh dari rumah mereka.
“Takut ngerepotin anak,” ucap Mugiarti singkat.
Dia menyebut anak-anaknya tetap perhatian. Namun, Mugiarti sendiri lah yang enggan berobat lagi.
Setiap bulan, dia hanya diperiksa dokter dari posyandu. Dokter sebatas memeriksa tensi darah Mugiarti dan pengecekan dasar lainnya.
Meski menahan rasa sakit, Mugiarti masih bersyukur dirinya tidak ditinggal sendirian di rumah.
Jika di pagi hari suami dan anak-anaknya berangkat kerja, siangnya para cucu datang untuk menemani Mugiarti.
Walaupun tak bisa makan banyak, Mugiarti menyempatkan diri untuk menyeruput teh manis bersama cucunya yang tahun depan akan masuk SMP.
Kini, Mugiarti mengaku pasrah dan menerima kehidupan yang dijalaninya.