#30 tag 24jam
Guru Besar Universitas St Petersburg Tantang Dunia Internasional Beri Sanksi Israel
Kalau memang dunia internasional mengecam Israel, berikan saja mereka sanksi seperti Rusia. [545] url asal
#israel #connie-rahakundini #sanksi-israel #lebanon
(MedCom - Internasional) 06/10/24 13:28
v/16059424/
Hal ini memunculkan berbagai reaksi yang meminta Israel menghentikan serangan demi alasan kemanusiaan. Meski demikian, berbagai seruan itu seolah tidak digubris Israel.
"Kalau memang dunia internasional mengecam Israel, berikan saja mereka sanksi seperti Rusia," kata Guru Besar Ilmu Hubungan Internasional Universitas St Petersburg, Connie Rahakundini, dikutip dari siniar Akbar Faizal Uncensored, Minggu, 6 Oktober 2024.
Menurut dia, bila memang Israel sudah kelewatan, maka negara itu bisa dikekang lewat penetapan sanksi. Hal ini pernah dilakukan negara Barat kepada Rusia ketika negeri Beruang Merah itu dianggap menginvasi Ukraina.
"Asal tahu saja, Rusia adalah negara dengan sanksi internasional terbanyak diikuti Iran, Suriah, Korea Utara, Myanmar, Kuba, dan Venezuela," kata akademisi Indonesia yang juga berkiprah di Rusia itu.
Boikot produk Israel
Seperti halnya Rusia, Connie menantang dunia internasional agar memberi sanksi Israel atas produk-produk unggulan mereka. Seperti teknologi, permesinan, produk petroleum, produk keuangan, perbankan, asuransi, hingga barang-barang mewah buatan negeri Zionis tersebut."Tapi sampai sekarang, tidak ada produk-produk tersebut yang di-banned. Malah maunya menghapuskan Israel dari muka bumi. Itu bukan menciptakan perdamaian, malah bikin masalah baru," kata Connie.
Dalam diskusi bersama Akbar Faisal dan pengamat Timur Tengah, Hasibullah Satrawi, Connie melihat dunia internasional seperti setengah-setengah dalam hal menyikapi perkembangan konflik antara Israel dengan Palestina dan Lebanon.
"Uni Eropa tidak konsisten, berubah-ubah. Lebanon adalah jajahan Prancis, tapi diam saja, tidak terlihat membatasi ruang gerak terorisme Hizbullah di Lebanon. Inggris juga sama. Padahal, keberadaan negara Israel di wilayah itu adalah akibat dari perjanjian antara Inggris dan Prancis," papar dia.
Indonesia tak punya cukup tenaga
Terkait posisi Indonesia di konflik Israel, menurutnya akan sulit karena Indonesia tidak punya hubungan diplomatik. Wajar bila ada kesulitan berdiplomasi dengan Israel."Dikiranya kalau punya hubungan diplomatik itu kita akan berbaik-baik dengan Israel? Tentu tidak,” kata Connie.
Lantaran tidak ada hubungan diplomatik itulah, jadinya juga bergantung pada negara lain untuk berkomunikasi dengan Israel. Biayanya juga lebih mahal.
"Indonesia tidak punya cukup tenaga," ujar Connie.
Akhir September lalu, dalam pidato terakhirnya di Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi menyatakan agar organisasi itu harus meminta Israel menghentikan serangannya ke Palestina dan Lebanon.
Sedangkan menurut Connie, ada enam urusan atau wacana menyangkut Palestina yang saat ini berkembang di dunia. Meliputi wilayah yang disengketakan, pemukiman, negara Palestina merdeka, masalah keamanan, hak untuk kembali, dan pengungsi.
"Semua pihak seolah masih belum sepakat mengenai masalah mana yang akan diprioritaskan. Sedangkan untuk Israel, mereka lebih firm, masalah mereka adalah pemberantasan teroris seperti Hamas atau Hizbullah,” kata Connie.
Serangan Israel adalah bentuk konsistensi untuk menegakkan keamanan negaranya. Dari Hizbullah di Utara dan dari Hamas di Selatan.
Terkait Pembukaan UUD 1945, mengenai kemerdekaan adalah hak segala bangsa, yang kerap dijadikan alasan Indonesia untuk mengecam Israel, menurut Connie, pemikiran yang termaktub dalam Pembukaan UUD 1945 itu dibuat saat Indonesia merupakan negara dengan kemampuan pertahanan terkuat di bumi bagian Selatan.
"Kalau Indonesia mau bisa menegakkan pemikiran seperti di Pembukaan UUD 1945 itu, bangunlah kekuatan militer kita sedemikian rupa sampai jadi sekuat waktu itu. Menjadi yang terkuat di bumi bagian Selatan. Dari situ, kita bisa dengan tegas menyatakan sikap kita ke dunia Internasional," kata dia.
dan followChannel WhatsApp Medcom.id
(UWA)
Israel Semakin Terkucil, Giliran Jepang Menjatuhkan Sanksi kepada Pemukim Zionis
Sanksi tersebut merupakan yang pertamakali dijatuhkan Jepang kepada pemukim Israel. [327] url asal
#israel #genosida-israel #genosida-israel-di-gaza #sanksi-kepada-pemukim-israel #jepang-jatuhkan-sanksi-kepada-israel #jepang-sanksi-israel #jepang-sanksi-pemukim-israel #israel-disanksi-jepang #kejaha
(Republika - Khazanah) 23/07/24 18:32
v/11821707/
REPUBLIKA.CO.ID, TOKYO -- Pemerintah Jepang untuk pertamakalinya menjatuhkan sanksi kepada empat pemukim Israel yang terlibat dalam kekerasan di daerah pendudukan Tepi Barat, tulis pernyataan Kementerian Luar Negeri Jepang pada Selasa (23/7/2024).
Sanksi tersebut mencakup pembatasan pembayaran dan transaksi modal, demikian menurut pernyataan tersebut. Pemerintah Jepang menjatuhkan sanksi itu setelah menetapkan Undang-Undang Pertukaran Valuta Asing dan Perdagangan Luar Negeri, berdasarkan pertimbangan kabinet tentang "Pembekuan Aset untuk pemukim Israel yang terlibat dalam tindakan kekerasan per 23 Juli 2024", kata kementerian itu dalam sebuah pernyataan.
Penjatuhan sanksi memberikan kontribusi pada upaya internasional untuk mencapai perdamaian internasional yang bertujuan menyelesaikan masalah seputar tindakan kekerasan oleh pemukim Israel di Tepi Barat, serta mengingat langkah-langkah yang diambil oleh negara-negara besar lainnya, demikian pernyataan itu menambahkan.
"Kami bertekad untuk melanjutkan kerja sama erat dengan komunitas internasional, termasuk negara-negara G7, untuk meminta Israel sepenuhnya menghentikan kegiatan pemukiman," kata Menteri Sekretaris Kabinet Jepang Yoshimasa Hayashi, mengomentari sanksi tersebut pada kesempatan berikutnya.
Ini adalah pertama kalinya Jepang memberlakukan langkah-langkah pembatasan terhadap pemukim Israel."Tindakan kekerasan dan perusakan properti oleh beberapa ekstremis sering kali menyebabkan korban jiwa dan telah menjadi masalah serius yang membuat warga Palestina kehilangan tempat tinggal mereka," ujarnya.
Sebelumnya pada Jumat (19/7), Pengadilan PBB mengeluarkan pendapat hukum tentang konsekuensi dari pendudukan wilayah Palestina oleh Israel. Pengadilan Internasional menyatakan bahwa aktivitas pemukiman Israel melanggar hukum internasional dan merupakan aneksasi.
Pengadilan meminta Israel untuk menghentikan kegiatan pemukiman baru dan kehadiran ilegalnya di wilayah Palestina serta membayar ganti rugi atas kerusakan yang disebabkan oleh pendudukan tersebut.
Pada awal Juli, Amerika Serikat (AS) juga memberlakukan sanksi terhadap tiga warga Israel dan lima entitas atas tindakan kekerasan terhadap warga sipil Palestina di Tepi Barat, dengan mengatakan bahwa Washington sangat prihatin dengan kekerasan ekstremis dan ketidakstabilan di Tepi Barat.
AS juga mendesak Israel untuk segera mengambil tindakan terhadap individu dan entitas yang bertanggung jawab. Departemen Luar Negeri AS juga memperingatkan langkah-langkah akuntabilitas AS yang berkelanjutan jika tidak ada tindakan yang diambil.
FIFA Kembali Ulur Waktu Sanksi Israel, tak Hormati Statuta Sendiri dan Pilih Kasih?
Pasal 3 Statuta FIFA berbunyi FIFA berkomitmen menghormati semua hak asasi manusia. [477] url asal
#fifa #israel #sanksi-fifa-israel #fifa-tak-sanksi-israel #palestina
(Republika - News) 19/07/24 14:47
v/11311336/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- FIFA menunda keputusan atas permintaan Palestina untuk menskors Israel dari sepak bola internasional hingga setelah Olimpiade Paris. FIFA menyebutkan, kedua belah pihak telah meminta lebih banyak waktu untuk menyampaikan posisi mereka.
Asosiasi Sepak Bola Palestina (PFA) telah mengajukan proposal untuk menskors Israel pada bulan Mei atas agresi mereka di Gaza. FIFA meresponsnya dengan memerintahkan evaluasi hukum yang mendesak dan berjanji untuk membahasnya pada pertemuan luar biasa dewannya pada bulan Juli.
Badan pengatur sepak bola global tersebut mengatakan pada Kamis (18/7/2024) bahwa penilaian hukum sekarang akan dibagikan dengan dewannya paling lambat pada tanggal 31 Agustus. Ini berarti tim sepak bola Israel dapat berlaga di Olimpiade Paris 2024.
"Menyusul permintaan perpanjangan dari kedua belah pihak untuk menyampaikan posisi masing-masing, yang diberikan oleh FIFA, lebih banyak waktu diperlukan untuk menyelesaikan proses ini dengan hati-hati dan lengkap," kata FIFA di akun X-nya, dikutip Reuters.
Olimpiade Paris akan diadakan dari tanggal 26 Juli-11 Agustus, dengan pertandingan grup untuk turnamen sepak bola putra dimulai pada tanggal 24 Juli. Israel lolos ke turnamen putra dan akan bermain melawan Mali, Paraguay, dan Jepang di fase grup.
Sebuah laporan pada pekan ini oleh pengacara yang mengkhususkan diri dalam hukum internasional meminta FIFA untuk melarang Israel karena melanggar beberapa undang-undang FIFA yang terkait dengan hak asasi manusia dan tujuan kemanusiaan.
Secara kasat mata, perlakuan "istimewa" terhadap Israel membuat FIFA seperti melanggar statuta mereka sendiri, khususnya pasal 3. Pasal di statuta tersebut berbunyi, "FIFA berkomitmen untuk menghormati semua hak asasi manusia yang diakui secara internasional dan akan berusaha untuk mempromosikan perlindungan hak-hak ini."
Terkait hal tersebut. Badan-badan dan pejabat FIFA harus mematuhi statuta, peraturan, keputusan, dan Kode Etik FIFA dalam kegiatan mereka. Namun pada kenyataannya, FIFA sangat lunak terhadap Israel meskipun sudah melancarkan agresinya sejak Oktober lalu.
Israel secara terang-terangan membombardir Gaza dengan membunuh anak-anak dan menghancurkan fasilitas umum. Terkait dengan olahraga, bulan lalu terdata lebih dari 300 atlet, pelatih, dan pengurus olahraga Palestina terbunuh. Serangan Israel juga telah menghancurkan semua fasilitas olahraga dan stadion di Gaza, kata Presiden Komite Olimpiade Palestina Jibril Rajoub Juni lalu.
Asosiasi Sepak Bola Palestina (PFA) mengungkapkan, pemain sepak bola Ahmad Abu al-Atta dan keluarganya tewas di rumah mereka akibat serangan udara Israel di Gaza. Bek 34 tahun itu tewas bersama istrinya Ruba Esmael Abu al-Atta. Wasit internasional Hani Mesmeh juga meninggal dunia setelah menderita luka akibat serangan udara Israel di Jalur Gaza pada Mei.
Serangan Israel ke Gaza telah menewaskan lebih dari 38.000 warga Palestina, menurut pejabat kesehatan Gaza. Namun angkanya dipastikan jauh lebih besar dari itu. Para kritikus menuduh Israel melakukan genosida terhadap warga Palestina, tapi FIFA seolah tutup mata akan fakta ini.
Berbeda dengan saat Rusia menginvasi Ukraina pada awal 2022. FIFA dan UEFA dengan sigap menjatuhkan hukuman untuk Rusia tak bisa berlaga pada kualifikasi Piala Dunia 2022 dan Piala Eropa 2024.
Standar Ganda FIFA: Rusia Dulu Disanksi, Timnas Israel Dibolehkan Tampil di Olimpiade
Israel telah membunuh sekitar 100 pesepakbola Palestina dalam genosida kali ini. [755] url asal
#sanksi-fifa-israel #fifa-tak-sanksi-israel #genosida-di-gaza #sepak-bola-israel #gugatan-sepak-bola-palestina #genosida-di-lapangan-hijau
(Republika - News) 19/07/24 07:22
v/11290373/
REPUBLIKA.CO.ID, GAZA – Badan Sepak Bola Dunia (FIFA) telah menunda keputusan atas proposal Palestina untuk menangguhkan Israel dari sepak bola internasional terkait genosida di Jalur Gaza yang menewaskan banyak pemain sepak bola. Langkah ini kontras dengan sikap FIFA pada 2022 yang lekas melarang Timnas Rusia bertanding selepas serangan ke Ukraina.
Dilansir Times of Israel, keputusan FIFA membuka jalan bagi tim nasional putra Israel untuk bermain di Olimpiade Paris. Badan sepak bola dunia tersebut sebelumnya dijadwalkan untuk mengambil keputusan pada Sabtu dalam pertemuan dewan luar biasa setelah meminta penilaian hukum independen terhadap proposal Palestina dua bulan lalu.
Keputusan itu diambil hanya empat hari sebelum dimulainya turnamen sepak bola Olimpiade, di mana Israel tergabung dalam satu grup bersama Jepang, Mali, dan Paraguay. Namun, FIFA mengatakan bahwa mereka telah memundurkan jadwal tersebut karena “dibutuhkan lebih banyak waktu untuk menyelesaikan proses ini dengan hati-hati dan lengkap” – yang berarti keputusan akan diambil setelah Olimpiade selesai.
FIFA mengatakan kedua belah pihak telah mengajukan permintaan perpanjangan “untuk menyerahkan posisi masing-masing” dan penilaian independen sekarang akan dibagikan kepada FIFA paling lambat tanggal 31 Agustus. Final Olimpiade putra akan berlangsung pada 9 Agustus.
Asosiasi Sepak Bola Palestina telah mengajukan proposal untuk menangguhkan Israel pada bulan Mei, dan FIFA memerintahkan evaluasi hukum yang mendesak, serta berjanji untuk membahasnya pada pertemuan luar biasa dewannya pada bulan Juli, menurut laporan Reuters. Presiden PFA Jibril Al-Rajoub mengatakan bahwa FIFA tidak bisa bersikap acuh tak acuh terhadap “pelanggaran atau genosida yang sedang berlangsung di Palestina.” Konfederasi Sepak Bola Asia juga memberikan dukungannya terhadap tindakan melawan Israel.
Usulan Palestina tersebut menuduh Asosiasi Sepak Bola Israel (IFA) terlibat dalam pelanggaran hukum internasional yang dilakukan pemerintah Israel dan diskriminasi terhadap pemain Arab. IFA menolak tuduhan tersebut.
Al-Rajoub mengutip preseden di Kongres FIFA dan analisisnya mengatakan skorsing Israel akan sejalan dengan keputusan FIFA di masa lalu yang menangguhkan atau mengeluarkan asosiasi anggota yang melanggar tujuannya. Asosiasi Sepak Bola Afrika Selatan, misalnya, ditangguhkan pada tahun 1961 karena kebijakan apartheid negara tersebut, sementara Yugoslavia dilarang pada tahun 1992 menyusul sanksi PBB di tengah agresi pemerintah yang didominasi Serbia di Balkan. Baru-baru ini, pada tahun 2022, baik FIFA dan UEFA bertindak cepat dengan menangguhkan tim-tim Rusia dari kompetisi mereka menyusul invasi negara tersebut ke Ukraina.
Sebaliknya, dalam beberapa tahun terakhir, setiap kali PFA mengajukan mosi untuk menangguhkan Israel, FIFA tidak menjatuhkan sanksi, dan menyatakan pada tahun 2017 bahwa masalah tersebut telah ditutup dan tidak akan dibahas lebih lanjut sampai kerangka hukum atau de facto berubah.
Saat ini, sejumlah pihak berpendapat bahwa perkembangan sejak Oktober lalu telah memunculkan “kerangka hukum baru yang memerlukan intervensi FIFA”. Sejumlah pihak menegaskan, Israel dinilai layak mendapat sanksi larangan bertanding oleh FIFA.
Sedangkan Palestine Chronicle melansir, Shadi Abu al-Araj, penjaga gawang Klub Sepak Bola Shabab Khan Yunis, jadi syuhada terkini dari kalangan pesepakbola Palestina. Ia syahid pada Sabtu dalam serangan yang dilakukan oleh tentara Israel di pengungsian Al-Mawasi, di Khan Younis, Gaza selatan, pekan lalu.
Ali Dahlan, juru bicara klub, mengatakan bahwa Klub Pemuda Khan Yunis telah kehilangan seorang pemain terkemuka, Merujuk pada pembunuhan Abu al-Araj.
Dahlan menambahkan bahwa Abu al-Araj bukanlah atlet klub pertama yang dibunuh Israel. Korban sebelumnya termasuk Kapten Taha Kalab, mantan direktur teknis dan direktur sektor pemuda; dan Mohammed Barakat, kapten klub dan pemain senior.
Juru bicara tersebut mengutuk “kejahatan pembunuhan atlet Palestina,” penghancuran markas klub oleh serangan udara Israel, pembakaran fasilitas dan gedung olahraga, dan pembuldoseran lapangan mereka.
Ia juga mengkritik FIFA yang tetap bungkam atas kejahatan Israel tersebut. Menurut Asosiasi Sepak Bola Palestina, Israel telah membunuh hampir 100 pesepakbola Palestina sejak 7 Oktober.
Dua di antara pemain tersebut tergabung dalam Tim Nasional Palestina, termasuk Mohamed Barakat, yang dikenal sebagai “legenda Khan Younis”. Barakat adalah orang Palestina pertama yang mencetak lebih dari 100 gol secara profesional. Ratusan atlet muda lainnya juga syahid, kebanyakan anak-anak.
Setidaknya 90 warga Palestina syahid dan 289 lainnya terluka pada hari Sabtu ketika pasukan pendudukan Israel menargetkan tenda-tenda pengungsi di Khan Yunis, selatan Jalur Gaza, sebuah wilayah yang sebelumnya ditetapkan sebagai wilayah ‘aman’.
Aljazirah melaporkan bahwa tentara Israel melakukan serangan kekerasan dengan lima rudal di kamp pengungsian di sebelah barat Khan Yunis, yang mengakibatkan puluhan kematian dan cedera.
Para aktivis sebelumnya menyerukan boikot terhadap Olimpiade mendatang di Paris atas partisipasi Israel dalam Olimpiade tersebut. Hal ini menyusul pembunuhan sejumlah tokoh olahraga terkemuka, termasuk anak-anak, di Gaza.
Perkiraan dari para aktivis di Gaza bahwa sekitar 350 pemain olahraga dan atlet telah terbunuh di Gaza sejak dimulainya perang di wilayah tersebut pada tanggal 7 Oktober. Angka tersebut mencakup setidaknya 250 pesepakbola.
Standar Ganda FIFA, Timnas Israel Dibolehkan Tampil di Olimpiade
Israel telah membunuh sekitar 100 pesepakbola Palestina dalam genosida kali ini. [755] url asal
#sanksi-fifa-israel #fifa-tak-sanksi-israel #genosida-di-gaza #sepak-bola-israel #gugatan-sepak-bola-palestina #genosida-di-lapangan-hijau
(Republika - News) 19/07/24 07:22
v/11274465/
REPUBLIKA.CO.ID, GAZA – Badan Sepak Bola Dunia (FIFA) telah menunda keputusan atas proposal Palestina untuk menangguhkan Israel dari sepak bola internasional terkait genosida di Jalur Gaza yang menewaskan banyak pemain sepak bola. Langkah ini kontras dengan sikap FIFA pada 2022 yang lekas melarang Timnas Rusia bertanding selepas serangan ke Ukraina.
Dilansir Times of Israel, keputusan FIFA membuka jalan bagi tim nasional putra Israel untuk bermain di Olimpiade Paris. Badan sepak bola dunia tersebut sebelumnya dijadwalkan untuk mengambil keputusan pada Sabtu dalam pertemuan dewan luar biasa setelah meminta penilaian hukum independen terhadap proposal Palestina dua bulan lalu.
Keputusan itu diambil hanya empat hari sebelum dimulainya turnamen sepak bola Olimpiade, di mana Israel tergabung dalam satu grup bersama Jepang, Mali, dan Paraguay. Namun, FIFA mengatakan bahwa mereka telah memundurkan jadwal tersebut karena “dibutuhkan lebih banyak waktu untuk menyelesaikan proses ini dengan hati-hati dan lengkap” – yang berarti keputusan akan diambil setelah Olimpiade selesai.
FIFA mengatakan kedua belah pihak telah mengajukan permintaan perpanjangan “untuk menyerahkan posisi masing-masing” dan penilaian independen sekarang akan dibagikan kepada FIFA paling lambat tanggal 31 Agustus. Final Olimpiade putra akan berlangsung pada 9 Agustus.
Asosiasi Sepak Bola Palestina telah mengajukan proposal untuk menangguhkan Israel pada bulan Mei, dan FIFA memerintahkan evaluasi hukum yang mendesak, serta berjanji untuk membahasnya pada pertemuan luar biasa dewannya pada bulan Juli, menurut laporan Reuters. Presiden PFA Jibril Al-Rajoub mengatakan bahwa FIFA tidak bisa bersikap acuh tak acuh terhadap “pelanggaran atau genosida yang sedang berlangsung di Palestina.” Konfederasi Sepak Bola Asia juga memberikan dukungannya terhadap tindakan melawan Israel.
Usulan Palestina tersebut menuduh Asosiasi Sepak Bola Israel (IFA) terlibat dalam pelanggaran hukum internasional yang dilakukan pemerintah Israel dan diskriminasi terhadap pemain Arab. IFA menolak tuduhan tersebut.
Al-Rajoub mengutip preseden di Kongres FIFA dan analisisnya mengatakan skorsing Israel akan sejalan dengan keputusan FIFA di masa lalu yang menangguhkan atau mengeluarkan asosiasi anggota yang melanggar tujuannya. Asosiasi Sepak Bola Afrika Selatan, misalnya, ditangguhkan pada tahun 1961 karena kebijakan apartheid negara tersebut, sementara Yugoslavia dilarang pada tahun 1992 menyusul sanksi PBB di tengah agresi pemerintah yang didominasi Serbia di Balkan. Baru-baru ini, pada tahun 2022, baik FIFA dan UEFA bertindak cepat dengan menangguhkan tim-tim Rusia dari kompetisi mereka menyusul invasi negara tersebut ke Ukraina.
Sebaliknya, dalam beberapa tahun terakhir, setiap kali PFA mengajukan mosi untuk menangguhkan Israel, FIFA tidak menjatuhkan sanksi, dan menyatakan pada tahun 2017 bahwa masalah tersebut telah ditutup dan tidak akan dibahas lebih lanjut sampai kerangka hukum atau de facto berubah.
Saat ini, sejumlah pihak berpendapat bahwa perkembangan sejak Oktober lalu telah memunculkan “kerangka hukum baru yang memerlukan intervensi FIFA”. Sejumlah pihak menegaskan, Israel dinilai layak mendapat sanksi larangan bertanding oleh FIFA.
Sedangkan Palestine Chronicle melansir, Shadi Abu al-Araj, penjaga gawang Klub Sepak Bola Shabab Khan Yunis, jadi syuhada terkini dari kalangan pesepakbola Palestina. Ia syahid pada Sabtu dalam serangan yang dilakukan oleh tentara Israel di pengungsian Al-Mawasi, di Khan Younis, Gaza selatan, pekan lalu.
Ali Dahlan, juru bicara klub, mengatakan bahwa Klub Pemuda Khan Yunis telah kehilangan seorang pemain terkemuka, Merujuk pada pembunuhan Abu al-Araj.
Dahlan menambahkan bahwa Abu al-Araj bukanlah atlet klub pertama yang dibunuh Israel. Korban sebelumnya termasuk Kapten Taha Kalab, mantan direktur teknis dan direktur sektor pemuda; dan Mohammed Barakat, kapten klub dan pemain senior.
Juru bicara tersebut mengutuk “kejahatan pembunuhan atlet Palestina,” penghancuran markas klub oleh serangan udara Israel, pembakaran fasilitas dan gedung olahraga, dan pembuldoseran lapangan mereka.
Ia juga mengkritik FIFA yang tetap bungkam atas kejahatan Israel tersebut. Menurut Asosiasi Sepak Bola Palestina, Israel telah membunuh hampir 100 pesepakbola Palestina sejak 7 Oktober.
Dua di antara pemain tersebut tergabung dalam Tim Nasional Palestina, termasuk Mohamed Barakat, yang dikenal sebagai “legenda Khan Younis”. Barakat adalah orang Palestina pertama yang mencetak lebih dari 100 gol secara profesional. Ratusan atlet muda lainnya juga syahid, kebanyakan anak-anak.
Setidaknya 90 warga Palestina syahid dan 289 lainnya terluka pada hari Sabtu ketika pasukan pendudukan Israel menargetkan tenda-tenda pengungsi di Khan Yunis, selatan Jalur Gaza, sebuah wilayah yang sebelumnya ditetapkan sebagai wilayah ‘aman’.
Aljazirah melaporkan bahwa tentara Israel melakukan serangan kekerasan dengan lima rudal di kamp pengungsian di sebelah barat Khan Yunis, yang mengakibatkan puluhan kematian dan cedera.
Para aktivis sebelumnya menyerukan boikot terhadap Olimpiade mendatang di Paris atas partisipasi Israel dalam Olimpiade tersebut. Hal ini menyusul pembunuhan sejumlah tokoh olahraga terkemuka, termasuk anak-anak, di Gaza.
Perkiraan dari para aktivis di Gaza bahwa sekitar 350 pemain olahraga dan atlet telah terbunuh di Gaza sejak dimulainya perang di wilayah tersebut pada tanggal 7 Oktober. Angka tersebut mencakup setidaknya 250 pesepakbola.